
Mima sempat tergelak sebentar ketika melihat Dayat panik karena sebuah nama yang membuat ponselnya bergetar. Ketika melintasi ruang keluarga rumahTini, Mima sempat menoleh ke belakang. Samar-samar terdengar sapaan Dayat menjawab teleponnya. Mima mencibir, kemudian menggeleng-geleng dan mengangkat bahu. Ia meninggalkan rumah Tini dengan langkah ringan. Teringat kalau Heru pasti sedang menunggunya di rumah dan menyiapkan uang jajan untuknya.
*****
Dul menoleh ke ruang depan ketika sayup-sayup suara pintu pagar didorong. Pasti Mima, pikirnya. Tenaga Mima tidak terlalu kuat tiap mendorong pagar. Membuat suara besi digeser berat dan lambat. Padahal dibanding gadis seusianya tubuh Mima cukup tinggi, namun mungil. Persis ibu mereka. Bedanya, tenaga ibu mereka lebih kuat dibanding Mima.
Dul sudah bersiap-siap mendapat sapaan menggelegar yang akan membuat wajahnya memerah karena tersipu. Tiap ia membawa Annisa ke rumah, Mima tak pernah bosan meledek mereka seakan semua adalah hal itu baru pertama kali terjadi.
“Cieeee … ada kakak ipar. Kakak ipar apa kabar? Enggak kangen sama adik ipar yang cantik ini?” Mima langsung menghampiri Annisa. Menunduk untuk memeluk bahu wanita itu dan mengguncangnya beberapa detik. Setelah puas, Mima mengitari meja dan menghampiri kursi Heru. “Pakdhe apa kabar? Pasti tadi nyariin aku, kan? Mau kasih jajan, ya?” Mima mulai memijat bahu Heru.
“Udah telat. Pakdhe baru aja nyimpen dompet. Kelamaan, sih, di rumah Budhe tini. Memangnya ngomongin apa aja?”
Balasan Heru membuat Mima seketika menghentikan pijatannya. “Serius mau tau urusan aku sama Budhe Tini? Sebentar lagi Budhe Fifi dateng, tuh. Bisa ngambek kalau kita ngomongin Budhe lain.” Mima menutup mulutnya menahan tawa.
Dul ikut tertawa karena melihat Heru langsung terdiam. Mima memang tak pernah kalah berdebat di keluarga mereka. Suara klakson dari arah jalan membuat Dul kembali menoleh. “Pasti Akung,” katanya, bangkit dari kursi dan menyongsong ke ruang tamu. Meninggalkan Annisa yang jantungnya berdebar karena canggung. Itu kali pertama ia akan bertemu dengan sepuhnya keluarga Satyadarma.
“Nisa sama Mima bantu Ibu ke belakang. Sendok dan piringnya masih kurang.” Dijah menunjuk dua gadis yang tengah termangu-mangu agar mengikutinya ke belakang.
“Mbok Jum apa kabar, Bu?” Annisa mengawali obrolan santai ketika membuka kotak sendok dan menyekanya dengan serbet bersih.
“Mbok Jum kabar baik. Katanya, sih, sehat. Tapi Ibu rasa sehatnya, ya enggak terlalu sehat. Namanya juga udah tua. Waktu masih di sini, belakangan sulit tidur. Kalau malam Mbok Jum sering minta anaknya buat video call sama Ibra. Ujung-ujungnya biasa Ibra minta mengunjungi Mbok Jum.” Dijah menurunkan piring keramik putih yang hanya digunakannya ketika acara-acara besar. Seperti hari itu. Rumahnya kedatangan sanak saudara suaminya hampir lengkap. Dul juga membawa pacarnya.
Annisa tertawa kecil. Dari ruang depan ia sudah mendengar suara candaan Dul dan Ibra yang usianya bertaut dua belas tahun. Dul pasti langsung menggendong adik bungsunya itu. Annisa tersenyum tipis.
“Mmmm … Bu,” panggil Mima yang kebagian tugas mengelap piring yang disodorkan ibunya.
“Hmmm?” Dijah menghitung piring dan sendok yang baru dikeluarkannya. Semua harus perabot baru. Bukan alat makan yang mereka biasa gunakan sehari-hari. “Kamu manggil Ibu, kan? Ada apa? Ibu mau bawa piring ini.” Dijah mengangkat sebagian piring yang sudah dibersihkan Mima.
“Paklik Dayat itu adiknya Budhe Tini, ya? Kandung?” tanya Mima, menghentikan gerakannya mengelap piring.
Dijah berhenti melangkah. “Dayat? Ketemu Dayat di mana? Bukannya di luar negeri? Terakhir Budhe Tini ngomong kalau adiknya ngambil magister ke luar negeri. Di universitas California. Sama dengan universitas atasannya di kantor. Selama dua tahun sekolah tetap digaji karena Dayat tetap kerja secara online. Di California, Dayat juga kerja di firma hukum setempat. Gitu, kan, Yah?” Dijah menyodorkan piring yang dibawanya ke tangan Bara. Pria itu sudah mendengar setengah topik pembicaraan mereka soal Dayat.
“Dayat, ya? Memang di luar negeri. Memangnya Mima ada ketemu? Di rumah Budhe Tini tadi? Berarti Dayat udah pulang. Enggak terasa, ya. Kayanya adik Tini yang satu itu baru lulus kuliah waktu memutuskan keluar dari rumah. Alasannya mau mandiri. Dengar-dengar mau nikah juga, eh tapi malah kuliah ke luar negeri. Gitu, kan, Bu?” Bara meletakkan piring di meja dan berputar memandang Dijah yang mengekorinya. “Jadi … Dayat itu gagal nikah atau gimana? Apa Mas yang ketinggalan ceritanya? Udah cukup lama pacaran, kan?”
Dijah menggeleng. “Enggak jelas, Mas. Dayat sendiri enggak pernah ngomong mau nikah atau sedang pacaran sama siapa. Yang ngemberin Dayat mau nikah, ya Tini. Makin dewasa, Dayat makin misterius. Yang tetap ember, ya mbaknya.” Dijah terkekeh-kekeh.
Setelah ikut tertawa bersama Dijah, Bara kembali bertanya, “Ngomong-ngomong kenapa jadi cerita soal Dayat? Siapa yang tanya? Mima?” Bara menelengkan kepalanya memandang Mima.
“Karena baru ketemu tadi. Paklik Dayat lagi di rumah Budhe Tini,” jawab Mima cepat sambil meletakkan sendok yang dibawanya dari belakang.
Heru yang beberapa saat sibuk dengan ponselnya, mendongak ketika mendengar nama Dayat disebut. “Dayat adik Tini? Dengar-dengar tenar di kampusnya dulu. Banyak cewe-cewe yang suka. Tini bilang Dayat suka PHP cewe-cewe,” beber Heru.
“Bukannya sama dengan Mas?” Bara meletakkan campuran buah pepaya, semangka, nenas, dan melon yang sudah dipotong-potong sebagai hidangan pencuci mulut.
“Enggak ada yang salah kalau disukai cewe-cewe. Malah beberapa urusan di kampus bisa lebih cepat selesai,” jawab Heru kalem.
Heru menarik lengan Bara agar bisa berbisik di telinga adik sepupunya itu. “Kamu juga berurusan dengan kantor polisi sewaktu menaklukkan ibunya Dul. Jangan lupa,” bisik Heru, berdeham kemudian membenarkan kerah kemejanya.
Dijah yang baru kembali menghampiri meja makan melihat tingkah Bara dan Heru yang serentak mengulas senyum padanya. “Ada apa?” tanya Dijah.
Bara dan Heru serentak menggeleng. “Dayat,” jawab mereka serentak.
“Kenapa jadi Paklik Dayat …,” lirih Mima, mencibir pada ayah dan pakdhenya.
“Akung udah nyampe,” kata Dul yang baru muncul sambil meletakkan Ibra yang sejak tadi digendongnya.
“Udah selesai semua,” ucap Annisa pelan, berdiri memegangi sandaran kursi. Menyempatkan diri bertukar pandang dengan Dul sejenak. Mencoba bicara dengan sorot matanya kalau sore itu ia sedikit gugup bertemu Akung dan Uti yang namanya sering disebut-sebut.
Ternyata Dul cukup peka akan isyarat dari Annisa. Ia bergeser ke sebelah gadis itu dengan tangannya yang masih menggandeng Ibra.
“Ehem, sudah lama nunggu Akung?” Pak Wirya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lalu matanya terhenti pada Heru. “Heru sudah sampai di sini duluan. Ayo keluar sebentar. Di luar Fifi sedang berusaha parkir sejajar di tempat terbatas. Suaminya di sini pasti banyak bercanda.” Pak Wirya terkekeh-kekeh karena melihat Heru langsung melesat keluar tanpa mengatakan apa pun.
“Akung, Uti, hari ini aku mau ngenalin calon anggota keluarga baru. Namanya Annisa. Nisa ini Akung dan Uti.” Dul mengajak Annisa menghampiri Pak Wirya dan Bu Yanti.
Bara dan Dijah bertukar pandang melihat sikap Dul yang semakin hari mereka sadari bahwa putra mereka itu memang sudah menjelma menjadi pria dewasa.
Annisa berjabatan tangan dengan Pak Wirya dengan genggaman yang mantap. Bu Yanti sempat menyentuh pipi Annisa sambil mengucapkan, “Sudah dokter, ya?” Senyum Bu Yanti bahkan terlihat jauh lebih lebar dibanding Dijah.
“Selanjutnya mau ambil spesialis lagi?” tanya Bu Yanti, melanjutkan perkataannya.
“Rencana kepengin ambil spesialis anak atau spesialis penyakit dalam, Uti,” jawab Annisa.
“Bagus … bagus. Uti senang anak muda yang semangat sekolah. Sekarang kita makan dulu. Masakan ibunya Dul selalu enak,” kata Bu Yanti, menuju meja makan.
Annisa mengangguk, kemudian menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi jalan pada Pak Wirya. Heru dan Fifi kemudian ikut menyusul ke ruang makan dengan cerita baru yang dibawa mereka. Annisa mengulas senyum memandang meja makan yang dipenuhi sanak keluarga yang saling melontarkan topik pembicaraan hangat. Dul sedang menggenggam tangannya ketika ia merasa ponselnya bergetar di kantung.
Nama yang tertera di layar ponselnya membuat Annisa seketika melepaskan genggaman tangan Dul. “Aku terima telfon Papa di luar. Nanti aku nyusul,” kata Annisa. Ia langsung melesat ke teras.
Dul bahkan belum menjawab sepatah kata pun ketika Annisa melepaskan tangannya di keramaian ruang makan. Wajah gadis itu terlihat menegang. Padahal sesaat yang lalu Annisa tersenyum manis di sampingnya. Hampir lima belas menit ditinggalkan Annisa, Dul mulai bertanya-tanya. Apalagi beberapa orang mulai menyadari Annisa yang tidak muncul.
“Panggil Mbak Nisa, Mas. Biar makan sama-sama. Cewe yang makannya nyusul, bakal malu dan keliatan banget kalau mau nambah. Sana.” Mima menyenggol lengan Dul yang berdiri di sebelahnya.
Dul mengangguk dan pergi menuju teras.
“Di rumahnya Dul, Pa …. Makan malam sama keluarganya. Lengkap. Ada Akung dan Uti-nya juga. Ada Om-nya, tantenya…Papa, kok, gitu, sih? Icha di rumah Dul karena keluarga Icha enggak ada di kota ini. Monopoli gimana? Kenapa sekarang Papa jadi aneh-aneh ngomongnya? Bukan baru sekali ini Icha datang ke rumah Dul. Ibunya juga sering banget kasih Icha ini-itu. Mereka keluarga baik-baik yang enggak pernah mikir macam-macam soal keluarga kita yang berantakan. Kenapa jadi merembet ke mana-mana? Enggak ada hubungannya makan malam di rumah Dul dengan Icha yang lupa sama keluarga sendiri. Papa bikin Icha enggak selera makan aja. Icha tutup sekarang.”
Dul memutar langkahnya kembali ke rumah makan. Ia paham kalau apa yang barusan diucapkan oleh Annisa harusnya tidak ia dengar.
To be continued