Dul

Dul
169. Cerita Satu Persatu



“Ini ketemu siapa lagi, Pa? Di acara apa? Papa panik banget gitu.” Putra Heru yang baru menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, hari itu khusus hadir demi menghadiri pernikahan Dul.


“Sini kamu duduknya lebih dekat ke Mama. Mama lagi enggak mau deketan sama cowok mata keranjang ini.” Setelah mengedikkan bahu ke arah Heru, Fifi menarik lengan kemeja putranya yang duduk di sisi kanan.


Putra Heru tergelak. Sekian tahun hidup tidak serumah, ia mengira orang tuanya bakal berubah. “Cowo? Please … laki-laki di sebelah Mama itu udah bisa dipanggil Opa. Cowo dari mana?”


“Pssst …. Hei!” Heru memanggil putranya dengan jari telunjuk. “Kamu yakin ikutan ngeledek Papa? Kalau Papa dipanggil Opa, kamu harus cari calon istri secepatnya. Susul Mas Dul,” kata Heru dengan wajah cemberut.


“Aku enggak belain siapa-siapa. Lucu aja. Dari dulu enggak ada berubahnya. Yang satu cemburuan terus, yang satu hobinya tebar pesona terus. Udah, ah. Aku enggak mau liat Mama gini. Jangan cemberut terus. Ini acara Mas Dul. Lihat di sana … Akung Wirya dan Uti Yanti lihat ke sini, tuh.” Tirta merangkul Fifi dan membuat kepala wanita itu bersandar ke bahunya.


“Mama bakal terus cemberut kalau Papa kamu enggak ngasih tau siapa wanita yang dilihatnya sampai kepalanya miring-miring. Enggak mungkin cuma kenalan biasa. Pasti pernah ada sesuatu.” Fifi menyipitkan mata memandang Heru.


“Bukan siapa-siapa. Masa, sih, aku harus jelasin panjang lebar soal gitu aja. Dari dulu enggak ada yang lain selain kamu. Siapa, sih, yang bisa mengalahkan pesona Fifi Mochtar sang idola kampus. Fifi Moch—” Ucapan Heru terhenti karena tiba-tiba Fifi menegakkan tubuh dan memandangnya dengan sorot permusuhan.


“Sepertinya memang hari ini waktunya,” kata Fifi tiba-tiba.


“Hari apa, Ma? Mama jangan buat macam-macam.” Tirta kembali meraih tangan Fifi.


“Selama ini papa kamu mengira kalau Mama enggak tahu dulunya pacar papa kamu dua orang sewaktu ngedeketin Mama. Papa kamu pasang dua. Mama luluh sama seorang playboy. Papa kamu ini playboy dulunya.” Menit itu Fifi memang terlihat jengkel.


Heru susah payah menahan tawa. “Tapi sekarang aku udah bukan ‘boy’ lagi, Fi. Udah ‘man’ atau lebih cocok ‘old man’. Jadi kalau disambung jadinya playman atau playoldman.” Heru mengatupkan bibir karena khawatir akan menyemburkan tawanya.


“Jadi, wanita tadi siapa? Tamunya Paklik Wirya? Orang universitas?” Fifi masih terus mendesak Heru soal wanita manis berkacamata yang coba disapa suaminya.


“Teman kampus dulu … atau kenalan zaman kuliah dulu. Aku juga enggak terlalu ingat.”


“Bohong,” potong Fifi cepat. Tangannya tiba-tiba mencengkeram lengan Heru. “Siapa?!”


“Rini. Itu mantan aku zaman kuliah, Fi. Rini…namanya Rini. Dia ke resepsi Dul bareng suaminya. Aku enggak tau hubungannya ke Dul ini apa. Bisa jadi dia saudaranya Annisa. Aku enggak ngapa-ngapain, kok. Cuma melambaikan tangan aja. Itu juga enggak digubris sama dia.” Penjelasan Heru seperti berondongan senjata. Wajahnya juga tidak terlalu ramah saat menjelaskan duduk perkara pada Fifi. Selain memang ia merasa tidak berbuat apa-apa, Heru juga sedikit kesal karena wanita yang ia sapa hanya melengos seperti tidak mengenalinya. “Aku agak tersinggung. Kenapa Rini keliatannya enggak kenal aku? Apa memang udah enggak mengenali aku lagi?”


“Kayanya kamu harus cepat-cepat menikah. Kamu udah punya pacar? Selisih umur kamu cuma empat tahun dengan Dul, kan? Apa Mama salah ingat? Papa kamu harus segera jadi Opa biar enggak jelalatan lagi. Pensiun dari kantor dan di rumah jaga cucu.” Fifi menepuk paha Heru sedikit keras. Membuat pria itu sedikit meringis dan menangkap tangan istrinya untuk ditenangkan.


“Bener itu. Dulu sewaktu pertama kali kenalan dengan Dul, Tirta umur dua tahun. Dul waktu itu sedang persiapan masuk SD. Kamu masih dua puluh tiga tahun. Jangan cepat-cepat menikah. Pria itu harus banyak pengalaman,” beber Heru sambil pelan-pelan memindahkan tangan Fifi ke pahanya. “Memangnya kamu udah punya pacar?” Heru mengedipkan mata pada Tirta ketika berhasil menggenggam tangan Fifi di pangkuannya.


Tirta mendengkus samar melihat taktik yang dilakukan papanya untuk meluluhkan sang ibu selalu berhasil. “Siapa yang bisa mengalahkan Bapak Heru Gatot Satyadarma? Pemuda-pemuda dalam keluarga pun semuanya angkat tangan.” Tirta tertawa kecil melihat keributan dan kerukunan yang biasanya berganti begitu cepat ketika orang tuanya bicara.


“Aku enggak nyangka waktu Mama ngomong Mas Dul mau nikah. Kayanya enggak pernah punya pacar. Keseringan sendiri ke mana-mana. Cuma beberapa kali aku diajak ketemu bareng temannya. Bang Robin, Mas Putra, Kak Yoseph. Enggak pernah ngobrol soal pacarnya. Eh, taunya nikah sama cewe yang ditaksir dari zaman SMP. Enggak nyangka …. Akhir dari perjalanan si pria kalem.” Tirta bicara ketika mereka sekeluarga mengamati Dul dan Annisa di kejauhan.


Heru tiba-tiba tertawa. “Papa itu bisa dibilang keren, lho. Papa yang ngajarin pilot pesawat tempur nyetir mobil. Keren, kan?” Heru menyenggol Fifi dengan bahunya.


“Keren, dong …. Ditambah mantan pacarnya ada di mana-mana.” Fifi akhirnya terbahak-bahak karena geli mendengar perkataannya sendiri. Terlebih Heru langsung diam dan mengerucutkan mulutnya.


“Itu teman-temannya Mas Dul ya, Pa? Yang di sebelah Kak Yoseph itu istrinya?” Tirta menunjuk sekelompok orang yang duduk salah satu meja VIP.


“Oh, iya. Yang duluan nikah itu Yoseph. Dul yang kedua. Awal bulan depan Putra yang menyusul. Kartu undangannya baru dikasih ke Papa.”


“Wah … Bang Robin selalu menjadi misteri ya ….”


*****


Resepsi pernikahan sudah melewati tengah hari. Waktu di mana keramaian tamu mencapai puncaknya. Dul dan Annisa sudah berganti pakaian. Dari keduanya mengenakan pakaian adat Sumatera Barat, kini berganti menjadi pakaian adat Jawa Tengah. Belum tampak tanda-tanda lelah atau kebosanan di wajah keduanya.


Sebuah meja bundar dengan tulisan VIP di tengahnya sedang dikelilingi beberapa orang yang tidak asing bagi hidup Dul.


Yoseph duduk bersebelahan sangat dekat dengan istrinya; Nathalia. Aura pengantin baru memang melekat erat di wajah keduanya. Saling berbisik, bercerita dengan suara rendah dan tertawa kecil mengisi kegiatan mereka sepanjang menghadiri resepsi sang sahabat. Di sebelah mereka duduk seorang pria yang menantikan kehadiran kekasihnya yang memang akan terlambat hari itu.


“Seph! Apa gak bisa kau bagi ceritamu sikit? Bisik-bisik aja kutengok kau dari tadi. Jangan ada forum di dalam forum. Geser sini kau sikit. Apa yang kau ceritakan dari tadi?” Robin sengaja menggoda Yoseph yang sejak tadi jarang ikut menimbrung obrolan.


Yoseph menuruti Robin dengan menggeser kursinya menjauhi Natalia. Ia lalu ikut memangil Putra yang berada di sebelah Robin agar ikut mendekat. “Ke sini, Put. Saya mau cerita sesuatu. Untuk pelajaran kita semua yang sebentar lagi pasti akan melewati fase ini.”


“Nah, dari tadilah kau cakap. Kayak gak tinggal serumah aja kau sama si Nathalia. Lengket terus kayak kanji sama air. Apa itu? Bagi-bagilah ceritanya ….” Robin langsung menepuk lengan Yoseph ketika sahabatnya itu mendekat.


“Sepertinya Yoseph dan Nathalia ada kabar bahagia tapi masih ragu. Pagi tadi istri Yoseph mencoba alat rest kehamilan. Tapi hasilnya sedikit membingungkan kita berdua.” Keraguan pagi tadi berhasil diungkapkan Yoseph di hadapan teman-temannya.


“Kenapa harus bingung? Di bungkus alat tes ada petunjuknya. Di tipi-tipi (TV-TV) ada iklannya. Katanya garis dua positif hamil, garis tiga merek Adidas. Apa lagi yang kau bingungkan?” Robin memandang Yoseph dengan jumawa.


To be continued