Dul

Dul
044. Menyusul Dul



“Halo? Ra? Itu Dul keliatan lagi nelfon. Bukan nelfon kamu?” tanya Heru dari dalam mobil. Matanya tak lepas menatap Dul yang berada di teras outlet ayam goreng. Ia memarkirkan mobil di seberang SPBU. Jalan raya yang tak terlalu lebar dan outlet ayam goreng yang sepi, membuat kehadiran Dul malam itu cukup jelas dilihat dari kejauhan.


“Enggak, Mas. Belum ada nelfon aku. Aku mau nelfon Dul duluan malah cemas dia makin kalut. Kata Ayah, diemin dulu beberapa saat. Yang penting Dul enggak ke mana-mana. Aku nyusul ke sana sekarang. Ini Ayah baru nyampe. Ketemu di sana, ya.”


Heru mengakhiri pembicaraan dengan Bara dan kembali memusatkan perhatiannya pada Dul. Dari kejauhan, Dul masih berbicara melalui ponsel. Perutnya lapar, tapi tak mungkin ia meninggalkan Dul sebelum Bara tiba. Setidaknya, mereka harus serah terima Dul lebih dulu.


“Apa Dul enggak laper?” gumam Heru, melemparkan tatapannya ke seberang jalan.


Di teras outlet ayam goreng.


“Jadi … aku boleh ke rumahmu?” tanya Dul, memastikan.


“Boleh aja. Kenapa pula gak boleh? Eh, tapi mamakmu ke mana? Ayahmu? Apa kau enggak dicariin?” Robin balik bertanya di seberang telepon.


“Dicariin?” Dul menunduk memandang sepasang sandal yang dikenakannya.


Sandal itu talinya terbuat dari kulit berwarna cokelat dan nampak kokoh. Baru dibeli sebulan yang lalu. Bara membawa mereka semua berbelanja saat menerima bonus tahunan dari kantor. Ia dan Mima kebagian. Terutama ibunya. Dua hari sesudah menerima bonus itu, ibunya mengenakan perhiasan baru di pergelangan tangan. Sedangkan Bara sendiri mengatakan sedang tak ingin membeli apa pun saat itu.


“Ayolah. Kayaknya kepingin kali kau jumpa aku malam ini. Kita gak usah jumpa di rumahku. Jumpa simpang aja. Kan belom malam kali ini. Kita cakap-cakap dulu. Abis itu baru ke rumahku. Kita susun dulu rencana soal apa yang mau kita bilang sama mamakku. Kalo enggak matang rencana kita, bisa habis kita dibabatnya.”


“Kirim alamatnya sekarang. Kayanya uangku masih cukup buat ongkos,” tukas Dul, menarik lembaran uang yang tersisa di saku celananya.


Robin mengirimkan alamat tak sampai lima menit kemudian. Dul mengamati titik lokasi yang dikirimkan Robin. Berliku-liku, yang jika dilihat dari peta bisa dikatakan cukup jauh. Ponsel Dul bergetar pendek. Robin mengirimkan pesan.


Robin :


Nanti kalo udah mau sampe, kabari aja. Biar aku ke depan bawa kereta buat jemput kau.


Dul :


Iya.


Hampir setengah jam menunggu, Heru melihat Dul berdiri dari kursinya.


“Eh…eh, mau ke mana itu?” Heru meraih ponselnya untuk langsung menghubungi Bara. Untungnya Bara langsung menjawab panggilan. “Ra, udah di mana? Dul kayanya mau pergi. Waduh,” ujar Heru sedikit panik.


“Udah nyampe…udah nyampe. Mobilku di belakang, Mas.”


Bara memang baru saja menghentikan mobilnya tepat di belakang Hummer Heru.


Heru menoleh ke belakang dan melihat Bara bersama Pak Wirya turun dari mobil terburu-buru. Heru langsung membuka pintu mobil agar Bara dan Pak Wirya bisa ikut masuk ke mobilnya.


“Ayo, Ayah naik dulu.” Bara membukakan pintu bagian tengah agar Pak Wirya bisa cepat masuk. Setelah Pak Wirya masuk dan Bara menutup pintu, cepat-cepat ia menempati jok di sebelah Heru.


“Itu Dul mau pergi,” ucap Heru menunjuk Dul yang sedang mengantongi ponselnya. Bocah itu berdiri dan memandangi jalan raya sejenak.


“Aku turun sekarang, ya. Biar aku cegah. Ini udah malem, dia mau ke mana?" Bara melihat Dul berjalan melintasi halaman SPBU.


“Di hapenya enggak banyak nomor yang disimpan. Paling-paling Robin. Dul enggak punya temen deket. Anaknya agak introvert. Sulit dekat dengan orang,” ucap Bara.


“Persis Dijah. Karena sulit percaya sama orang lain. Kayanya masih kesel, masih kecewa. Ayo, kita lihat dulu Dul kau ke mana. Biar Dul ketemu lebih dulu dengan siapa yang mau ditemuinya.” Pak Wirya yang sejak tadi diam, kini bersuara.


“Jadi, kita ikuti Dul aja, Lik?” tanya Heru. “Dul belum makan, kan? Dul pasti laper.”


“Kita ikuti dulu. Mobil Bara bisa ditinggal sebentar enggak apa-apa kan, Ra?” Pak Wirya menoleh ke belakang.


“Biasanya sih, enggak apa-apa. Lagian deket sama Polsek. Ya udah, kita ikuti aja. Tapi…kalau Dul malah mau ketemu orang lain, selain Robin gimana? Mana Dul naik angkot,” gumam Bara. Matanya tak lepas memandangi Dul yang kini berada di tepi jalan.


“Masih terlalu cepat. Kita biarkan Dul mengurai amarahnya sepanjang jalan. Atau setidaknya kalau Dul ketemu kamu nanti, Dul bisa ngomong dengan jelas apa yang dirasakannya. Ayah cuma khawatir kalau dijemput sekarang, dia malah diam. Diam dan terus diam melakukan pertahanannya.” Pak Wirya mencondongkan tubuhnya ke depan, ikut mengawasi Dul yang fokus melihat angkot melintas.


“Lihat, kita malah enggak tau kalau Dul itu sebenarnya anak yang pemberani. Dia berhentiin angkot dan nanya tujuannya.” Pak Wirya tak melepaskan tatapannya.


“Ah, syukurlah akhirnya Dul naik ke angkot,” ucap Heru, memasukkan persneling dan melajukan mobil.


“Anakku kabur dari rumah. Mas malah bilang syukur,” gerutu Bara.


“Aku udah laper. Memangnya kamu dan Paklik udah makan?” tanya Heru, mulai membuntuti ke mana angkot melaju.


“Belum makan, sih. Tapi Mas enggak perlu ikut kalau memang laper. Aku dan Ayah enggak apa-apa, kok.” Bara menoleh ke belakang melihat Pak Wirya. Pria tua itu sedang bersandar di bagian tengah jok dengan tatapan ke depan.


“Iya, Her. Apalagi kamu belum pulang ke rumah. Maaf kalau kami merepotkan,” ucap Pak Wirya.


“Merepotkan apa sih, Lik? Ini tuh udah nanggung. Aku udah jadi mata-mata dari tadi. Aku juga kepingin liat akhirnya gimana. Itung-itung belajar buat ilmu parenting. Nambah pengalaman,” tukas Heru.


“Kalau bisa cukup kamu aja yang bolak-balik kabur dari rumah. Anak kamu jangan,” tambah Pak Wirya santai.


“Iya, cukup Mas Heru aja yang sering kabur. Mana kalo kabur pake drama. Padahal memang pengin dibeliin sesuatu.” Bara mendengkus.


Heru terkekeh-kekeh di belakang kemudi. “Sebenarnya aku liat Dul ini mirip aku jaman dulu. Cuma beda case sedikit. Dul mau diperhatiin,” ucap Heru.


“Memang banyak yang mengatakan kalau cinta itu sebaiknya ditunjukkan dengan perbuatan. Tapi sebagian orang ingin mendengar cinta dalam bentuk ucapan. Walau sering dianggap gombal, segombal apa pun, semua pasti suka dinyatakan cinta dari sosok yang diinginkan. Bukan begitu, Her?” tanya Pak Wirya, memandang Heru.


“Jelas begitu, Paklik. Dan angkot Dul baru aja menepi. Kayanya rumah Robin masuk ke jalan itu." Heru menunjuk satu-satunya jalan di sekitar mereka. "Ke dalam sana pasti jauh, gelap juga.” Heru menepikan mobil tak jauh di belakang angkot yang baru saja menurunkan Dul.


“Itu Robin…itu Robin. Bener, Dul ketemu Robin.” Bara menunjuk Robin yang sedang menduduki motor yang diparkirkan di depan ruko, tak jauh dari sebuah jalan menuju rumahnya.


“Kira-kira ngomongin apa, ya?” gumam Bara.


“Kayaknya bakal lama itu. Gimana kalau kita makan bakso dulu. Lihat itu,” Heru menunjuk sebuah ruko yang bertuliskan, ‘Bakso Semar Mesem’ tak jauh dari ruko yang ditempati motor Robin.


To Be Continued