Dul

Dul
067. Kejutan Untuk Ibu



Rencana kejutan untuk Dijah memang sudah dipersiapkan Bara dari bulan sebelumnya. Tak pernah ada ulang tahun yang dirayakan terlalu meriah dalam keluarga mereka. Biasanya hanya syukuran makan-makan di rumah dengan seluruh anggota keluarga. Atau juga sesekali mereka semua pergi ke sebuah restoran di akhir pekan.


Kali itu, Bara ingin memberi kejutan pada Dijah dengan mengundang teman-teman terdekat ke rumah untuk merayakan bertambahnya usia dan bertambahnya anggota keluarga baru di rumah.


Bara memasuki toko kue dan roti tepat pukul tiga sore. Setelah berjalan dua kali memutari seluruh isi toko, pilihannya jatuh pada sebuah cake ulang tahun yang memiliki dasar cake tiramisu. Dengan pertimbangan anak-anak juga bakal menyukai cake yang dominan memiliki rasa cokelat, Bara memutuskan membeli cake itu.


"Lilinnya angka atau yang begini, Pak?" tanya pegawai toko menunjukkan lilin satuan seperti lidi.


"Lilin yang satuan aja. Biar banyak," jawab Bara. Lagi-lagi ia membayangkan kalau anak-anak di rumah bakal menyukainya. Meski yang berulang tahun ibunya, anak-anak pasti akan tetap mendominasi, pikir Bara.


Bara tiba di rumah lebih awal dari biasanya. Jam segitu biasanya Dijah masih di kamar tidur atau sekedar berbaring bersama Ibrahim atau Mima. Karena Bara tak memasukkan mobilnya ke car port, tak ada yang menyadari kepulangannya yang lebih awal itu selain Mbok Jum.


"Akung dan Uti enggak dateng? Atau mau dikirimin makanan aja?" tanya Mbok Jum saat melihat kemunculan Bara melalui pintu belakang.


"Akung dan Uti enggak diundang untuk makan-makan ini. Cuma temen-temen Dijah aja, Mbok. Biar Dijah bisa santai ngobrol bareng temen-temennya. Udah lama enggak keluar rumah. Kebanyakan ngurus anak dan aku belum sempat bawa jalan-jalan." Bara terkekeh. "Nanti buat Akung dan Uti kita makan di luar aja. Hari ini acara buat Dijah."


"Oh, ya udah kalau gitu. Mbok mau nyusun piring sekarang," kata Mbok Jum.


"Dijah enggak ada nanya apa-apa?" tanya Bara, berdiri di dekat meja makan dan melongok menu yang sudah tertata di meja.


"Tadi nanya Mbok masak apa? Kok, enggak siap-siap katanya. Mbok bilang mau masak buat besok. Gitu aja. Dijah enggak sempat nanya lagi karena Ibra mau merangkak terus enggak mau digendong. Sekarang Dijah mungkin masih tidur. Jaga cah lanang kecapekan," kata Mbok Jum.


Bara mengangguk dan tersenyum puas. Merasa kejutan sore itu mungkin akan berhasil untuk Dijah. Bara melangkahkan kaki ke pintu kamar Dul. Membuka pintu dan melongok ke dalam. Ternyata remaja SMP itu masih tidur menelungkup. Merasa belum perlu membangunkan Dul, Bara melongok kamar Mima. Ternyata gadis kecil itu pun masih tidur dengan sebuah buku bacaan di tangannya.


Terakhir, Bara berjalan ke depan dan masuk ke kamarnya. Pemandangan yang dilihatnya pun tak jauh beda. Ibrahim tidur menelungkup di dalam boxnya dan Dijah tidur memeluk guling dengan nyenyaknya. Bara meletakkan ransel di meja dan cepat-cepat mendekati ranjang.


"Aduh ... enaknya ...," gumam Bara, berbaring memeluk Dijah dari belakang. Ia ikut memejamkan mata. Menikmati aroma kamar yang membuatnya nyaman seketika. Juga wangi sampo yang menguar dari rambut Dijah yang paling rajin keramas.


Dijah menggeliat dan menoleh ke belakang. Kepalanya beradu dengan kepala Bara. "Duh, sakit?" Dijah berbalik mengusap dahi Bara. Yang diusap dahinya masih memejamkan mata. "Kok, tumben pulang cepet? Kenapa? Sakit?" tanya Dijah, meletakkan punggung tangannya di dahi Bara.


"Mau ikut tidur siang bareng ibunya anak-anak. Boleh, kan? Aku jarang-jarang tidur siang," sahut Bara masih dengan mata terpejam.


"Udah sore. Aku bangun dulu mau nyiapin makannya anak bayi. Sebentar lagi dia bangun pasti aku sulit ngapa-ngapain." Dijah bangkit dari posisinya.


"Kamu mandi aja. Tadi Mas udah minta Mbok Jum siapin makannya Ibra. Sore ini Mas yang suapin dia makan."


"Serius?" tanya Dijah dengan mata membulat.


Dijah bangkit seraya terkekeh-kekeh. "Yo wis, aku mandi yang lama," kata Dijah, mengambil handuk pada jemuran kecil di depan kamar mandi dan masuk ke dalam.


Sejurus kemudian, Bara sudah mendengar Dijah berdendang. Ia pun langsung bangkit dan berganti pakaian. Setelah melongok Ibrahim mulai menggeliat dalam tidurnya, Bara segera mengangkat bayi itu. "Sudah bangun ... ayo, makan. Sebentar lagi temen-temen Ibu pada dateng. Kamu juga harus tampil ganteng." Bara mengangkat Ibrahim ke depan wajahnya dan menciumi pipi bayi yang masih setengah sadar menggosok-gosok wajahnya.


Sembari menggendong Ibrahim, Bara keluar kamar untuk membangunkan Mima dan Dul. Keduanya segera terlompat dari ranjang karena mengingat akan acara kejutan sore untuk ibu mereka. Dijah yang sepertinya benar-benar memanfaatkan waktu mandi sore sepuasnya yang diberikan Bara, belum juga keluar kamar sampai satu jam kemudian.


"Ayo...ayo. Udah kenyang, kan? Kita serahkan lagi Ibra ke Ibu. Biar Ibu enggak keburu keluar kamar," kata Bara, mengangkat Ibrahim yang wajah dan bajunya sudah bermandikan bubur bayi.


"Ibu pasti lebih kaget liat muka Ibra ketimbang sama kejutan ulang tahunnya," kata Dul, tertawa kecil memandang rupa Ibrahim yang kacau balau.


"Ibu pasti ngomel," tambah Mima, ikut tertawa menepuk-nepuk paha Ibrahim yang berada dalam gendongan Bara.


"Dua-duanya malah bikin Ayah jadi deg-degan aja," tukas Bara, berjalan meninggalkan meja makan. Dul dan Mima tertawa terkikik-kikik melihat kegusaran di wajah ayah mereka.


"Ayo, cepat kita bereskan lagi mejanya. Sebentar lagi temennya Ibu pasti dateng. Rumah pasti langsung ramai." Mbok Jum mengelap meja dan membereskan sisa makanan Ibrahim.


Di kamar, Dijah baru saja selesai mematut dirinya di depan kaca. Letak meja rias yang menghadap pintu masuk membuat Dijah langsung membelalak saat pintu terbuka. "Astaga ... ya ampun ... anakku kok kayak dijejeli bubur gini, Mas? Ini bener disuapin apa disuruh makan sendiri? Ya ampun, Nak ...." Dijah menyongsong Ibrahim yang seketika tertawa-tawa saat melihatnya.


"Disuapin, tapi tiap disuap sendoknya dipegangin sama bayi ini," kata Bara, mencubit gemas paha Ibrahim. "Mas tinggal dulu, ya. Mau nyiapin kamera. Ibra dipakein baju bagus. Mas mau foto-fotoin anak-anak dan ibunya." Bara meninggalkan Dijah yang berjongkok membuka pakaian Ibrahim.


Bara tiba di ruang makan dan melihat semua persiapan sore itu sudah selesai. Dul dan Mima sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Cake ulang tahun sudah dikeluarkan dari kotaknya dan ditata di meja dengan lima lilin yang ditancapkan di atasnya.


"Lilinnya lima batang. Pas. Ayah, Ibu, aku, Mas sama Ibi. Niupnya bisa satu-satu," kata Mima.


"Yang niup tetap Ibu. Semuanya," kata Dul. Membuat Mima langsung mencebik menatap Dul.


"Semuanya bisa tiup lilin," kata Bara menengahi. "Ayah juga mau ikutan tiup lilin."


Lalu, dari arah pagar terdengar suara orang berbicara.


"Helo...helo.... Ini tamunya udah dateng, lho. Tapi pagernya dikunci .... Ini niat ngundang apa enggak? Apa aku harus pulang ngambil mic buat manggil tuan rumahnya?"


Bara membelalak. "Astaga ... bisa gagal kejutannya kalau tamunya teriak-teriak. Ayah lupa buka kunci pagar. Ayah buka pagar dulu." Bara melesat keluar melalui pintu samping.


To Be Continued