
Mengikuti saran dokter, Pak Wirya menjalani rawat inap. Setelah sadarkan diri dan kondisinya stabil, Pak Wirya dipindahkan ke ruangannya. Malam itu, Bu Yanti bersikeras menemani Pak Wirya di rumah sakit. Katanya masih rindu.
“Ibu pulang aja. Biar aku yang jaga Ayah. Pulang sama anak-anak. Itu Sukma dan Rico juga enggak bisa ninggalin anaknya kelamaan di rumah.” Bara memeluk bahu Bu Yanti di sebelah ranjang Pak Wirya.
Dul melihat wajah letih ayah dan ibunya. Sejak kemarin keluarga mereka terpecah-pecah. Mima dan Ibra pun kemarin tidak bertemu ayah mereka. “Semuanya pulang istirahat. Biar aku yang di sini. Aku pakaian karena tadi rencananya mau nginap di rumah Akung. Uti juga pulang. Nanti kalau Uti yang jaga, Uti bisa ikut sakit.” Dul menatap wajah kuyu Bu Yanti.
“Tapi Uti mau….”
Ucapan Bu Yanti terputus karena ketukan di pintu kamar. Ibra berlari menuju pintu dan membukanya. “Pakdhe!” seru bocah laki-laki enam tahun itu. Pintu terbuka lebar diiringi langkah Heru dan Fifi masuk ke dalam.
Heru menghampiri Bara, sedangkan Fifi memeluk Bu Yanti yang berdiri di dekat kaki ranjang.
“Gimana, Ra?” tanya Heru saat langkahnya tiba di sebelah ranjang Pak Wirya. Tangannya langsung menggenggam tangan Pak Wirya dan memijatnya dengan lembut.
“Tekanan darahnya tinggi. Jantungnya juga bengkak,” jawab Bara dengan nada muram.
“Udah check-up semua, kan? Hasilnya udah keluar?” tanya Heru.
Bara menggeleng saja.
“Yang jaga Paklik malam ini siapa? Bukan Bulik, kan? Bulik udah kecapekan banget ini. Nanti malah sakit.”
“Mas Dul yang jaga,” jawab Bu Yanti.
“Bulik istirahat di rumah malam ini. Besok bisa ke sini lagi. Percayakan Paklik di tangan calon perwira,” kata Fifi, memandang Dul dengan segurat senyuman.
Dul berdiri di sebelah Bara sedikit tersipu mendapat pujian dari Fifi, anchor ternama yang cantik dan selalu bicara efisien itu sedang melontarkan senyum manis padanya. Ternyata kabar ia lulus di panitia seleksi daerah sudah sampai ke telinga Fifi.
Bara memilihkan kamar VIP untuk Pak Wirya. Tidak begitu luas. Tapi ada sofa bed yang bisa dipergunakan keluarga pasien yang mendampingi.
Setelah kepulangan semua orang. Dul duduk di sofa memegang ponselnya. Membalas pesan Bara yang mengatakan padanya jangan tidur terlalu larut karena ia perlu menyiapkan fisiknya untuk berangkat ke Solo. Tak lupa pesan untuk segera memberi kabar kalau ada apa-apa. Juga janji kalau esok pagi-pagi sekali ayahnya itu akan datang kembali.
Dul lalu membalas pesan Robin dengan menceritakan sedikit keadaan Pak Wirya. Setelah beres dengan pesan-pesan, Dul kembali membaca email hasil pengumuman yang diterimanya tadi dengan teliti.
“Minggu depan,” bisik Dul. Ia menghela napas seraya meletakkan ransel yang sejak tadi dipangkunya. Setelah memosisikan bantal kecil ke ujung sofa bed dan merebahkan tubuh.
Matanya belum mengantuk. Dengan satu tangan di dahinya, Dul kembali menggulir ponsel. Kali ini ia kembali terpaku pada satu nama. Annisa. Pesan-pesan kemarin belum dibaca. Ia lalu iseng kembali mengetikkan pesan.
‘Kamu apa kabar? Sehat, kan? Kegiatan sekarang ngapain aja? Jadi nyoba masuk kedokteran?’
Dul mengirimkan pesan itu. Sedetik kemudian, ia hanya memandangi tanda centang satu. Pesan itu sekarang bahkan tidak sampai meski foto profil Annisa masih sama. Dul menekan bagian atas profil Annisa dan kembali memandanginya untuk kesekian kali. Bagian foto profil itu hanya berisi kata-kata, ‘Pilih jalan mendaki, karena itu akan mengantar kita ke puncak-puncak yang baru’.
Apa mungkin Annisa kehilangan ponselnya? Dul mengernyit. Dua teman wanita yang akrab dengan Annisa dulunya pun tak mengetahui nomor baru Annisa yang bisa dihubungi. Dul membuka daftar kontak Annisa dan membaca alamat, nomor telepon serta email yang didapatnya dari sekretaris kelas dulunya. Email itu adalah email papa Annisa. Rasanya tak mungkin mengirimkan pesan ke sana dan bertanya soal hal remeh- temeh. Dul kembali menghela napas.
Sekarang Dul merasa aneh. Keberadaan Annisa membuatnya sangat penasaran. Apa kabar gadis itu? Bagaimana kehidupannya sekarang? Sekolahnya? Ia bagai menulis cerita selembar cerita yang bagian akhirnya tidak bisa ia lengkapi.
‘Annisa, Minggu depan aku berangkat ke solo untuk menjalani seleksi pusat masuk AAU. Aku senang bisa lolos sampai ke bagian itu. Tapi, di saat bersamaan aku juga sedih karena Akung masuk rumah sakit. Semoga kamu bisa masuk universitas impian kamu ya. Jaga kesehatan.’
Dul kembali mengirimkannya. Masih tetap centang satu. Ia lalu meletakkan ponselnya dan coba memejamkan mata. Kata ayahnya, ia harus jaga kesehatan.
“Usaha dan berdoa. Soal hasilnya jangan terlalu dipikirkan. Mas Dul sudah cukup keren bisa sampai tahap ini. Akung bangga,” ucap Pak Wirya dengan nada lemah.
Hampir setengah hari bersama, itu adalah perkataan Pak Wirya yang cukup panjang. Selebihnya pria itu hanya berbaring dan bicara pendek-pendek. Hati Dul belum cukup tenang karenanya.
Kepergian Dul esok harinya diantarkan oleh semua anggota keluarga. Bara, Dijah, Mima, Ibra, juga termasuk Mbok Jum yang belakangan sering ikut pergi karena Ibra tak mengizinkannya tinggal di rumah. Mbok Jum pun sepertinya semakin memiliki ikatan dengan putra bungsu Satyadarma itu. Di mana ada Mbok Jum, di situ ada Ibra.
Tiba di bandara, Bara memarkirkan mobil dan membawa koper kabin milik Dul yang diturunkannya dari belakang. Dijah kemudian ikut dan berdiri di dekat pintu menanti Dul. Namun, Dul belum juga turun.
“Ayo,” ajak Dijah.
“Sebentar, Bu. Ibra belum mau ngelepas,” kata Dul, membalas pelukan Ibra yang belum mau melepasnya.
“Ibra ikut aja nganter Mas Dul ke dalam. Mbok di mobil nunggu Ibra,” bujuk Mbok Jum, mengusap-usap bahu Ibra.
“Aku di mobil aja sama Mbok Jum. Jalan ke dalam jauh,” kata Mima dari jok belakang. “Aku salim Mas di sini aja.” Mima mencondongkan tubuhnya ke jok tengah untuk meraih tangan Dul.
“Doain Mas, ya,” ujar Dul saat Mima meletakkan tangannya ke dahi.
“Aku cium Mas Dul sekarang.” Mima mengecup pipi Dul. “Sebentar lagi pasti enggak bisa sembarangan nyium Mas. Nanti ada pacarnya yang marah.” Mima terkikik dan Dul menarik senyum tipis dengan satu sudut bibirnya. Ia lalu mencubit pelan pipi Mima.
“Pacar terus yang diomongin,” kata Dul. Mima hanya terkikik sambil kembali membalas mencubit lengannya.
Bara membawakan koper Dul dan Dijah berjalan di sisinya sembari mendekap erat tangan Dul. Kadang-kadang Dijah mengusap tangan Dul dan menyandarkan pipinya. Rasanya waktu berjalan sangat cepat.
“Sampai di sini aja. Enggak bisa sampai ke dalam,” kata Bara, menyerahkan koper Dul di depan gerbang keberangkatan.
Dijah langsung memeluk Dul. Awalnya ia tidak menangis. Dul hanya pergi sebentar untuk menjalani seleksi. Putra pertamanya itu akan kembali. Tapi, pelukan Dul yang erat entah kenapa membangkitkan kenangannya. Kenangan saat mereka pernah hanya berdua saja saling memiliki satu sama lain.
“Doain Mas, ya Bu ....”
Ucapan lirih Dul membuat air mata Dijah tak terbendung. Pelukannya di tubuh Dul semakin erat dengan tenggorokan tercekat yang tak sanggup menjawab dengan kata-kata. Dijah hanya mengangguk-angguk kemudian melepaskan pelukannya. Dijah memegang kedua lengan Dul dan menatap putranya itu dari atas ke bawah.
“Anak Ibu udah dewasa,” ucap Dijah.
Dul tersenyum memandang Bara, kemudian memeluk pria itu. “Doain aku, Yah ....”
“Selalu,” sahut Bara, menepuk-nepuk lengan Dul dengan mata yang sudah ikut memerah.
Dul merangkul bahu Bara. Ayahnya si pria ganteng dengan motor besar yang selalu sentimentil itu memang paling gampang mengeluarkan air mata. Pria gagah yang selalu mudah terharu. Entah kenapa, sifatnya yang satu itu ikut diturunkan padanya.
Dul melangkah menuju gate keberangkatan. Tangannya masih bergenggaman dengan tangan Dijah yang belum mau melepasnya. Wanita yang dulu mati-matian menjadi ibu sekaligus ayah baginya itu, terus ikut melangkah. Sampai Dul harus melepaskan gandengan tangan itu dan mengganti dengan ciuman di puncak kepala ibunya.
“Doain,” seru Dul, melambaikan tangan.
To Be Continued