Dul

Dul
060. Akhir Surat Panjang



Aku membenci kabar baik. Kesakitan jiwaku menjelma menjadi ketikaksukaanku melihat kamu seneng. Aku benci kalau kamu senyum sama laki-laki lain. Aku benci kalau Dul menyebut-nyebut nama laki-laki lain. Kenapa orang bisa dan aku tidak?


Hidupku semakin terasa terimpit. Hari-hariku sepi. Aku semakin tidak dipedulikan siapa pun. Terlebih waktu orang tuaku semuanya pergi. Habislah sudah orang yang bertanya aku masih hidup atau tidak. Aku semakin merasa hidupku enggak ada artinya. Kosong tanpa orang yang menantiku.


Lalu kusadari hal baru lagi. Kurasa, semua orang-orang itu bakal menganggapku ada kalau aku banyak uang. Siapa yang tidak suka uang?


Aku pun semakin terperosok. Aku bangkit, lalu berlari lagi. Tapi aku semakin tersungkur. Aku semakin hancur, Jah.


Maaf, Jah. Walau pasti tidak cukup mengobati luka badan dan luka batin, aku tetap harus minta maaf. Maaf atas semua luka yang aku sebabkan. Maaf atas semua waktu kamu yang sudah terbuang dengan banyak kesakitan. Maaf karena sudah banyak melukai badan kamu. Maaf buat semua kata-kata jahatku. Aku minta maaf. Maaf, Jah.


Khadijah,


Terima kasihku karena sudah menjadikan Dul manusia beradab. Memberinya makan untuk tumbuh besar dengan jerih kebaikan. Terima kasih karena sudah mencukup-cukupkan semua kebutuhan Dul walau kamu sendiri dulunya jauh dari kata cukup. Terima kasih karena tidak membiarkan uang kotorku mengalir dalam darahnya. Untuk sekarang, untuk nanti-nanti. Semoga Dul akan seperti kamu, tumbuh jadi laki-laki penuh keras kepala karena prinsip bajiknya.


Kalau bisa dan kalau kamu mau memenuhi permintaanku. Aku mau minta dilupakan. Jangan bicarakan apa pun soalku sama Dul. Aku pasti sudah jadi noda terbesar dalam hidupnya.


Khadijah,


Kepadaku, sejak dulu, kamu tidak ada dosa sedikit pun. Dul juga begitu. Tidak ada setitik pun kesalahan kalian pada aku. Dan sebagai bapak kandungnya, aku berikan semua doa dan restuku untuk Abdullah. Semoga dia menjadi laki-laki sejati yang bisa membahagiakan hati kamu, ibunya.


Terakhir, sampaikan terima kasihku buat suamimu.


Terima kasih karena sudah menerima Dul dan ikut merawatnya, membiayainya sedemikian rupa. Aku berhutang yang takkan mungkin bisa kubayar.


Semoga Dul bisa melupakan soal bapaknya. Tidak akan ada cerita-cerita lagi sesudah ini.


Fredy.


Fredy menatap lembaran kertas yang sudah ditulisinya. "Banyak juga ternyata," ucapnya lalu melipat kertas itu dan meletakkannya di dalam buku.


"Pak Fredy ... dari tadi nulis terus. Saya bawa kopi nih." Seorang petugas datang mendekati pintu dan menyodorkan kopi hangat dalam gelas kertas.


"Makasih, Pak," sambut Fredy, meraih gelas kopi dan berdiri di dekat pintu.


"Gimana? Enggak ada kepikiran mau...."


"Enggak. Males mikir yang macem-macem. Ya sudahlah, semua sudah berjalan di tempatnya masing-masing." Fredy menyeruput kopinya. Dahinya mengernyit sebentar. Entah kenapa, kopi itu pun rasanya tidak enak seperti biasa.


******


"Aku bawa jajanan cokelat, snack kentang, susu kotak, terus...kalau es krim boleh enggak, Bu?" Mima berdiri di depan kulkas yang terbuka.


Dijah menggeleng. "Es krim enggak boleh untuk di jalan. Belum sampai tujuan bajunya bisa kotor. Lagian itu udah banyak," kata Dijah, melihat isi kantongan yang dipegang Mima.


"Oh, ya udah kalau gitu. Ini aja," ucap Mima.


"Kalau udah selesai Mima minggir ke belakang. Giliran Ibu yang ngambil cemilan. Ibu mau yogurt, karena Ibu udah dewasa, Ibu bisa makan beginian tanpa belepotan. Dan yogurt ini bukan es krim." Dijah segera menjelaskan karena melihat Mima berdiri di belakangnya menyipitkan mata.


"Kalau semua udah selesai dengan bawaan masing-masing bangunin Ayah, ya. Ayah mau tidur dulu," seru Bara dari depan televisi.


"Tidur gimana? Mau berangkat lihat pengumuman Dul, kok, malah tidur?" Dijah sibuk memasukkan cemilannya ke dalam kantongan.


"Ayo Mima, kita masuk mobil. Ayah udah nyalain mobil dari tadi. Bawanya banyak banget ini. Kita enggak nginep di sana. Cuma liat pengumuman," canda Dul saat ikut melongok ke dalam kantongan plastik yang sedang dihitung Mima isinya.


"Kalau ngeledek nanti enggak aku kasi," cetus Mima. Dul semakin terkekeh. Mima mengibaskan rambut ekor kudanya ke arah Dul.


Dul membuka pintu penumpang dan menunggu Mima naik lebih dulu. Di belakang mereka tadi, Dijah dan Bara menyusul. Dijah berjalan dengan satu tanganmenggandeng lengan Bara dan satunya lagi menenteng plastik cemilan. Dul melihat Bara duduk di kursi teras memakai sepatu. Di sebelah Bara, Dijah bergelayut menyandarkan tubuh dan mengalungkan tangannya ke leher pria itu.


"Perutku makin sering kaku. Betisku ini kemarin malam tegang," Dijah menunjuk betisnya.


"Iya, tau. Kan, kemarin malam Mas bangun buat mijetin," sahut Bara.


"Tidur juga makin susah. Balik kanan-kiri, udah sesak."


"Iya, sabar. Minggu depan udah dikeluarin bayinya. Tapi tetap belum bisa tidur nyenyak," ucap Bara, meringis memandang Dijah yang mencebikkan bibir.


"Mas yang begadang, ya. Abis nyusuin aku tidur," ucap Dijah.


"Iya," jawab Bara.


Dul kembali tersenyum karena itu. Keluhan ibunya hari itu sudah selesai. Meski sudah diulang ratusan kali, Bara tetap sabar mendengarkan. Belum lagi soal Mima.


"Yah, liat ini." Mima menyodorkan tabletnya pada Bara. "Aku belum punya mainan ini. Meja belajar mini yang kalau dinyalain lampunya bakal ada gambar. Terus bisa ditiru dari pantulannya."


Bara baru saja duduk di belakang kemudi. Perhatiannya teralihkan dengan curahan hati Mima soal mainan baru yang dilihatnya di channel Yutub. "Iya, gampang. Nanti kita beli," jawab Bara santai.


"Asik ... Mas jangan iri, ya." Mima mencibir pada Dul. Kali ini Dul tidak terkekeh. Melainkan tertawa kecil. Mima dan Bara hanya mengulang pola yang sama. Mima dengan cepat mudah ditenangkan dengan disetujui permintaannya. Soal realisasi, itu tergantung Bara mau membelikan gadis kecil itu yang mana lebih dulu. Biasanya alasannya selalu mana yang lebih berguna.


Mereka tiba di calon SMP Dul, matahari sudah cukup tinggi. Mobil baru saja menepi dan Bara sedang melepaskan seat belt, namun Dijah sudah melompat turun. Bara bergegas turun dan memutari mobil mendatangi Dijah.


"Hati-hati, Jah. Mas bakal turun juga. Sabar sedikit. Nanti kalau tersandung, jatuh, gimana? Kamu yang hamil sebesar ini, Mas yang ngilu."


"Udah hati-hati, kok. Aku cuma turun biasa aja, Mas. Yang enggak sabaran siapa? Kalau aku hamil Mas yang ngilu, ya itu harus. Biar tau ibu hamil itu gimana."


Mendapat serangan balik, Bara bungkam. Memanjang-manjangkannya pun tak ada guna. Toh, ibu-ibu tidak pernah salah, pikirnya. Bara lebih mengkhawatirkan ketenteraman rumah mereka yang sedikit peka akhir-akhir ini.


"Udah...udah, ayo. Orang udah pada ngumpul di depan papan pengumuman itu," seru Bara, mengalihkan pembicaraan. Detik itu, Dijah langsung lupa dengan omelannya. Fokusnya kembali pada papan pengumuman di tepi lapangan basket yang sedang dikerubungi banyak orang.


"Panas, kan? Ayah bilang apa," ucap Bara, meraih kepala Mima dan memeganginya di samping tubuh. Berharap tinggi badannya akan menghalau cahaya matahari yang menerpa wajah putrinya.


"Biar Mas aja yang liat," kata Bara.


"Ibu udah di sana," ujar Dul kembali terkekeh. Kali ini ayahnya kecolongan.


"Ibu kalian ini memang sakti," tukas Bara, melihat kepala Dijah sudah berada di depan papan pengumuman dan berdesakan dengan para ibu-ibu lain.


“Tuh, kan! Lulus! Apa ibu bilang! Mending kita liat pengumumannya langsung di sini ketimbang nunggu besok di-update online. Ibu gak sabar,” seru Dijah dari tengah kerumunan.


To Be Continued