
"Ketua ... kalau boleh tau, seberapa lama jarak yang kita tempuh?" Yoseph yang duduk di sebelah Dul akhirnya berhenti berdoa dan mulai menguasai keadaan.
"Setengah jam lagi baru nyampe," sahut Rayon dari bagian depan mobil.
"Terima kasih," seru Yoseph. Ia kemudian mengambil bungkusan dari pangkuan Nina dan mulai membukanya. "Setengah jam lagi dengan mulut hanya dipakai bicara, pasti terasa tidak lengkap. Keripik Mama Yoseph adalah solusinya. Seribu rupiah saja. Perut memang tidak kenyang, tapi hati sudah pasti senang. Bungkusan satunya tolong dipegang, Bin. Saya masih terhimpit di punggung Dul."
Robin yang baru saja menarik napas mau bicara, langsung terdiam. Dalam waktu bersamaan ia mengerti posisi Yoseph dan juga posisinya di sebelah Nina. Setidaknya ia harus sedikit lebih tenang.
"Untuk yang tidak bawa minum, harap bersabar sampai tiba di tujuan," ujar Yoseph sembari menghitung lembaran uang ditangannya.
Semua siswa yang berada di dalam angkutan seperti terhipnotis dengan penuturan Yoseph. Tak sadar semuanya merogoh saku seragam dan mengeluarkan uang untuk ditukarkan dengan keripik.
Mereka tiba di tempat tujuan mereka setengah jam kemudian. Ternyata tempat tujuan itu merupakan surga bagi Putra. Kolam pancing, gubug teduh, kursi dengan sandaran, juga joran-joran yang tersandar di dinding belakang rumah.
"Aih, makjang ... kita macam mengantar si Putra ke sini," Robin berdiri berkacak pinggang menggeleng-geleng memandang Putra yang mengelus sebuah joran pancing di tangannya.
"Kebahagiaan orang itu beda-beda. Kamu udah mendapat setengah jam kebahagiaanmu di dalam angkot tadi." Putra meletakkan joran di tangannya dan meraih yang lain.
"Gak usah kau ikut pulang. Tinggal sini aja kau," kata Robin.
"Put! Bin! Ayo sini!" Dul berteriak sambil melambaikan tangan. Ia sudah meletakkan tasnya di dipan kayu dan menggulung celananya sampai ke lutut. Sebuah anak sungai dengan kedalaman semata kaki memang sangat menggoda setiap orang mencelupkan kakinya.
"Si Dul pun macam tak pernah nengok air. Tiba-tiba udah sampe ke sana dia. Kalo ayahnya nengok anaknya sekarang kek gini. Bisa 'astaga' terus setengah hari."
"Kalau kamu? Gimana ibumu?"
"Mamakku mana mau banyak-banyak cakap. Langsung dibungkus bajuku semua diletakkan di teras rumah. Jangan maen-maen sama mamakku," jawab Robin.
"Hari ini kamu main-main," ujar Putra.
"Udahlah, Put. Mari kuantarkan kau mau duduk di kursi yang mana. Biar kau tenang. Pancing ikan yang banyak. Paklik si Rayon mau bakar ikan kalau ada yang berhasil dapat."
"Pasti berhasil kalau kolamnya ada ikan," Putra mendekati kolam yang terletak di sisi kiri halaman belakang rumah. "Kamu ikut aku atau Dul?" seru Putra saat menoleh ke belakang.
"Jelas kali aku ikut Dul. Walau banyak kali kelebihan yang aku punya, tapi gak ada 'sabar' di antaranya." Robin meletakkan tas dan menggulung celananya.
"Kalau begitu aku berjuang untuk isi perut aja," kata Putra, mengempaskan tubuhnya di kursi.
Rayon dan Paklik-nya keluar dari pintu belakang rumah dengan panggangan dan baskom besar berisi ikan yang sudah dibumbui. "Mancing lagi, Put. Siapa tau yang ini kurang." Rayon meletakkan baskom di dipan dan mulai menyusun bata sebagai tungku.
"Sponsor bolos ini siapa?" tanya Putra.
"Dari rakyat dan untuk rakyat," tegas Rayon.
Semua murid menikmati pelarian mereka dari kelas hari itu. Yani membawa absen ke anak sungai dan duduk di sebuah batu memanggil semua murid satu persatu layaknya guru sambil tertawa-tawa. Semua menyahutinya seperti di kelas.
Hari itu membawa pengalaman baru buat mereka semua. Putra duduk menikmati acara memancingnya, Dul ke sana kemari bersama Robin menenggelamkan kaki mereka di anak sungai. Berkejaran dan saling menyipratkan ke satu sama lain.
Mereka kembali ke sekolah dengan hati puas. Semuanya tak ada masalah. Sampai keesokan harinya mereka semua melihat Yani digelandang ke ruang BK.
"Aih, mati kita. Barusan kutengok Yani di ruang BK. Pintunya terbuka sikit. Nampakku dia berdiri sambil cakap sama guru. Dadaku aja berdebar. Apa tak berdebar dada si kawan itu?" Robin yang baru tiba di kelas pagi itu langsung meletakkan tasnya dan duduk di sebelah Dul.
"Berdebar kenapa? Masalah bolos kemarin? Bisa jadi bukan masalah itu. Rayon santai aja, tuh." Dul menunjuk ketua kelas mereka dengan dagunya. Rayon memang sedang duduk di sebelah murid perempuan dan berbisik-bisik.
"Seperti biasa Dul dengan positive thinking-nya," gumam Putra dari sudut kelas.
Tak lama, Nina yang baru tiba masuk sedikit tergesa. "Kayanya Yani kena masalah, deh. Tapi enggak tau karena apa." Nina meletakkan tasnya usai mengatakan itu dan pergi menemui Rayon. "Yon, Yani di ruang BK kenapa?" tanya Nina. Rautnya benar-benar khawatir. Meski mereka memang tidak duduk berdekatan, Nina memang kerap bersama Yani ke mana-mana.
"Santai. Sebentar lagi dia pasti masuk. Yani pasti bisa menanganinya," tukas Rayon percaya diri.
Dan benarlah apa yang dikatakan Rayon barusan. Yani masuk ke kelas dengan wajah biasa saja. Padahal, ruang BK selalu mendapat predikat menyeramkan bagi semua siswa.
"Kamu dari ruang BK? Kenapa?" tanya Rayon. Semua murid yang berada di kelas ikut menyimak percakapan itu.
"Ha? Ruang BK?" Yani tertawa terbahak-bahak. "Absen dan catatan kelas kita enggak ada di ruang BK. Hilang. Guru BK nanyain. Aku baru inget kalau absen kelas kita ketinggalan di atas batu anak sungai tempat kita bolos kemarin." Yani kembali tertawa usai mengatakan itu.
"Jadi?" Rayon ikut tertawa saat bertanya.
"Jadi, ya diganti. Aku tadi jawab lupa ada di mana.Lupa, Pak. Mungkin saya yang salah letak.' Aku ngomong gitu." Sekretaris kelas itu nyengir memandang temannya satu-persatu.
Dul ikut tertawa seraya menggeleng. "Ada-ada aja. Udah ikut deg-degan padahal."
Robin berjingkat dan berbisik di telinga Dul. Tatapannya terarah pada Yani dan Nina yang sedang tertawa di depan. "Dul, sekarang aku punya idola baru. Kebetulan Nina dan Yani itu akrab," bisik Robin.
"Memangnya kenapa kalau akrab? Satu aja belum bisa dapet. Udah nambah idola baru," Putra bersandar di dinding seraya memijat-mijat bahunya.
"Gak bisa kau senangkan hatiku sikit aja?" Robin menggulung buku tulisnya dan menepuk lengan Putra.
"Jangan main fisik. Aku kayanya enggak enak badan ini," ucap Putra.
"Sakit apa?" Robin meletakkan bukunya dan ikut memijat bahu Putra.
"Pasti masuk angin," sahut Dul terkekeh.
"Paslah udah. Sakit apa pun pasti dibilangnya masuk angin. Sebentar lagi kudis dan kurap pun dibilang si Putra karena masuk angin," cetus Robin. Tangannya tak berhenti memijat-mijat bahu Putra yang menunduk dan mulai bersendawa mengeluarkan anginnya.
To Be Continued