Dul

Dul
172. Pertemuan Itu



“Aku lupa tepatnya umur berapa. Tapi mungkin waktu itu aku dua puluh tahun dan Dul baru sepuluh. Kalau Mima … Mima umur empat tahun. Belum masuk TK. Rambut ikal di bagian ujung-ujungnya, cokelat dan bola matanya cokelat. Dari kecil Mima memang gemesin banget. Anaknya selalu cerita dan aku ingat sepanjang perjalanan Mima sibuk bercerita soal dia yang sebentar lagi mau masuk TK.” Dayat diam beberapa saat. Lalu seperti tersadar sesuatu Dayat kemudian berdeham. “Oke aku lanjutin soal Dul. Aku ngajakin kakak beradik itu buat jajan ke mini market dekat kos kandang ayam. Dan dalam perjalanan bolak-balik itu aku baru tau kalau Dul itu anak yang sentimentil dan pemikir yang sangat tajam. Peka juga anaknya.” Dayat kemudian diam.


Tini mengangguk-angguk. “Lalu?”


“Lalu apa?” Dayat balik bertanya.


“Lalu lanjutan ceritanya apa?”


“Enggak ada. Itu aja. Dul anak yang sentimentil, pemikir tajam dan peka. That’s it.”


Tini mendengkus kesal. “Aku nunggu dengan sabar dari kalimat pembukamu yang panjang itu, Yat. Yang barusan kamu ceritakan itu momen kamu mengenang Mima zaman bocah. Aku mau marah … mau kesel dan ngomong kampret, kok, rasanya enggak enak.”


Wajah Dayat biasa saja. Sama sekali tidak menunjukkan perubahan atau keterkejutan mendengar ucapan Tini. “Aku udah meladeni Mbak Tini ngobrol. Boleh pergi sekarang?”


Tini mengangguk seraya menengadahkan tangan meminta piring berisi serabi dari Dayat. “Sini buat aku aja. Udah kelamaan dari tadi.”


Dayat berdiri, lalu menggeleng. “Enggak boleh. Aku pergi sekarang.”


Selang sepersekian detik, seorang gadis muda muncul menepuk lengan Dayat. “Lama banget, sih. Aku kira stand serabinya udah pindah keluar. Udah keburu enggak kepengin lagi.”


Dayat diam membeku di tempatnya. Tanpa mengatakan apa pun, Dayat mengulurkan piring serabinya pada gadis muda itu. Tini kemudian ikut berdiri dari kursi dan mendekati Dayat. Kedua tangannya tersilang di dada.


“Oh, serabi untuk Mima ….”


Dayat dan Mima sama-sama terdiam. Tapi diam itu juga tak berlangsung lama. Mima tersenyum lebar dengan piring serabi di tangannya. “Iya, Budhe …. Serabi ini buat aku. Aku sedang memanfaatkan Paklik necis yang enggak mau pakai seragam pesta resepsi Mas Dul buat ngambilin jajanan ini. Sekarang udah diambilin.” Mima mengangkat piringnya di depan Dayat. “Makasih, lho, ya …. Sekarang aku kembali ke tempatku. Paklik dan Budhe jangan berantem, ya.”


Mima pergi berlenggak-lenggok dengan elegannya. Meninggalkan sepasang kakak beradik yang bertukar pandang.


“Aku juga pergi sekarang,” kata Dayat.


Tini tidak sempat mencegah karena lengannya ditepuk Mak Robin. “Kapan kita berpoto ke pelaminan? Udah mulai sore. Sebentar lagi pestanya bubar,” ujar Mak Robin.


“Ayo, Mbak Tini. Mumpung Caca ikut Mas Bayu ngobrol di sana.” Asti menunjukkan Bayu dan putrinya yang ikut mengobrol di rombongan karyawan The Term.


“Cepat, Tin. Kali ini kita berfoto bersama mantan penghuni kandang ayam asli. Suami dan anak-anakmu juga lagi asyik sendiri.” Boy menggandeng lengan Tini dan menyeret sahabatnya itu menuju pelaminan.


Berduyun-duyun empat orang dewasa besar kecil menuju pelaminan dengan niat berfoto bersama pengantin dan sahabat mereka. Dijah yang sedang duduk berbisik-bisik bersama Bara sontak berdiri. “Tin! Sini…sini.” Dijah merentangkan tangan menyambut sahabatnya.


“Berpoto dululah kami, Jah. Nanti abis pula isi pilem tustel Abang itu.” Mak Robin langsung mengambil tempat di sisi kiri Dijah. Membuat Bara otomatis tergeser ke samping.


“Ini suamiku jangan disingkirkan begitu aja, Mak.” Dijah kembali menyeret lengan Bara ke sebelahnya.


“Pengantinnya itu Dul, Mak. Bukan Dijah sama Mas-nya. Gimana, sih?” Kali ini Boy menyeret Mak Robin kembali ke sisinya.


“Enggak nyangka di antara kita semua kamu duluan yang udah mau punya cucu. Kamu mau dipanggil apa, Jah? Mbah?" Tini berbisik-bisik sambil berjalan mendekati Dul dan Annisa.


“Masa, sih, Mbah? Bisa Uti atau Oma. Ayo, Tin, kamu di sebelah istrinya Dul.” Sambil bercerita, Dijah mengatur posisi sahabatnya. “Kamu di sebelah Mas Bara, Boy. Asti di sebelah Tini dan Mak Robin berdiri paling ujung. Kita foto duluan. Cepat…cepat.”


Hampir seharian terlatih melakukan hal yang sama, Dul dan Annisa langsung berdiri setiap ada tamu yang mendekati mereka. Mereka tidak sempat menyapa rombongan sahabat Dijah karena sang fotografer langsung mengabadikan momen di pelaminan. Ditambah beberapa jepretan foto bersama keluarga Annisa, membuat acara berfoto itu terasa lengkap.


“Selamat ya, Mas Dul …. Pria sejati itu memang enggak banyak basa-basi. Kalau pasangannya udah pas di hati, langsung sat-set memperistri. Bikin yang jomlo pasti ngiri.” Tini tersenyum sumringah menepuk-nepuk lengan Dul.


“Berpantun pula si Tini,” kata Mak Robin.


“Robin kapan nyusul, Mak?” Boy ikut menimpali.


“Ngapain kau tanya si Robin? Kaulah yang harusnya ditanya. Kapan kau nyusul si Dul?” Mak Robin menyenggol pelan Boy dengan sikunya. Namun meski pelan Boy sempat terhuyung dan seketika bungkam mendengar jawaban Mak Robin.


“Makasih karena udah dateng ke acara kita, ya. Ini pasti Tante Asti. Ini Om Boy, yang ini udah pasti Budhe Tini dan yang di sebelahnya pasti mamaknya Robin.” Suara Annisa memecah kehebohan mantan penghuni kandang ayam di pelaminan.


“Mas Dul-nya Budhe sekarang udah punya istri. Istrinya cantik banget,” kata Tini ketika menjabat tangan Annisa.


“Aslinya lebih cantik dibanding di foto,” imbuh Asti.


“Mana dokter pula,” tambah Mak Robin.


“Sekarang udah jadi Ibu Persit,” timpal Boy.


Di antara kesibukan yang terjadi antara Dijah dan teman-temannya yang berdesakan di pelaminan untuk berfoto dan bertegur sapa, Bara sejak tadi diam memperhatikan para tamu di hadapannya. Ia sedang menunggu seseorang dan sedang bersiap-siap bicara dengan Dijah soal kehadiran orang tersebut. Bisa saja itu merupakan sebuah kejutan kebahagiaan, tapi bisa juga menjadi kejutan yang membuka luka lama.


Kepalanya yang terus celingukan ke pintu masuk akhirnya terhenti pada beberapa sosok orang yang masuk dengan wajah-wajah canggung. Awalnya Bara ikut merasa canggung, namun akhirnya ia bisa sedikit rileks ketika melihat Pak Wirya dan Heru menghampiri beberapa sosok orang tersebut.


“Maaf kami terlambat …. Tapi belakangan saya berpikir kalau ada baiknya kami datang di waktu resepsi ini hampir selesai. Kami khawatir ada keributan, atau … kami khawatir mempermalukan Dul.” Seorang pria berkemeja batik dan mendorong seseorang di kursi roda mengawali pembicaraan bersama Pak Wirya dan Heru.


“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, ya. Sekarang kita semua sudah tua dan anak-anak yang kita kira masih anak-anak nyatanya juga ikut tumbuh dewasa. Bisa saja anak-anak lebih dewasa dari para orang tuanya. Ayo kita ke sebelah sana.” Pak Wirya menunjuk ke satu sudut di sayap kiri pelaminan.


Dari kejauhan Heru bertukar pandang dengan Bara yang sejak tadi sudah menatap mereka. Heru mengangguk dan Bara menunduk di dekat telinga Dijah. “Ada tamu istimewa yang mau ketemu Dul, Jah ….”


Dijah sontak mengangkat kepalanya dan melihat tiga orang yang berdiri di dekat Heru dan Pak Wirya. Wajah Dijah pias seketika. Ia menoleh panik pada Dul. “Mas ….” Suara Dijah tercekat di tenggorokan.


“Dul udah tau, Jah. Dul udah tau kalau bapak kandungnya dapat pengampunan sewaktu banding terakhir kali. Katanya…mau jumpa Dul untuk terakhir kali.” Bara menggenggam tangan Dijah yang dirasanya mulai berkeringat.


Di kejauhan, Fredy yang sudah terlihat sangat renta duduk menangis di kursi roda. Kedua tangannya terulur ke arah pelaminan. Tatapan matanya tertuju pada Dul dengan bibir yang terus berbisik, “Abdullah anaknya Khadijah ….”


To be continued