Dul

Dul
130. Perlahan Ke Masa Depan



Sudah di tahun terakhir Dul berada di Akademi Angkatan Udara. Dijah yang sekarang, memiliki asisten rumah tangga yang pulang pergi setiap hari. Katanya sekarang tidak terlalu repot karena anak-anak sudah besar. Kesibukannya hanya berkisar soal menu makanan, memasak menu sehat buat mertua, mengomeli Mima yang terlalu bersemangat membicarakan kakak kelasnya yang ganteng, atau mengomeli Ibrahim yang belakangan suka bermain bola sampai waktu maghrib.


Dan sekarang, Dijah sedang sibuk memilih kain batik yang sama untuk membuat seragam foto keluarga saat dul menamatkan pendidikannya di AAU yang hanya tinggal menghitung hari.


Dijah memang sudah menjadi ibu-ibu pada umumnya. Mencari tas senada dengan warna kain yang ia pakai. Mengkhawatirkan tinggi sandal yang akan dipakainya di upacara kelulusan Dul.


Sedangkan Bara sibuk memilih-milih di studio mana nantinya mereka akan berfoto. Lain lagi dengan Mima yang kesibukannya berkisar soal dandanan yang terlihat sederhana tapi cantik. Namun juga memukau para lulusan sarjana terapan pertahanan yg dibayangkannya sebagai perwira-perwira muda yang ganteng.


Bara harus mencubit pipi anak perempuannya itu beberapa kali agar tidak terlalu centil.


***


Di suatu tempat yang tidak jauh dari sana. Sebuah ruko yang seluruhnya dicat merah dikelilingi steling tinggi dari kaca dan dipenuhi tumpukan varian 'Sambal Nakal' sedang meladeni beberapa pembeli.


Dua orang pegawai wanita yang juga memakai seragam berwarna merah sedang memasukkan botol-botol sambal ke dalam kardus. Sementara dua org pria lainnya yang juga berseragam sama sedang menyusun kotak dan mengikatnya ke boncengan motor.


Tak jauh dari kesibukan empat orang itu, seorang pria berambut keriting menekuk wajahnya di atas catatan. Sesekali ia menoleh pegawai wanita di dekat steling, sesekali ia menoleh jalanan di depan ruko.


"Jam berapa sebenarnya Bos kelen datang? Baru jadi CEO botolan aja udah lama kali datangnya. Cemana mau sekaya Bill Gates." Robin mengerutkan dahinya saat mengatakan itu.


Seorang pegawai wanita berhenti memasukkan botol-botol dan menoleh ke arah Robin. "Kan, tadi saya udah bilang, Mas ... kalau Pak Putra dan Pak Yoseph pagi ini ada janji, katanya jam sepuluh baru sampai di sini."


Robin meletakkan pulpen yang sejak tadi diputar-putarnya di atas buku. “Dek, kau karyawan baru ya?"


Pegawai Sambal Nakal perempuan yang rambutnya diikat di atas tengkuk itu mengangguk. "Iya, Mas," jawabnya.


"Eh, jangan panggil aku Mas."


"Jadi ... dipanggil apa? Kak aja?" tanya pegawai wanita itu.


"Oke. Bang Robin ... Bos saya jam sepuluh baru ke sini," kata pegawai perempuan itu.


Robin mengangguk. Dalam sekejab saja ia sudah berdoa kalau Putra dan Yoseph akan terjebak macet entah di mana. Kalau bisa sampai malam, batinnya. Sampai toko itu tutup agar ia bisa menawarkan tumpangan pada pegawai perempuan manis yang baru ia temui hari itu.


"Jadi ... siapa namanya?" tanya Robin dengan nada suara yang jauh berbeda saat awal ia bertanya.


"Nama siapa?" tanya pegawai perempuan itu.


"Nama adeklah. Masa nama anak-anak kita. Kan, belum ada ...," goda Robin.


Pegawai perempuan itu mencibir sedetik, lalu ikut terkekeh bersama Robin. "Nama saya Duma, Bang."


"Aih, makjang ... nama adek bikin Abang tiba-tiba ingat pesanan Mamak Abang yang ada di kantong." Robin berdiri dan berpura-pura meraba kantongnya.


"Dari Mamak Abang? Apa yang Abang kantongi?"


"Restu, Dek," jawab Robin, melebarkan senyum seraya merapikan rambut keritingnya yang mencuat.


To Be Continued


Terima kasih sudah bersabar ya, Boeboo.


Saya sakit dan belum sembuh. Tapi menunda Dul sepertinya akan membuat saya makin lama sembuhnya. Doakan saya sehat-sehat selalu, ya.


Sayang Boeboo semuanya.