Dul

Dul
045. Menginginkan Pengakuan



“Ini gimana, sih? Malah mau ngebakso. Misi kita ini mau bawa Dul pulang….”


“Sekalian,” ucap Heru memotong perkataan Bara. “Itu mumpung Dul dan temennya parkir enggak terlalu jauh dari depan ruko bakso. Kita masih bisa ngeliat kalau duduk di luar. Di tempat yang gelap itu. Ayo…ayo, Lik. Mumpung Dul masih ngobrol. Inget, semua masalah bisa diselesaikan ketika perut kenyang.”


Sepertinya ketiga pria itu memang lapar. Terbukti ketika Heru mematikan mesin mobil dan keluar, Bara dan Pak Wirya mengikuti Heru yang berjalan tenang menuju lokasi duduk yang dimaksudkannya.


“Mbak, baksonya tiga, ya. Paket lengkap dari yang paling lengkap. Minumnya es teh manis dua, satunya teh tawar anget. Kita duduk di luar.” Heru tak perlu banyak bertanya lagi untuk menu makan malam di warung bakso dadakan saat itu. Perutnya sudah kelaparan sejak tadi.


Heru duduk di sebelah Pak Wirya, membelakangi jalan dan posisi Dul berada. Sedangkan Bara duduk menghadap jalan, menggunakan lindungan tubuh Heru dan Pak Wirya untuk mengawasi Dul dari celahnya.


“Nah, ini baksonya. Kita makan dulu. Kamu jangan sampai kehilangan posisi Dul. Aku udah lebih dulu jadi mata-mata sejak tadi.” Heru menyambut nampan bakso yang baru dibawakan seorang wanita.


“Jangan lama-lama, ya. Dijah di rumah sakit. Dul di sini. Aku enggak tenang,” ucap Bara.


“Memangnya Sukma enggak jadi dateng ke rumah sakit?” tanya Heru, meraih mangkuk sambal.


“Jadi…jadi. Sukma sekarang di rumah sakit nemenin Dijah. Ibu di rumah nemenin Mima. Tapi, kan, lebih baik kalau Dijah cepet ketemu Dul.” Raut Bara sejak tadi memang tak tenang. Ia sibuk menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan Dul.


Tak jauh dari tiga orang pria yang sedang menikmati bakso, wajah Dul yang kesal sedikit mengendur saat bertemu dengan Robin. Melihat Robin muncul dengan sepeda motor dan wajah sombong membanggakan kemampuannya mengendarai sepeda motor, cukup membuat pikiran Dul teralihkan.


“Jadi kenapa? Jauh kalilah kau sampe ke sini.”


“Ibumu? Enggak marah kalau kamu keluar bawa motor sendirian?” Dul sekarang cemas kalau Robin akan dimarahi karena memaksakan diri menemuinya di sana.


“Mamakku tadi sempat nanya aku pigi ke mana, kubilang aja mau makan bakso. Aku bawa duit ini.” Robin mengeluarkan pecahan dua puluh ribu dan memperlihatkannya pada Dul. “Kau dah makan? Cemana kalo kita makan dulu,” ajak Robin.


“Aku kepikiran ibuku. Juga kepikiran…kenapa enggak ada yang nyariin aku,” ucap Dul.


“Ah, mana mungkin kau gak dicari mamakmu. Aku yang tiap hari dengar mamakku merepet mau bungkusin bajuku dan disuruh tinggal di luar aja, masih dicari kalo pulang lama. Kadang-kadang itu cuma di mulut aja, Dul. Manalah mungkin kalo kita pigi enggak dicari,” tukas Robin, menyilangkan tangan di depan dadanya.


“Kamu sendirian, Bin. Enggak punya adik, atau kakak. Kalau kamu enggak pulang, ibumu enggak punya siapa-siapa lagi. Kalau aku? Ibuku sebentar lagi punya anak baru. Adiknya Mima. Katanya adik Mima laki-laki. Aku bukan satu-satunya lagi anak laki-laki di rumah.” Dul melemparkan pandangannya ke jalan raya.


“Dah makin berat kurasa apa yang kau cakapkan ini. Mending kita makan bakso aja. Ayo, kuminta buat porsi anak-anak. Biar cukup uang kita.” Robin menaikkan standar motor dan membawa motornya mendekati ruko bakso.


Sementara itu, di bangku sudut yang terlindung dalam kegelapan, Bara cepat-cepat mengubah posisinya. Tak menyangka kalau Dul dan Robin akan ikut duduk di warung bakso itu. Di bangku bagian luar pula.


“Kalau Dul tau, dia pasti bakal ngerasa diolok-olok. Kita kesannya enggak serius gini,” bisik Bara.


“Enggak bakal ketauan,” sahut Heru dalam bisikan.


“Dul, kita duduk di luar ajalah. Takut aku ninggalkan keretaku jauh-jauh. Lenyap pula nanti, habis aku disiksa mamakku.” Robin memundurkan kursi panjang di salah satu meja yang berada di luar.


Meja yang ditempati Robin dan Dul, bersisian dengan meja yang ditempati Bara. Yang membuat jarak mereka cukup jauh adalah bahwa meja dan bangku itu terlalu panjang. Satu bangkunya bisa ditempati enam orang dewasa. Dan mereka menempati kedua sudutnya. Sudut ke sudut. Bara bisa dengan mudah melihat wajah Dul hanya dengan sedikit memutar tubuhnya.


“Buk … bakso dua mangkok porsi anak sekolah, ya!” seru Dul.


“Kayak biasa?” tanya wanita di belakang steling kaca.


“Iya, kayak biasa. Karena ini udah malam, kalo ditambahin ceker-ceker atau tulang-tulang pun aku enggak nolak, Buk!" tambah Robin lagi.


“Kalo masih daerah sini, masih aman. Selo aja kau. Duitku pun masih cukup. Ternyata pas kukeluarkan dari kantong, ada selembar lagi.” Robin meletakkan dua lembar dua puluh ribuan di meja. Dia harus sedikit berbohong pada Dul. Tadi ibunya sengaja memberinya uang lebih untuk mengajak Dul jajan bakso sambil bercakap-cakap. Sepertinya ibunya tahu kalau sedang terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.


“Uangmu banyak. Aku enggak sempat ngambil uang di tas sekolahku. Padahal aku masih ada uang….”


“Berapa jajanmu?” tanya Robin.


“Dua puluh ribu,” jawab Dul, sambil memandangi botol saus dan kecap di meja.


“Eh, banyak itu. Jajanku sehari lima ribu. Baik kali ayahmu,” tukas Robin, menyentil tangan Dul yang menopang dagunya.


“Itu karena aku pulang sekolah harus langsung ke Bimbingan Belajar. Ayahnya Mima,” kata Dul pelan.


Di sisi meja lainnya, Bara menunduk. Memainkan sendok dan tiga buah bakso yang masih tersisa di mangkuk. Ia sudah menggigit bibir bawahnya. Pak Wirya menepuk-nepuk punggung tangan Bara agar anaknya bertahan sebentar lagi untuk duduk di sana lebih lama.


“Ah, ada-ada aja kau. Ayahmu juga itu. Jadi, gara-gara itu kau ke sini? Berantam sama ayahmu?” tanya Dul. Bocah itu menegakkan dirinya untuk menyambut nampan bakso yang datang.


“Enggak, aku enggak ribut sama siapa-siapa. Aku tadi keluar rumah karena mau nyari orang yang katanya bapakku. Ayahku itu bukan bapakku. Aku punya bapak lain. Di penjara. Jadi…aku ini anak penjahat, Bin.”


Suara sendok yang beradu dengan mangkuk terdengar cukup keras. Bara tak bisa lagi mendengar semua hal yang dikatakan Dul. Bukan ayahnya? Anak penjahat?


Karena sentakan itu, Dul dan Robin sama-sama menoleh.


“A-Ayah? Akung …. Pakdhe.” Dul menyebutkan semua nama itu tanpa suara. Hanya bibirnya saja yang berdecak. Wajahnya memerah. Seluruh percakapannya bersama Robin baru saja dicuri dengar oleh orang-orang yang dicemaskannya. Dul menegakkan diri dan melangkahi bangku panjang. Ia merasa harus pergi dari tempat itu secepatnya.


“Eh, Dul! Baksomu!” teriak Robin.


Bara berdiri dan menyusul Dul dengan langkah panjang-panjang. Tak perlu jarak yang begitu jauh untuk Bara menangkap lengan Dul.


“Mau ke mana? Ini udah malem. Ibu di rumah sakit. Ayo, kita pulang,” ajak Bara.


“Ayah belum jawab pertanyaan aku. Jadi, aku mau cari laki-laki itu,” ujar Dul dengan mata memerah.


“Pertanyaan apa lagi, Dul? Apa yang Ayah buat selama ini masih enggak bisa menunjukan kalau kamu itu anak Ayah?” Bara melepaskan tangan Dul dan berdiri menarik napas dalam-dalam.


“Aku anak Ayah, kan?” tanya Dul dengan isak yang tak bisa ditahannya lagi.


“Yang bilang kamu bukan anak Ayah siapa?” tanya Bara dengan bibir bergetar.


“Banyak…banyak. Banyak yang bilang aku bukan anak Ayah.” Dul menunduk dan menangis terisak-isak.


“Kamu anak pertama Ayah, Dul. Kita sama. Kamu itu posisinya seperti Ayah bagi Akung dan Uti. Kamu tempat Ayah pertama kali meletakkan harapan. Harapan Ayah ke kamu besar … banget. Ayah mengharapkan kamu jadi kakak yang bijak buat Mima dan adik kalian nantinya. Jangan sakiti Ayah dengan ngomong kalau kamu bukan anak Ayah,” ucap Bara.


Dul menunduk. Tangisannya semakin keras mendengarkan perkataan Bara.


To Be Continued