
Pindah?
Hatinya bertanya tapi respon yang dikeluarkan Dul sama sekali tak ada. Hanya anggukan kecil. Lalu, ia teringat akan kamus IPA milik siswi itu yang masih ada padanya. "Oh, bukunya masih ada di aku. Udah setengah tahun lebih. Besok aku kembalikan. Untung kamu ngomong."
"Makanya aku ngomong. Siapa tau kamu mau ngucapin selamat jalan. Aku, sih, tadi udah ngomong ke dia. Bagaimana juga dia adalah bekas rekan kerja kita selama setengah tahun."
"Lagian kalian, kan, memang sekelas," sahut Dul.
"Walau kami sekelas, dia tetap enggak banyak omong. Temen-temen yang lain pun juga udah ikut males ngomong. Nganggap dia enggak ada. Percuma secantik apa pun kalau sombong minta ampun."
Dul meringis. Omelan Putra tetap sama dari sejak setengah tahun lalu.
"Ya udah, besok aku kembalikan buku sekalian ngucapin selamat jalan."
Seperti yang pernah dikatakan Pak Wirya pada Dul. Esok hari selalu tiba tanpa perlu basa-basi. Ditunggu atau tidak ditunggu. Esok hari selalu akan datang.
Saat Dul meresahkan ujian semester lalu, Pak Wirya menyemangatinya dengan berkata, "Setiap hari punya ceritanya sendiri. Kita itu hanya sedang bersiap-siap menghadapi hari esok biar kita enggak kaget dengan yang terjadi esok. Kamu siap-siap dengan belajar untuk tes besok. Hasilnya gimana kamu enggak perlu cemas. Kalau nilainya bagus, kamu pasti enggak kaget karena tau kamu udah belajar buat itu. Kalau nilainya jelek, di dalam hati kamu pasti diam-diam maklum karena kurang giat belajar. Semuanya cuma soal penerimaan kita dengan apa yang terjadi esok hari dengan segala usaha yang sudah kita lakukan."
Dan penerimaan yang dimaksudkan Pak Wirya saat itu ternyata menjadi sesuatu yang harus langsung dipraktekkan Dul. Hari esok yang dinantinya itu baru berjalan setengah. Bel pertanda istirahat pertama baru berbunyi. Guru membereskan alat tulisnya dan meraup buku dari meja.
Seorang murid perempuan yang sibuk membawa lembaran kerja matematika sudah merisak Dul sejak pagi.
"Abdullah ... ayo, dong....bantu aku." Murid perempuan itu menarik kursi ke dekat Dul.
"Aku mau ke...." Dul menoleh ke jendela. Sosok rambut lurus sebahu dengan warna ransel yang diam-diam diingatnya melintas di halaman dengan terburu-buru. "Tunggu...aku mau keluar." Dul terburu-buru membuka ranselnya dan mengeluarkan kamus IPA. Kepalanya terus menoleh ke halaman.
Tunggu sebentar ... tunggu sebentar ....
"Jadi, kapan bisanya bantu aku?" tanya murid perempuan itu. Namanya Feby. Wajahnya sekarang sedikit kesal menatap Dul.
"Nanti bisa...istirahat jam kedua," jawab Dul. Ia mencengkeram kamus IPA dan menghambur keluar kelas.
Selama perjalanan tergesa-gesanya melintasi halaman yang luas, Dul menyugar rambutnya untuk pertama kali. Sedikit kalut. Mulutnya mengatup karena tiba-tiba rupa ransel yang sedang dikejarnya tak lagi tampak di depan. Puluhan murid yang melintas di halaman membuat pandangannya terhalang.
Andai bisa mengobrol sebentar pun, ia tak tahu harus mengatakan apa selain mengembalikan kamus IPA.
Dan langkah kaki terburu-buru itu tertahan saat melihat sedan hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Dul membeku di tempatnya. Siswi pindahan itu semakin mempercepat langkahnya.
"Dul! Kenapa enggak dipanggil?" Putra datang menepuk bahunya. "Bukunya belum sempat dikasi, kan?"
"Belum sempat," jawab Dul dengan nada lemah.
"Panggil aja," kata Putra.
"Namanya ... namanya siapa?" Dul bertanya dengan tatapan tak lepas dari ransel yang mulai dilepaskan karena pintu mobil sudah dibuka. Siswi itu memindahkan ranselnya ke bagian depan tubuh.
"Panggilannya Ica," jawab Putra. "Masa enggak tau namanya. Aneh kamu ini," omel Putra lagi.
"Lupa...aku lupa."
Aku tiba-tiba lupa namanya siapa ....
Nama lengkapnya ... nama lengkapnya .... Aku mau panggil nama lengkapnya.
Dul kalut, tapi kakinya tak juga melangkah.
Annisa.
"Annisa!" teriak Dul.
Siswi itu menoleh ke belakang. Satu kakinya sudah berada di dalam mobil. Matanya langsung tertuju pada Dul.
"Buku! Ini buku!" teriak Dul tanpa bergerak. Senyumnya mengembang. Berharap banyak kalau Annisa memutar tubuh dan menghampirinya. Nyatanya, anak perempuan itu malah mendengkus padanya.
"Dia juga tau itu buku. Kamu lagi ngapain, sih, sebenarnya." Putra ikut mendengkus pada Dul.
Dul menurunkan tangannya yang terangkat mengacungkan kamus IPA. Annisa sudah masuk ke mobil dan menatapnya dengan raut kesal.
"Buat kamu aja ...!" teriak Annisa dari mobil. Lalu, sedan hitam itu pun berlalu dari hadapan Dul.
Dul berdiri dengan kamus IPA di tangannya. Di hatinya tersisip banyak rasa yang sulit digambarkan. Jika boleh memilih satu kata yang sering diucapkan Pak Wirya, Dul memilih kata kecewa untuk dirinya sendiri.
Obrolan-obrolan bersama Pak Wirya, Bara dan Heru bergantian masuk ke pikirannya saat itu. Bagaimana kenangan-kenangan masa remajanya mulai terbentuk semakin jelas. Dul berdiri menatap gerbang SMP favorit yang menjadi impiannya beberapa tahun yang lalu. Gerbang sekolah yang rasa-rasanya tak akan kembali sama jika dilihat di kemudian hari.
Ternyata, tanpa ia sadari, langkah kakinya lebih ringan tiap melintas di depan kelas Putra. Matanya semakin akrab dengan sosok rambut lurus sebahu yang selalu berjalan sendiri ke mana-mana. Kepalanya selalu menoleh ke jendela untuk melihat sesiapa yang melintas di jam pelajaran buat pergi ke toilet. Dul baru menyadarinya belakangan.
Gerbang sekolah itu tak lagi sama. Dul tak pernah menikmatinya lagi seperti sebelumnya. Hingga ia meninggalkan sekolah itu dengan nilai yang bagus dan menjumpai gerbang sekolah lainnya.
Di hari pertamanya memakai seragam putih abu-abu, Dul berdiri memandang gerbang baru yang akan mengantarkannya ke hari-hari baru, kawan-kawan baru, dan cerita-cerita baru.
Lapangan yang luas dan rindang. Bangunan bertingkat-tingkat yang berisi banyak murid berbagai tingkat ekonomi dan latar belakang keluarga. Dul menarik napas dalam-dalam. Bara melepasnya dengan acungan ibu jari dan senyuman lebar. Sekolah itu juga merupakan favorit ayahnya dan Uti.
PLAKK
Tepukan di bahu Dul yang cukup keras berhasil menyadarkannya detik itu.
"Masih pagi dah melamun aja kerja kau. Di mana kelas kita? Ayolah masuk. Ngapain di halaman? Mau nyapu dulu kau?" Robin berdiri di sebelah Dul dengan seragam yang kerahnya masih kaku.
"Tiba-tiba udah sampai di sini aja," ucap Dul tersenyum pada Robin.
"Enggak tiba-tiba juga aku keluar dari tanah halaman ini. Dari tadi kau kupanggil-panggil," kata Robin.
"Dul ... Dul!" Suara seorang siswa laki-laki membuat Dul dan Robin menoleh ke arah yang sama.
"Memang pancen! Kita ketemu lagi." Putra tergopoh-gopoh dengan tubuhnya yang semakin subur.
Senyum Dul semakin merekah. "Bin, ini temenku namanya Putra. Put, ini temenku namanya Robin. Aku yakin kalian pasti cocok."
Mana mungkin tidak cocok, pikir Dul. Robin pasti jago meladeni Putra yang hobinya mengomel.
To Be Continued