
“Mas, gimana di sana? Makannya apa?” tanya Mima, melingkarkan tangan di lengan Dul. Sejak Dul menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang rawat Bara, gadis kecil itu tak lepas menggelayuti Dul.
“Mas enggak kangen aku? Tiap hari aku lihat koleksi pesawat Mas. Aku pinjam tapi enggak rusak. Aku cuma lihat-lihat aja,” cetus Ibrahim dari pangkuan Dul.
Dul terkekeh-kekeh sembari memeluk Ibrahim dan mengecup kepala bocah laki-laki enam tahun itu. Ia juga mengecup puncak kepala Mima dan mencubit pipi Mima yang semakin besar wajahnya semakin mirip Bara. Pipi Mima kemerahan dan rambut ikalnya bertahan sampai sekarang meski ibu mereka mengatakan selalu memotong ujung-ujungnya.
“Mas di sana sibuk dari pagi sampai sore. Tidur enggak sempat mimpi saking singkatnya. Kayanya baru tidur, tapi udah dibangunin lagi sama suara sirine.” Dul memandang kedua adiknya bergantian. Di sudut lain, Bara, Dijah dan Heru ikut mendengar obrolan kecil itu.
“Mas pernah terlambat?” tanya Mima.
“Enggak, dong. Mas udah terlatih sama komandan tertinggi di rumah,” Dul menyahuti sambil tertawa kecil.
“Komandannya Ibu,” celetuk Ibra dengan polosnya. Semua tertawa mendengar celotehan Ibrahim.
“Bu, malam ini kita semua di sini, kan?” seru Mima dari sofa.
“Enggak boleh terlalu ramai. Nanti Ayah enggak bisa istirahat. Sore nanti kita pulang. Ibu mau beres-beres rumah sedikit. Besok pagi Ibu mau masak buat Uti. Biar Mas Dul yang jaga Ayah malam ini.”
Mendengar penuturan Dijah yang panjang lebar dan nada suara yang tegas, Mima tak berkutik. Ditambah Bara hanya memandang gadis itu tanpa melakukan pembelaan untuk dirinya, Mima menyerah di tempat. Pada akhirnya Mima hanya mengangguk, kemudian kembali bersandar pada Dul dengan tubuh dibuat selemas mungkin.
“Besok kita ketemu lagi. Malam ini biar Mas yang jaga Ayah. Ibu udah capek. Mas juga kangen masakan Ibu. Kalau Ibu pulang, besok Mas makan masakan Ibu. Gimana?” bisik Dul di telinga Mima.
Fifi tiba di rumah sakit sore hari. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Dul, sepasang suami istri itu memboyong Dijah dan dua anaknya untuk kembali ke rumah.
“Kapan mau jenguk Akung? Kata Pakdhe, Akung sekarang jauh lebih sehat. Sebentar lagi bisa keluar rumah sakit. Uti udah jauh lebih tenang.” Bara berbicara dengan nada suara yang sangat rendah.
“Hari ini aku mau sama Ayah. Kalau aku jenguk Akung sekarang, Ayah bakal sendirian. Besok pagi kalau Ibu udah datang, aku bisa jenguk Akung.” Dul duduk di sebuah kursi tepat di sebelah Bara.
“Motor Ayah rusak parah,” ucap Bara.
“Jangan mikirin motor dulu. Ayah harus cepat sembuh. Akung pasti bakal nanya kenapa Ayah lama enggak kelihatan.”
“Motor Ayah itu penuh sejarah, Dul. Bertahun-tahun Ayah rawat ternyata harus hancur juga.”
“Lagian kenapa naik motor? Kalau Ayah bawa mobil mungkin enggak akan sampai kaya gini.”
“Waktu itu macet. Ayah buru-buru karena harus ngejar berita dan malamnya mau ke rumah sakit. Ya, udahlah … udah kejadian. Nanti Ayah beli motor lagi—”
“Beli motor lagi untuk apa?” Dul tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bara yang kadang bisa keras kepala itu memang sulit dicegah kalau sudah menginginkan sesuatu.
“Motor buat kamu. Rencananya memang motor itu harus diwariskan. Tapi karena sekarang rusak parah, Ayah beli baru aja.”
“Aku enggak mau,” jawab Dul. “Aku enggak mau bikin Ibu kepikiran. Tiap Ayah kerja bawa motor, Ibu selalu enggak bisa tidur sebelum Ayah sampai rumah. Apalagi Ayah mudah masuk angin. Sebentar lagi aku bakal pergi pendidikan ke Magelang. Aku juga pasti khawatir,” tutur Dul dengan suara pelan.
Dul mengangguk-angguk kecil. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak terlibat pembicaraan yang dalam dan seserius malam itu. Keduanya menikmati kebersamaan itu meski tak sepanjang waktu diisi dengan percakapan.
Meladeni Bara malam itu mengingatkan Dul ketika ia pernah sakit dan Bara tidak tidur semalaman karena menunggu panas badannya turun. Sekarang giliran ia yang menemani Bara. Mengambilkan minum pria itu, menawari cemilan, mengupaskan apel dan malamnya Dul bersikeras untuk menyuapi Bara makan malamnya sampai habis.
Saat Dul sedang membereskan pakaiannya, ia melirik Bara yang sedikit gelisah.
“Ayah mau apa? Mau ke toilet?” tanya Dul. Pertanyaannya itu dibalas dengan sorot serba salah oleh Bara. “Ayo, aku anterin. Aku bawain tiang infusnya. Ayah bisa pegang aku pelan-pelan. Kata Ibu, Ayah masih pusing. Jadi enggak boleh berdiri sendirian,” terang Dul seraya menyelipkan tangannya di belakang punggung Bara dan membantu pria itu duduk.
“Ayah enggak ngerepotin, kan?” tanya Bara.
“Ini belum ada apa-apanya dibanding aku yang ngerepotin Ayah. Ayo, aku bantu.” Dul memeluk pinggang Bara dan menyeret tiang infus bersamanya.
Semua ini belum ada apa-apanya, Yah. Aku dan Ibu udah lebih banyak ngerepotin Ayah, jauh sebelum kita terikat dalam hubungan ayah dan anak. Sekarang giliran Ayah yang harus banyak merepotkan aku. Biar hatiku terasa lebih ringan kalau berangkat nanti.
Siang berikutnya, Dijah baru selesai membuka semua rantang dan menghamparkan masakannya di meja. Pandangannya menyapu tiap menu dengan tatapan puas.
“Dul … kamu makan duluan. Abis makan jenguk Akung. Ayo, cepat. Nanti sekalian bawain satu rantang buat Uti.”
Mima berdecak-decak dengan tangan tersilang di depan dadanya. “Mas Dul pulang Ibu kaya dapat kekuatan baru. Kemarin-kemarin lesu sampai ngomong aja enggak bisa. Mas Dul memang sakti.” Mima ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Dul yang mulai mengisi piringnya.
“Namanya juga lagi pusing. Mana Ibra tiap pulang sekolah ditanya ada PR jawabnya enggak ada. Tapi kalau Ibu udah selonjoran mau tidur, Ibra baru ngomong diminta bawa ini-itu ke sekolah. Kaya kemarin tiba-tiba ngomong buat frame foto dari kardus. Tengah malam Ibu jadi reog jumpalitan.” Dijah ikut mengambil piring dan mengisinya dengan nasi untuk makan siang Ibrahim. “Ayah udah makan, Dul?” tanya Dijah.
“Ayah udah makan. Makannya lumayan,” bisik Dul, melirik Bara yang baru tertidur setelah memakan obatnya.
“Anak TK dan anak kelas satu SD itu selalu gitu, Bu. Adiknya temanku juga gitu. Selalu ingat PR kalau udah mau tidur.” Mima terkekeh-kekeh, menjawil pipi Ibrahim.
“Iya. Mima juga dulu kaya gitu,” sahut Dijah. Mima langsung mencibir. Sedangkan Ibra gantian menjawil pipi kakaknya.
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu membuat Dijah dan anak-anaknya terdiam.
“Jangan ada yang teriak. Nanti Ayah kebangun. Biar aku aja yang buka,” kata Mima, berdiri dengan sigap dan berlari ke pintu.
Saat pintu mengayun terbuka, sosok yang tidak asing menyembulkan wajahnya.
“Helo … helo …. Aku mencium aroma makan siang gratis di sini. Boleh ikut bergabung?”
To Be Continued