
Mima semakin lemas mendengar jawaban Annisa. "Kok, gitu, Mbak? Mbak Nisa punya pacar, ya? Memang serius udah putus dari Mas Dul? Bisa putus?"
"Eh, Mima cantik...Mima cantik sadar. Ayolah kita cari dulu tempat untuk duduk. Udah lemas kali si Mima. Ayo, Nisa! Ibu Dokter harus berempati ke pasien." Robin menyeret Mima menjauhi kerumunan dan hilir-mudik para mahasiswa di lorong.
Beberapa saat Annisa terlihat bingung. Ia menoleh ke belakang, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku sebenarnya ada ….”
“Demi Tuhan, Annisa. Apa hari ini tidak ada pengecualian buat kami; rekan-rekan yang sudah sekian lama tidak kamu temui?” Yoseph menggeleng tak percaya memandang Annisa.
“Enggak…enggak. Bukan gitu. Aduh … ayolah.” Gantian Annisa yang menyeret Yoseph untuk mengikuti Robin dan Mima.
Akhirnya mereka berempat tiba di sudut halaman kampus. “Jadi … gimana tadi?” tanya Annisa.
Mima memandang ke arah parkiran. Tempat di mana Bara menunggu di dalam mobil. “Boleh enggak kalau aku ngobrol berdua aja dengan Mbak Nisa?” Mima memandang Robin, Putra dan Yoseph bergantian.
Robin menggeleng. “Gak bisa. Kalau mau cakap harus di depan kami semua. Jangan ada dusta di antara kita.”
“Aku enggak akan bohong. Ada-ada aja, ih. Ini percakapan sesama perempuan,” potong Mima dengan wajah kesal.
“Janganlah merajuk, Mima cantik. Jangan suntuk-suntuk kali mukanya. Apa kau rambut ikalnya jadi keriting kayak Bang Robin?” Robin mengedipkan mata mencoba membujuk Mima yang terlihat gusar.
“Tadi kita sudah janji ke ayah kalian agar tetap sama-sama. Sebaiknya ngobrol di sini aja.” Putra ikut bicara dengan Mima.
Annisa kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Melihat itu Mima menjadi terlihat lebih kesal. “Buru-buru banget, Mbak Nisa. Terganggu ya dengan kedatangan kita?”
Mendengar nada bicara Mima, wajah Annisa berubah sedikit ketat. “Mbak enggak pernah terganggu dengan Mima dan siapa pun yang datang ke sini. Buat Mbak, Mima udah seperti adik sendiri. Mbak tadi ada janji dengan dosen. Tapi kalau memang maksud kedatangan ke sini soal Abdullah, Mbak akan dengar sampai selesai.”
“Kayanya kalau Ayah yang menyampaikan bakal lebih enak didengar. Tapi sebelum Mbak ngomong dengan Ayah, aku perlu tau suatu hal.”
“Apa itu?” tanya Annisa cepat.
“To the point aja …. Ayah mau ngajak Mbak Nisa ke Jogja. Mas Dul penyematan wing penerbang. Kalau kira-kira jawaban Mbak Nisa adalah penolakan, aku enggak mau Mbak ngomong sama Ayah. Gimana?”
Tiga orang pria muda yang mendengar ucapan Mima Sinta terkejut. Nada bicara Mima terdengar sinis. Tapi berbeda dengan tiga orang pria muda, Annisa justru sangat santai menanggapi perkataan Mima.
“Mau ngajak ke Jogja?” ulang Annisa. Raut wajahnya seketika terlihat menimbang-nimbang.
Mima mengangguk. “Kemungkinan besar Ayah mau ngajak Mbak Nisa ke Jogja. Kalau Mbak enggak mau atau enggak bisa, cukup sampaikan ke aku aja. Aku bakal cegah Ayah buat ngomong langsung ke Mbak. Aku enggak mau … harga diri Ayah terluka karena penolakan gadis yang disukai anak laki-lakinya. Ayah melakukan ini demi Mas Dul. Dan kami semua ada di sini karena diminta Ayah. Aku harap … Mbak Jisa mengerti dengan apa yang aku maksud.”
Annisa mengangguk-angguk. “Andai Mbak punya saudara seperti Mima; yang ngebela saudaranya sampai sedemikian, mungkin Mbak dan Mas Dul enggak bakal begini.” Annisa menghela napas cepat. “Mbak mau ngomong sama Ayah. Mima jangan takut … Mbak enggak akan mengecewakan Ayah. Mbak Sayang kalian semua,” tegas Annisa.
Mima mengangguk mempercayai perkataan Annisa. Sungguh, ia memang tak mau membuat ayahnya kehilangan harga diri untuk mengemis perasaan pria atau wanita mana pun untuk anaknya. Jangan sampai hal itu terjadi, pikir Mima. Mereka bertiga yang tumbuh dalam asuhan pria paling tenang itu, bahkan tak pernah mendengar ayah dan ibu mereka adu mulut atau berdebat. Apa pun yang dikeluhkan ibu mereka, sang ayah hanya menanggapi dengan kalimat-kalimat pendek yang mendinginkan suasana.
“Aku ngomong ke ayah dulu,” kata Mima, mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor ponsel Bara. “Udah ketemu Mbak Nisa, nih. Mbak Nisa mau ngobrol sama Ayah. Di mana?” tanya Mima. Nada bicaranya sedikit kaku di bawah pengawasan empat pasang mata.
“Ayah keluar mobil, deh. Ayah tunggu dekat taman. Biar suasananya enggak kaku banget. Rasanya udah lama enggak ngobrol serius,” canda Bara pada putrinya.
Mima dan tiga orang pria muda mengikuti ke mana Annisa pergi dengan pandangan mereka.
“Kurasa semua perempuan di dunia ini masuk grup Watsap yang sama,” kata Robin tiba-tiba.
“Kenapa gitu, Bin?” tanya Putra, dengan mata masih menatap sosok Annisa yang mulai mengecil.
“Ekspresinya sama semua,” sahut Robin.
“Tuhan menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan. Pria diberi keleluasaan untuk bebas memilih, sedang wanita diberi keistimewaan untuk menerima atau tidak. Jika Dul merasa bahwa Annisa bukan wanita yang baik, maka Dul berhak melepas Annisa. Begitu pun sebaliknya. Kita hanya pengamat siklus kehidupan satu sama lain.” Yoseph menerawang memandang Annisa yang sudah berbelok.
“Dan jangan lupa kalau di dunia ini enggak ada wanita atau pria yang jahat. Semuanya baik sampai salah satunya tersakiti.” Putra ikut menimpali.
“Halah … halah …. Udah kayak fisika kau,” kata Robin, menepuk bahu Putra.
“Kenapa fisika?” Seperti yang diharapkan Robin, Putra bertanya.
“Banyak gaya,” cetus Robin, terkekeh-kekeh.
“Jangan gitu, Bin …. Orang jahat itu lahir dari orang baik yang terus diejek meski diam.” Gantian Putra menonjok pelan lengan Robin.
Robin terkekeh-kekeh seraya merangkul Putra. “Jadi, selama menunggu Ayah Bara ke mana kita duduk-duduk? Siapa tau aku dapat cewek dokter cantik.”
“Kita ke kantinnya aja,” ajak Mima.
“Mima Cantik udah kayak ketua genk kampus. Kami bertiga ecek-ecek-nya anak buah si Mima Cantik.” Robin masih asyik terkekeh-kekeh karena candaannya sendiri.
(Ecek-ecek \= Pura-pura. Anak buah \= bawahan.)
Macam sedang berpiknik, Bara memasukkan dua tangan ke saku jeans-nya dan berjalan-jalan dari satu pohon ke pohon yang lain. Ibarat seorang peneliti tanaman, Bara memperhatikan tiap pohon dengan seksama. Seakan-akan tujuan utamanya ke Fakultas Kedokteran hari itu memang untuk pohon-pohon itu.
“Om …,” panggil Annisa.
Bara memutar tubuhnya ketika mendengar suara anak perempuan yang sudah lama tidak ia dengar. “Om? Udah enggak panggil Ayah lagi?” Bara mendekati Annisa.
“Udah terlalu lama. Hampir dua tahun. Apa masih boleh panggil Ayah?” Annisa balik bertanya.
Bara mengerucutkan mulutnya dengan dahi yang juga mengernyit. “Ayah yakin kalau kita tanya Dul sekarang, dia pasti menjawab boleh. Gimana? Masih Ayah?” tanya Bara.
Annisa mengangguk. “Ayah,” katanya.
To be continued