
"Oh, bisa-bisa, Bin! Ayo kita jalan. Jangan lupa untuk hati-hati bawa keripik Mama saya. Jangan sampai hancur. Semuanya baru dikemas pagi tadi. Seribu rupiah saja, Bin," jelas Yoseph, kembali mengerling Robin yang sudah menjajari langkahnya.
"Aku gak bermaksud menyakiti hati kau, Yoseph. Tapi udah ilang selera makanku gara-gara si Dul." Robin mengerling Dul ke belakang. Sahabatnya itu langsung berpura-pura sibuk mengamati rumput setinggi lutut di kakinya.
"Aku kok baru tau sekolah kita bisa lewat dari sini. Bukannya ini bagian belakang Gedung Pusat Pelatihan Pegawai? Oh, sekarang aku baru paham. Gedung ini menempel dengan bagian belakang sekolah kita dan enggak ada pagar batas di belakang sana." Putra baru mengerti jalur yang dilewati mereka setelah menganalisa beberapa saat.
Dul sejak tadi juga berpikir bahwa selama ini ternyata bagian belakang sekolah mereka saling memunggungi dengan Gedung Pusat Pelatihan Pegawai yang sudah lama tidak terpakai. Halamannya dipenuhi rumput dan bagian belakang bangunan itu sangat rimbun dengan pepohonan dan semak belukar. Yoseph membawa mereka dari bagian samping gedung yang bisa dituju dari gang kecil dan pemukiman warga.
"Ayo, jalan sedikit lagi. Sebentar lagi kita mulai memasuki teritorial sekolah kita," ajak Yoseph dengan peluh di dahinya.
Robin yang tadi di sebelah Yoseph menghentikan langkahnya. Begitu pula Dul dan Putra.
"Ini terlalu semak-semak. Enggak ada manusia yang lewat sini kurasa," ucap Robin melihat ilalang setinggi pinggang di depan mereka.
"Jadi, Yoseph itu apa?" Dul memandang wajah Robin yang terlihat semakin kesal dengannya.
"Ayo, cepat!" seru Yoseph.
"Udah telanjur. Ayo lanjut jalan," Putra melangkahkan kakinya mengikuti pijakan rumput Yoseph.
"Apa perlu kukabari mamakku kalo kita ada di sini? Siapa tau kita ilang ditelan anaconda. Macam hutan Kalimantan kutengok belakang gedung ini." Robin terus bersungut-sungut. Sedangkan Dul semakin tenggelam dengan rasa bersalah tiap mendengar ocehan Robin.
"Enggak mungkin ada anaconda, Bin." Putra menyahuti dari depan. "Bener, kan, Seph? Enggak ada anaconda di sini?" Putra serius bertanya pada Yoseph yang berdiri menunggu di dekat pohon setinggi tubuhnya.
"Tidak ada. Jangan membuat spesies berpindah tempat sesuka hati. Tidak ada anaconda di sini. Tapi dilihat dari jenis tanaman dan keadaan tanah yang basah, ini seperti kampung halaman saya. Mungkin ada beberapa ular putih yang panjang dan kurus," jelas Yoseph.
"Itu beracun?" Dul akhirnya bersuara karena mendengar perkataan Yoseph.
"Kalau digigit ular putih itu sekali saja, biasanya manusia paling lama bisa bertahan 15 menit. Bisa mati kita," jawab Yoseph dari depan.
"Berarti kalau mau bertahan 30 menit, harus digigit dua kali," sambung Putra.
"Eee ... Putra.... Kebanyakan mancing kau. Otakmu keseringan istirahat," kesal Robin.
Kali itu Dul tak bisa menahan tawanya. Terserah Robin atau Putra semarah apa padanya. Ia setengah berjongkok memegang kedua lututnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata Dul bisa tertawa selepas itu. Saya kira Dul cuma bisa senyum-senyum saja. Puji Tuhan, semua berkat teman-teman setianya. Robin dan Putra." Yoseph memandang dua nama yang baru disebutnya tadi bergantian. Dua orang yang disebutkan Yoseph barusan malah menyipitkan mata memandang Dul. Tawa lepas Dul pun lenyap.
"Kita udah sampai. Itu bagian belakang rumah penjaga sekolah. Dari sana tinggal lurus ke kantin." Putra berdiri menunjuk ke arah sekolah. Di sekitar mereka tak ada lagi pepohonan, hanya tersisa ilalang setinggi pinggang yang cukup rimbun.
"Ya Tuhan, itu Pak Kusri!" pekik Yoseph. "Merunduk, ayo tiarap. Tiarap. Kita akan berakhir di tengah lapangan sampai pukul sepuluh pagi kalau tertangkap Pak Kusri!" Yoseph kembali merunduk karena melihat Pak Kusri melintas di deretan gudang. Di tangan pria itu terlihat serenceng kunci tiap ruangan sekolah mereka. Termasuk kunci gerbang sekolah.
"Ih, stres kali aku, ah! Mau sekolah aja macam mau perang," kesal Robin dalam bisikan seraya ikut berjongkok.
"Ya ini perang. Perang menuntut ilmu," jawab Putra.
Dul dan Robin jongkok bersebelahan. Di depan mereka Putra mengintip ke arah depan dengan menyibak semak. Beberapa detik yang terasa lama, Robin dan Dul berpandangan. Wajah Dul datar-datar saja, sedangkan Robin menatapnya dengan raut kesal. Detik berikutnya, dua remaja itu tak bisa menahan tawa. Keduanya terkekeh-kekeh di antara semak hanya karena saling berpandangan.
"Ini pertama dan terakhir aku di semak-semak sama kelen," gerutu Robin.
"Setuju, aku juga enggak mau," sahut Dul, menahan tawa.
Lima belas menit kemudian mereka sudah tiba di kantin dengan wajah memerah. Mata pelajaran pertama dan kedua adalah Fisika. Sedangkan mereka sudah menghabiskan satu waktu hampir setengah jam untuk masuk ke lingkungan sekolah.
"Memangnya guru enggak marah. Kamu terlambat setengah jam lebih," ujar Putra.
"Sebentar," Yoseph mengambil bungkusan keripiknya yang masih berada di tangan Robin. "Dengan modal ini, Tuhan akan menolong saya dari pertanyaan guru."
"Jadi, kami kek mana masuk kelas?" tanya Robin sedikit panik.
"Ya jalan aja lewat pintu. Memangnya mau pakai gaya apa?" Dul menepuk pundak Robin.
"Bisalah kau cakap kek gitu sekarang. Sementang ada yang lagi nengok kau dari dalam kelas sana," Robin memajukan mulutnya menunjuk kelas yang berbatasan langsung dengan kantin.
Dul tersentak. Ia juga baru teringat kalau kelas Lova memang berada di pojok dekat kantin. "Aku malah lupa," gumam Dul seraya menyugar rambutnya.
"Dia keknya mau keluar. Eh, betol kubilang. Dia keluar Dul. Pasti ke sini jumpain kau. Cek dulu kakimu itu. Bersih apa enggak. Kita baru lewat rawa-rawa tadi," ujar Robin.
"Iya, ya. Siapa tau malah bawa belalang atau jangkrik." Putra ikut menurunkan tasnya dari punggung dan mulai menepuk-nepuk.
Dul semakin panik. Membenarkan letak kerah seragamnya, mengangkat kakinya satu persatu untuk mengecek apa yang ia injak barusan. Juga mengangkat tangannya satu persatu untuk membaui aroma tubuhnya.
Robin dan Putra terkekeh-kekeh melihat tingkah Dul.
"Kalian enggak masuk kelas?" tanya Dul, memandang dua sahabatnya bergantian.
"Aku nunggu mata pelajaran Fisika selesai baru masuk. Sementara duduk di sini dulu." Putra menghenyakkan dirinya di bangku panjang dekat mereka.
"Mmmm ... kamu, Bin?" tanya Dul pada Robin. Tatapan Dul sudah berpindah pada Lova yang sudah terlihat menuju ke arah mereka.
"Beratlah aku masuk sekarang. Pelajarannya fisika pulak. Entah apa gunanya fisika itu. Mempelajari kecepatan buah jatuh dari pohonnya. Entah hapa, kan? Kalo udah jatuh, ya udahlah. Berarti dah matang. Bisa dimakan. Ngapain dibahas-bahas lagi," gerutu Robin.
"Yah, tapi namanya pelajaran. Kalau dipelajari berarti penting. Buat kamu semua pelajaran itu penting, Bin." Dul nyengir memandang Robin.
"Nanti pasti kena marah sama guru. Aku gak bawa keripik kayak si Yoseph," sambung Robin lagi. "Semangat kali kau mau ngusir kami dari sini." Robin kembali menyipitkan mata memandang Dul.
"Abdullah," panggil Lova.
Dul sedang membelakangi arah datangnya suara. Ia berdiri dan sedang berhadapan dengan Robin yang duduk di bangku.
"Apa lagi? Kipaslah. Nanti jangan lupa cerita-cerita." Robin menaikkan alisnya memandang Dul.
Dul kembali menyugar rambutnya dan mengatupkan bibir beberapa detik. Ia lalu memutar tubuhnya. "Hei, lagi jam pelajaran apa?" tanya Dul.
Lova tertawa renyah. "Pelajaran Bahasa Inggris. Aku ngomong ke guru permisi ke toilet tadi." Lova berjalan ke balik tiang agar terlindung dari pemandangan ke kelasnya. "Kamu terlambat? Tumben. Kenapa?"
"Kau bilanglah kenapa," pinta Robin, menarik ke atascantolan ikat pinggang di belakang Dul sampai sahabatnya berjengit menegakkan tubuh.
"Karena nungguin kamu," ucap Dul spontan. Tangannya meraba ke belakang dan menampar tangan Robin. Dul merasakan seluruh pakaian dalamnya ikut terangkat ke atas saat Robin menariknya tadi.
To Be Continued