
Lingkup keluarga Satyadarma tidak besar. Pak Wirya Satyadarma; ayah Bara, hanya dua bersaudara dengan Ayah Heru. Dari pihak ayahnya, Bara hanya memiliki seorang saudara sepupu, Heru Gatot Satyadarma. Heru adalah seorang anak tunggal yang kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan pesawat saat ia duduk di bangku kelas tiga SMA. Sejak itulah Heru tinggal bersama Eyang Kakung dan menghabiskan masa mudanya di sana. Menjalani semua aturan Eyang Kakung dan manut berbahasa Jawa setiap kali berada di rumah.
Sedangkan Bara, diajak menemani Heru tinggal di rumah Eyang saat duduk di bangku kelas enam SD. Bara hanya bertahan seminggu saja. Bu Yanti dan Bara sama-sama menangis setiap hari karena saling merindukan. Karena hal itulah Bara dan Heru tumbuh menjadi pribadi yang amat berbeda. Bara yang manja dan begitu terikat dengan ibunya, berbeda dengan Heru yang mandiri dan sudah merasakan pahitnya ditinggalkan kedua orang tua yang dicintainya.
Selama hampir enam tahun menjadi anggota keluarga baru Satyadarma, Dul mulai memahami pola keluarga itu berinteraksi. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dul menginjak tahun terakhirnya di sekolah dasar. Mima berusia lima tahun dan sudah duduk di bangku TK. Dan kini ibunya sedang mengandung seorang bayi laki-laki yang jadwal kelahirannya sudah ditetapkan. Untuk kelahiran kali ini, ibunya sudah patuh untuk langsung menjalani operasi caesar demi menghindari drama kontraksi yang panjang.
Dan perjalanan Dul sebagai anak yang menginjak usia remajanya pun dimulai.
Sudah sejak lama Dul mengetahui bahwa Bara dan Heru sama baiknya. Kedua pria itu begitu dekat bak saudara kandung. Keduanya sama tampan, meski memiliki pesona berbeda. Bara yang tampan dengan sorot matanya yang teduh, bola mata cokelat muda, rambut ikal cokelat pekat dan kulitnya yang kuning langsat.
Sedangkan Heru, berkulit sedikit lebih cokelat dari Bara, rambut lurus hitam legam, cambang yang turun hingga ke setengah pipi, ditambah lesung pipi di kedua pipinya. Untuk itu, Dul tak pernah heran kalau kedua pria itu sering menjadi objek pandangan para wanita jika berada di tempat-tempat umum.
Di usia hampir menginjak tiga belas tahun, Dul akhirnya paham bagaimana seorang wanita mengatakan tampan atau tidak tampannya seorang pria. Seperti yang Dul amati selama ini, Bara dan Heru sama baik, tapi berbeda tingkat keseriusannya. Bara, ayahnya sangat baik dan lembut, namun cenderung lebih serius. Sedangkan Heru lebih santai dan lebih sering bercanda. Hal itu dirasakan Dul suatu siang.
Perjalanan Dul sebagai siswa SD sudah berakhir. Sekarang ia sedang giat-giatnya belajar untuk masuk ke SMP favorit yang ditetapkan Bu Yanti. SMP itu adalah SMP tempat di mana Bara dan Heru menuntut ilmu. Bara memasukkannya ke sebuah bimbingan belajar di dekat sekolahnya. Hanya tinggal menyeberang jalan. Walau jalan raya itu tidak terlalu lebar, tapi seminggu pertamanya masuk ke Bimbingan Belajar itu, Bara mengantarkannya. Mengajarinya menunggu kendaraan sepi dan menyeberangi jalan dengan hati-hati. Seminggu penuh Bara pulang makan siang dan menjemputnya ke sekolah untuk kembali mengantarkannya ke Bimbingan Belajar. Beberapa teman Dul sampai ada yang mengatakan kalau ia terlalu cupu dan penakut.
“Apa Ayah enggak masuk kantor? Aku udah bisa nyeberang sendiri, kok,” ujar Dul.
“Hari ini terakhir, besok kamu berangkat sendiri. Kalau ragu nyeberang jalan, jangan nyeberang sendiri. Bareng teman, atau minta bantuan Bapak yang itu.” Bara menunjuk seorang pria penambal ban dan melambai pada pria itu. Pria penambal ban membalas lambaian tangan Bara seraya tersenyum.
“Ayah kenal?” tanya Dul.
“Sekarang kenal, kemarin-kemarin belum,” jawab Bara. “Pokoknya kamu jangan nyeberang sendiri kalau ragu. Inget, ya, Dul.”
Begitulah. Orang yang mengajarinya menyeberang jalan dengan benar adalah Bara. Padahal dulu ia pernah berlari menyeberangi gang rumah Mbah-nya untuk pergi ke mini market hanya dengan berlari. Mengingat hal itu, Dul bergidik. Untung ia tak apa-apa waktu itu.
Masa-masa pembelajarannya di Bimbingan Belajar itu akhirnya masuk ke minggu terakhir. Minggu berikutnya tes masuk SMP sudah dilaksanakan. Hari itu Bara berjanji akan menjemputnya sore hari di Bimbingan Belajar dan pergi untuk makan malam berdua saja. Bara memang sering mengajaknya pergi berdua untuk mengobrol. Ternyata hari itu ada yang berbeda. Heru muncul di luar pagar Bimbingan belajar saat jam pertama berakhir. Masih ada satu jam lagi, tapi kenapa Heru muncul di sana.
“Pakdhe, ngapain?” tanya Dul, menghampiri pagar. Heru berdiri dengan kacamata hitam dan berkacak pinggang mendongak melihat bangunan seolah hendak membelinya.
“Kamu pulang sekarang aja, yuk. Ayah kamu ada liputan penting. Katanya sore ada janji makan malam sama kamu, kan? Pakdhe dimintai tolong jemput kamu sekalian dan dibawa ke tempat makan. Makannya bareng Pakdhe,” jelas Heru.
“Tapi aku belum selesai belajar. Ayah bilang, kan, makan malam. Ini masih sore,” kata Dul.
“Mumpung Pakdhe lewat sini. Kan, udah hari terakhir. Enggak apa-apa skip jam terakhir,” pungkas Heru.
Dul bimbang. Dalam soal kedisiplinan, Bara sebenarnya wujud Bu Yanti dalam versi laki-laki dan lebih muda. Bara terbilang sangat straight soal pendidikan. Ajakan Heru membolos jam terakhir dari Bimbingan Belajar membuat Dul ragu mengikuti pria itu. Apalagi sepertinya ajakan Heru bisa dikatakan ilegal.
“Aku takut Ayah marah,” ucap Dul akhirnya.
Mendapat jaminan seperti itu, membuat Dul langsung melesat ke dalam kelasnya untuk mengambil tas. Menit berikutnya ia sudah berada di dalam mobil Heru yang super besar seperti mobil perang. Interior mobil Heru yang sangat canggih dan terlalu banyak tombol, membuat Dul terpukau dan melihat tiap tombol dan panel tanpa malu-malu.
“Keren, kan?” ucap Heru dari balik kemudi.
“Keren. Banyak tombolnya mirip pesawat. Aku suka.” Dul meraba jajaran tombol di bawah dasbor yang bertulis macam-macam fungsi dalam bahasa Inggris.
“Kamu pengen jadi pilot?” tanya Heru.
“Kepingin banget,” jawab Dul.
“Kalau gitu kamu harus jadi pilot,” sahut Heru.
Dul memperkirakan maksud Heru soal menjadi pilot berarti keren karena membela negara dengan mampu menerbangkan pesawat. Ternyata alasan Heru mengatakan hal tadi bukan karena itu.
“Pilot itu keren karena enggak ada cewe yang enggak noleh kalo pilot jalan dengan seragamnya. Wuuuss … pasti keren Dul. Jangan lupa dengan kacamata hitam kayak Pakdhe ini.” Heru mengetuk tangkai kacamatanya.
Dul tertawa mendengar alasan Heru. Sangat berbeda dengan alasan Bara mendukungnya untuk menjadi pilot. Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah cafe yang isinya lebih banyak pria.
“Aku enggak pernah ke sini,” ucap Dul saat Heru mendorong pintu.
“Sering keluar berdua dengan Ayah kamu tapi enggak pernah diajak ke sini?” tanya Heru heran. “Ayo, kita duduk di sebelah sini. Mengarah ke pintu masuk jadi kita bisa cuci mata.” Heru menarik bangku panjang dan menepuknya.
“Iya, baru kali ini ke sini.”
“Itu karena Ayah kamu takut kalo kamu bakal cerita macem-macem ke ibu kamu. Di café ini banyak cewe-cewe. Dasar Ayah kamu itu. Selalu aja terlalu serius. Padahal … kamu itu udah gede. Pasti udah bisa menimbang mana yang baik dan mana yang enggak.”
Perkataan Heru bukan hanya terdengar sebagai pujian, tapi juga himbauan di telinga Dul. Ia sudah besar dan harusnya sudah paham mana yang baik mana yang tidak. Cara Heru bicara santai sekali, tapi perkataan itu lurus masuk ke hatinya.
Dan seperti dugaan Dul tadi, Bara muncul dua jam berikutnya dengan kalimat pembuka yang cukup panjang.
“Mas, kok, anakku diajakin bolos? Di ajak ke sini pula.” Bara meletakkan kunci mobil dan melemparkan tatapan kesal pada Heru yang terkekeh-kekeh.
“Santai, Ra. Hari ini kita bertiga bujangan,” sahut Heru.
To Be Continued