Dul

Dul
132. Jomblo Paling Berkualitas



“Aku kepingin kali punya cewek. Kepingin aku membujuk perempuan lain selain mamakku. Dua puluh dua tahun hidupku di dunia ini, cuma mamakku aja yang kepegang tangannya. Kalau Duma mau, aku langsung serius ini ….” Robin lalu membekap mulutnya untuk menahan tawa.


“Jadi, Dul gimana? Dia bakal jadi satu-satunya yang belum punya pacar,” kata Yoseph.


Robin kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dul sebentar lagi bakal upacara kelulusan di kampus AAU. Dia bakal pulang buat liburan sebelum masuk ke Sekolah Penerbang. Jadi, kita masih punya waktu buat mencarikan Dul cewe paling cantik. Cemana kalo kita kenalkan dia sama cewek? Cemana menurut kelen?” tanya Robin.


“Siapa?!” Suara Putra dan Yoseph berseru nyaris bersamaan.


“Dul pernah ngomong kalo kita gak boleh bahas-bahas soal Annisa. Dul gak mau kita singgung-singgung soal Annisa sikit pun. Kalo gitu … cemana kalo kita kontak si Lova yang masih jomblo? Masih cantik si Lova. Udah kerja dia sekarang. Cemana? Siapa tau bisa CLBK?”


Putra dan Yoseph mengangguk-angguk.


“Boleh juga ide kamu, Bin. Itu demi mengurangi rasa bersalah kita karena meninggalkan Dul sendirian. Kamu bisa buat janji sama Dul mulai dari sekarang.” Putra mengangguk setuju.


Sementara itu di sebuah rumah di tempat lain, seorang remaja perempuan SMA sedang duduk di sofa sambil memangku toples kerupuk. Ia duduk miring dengan menyipitkan mata memandang ayah dan ibunya yang tidak acuh padanya.


“Ayah Ibu harus jawab … berapa uang saku Mas Dul selama ini? Aku lihat Mbak Nisa pakai cincin kecil yang dia usap berkali-kali waktu kita makan siang minggu lalu. Pasti dibelikan Mas Dul. Dan itu dari uang saku. Jawab, Yah,” kata Mima, memencet lengan Bara yang berada paling dekat dengannya.


“Anak Ibu yang ini kenapa, sih? Ngomongin apa?” gumam Bara, menyenggol lengan Dijah.


“Enggak ngerti ngomongin apa. Cincin yang mana? Mungkin Nisa dapat hadiah dari Ciki. Kenapa langsung nuduh Mas Dul yang beliin.” Dijah mencibir menatap Mima.


“Pasti Mas Dul yang belikan cincin itu. Aku yakin. Mbak Nisa senyum-senyum gitu. Pupil matanya membesar tiap lihat cincin itu. Enggak mungkin Mbak Nisa sesayang itu sama Ciki.” Mima menyilangkan tangan di depan dada.


“Panjang banget interogasinya. Memangnya selesai SMA mau kuliah jadi apa? Jadi detektif? Atau mau jadi Polisi? Jaksa?”


“Jadi pengacara,” potong Mima.


“Udah, ah. Itu terus yang dibahas dari minggu lalu. Ibu bukan bela Mas Dul atau Mbak Nisa. Tapi memang enggak sopan ditanya-tanya soal cincin. Yah, bisa jadi Mbak Nisa dikasih papanya, atau kakak laki-lakinya. Kalau masalah uang jajan, Ayah enggak pernah ngasih lebih. Mas Dul, kan, di asrama. Enggak banyak pakai uang. Kalau Mas Dul bisa nabung untuk ngasih Mbak Nisa sesuatu, Ibu dan Ayah enggak boleh mencampuri. Uang jajan itu udah jadi hak Mas Dul. Gitu, kan, Yah?” Dijah menyenggol lengan Bara dengan sikunya.


“Ini bukan soal apa yang dikasih Mas Dul ke Mbak Nisa. Tapi soal tranparansi kenaikan uang saku—“


“Mbak Mima uangnya habis buat dandan dan baju baru. Minggu lalu baru dikasih sama Pakdhe Heru, terus lusanya ada kurir dateng. Kerjanya belanja online.” Ibrahim yang baru masuk ke rumah keluarga, tiba-tiba ikut menimpali.


“Tugasku beli yang enggak penting, Bu. Kalau beli yang penting itu tugasnya Ayah.” Mima berkilah.


“Ngeles aja. Sekarang kirim pesan sama Mbak Nisa, Sabtu nanti nginap di sini aja. Sekalian coba baju yang selesai dijahit. Minggu depan acara kelulusan Mas Dul. Ibu udah enggak sabar.” Dijah melingkarkan tangannya di bahu Bara. “Anakku Perwira, Mas,” kata Dijah.


“Anak kamu aja? Mas enggak dihitung?” Bara menggesekkan dagunya ke dahi Dijah. “Harusnya malah Mas yang ngomong gitu duluan. Anak Mas Perwira,” sambung Bara.


“Oke … aku cuma asisten yang bantu-bantu jaga pacar Perwira.” Mima mulai mengetikkan pesan pada Annisa.


‘Mbak Nisa, kata Ibu hari Sabtu nanti nginep di rumah aja. Kita mau fitting pakaian buat foto studio. Kalau Mbak pulang kemaleman kabari aja. Nanti aku dan Ayah yang jemput.’


***


Seminggu kemudian di outlet SAMBAL NAKAL, tiga orang pria muda kembali menunduk di sebuah ponsel. Mata mereka sedang membulat menatap sebuah pesan. Dari Lova.


‘Ketemuannya dalam minggu ini, kan? Aku juga kangen banget sama Dul. Enggak sabar ketemu Letda Abdullah. Kabari aku segera, ya Bin. Aku mau siapkan surprise buat Dul.’


Putra mematikan layar ponsel dan memandang wajah Robin lekat-lekat. “Bin … kamu yakin Dul enggak marah kalau tiba-tiba kita bawa Lova lagi?”


“Memangnya mau kita apakan? Cuma jumpa ajanya. Bukannya mau langsung kita kawinkan. Sejak aku jadian sama Duma, fiks-lah si Dul yang jomblo sendirian. Gak jelas siapa cewenya.”


“Ya, sudah. Kirim pesan ke Dul kalau Minggu depan kita janji berkumpul di café. Ayo, ketik, Bin.” Yoseph mengetuk jarinya ke meja. Robin mulai mengetikkan pesan di ponselnya.


'Halo kawan awak yang sebentar lagi bakal bakal jadi Letda. Minggu depan kita kumpul-kumpul sesama laki-laki, ya. Ada yang mau kamu ceritakan sama kau. Demi masa depan kita semua.’


Robin menekan tombol KIRIM, kemudian meletakkan ponselnya. “Udah. Beres. Terserah si Dul mau atau enggak sama si Lova. Yang penting kita pastikan si Dul ini normal. Sejak masuk asrama dan gak dapatnya si Annisa, gak pernah lagi dia cakap-cakap soal cewe. Kurasa trauma dia main cewek.” Robin menggeleng prihatin.


"Yang jelas ... Letda Abdullah PS adalah jomblo paling berkualitas yang pernah saya kenal." Yoseph bicara dengan tatapan menerawang ke arah jalan.


To Be Continued