Dul

Dul
111. Malam Sidang Pantukhir



Langkah kaki Dul awalnya terasa berat meninggalkan keluarganya. Terlebih karena keadaan Pak Wirya yang masih belum jelas. Malam sebelum berangkat saat ia berada di ruang rawat Pak Wirya, seorang dokter yang visit berbicara sebentar dengan Bara. Perkataan yang ia dengar adalah kesehatan Pak Wirya yang memang tidak bisa kembali pulih seperti sediakala. Selain dikarenakan lanjut usia, Pak Wirya memang memiliki penyakit bawaan yang idapnya. Pria itu harus menjalani perawatan rutin dan mengkonsumsi obat setiap hari. Hal itulah yang ditekankan oleh dokter.


Namun di sisi lain keberangkatan Dul iti membuka satu jalan baru baginya. Suatu hal yang harus dilaluinya sendirian tanpa pendampingan keluarga ataupun seseorang yang sudah ia kenal. Dul merasa bahwa sejak ia meninggalkan gerbang keberangkatan itu sudah dimulailah kehidupan barunya. Sebagai seorang pria dewasa yang sedang menentukan masa depannya.


“Masa depan kamu, tergantung dari apa yang kamu kerjakan hari ini.” Begitulah Pak Wirya selalu mengingatkannya.


Selama ini, Dul selalu berjalan didampingi Bara dengan segala pertimbangannya, banyak berbincang dengan Pak Wirya yang banyak memberinya nasehat bijak, juga bersama Heru yang berbagi banyak pengalamannya di masa lalu. Tiga pria itu mengiringi langkahnya menuju sosok pria dewasa yang baru. Juga, tak kalah penting peran sosok ibu yang ingin dibuatnya bangga. Semua orang-orang itu tak ada bersamanya hari itu. Hari di mana ia melangkahkan kaki memasuki gerbang baru. Jantungnya riuh gegap gempita.


“Aku Leonardo Yepa dari NTT. Nama kamu siapa?”


Seseorang yang selanjutnya disebut Dul sebagai seorang kawan mengulurkan tangan padanya. Dul menyambutnya.


“Aku Abdullah Putra Satyadarma. Dari Jakarta,” kata Dul, menggenggam erat tangan laki-laki yang kemudian akrab dipanggil dengan sebutan Leo.


Saat itu, mereka sendirilah yang akan menentukan masa depan. Pertukaran cerita tentang orang tua, keluarga dan adik-adik mewarnai waktu senggang mereka. Kadang mereka sempat mengobrol, kadang keduanya terkapar kelelahan karena tes lari dan terjemur di bawah matahari selama berjam-jam. Sudah dari sananya kalau Dul jarang mempunyai banyak teman. Temannya sedikit tapi awet.


Menghabiskan sedikit waktu senggang bersama Leo, ikut membangkitkan kenangan Dul bersama Yoseph. Sahabatnya yang selalu ceria dan optimis meski hidupnya tidak bisa dikatakan mudah. Hampir mirip dengan Yoseph, Leo sangat aktif dan cepat mencari cerita baru dan gosip-gosip soal apa yang terjadi selama seleksi itu.


Dari ribuan peserta yang mencoba dari daerah kemarin, hanya puluhan orang yang datang ke Solo. Dan katanya, dari ratusan orang yang dikumpulkan dari berbagai daerah itu, Akademi Angkatan Udara hanya akan menerima berjumlah kurang lebih seratus orang. Nyali Dul sedikit menciut saat mengetahui hal itu.


Esok adalah sidang pantukhir yang akan menentukan apa mereka akan lanjut menjadi Prajurit Karbol Tingkat I atau kembali pulang dan memutuskan mencoba lagi tahun depan, atau berhenti dan memikirkan cita-cita baru.


Sidang Pantukhir itu diikuti sebanyak 257 calon Taruna dan Taruni AAU. Secara terperinci, Kasau dan seluruh peserta sidang nantinya melakukan pemeriksaan terhadap seluruh calon, baik pemeriksaan secara fisik, maupun pemeriksaan menyeluruh, terhadap hasil seleksi tingkat pusat yang telah dijalani oleh seluruh calon.


Dul merasa gugup luar biasa.


Rasanya tiap kali merasa gugup seperti itu, Dul malah tidak bisa melakukan apa pun. Ia hanya berbaring menggulir seperti yang ia lakukan malam itu. Ia duduk bersandar ke dinding dan membongkar-bongkar dompetnya. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mengirimkan pesan pada Bara. Sudah terkirim, tapi belum dibalas. Sempat juga melirik pesannya untuk Annisa. Masih sama seperti kemarin-kemarin. Belum terkirim.


Leo sudah setengah jam bertelepon dengan ibunya. Sedikit banyak Dul mendengar dan ikut menyimak. Telepon di seberang sepertinya berpindah dari tangan ibu Leo, dua adiknya, lalu nenek Leo. Semuanya mendapat giliran bicara pada temannya itu. Dul tersenyum. Andai ia bisa seekpresif Leo, ia pasti sudah berjam-jam bertelepon dengan ibu dan dua adiknya.


Di rumah mereka yang bisa dengan mudah mengatakan apa pun hanya Mima dan Ibra. Keduanya nyaris sama. Gampang tertawa terbahak-bahak atau bercerita soal teman-temannya. Bara termasuk ke golongan menengah. Sedangkan Dul dan Dijah berjenis sama. Paling sulit untuk mengatakan hal-hal sentimentil dengan lugas.


Leo meletakkan ponselnya di ranjang. “Ibuku baik-baik saja, Dul. Sudah kirim kabar ke ibumu? Jangan lupa minta doakan untuk kelancaran besok,” kata Leo.


“Aku belum nelfon. Cuma kirim pesan ke ayahku. Ibuku kalau ditelfon jam segini pasti sibuk nemenin adikku belajar. Lagian enggak enak ngomong di telfon. Yang penting semua baik-baik aja. Sekarang aku lagi deg-degan mikirin sidang besok. Kamu gimana?” tanya Dul.


Dul mengangguk. Dalam hatinya ia berharap kalau Leo lulus Sidang Pantukhir. Belakangan ia mengetahui kalau Leo tidak lagi memiliki ayah. Ayahnya seorang tentara yang meninggal dunia saat bertugas di negeri paling timur Indonesia. Leo memiliki dua orang adik laki-laki. Sebelum berbaring, Dul kembali melihat pesannya pada Bara. Belum dibaca dan belum dibalas.


Ia meletakkan ponselnya di dekat bantal dan memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Besok kondisi mereka harus prima.


Detik dan menit yang ia lalui di kamar itu, terasa berjalan sangat lama. Apa karena perasaannya sedang tidak enak? Bara tidak biasanya begitu. Pria itu akan langsung membalas pesannya dengan cepat. Tidak pernah panjang. Tapi balasannya tidak pernah membutuhkan waktu lama.


Kemudian, getar ponsel membuat Dul tersentak. Nama Mima tertera di layar. Apa sesuatu terjadi dengan akungnya? Dul menggeser layar ponsel seraya melirik Leo yang sudah tertidur.


“Ya, halo? Kenapa Mima?”


Jawaban di seberang semakin membuat Dul tidak sabar. Mima berbicara sambil menangis. Tidak jelas apa yang dikatakan gadis kecil itu.


“Mima…Mima! Jangan nangis! Ngomong yang bener, Mas enggak dengar. Kenapa?”


Mima terdengar menarik napas. Dengan terbata-bata dan sesegukan gadis itu menyampaikan berita.


“Mas…Ayah kecelakaan. Naik motor…dari rumah sakit. Pulang kerja ke rumah sakit. Ayah mau pulang bawa baju kotor…Ayah capek, Mas….Ayah jaga Akung terus, Ayah kerja juga. Ayah jatuh ditabrak angkot. Ayah—Ayah—” Mima meneruskan tangisnya.


“Udah…udah. Mima jangan nangis terus. Ibu mana?” tanya Dul.


“Ayah enggak pernah pulang …. Aku kangen Ayah. Aku kangen Ayah.” Mima kembali menangis.


Dul sudah ikut menangis. “Mima … Ibu mana? Ibra mana?”


“Ibu pergi ke rumah sakit sama Pakdhe dan Budhe Fifi. Ibra nangis di belakang sama Mbok Jum. Mas kapan pulang? Aku sendiri? Ayah kasian, Mas …. Aku kangen Ayah. Ayah luka ….” Mima meraung-raung di seberang telepon.


“Mima berhenti nangis. Ayah enggak apa-apa. Mas mau telfon Pakdhe,” kata Dul lalu mengakhiri pembicaraan. Air matanya sudah tak berhenti mengucur.


Besok Sidang Pantukhir dan ayahnya malam itu kecelakaan. Rasanya … malam itu ia ingin terbang kembali ke rumah.


To Be Continued