Dul

Dul
141. Seseorang Yang Muncul di Ingatan



“Paklik yang baru datang ini … adiknya Budhe?” Mima berdiri di sebelah Tini dengan tangan berada di sandaran kursi. Memandang Dayat seakan pria itu makhluk langka yang sedang kelaparan.


“Memang benar enggak inget ternyata …,” ucap Tini.


“Inget dikit. Pernah manggil Paklik, tapi orangnya lupa,” jawab Mima masih dengan tatapan menyelidik pada Dayat.


“Ini tahun berapa? Harusnya Paklik itu enggak disebut-sebut lagi. Minimal panggil Om.” Dayat menggeleng tegas pada Mima.


“Lebih lucu panggil Paklik. Om, sih, udah biasa.”


“Saya tiga puluh dua tahun dan baru kembali dari California. Jadi … panggil saya Om.”


Mima mencibir pada Dayat.


Tini mengetuk wadah lauk yang dipegangnya. “Jangan berdebat di depan makanan meski makananmu kurang. Itu yang selalu kami terapkan di Kos Kandang Ayam. Mima … kamu udah makan? Kalau belum duduk di sini. Makan sama-sama. Budhe juga mau nyoba masakan ibumu. Dari dulu masakannya selalu enak meski kalau masak kesannya buru-buru. Bahan sederhana selalu bisa jadi masakan macem-macem. Kalau dipikir-pikir kami semua pernah dikasih makan sama ibumu.” Tini mulai mempersiapkan alat makan buat Dayat.


“Aku pulang aja. Nanti Ayah nyariin,” kata Mima, merogoh ponselnya dari saku dan mengecek pesan masuk.


Dengan jari telunjuknya, Dayat menggeser piring kosong sampai tiba di depan Mima. “Kenapa buru-buru pulang? Memangnya kamu bisa bantu apa di rumah? Mending makan di sini. Ayo.” Ucapan Dayat terdengar sedikit memerintah. Ujung telunjuknya mengetuk tepi piring keramik.


Mima mendengkus. “Paklik … aku emang enggak bisa bantu banyak di dapur. Tapi kehadiranku selalu bisa menghibur banyak orang di rumah. Paklik Dayat enggak tahu siapa seorang Fatimah Putri Satyadarma? Dia adalah gadis yang wajahnya selalu bercahaya dan kemerahan. Seperti ini." Mima menangkup pipinya dengan kedua tangan dan mengerjap-ngerjap memandang Dayat.


Dayat menaikkan satu alisnya pada Mima, lalu menelengkan kepala memandang Tini. “Mustahil Mbak Dijah dan Mas Bara bisa buat anaknya jadi begini. Akung Wirya juga orangnya kalem. Genetik narsis ini sedikit mirip dengan Mas Heru. Tapi mustahil karena Mas Heru enggak setiap hari ketemu anak ini. Aku curiga gaya bicara begini”—Dayat mengangkat sendok menunjuk Mima—“pasti ada hubungannya dengan Mbak Tini. Berapa jam dalam seminggu kalian ngobrol, Mbak?” Dayat mulai mengisi piringnya dengan lauk.


Tini menyipitkan mata. “Masih mau meminta muridku makan semeja dengan kamu? Biar Mima pulang sekarang. Kamu bakal kewalahan meladeninya,” kata Tini, memandang Mima. Sedikit berharap kalau Mima akan mengikuti sarannya untuk segera pulang meninggalkan Dayat.


Mima mengangguk, lalu mengantongi ponselnya. “Aku pulang sekarang.”


“Tapi Paklik Dayat mau makan ditemani Mima,” potong Dayat cepat-cepat, mengulas senyum yang menampakkan sebelah gigi gingsulnya.


“Yat …,” ucap Tini sangat pelan. “Memangnya As—”


“Kamu pasti belum makan, kan? Ini enak banget. Kalau takut gemuk nasinya sedikit aja.” Dayat menyusun lauk di depan kursi yang sandarannya masih dipegangi Mima. Sengaja memotong perkataan Tini sebelum kakaknya itu merusak suasana hatinya dengan salah menyebut nama. “Atau makan lauk dan sayur aja? Hindari karbohidrat biar tetap langsing begini.”


“Paklik—”


“Om, saya bilang panggil Om. Duduk, makan. Temani saya dan Budhe Tini ngobrol. Atau kalau Budhe Tini enggak mau ngobrol bisa meninggalkan kita sebentar.”


“Jangan sembarangan, Yat …. Makin tua jantungku makin enggak kuat buat bercanda gini. Ini ayamnya enggak dimakan?” Tini mengangkat wadah semur ayam yang dibawakan Mima dari rumah.


“Buat Mima aja. Sekarang aku enggak suka ayam,” kata Dayat, kembali menyodorkan wadah lauk yang lain agar Mima mau duduk di seberangnya.


“Gayamu enggak suka. Biasa dikasih ayam mangap terus,” timpal Tini.


“Dikasih ayam mangap terus …. Lalu ngunyahnya gimana kalau mangap terus?” Dayat mengangguk ketika Mima pelan-pelan menggeser kursi dan ikut duduk di seberangnya.


Mima menarik napas kemudian menyilangkan tangan di depan dada. “Aku enggak mau makan. Semua lauk itu dibawakan Ibu buat Budhe Tini. Kalau Paklik Dayat mau ditemani makan, aku bakal duduk di sini. Budhe juga enggak apa-apa kalau mau duduk di sini. Akung juga belum nyampe rumah.”


Menyerah membujuk Mima untuk pulang, Tini menghela napas panjang. “Oke, Budhe duduk di sini.” Tini memandang Mima, lalu beralih ke Dayat. “Kamu cepat habiskan makananmu. Kalau mau istirahat bisa di kamar Banyu.”


“Santai, Mbak ….” Dayat mulai menyendokkan nasi ke mulut. “Sekarang SMA, kan? Kelas berapa?” Dayat kembali mengalihkan perhatiannya pada Mima


“Udah punya pacar?”


“Yat ….” Tini kembali mendelik pada adiknya.


“Enggak ada pacar, tapi ada cowo yang lagi deket sama aku. Harusnya Paklik bisa lihat kalau cewe secantik aku ini, enggak mungkin enggak ada pacar.” Mima yang keras kepala tak mengindahkan Tini.


“Yang ngomong kamu cantik siapa?” Dayat kembali menyungging senyum.


“Banyak,” jawab Mima kalem.


“Kamu masih kecil jangan pacaran-pacaran. Cowo-cowo yang kamu bilang keren itu belum tentu keren di usia dewasanya. Jangan buang waktu dengan orang-orang yang enggak membawa manfaat untuk kamu. Kamu masih muda. Fokus belajar. Sekolah yang bener. Sekolah itu penting buat perkembangan pola pikir. Bukan cuma buat cari kerja. Tapi pendidikan yang bagus bisa membantu kita dapat kerja bagus juga. Paham?” Dayat bertanya sambil menyendokkan potongan sayur terakhir ke mulutnya.


“Ribet,” kata Mima. “Kakaknya temenku enggak kuliah tapi bisa jadi pengusaha. Malah katanya enggak lulus SMA. Bisa kaya tuh.”


Dayat meletakkan sendok dan menggeser piringnya ke samping, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. “Fatimah … dengar saya. Kalau ada yang kebetulan bisa nyeberang di jalan tol bolak-balik dan selalu selamat, bukan berarti yang dilakukannya itu benar. Dia Cuma beruntung. Kamu paham?”


"Aku merasa lagi denger pimpinan firma hukum Danawira lagi ngomong. Kamu makin lama makin serem, Yat." Tini mengusap lengannya dengan ekspresi bergidik.


“Aku malah merasa seperti ngomong sama Akung? Paklik Dayat udah tua, ya? Memangnya umur berapa?”


“Sorry, bukan tua. Saya lebih suka disebut dewasa. Abaikan soal usia saya, yang terpenting saya bisa biaya sekolah kamu sampai selesai. Kalau kamu mau—”


“Stop, stop, stop! Kamu enggak paham dengan yang aku sampaikan tadi, Yat? Kamu praktisi hukum. Jangan bercanda dengan anak di bawah umur. Kalau Mima ngelapor ke ayahnya, kamu bisa digelandang. Mima ini kesayangan Pakdhe Heru-nya. Dan kamu tau Pakdhe Heru itu kesayangan siapa?”


Dayat menggeleng. “Aku enggak mau denger jawaban Pakdhe Heru itu kesayangan siapa. Skip,” sahut Dayat yang mengerti betul lanjutan ucapan Tini.


Mima memperhatikan Dayat lebih teliti. Ia memang belum pernah bertemu dengan pria yang berdandan serapi dan sekelimis itu. Jas yang tadi dikenakan kini tersampir di sandaran kursi ruang makan.


Sebelum duduk tadi, Mima melihat Dayat menggulung sedikit bagian lengan kemejanya. Wajah Paklik yang samar-samar dalam ingatannya itu jauh berubah. Sepertinya orang yg ia jumpai kali ini bertubuh lebih tinggi dan berisi. Rambut depan yang biasa jatuh menutupi dahi, kini tersisir rapi dan tampak basah karena minyak rambut.


Mima menajamkan ingatannya. Pelan-pelan seorang pria ganteng yang tersenyum menampakkan gigi gingsulnya muncul di ingatan. Ia lupa soal usianya. Yang jelas saat itu ia tengah di rumah Tini bersama ibunya. Pria yang dipanggil Paklik itu tergesa-gesa keluar rumah dengan sebuah ransel. Saat itu Dayat berteriak dari teras.


“Mbak Tini, aku berangkat dulu ya. Pacarku udah jemput.”


Entah kenapa ingatan itu membuat Mima mengerucutkan bibir. Ia berdiri dari kursi ketika Tini dan Dayat sedang berdebat kecil. Kakak beradik itu sepertinya menyembunyikan sesuatu karena Tini terus-menerus bicara dengan suara rendah.


“Budhe, aku pulang sekarang. Sebentar lagi Akung pasti nyampe.” Mima merapikan kursi yang tadi ditempatinya.


Dayat dan Tini terdiam.


“Ngapain buru-buru?” Dayat kembali berusaha mencegah.


“Enggak buru-buru, kok. Kan, udah ngobrol lumayan banyak.” Mima merapikan kausnya, lalu memandang Tini. “Budhe aku pulang.” Melihat Tini memgangguk, Mima tak lagi memandang Dayat.


“Kamu sekolah di man—” Ucapan Dayat terhenti. Ponselnya yang tergeletak di meja bergetar panjang. Sebuah telepon masuk mengalihkan perhatian mereka semua. Termasuk Mima yang sudah berdiri dan ikut memandang layar ponsel.


“Lik … jawab teleponnya. Asih, tuh … Asih ….” Mima mencibir dan berlalu dari ruang makan Tini.


To be continued