Dul

Dul
121. Hidup Harus Tetap Berjalan



Sudah bertahun-tahun yang lalu saat ia melihat lambaian tangan Dul di luar bandara. Saat melangkah pergi dari sana, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menjalin komunikasi dengan teman sekelasnya itu. Dul yang selalu hemat menggunakan kata-kata, namun seseorang yang sangat peka. Dul banyak memperhatikan dalam diamnya.


Namun, Tuhan memang selalu punya kejutan. Kepergian ibunya dan kepindahannya yang setengah hati ke Kalimantan ternyata membawa begitu banyak perubahan dalam keluarga mereka. Hidup memang tidak mungkin berjalan selalu mulus. Bahkan, yang terlihat hidup tanpa masalah pun, bisa jadi menyimpan luka dan kepedihan yang dijaga untuk dirinya sendiri.


Annisa berdiri membeku di tempatnya. Sosok Abdullah remaja laki-laki yang canggung, namun hangat sedang berdiri menatapnya. Abdullah banyak berubah, tapi sorot matanya tetap sama. Bahkan, saat itu pelupuk mata mereka sepertinya sedang dalam keadaan yang sama. Berkilap menahan air mata yang berdesakan ingin ditumpahkan. Entahlah … tapi ia tidak menyukai cara Abdullah memandangnya. Ia tidak mau dikasihani.


“Nisa! Udah dipesan, kan?” tanya pria di sudut meja. Teriakan itu membuyarkan lamunan Annisa.


“Oh, iya.” Annisa merobek kertas dan menyerahkannya ke pegawai yang mengurus porsi perpiring. Ia hanya menangani pemesanan dan pembayaran. Sesekali ia ikut melayani pembeli kalau warung sedang sangat ramai.


Annisa melihat Dul melangkah masuk dan menoleh bangku panjang yang kosong. Ia keluar dari balik meja dan menghampiri Dul.


“Abdullah …. What a surprise! (Benar-benar kejutan!)” seru Annisa dengan suara sedikit tercekat.


Dul mengangguk. “Iya, kejutan. Kamu … apa kabar?” tanya Dul.


“Bang, ini teman aku. Izin duduk di sebelah sana, ya. Biar dekat dari meja kasir,” ujar Annisa pada pria yang tingkahnya mirip manajer operasional di warung itu.


“Iya. Enggak apa-apa. Sana,” sahut pria itu. Ikut memandang Dul dengan wajah penasaran.


“Ayo, Abdullah duduk di sana aja.” Annisa memegang lengan Dul dan membawanya ke bangku panjang yang terletak di sisi kanan meja kasir. Paling depan. Dekat tumpukan persediaan botol minuman teh Roso.


Annisa menyeret Dul setengah paksa untuk didudukkan di bangku panjang. Lalu dengan cekatan mengambil satu botol air mineral dan satu botol teh Roso untuk diletakkannya di hadapan Dul. “Buat minum kamu. Kalau mau ngobrol, ngobrol aja. Tapi aku enggak bisa...."


Sepasang pria dan wanita berdiri mendekati meja kasir. “Berapa, Mbak? Meja nomor empat.” Pelanggan pria mengeluarkan dompetnya.


“Sebentar.” Annisa menyentuh bahu Dul dan kembali ke balik mejanya. “Meja nomor empat … dua nasi goreng, dua air mineral, satu kerupuk, semuanya enam puluh tiga ribu.” Annisa meraih lembaran pecahan seratus ribu dan memberikan kembalian yang dikeluarkannya dari laci.


Setelah memastikan pelanggan pergi, Annisa kembali menghampiri Dul. Senyumnya merekah, dan sorot matanya kembali ceria. Tapi wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan. “Abdullah benar-benar beda. Aku hampir enggak kenal,” ucap Annisa.


Tentu saja ia berbohong. Sejak Dul berdiri di mulut warung tadi, ia langsung mengenali Dul. Tampilan Dul memang banyak berubah, tapi ekspresi datar dan sorot mata itu sulit ia lupakan.


“Nisa udah lama di Jakarta? Kapan pindah ke sini?” Itu adalah pertanyaan pertama yang dipilih di antara ratusan pertanyaan yang berjalan di kepalanya.


“Lumayan lama. Mungkin dua tahun lebih,” jawab Annisa, pandangannya menyapu ke antara pelanggan warung nasi goreng itu. “Abdullah … maaf kalau ngobrolnya begini. Aku lagi kerja. Yang berdiri itu pengawas. Adik yang punya warung ini. Tadi masuk sini niat mau makan, kan? Atau ada janji sama seseorang ketemu di sini?”


Mereka bicara dari jarak tak lebih dari dua meter. Dul duduk menumpukan dua sikunya di meja menghadap bagian kasir. “Aku enggak ada janji sama siapa-siapa. Niatnya tadi mau beli buat bawa pulang. Ayahku pesan nasi goreng.”


“Mau dibuat sekarang atau….”


“Nanti aja,” potong Dul.


Annisa mengangguk. “Oh, oke. Ngomong-ngomong … selamat, ya. Ternyata Abdullah udah di….” Annisa memutari meja dan mendekati Dul. Ia lalu sedikit menunduk memandang tulisan-tulisan yang menempel di seragam Dul. “Akademi Angkatan Udara,” ucap Annisa dalam bisikan.


“Selesai kerja jam berapa? Boleh ngobrol?”


“Pulangnya tengah malam. Masih lama. Abdullah pasti ditunggu di rumah. Kalau masih pakai seragam begini…pakai ransel. Kayanya Abdullah baru sampai, kan? Liburan semester?” tebak Annisa.


Dul mengangguk. “Liburan semester. Aku tunggu sampai selesai,” ujar Dul.


“Kamu dijemput seseorang?” tanya Dul langsung. Pertanyaan yang harusnya tidak langsung ia tanyakan, tapi meluncur begitu saja.


Kepala Dul menengadah memandang wajah Annisa. Setelah dua tahun lebih tanpa kabar, akhirnya ia bisa melihat gadis itu, sedekat itu. Annisa yang masih mempertahankan rambut panjangnya yang lurus. Bulu matanya yang panjang dan tebal. Juga kulit wajahnya yang tampak putih karena bersanding dengan rambutnya yang legam. Meski wajahnya terlihat lelah, Dul tak menampik kalau Annisa semakin cantik.


“Enggak. Enggak ada yang jemput aku,” jawab Annisa cepat. “Aku biasa pulang naik ojek langganan. Atau aku bareng dengan Pak Samsul. Itu yang tukang masak. Rumahnya searah dengan kos-kosan aku.”


“Oke, kalau gitu aku tunggu Annisa sampai selesai. Aku kabari ayahku sekarang.” Tanpa menunggu jawaban dari Annisa, Dul mengambil ponselnya dari saku celana. Bersamaan dengan itu, Annisa meninggalkannya kembali ke meja kasir karena ada pelanggan lain yang datang.


‘Yah, teman yang aku jumpai ternyata baru selesai kerja tengah malam nanti. Aku masih mau ngobrol. Aku khawatir besok-besok enggak ada kesempatan. Tapi kalau Ayah enggak izinin, aku pulang sekarang.’


Dul mengirimkan pesannya itu dengan wajah sedikit meringis. Jantungnya sedikit berdebar menanti jawaban Bara. Andai Bara menjawab ia harus pulang, dengan berat hati percakapan bersama Annisa akan kembali terputus.


‘Enggak apa-apa kalau masih mau ngobrol. Jangan lupa kabari Ayah kamu ada di mana.’


Cepat-cepat Dul mengetikkan balasan. ‘Aku masih di tempat yang tadi. Pasti kabari Ayah secepatnya. Makasih Ayah. Makasih.’


Selesai mengetikkan jawaban, Dul mengangkat pandangannya ke meja kasir. Annisa juga sedang memandangnya dengan sorot keraguan. "Aku tunggu sampai selesai,” ucap Dul.


Annisa mengangguk. Tak ada gunanya menolak Dul di tempat itu. Abdullah yang dulu dikenalnya jarang bicara, sekarang bicaranya semakin pendek-pendek. Singkat, tegas, padat. Menolak Dul dan beralasan ini-itu akan membuat malam itu semakin panjang dan melelahkan. Dul harus pulang ke rumah secepatnya. Sebelum mereka bicara berdua, setidaknya Dul bisa duduk tenang menunggu. Dan setidaknya … dari meja kasir ia bisa berpuas-puas memandang pemuda itu.


“Pak, nasi goreng satu,” ujar Annisa pada Pak Samsul si juru masak. Tak perlu waktu lama, nasi goreng itu langsung disendokkan dari penggorengan raksasa dan dihias dengan selembar telur dadar lebar yang menutupinya. Annisa membawa nasi goreng itu ke hadapan Dul. “Harus dimakan, ya. Ini traktiran dari aku,” ucap Annisa, tersenyum.


“Aku makan sekarang,” sahut Dul.


Menuju tengah malam, seorang Annisa sibuk menyelesaikan pekerjaannya malam itu. Hilir mudik ke sana kemari melayani pelanggan warung yang ramai. Matanya sesekali melirik Dul, memastikan apakah pemuda yang menunggunya itu duduk dengan mapan.


Menuju tengah malam, seorang Abdullah pura-pura sibuk dengan ponselnya. Aktivitas yang ia lakukan agar matanya tidak terus memandang ke mana Annisa berjalan. Urutan pertanyaan sudah ia susun berdasar prioritas dan pertimbangan ketat. Namun nyatanya, semua buyar begitu saja saat Annisa menyandang tas dan berdiri di dekatnya.


“Aku udah selesai. Mau jalan-jalan sebentar? Di simpang sana ada halte yang tempatnya terang di tepi jalan. Ada pos polisi juga. Jadi … aman.”


“Ayo, boleh.” Dul berdiri menyandang ransel dan kembali mengenakan topinya.


Lima menit beriringan di trotoar dalam diam, mereka bersamaan menoleh memulai pembicaraan.


“Abdullah duluan,” kata Annisa.


“Kamu duluan aja. Karena aku udah lama nunggu kabar kamu. Ke nomor ponsel kamu yang….”


“Oh, nomor itu? Handphone yang itu hilang," potong Annisa pelan.


Dul menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menatap Annisa. “Kamu apa kabar? Aku selalu nunggu kabar dari Annisa. Aku selalu cek ponsel cuma untuk memastikan bahwa pesanku sampai dan dibaca. Annisa kenapa?” tanya Dul dengan nada yang sangat lembut.


Annisa membalas tatapan Dul dengan sorot muram. “Papaku menikah lagi. Sekarang udah punya keluarga baru. Kakak-kakakku terlalu sibuk dengan keluarganya masing-masing. Papa sekarang di Kalimantan. Usahanya tidak terlalu lancar. Dan aku … kuliah dari uang asuransi yang sudah disiapkan almarhumah Mama. Aku jajan, aku beli pakaian, semua dari uang yang disiapkan Mama. Kuliah kedokteran cukup mahal meski aku masuk karena nilai memuaskan. Mumpung sekarang mata kuliah masih longgar … aku masih bisa cari tambahan uang jajan. Tahun depan mungkin udah bakal lebih padat. Mungkin enggak bisa kerja lagi. Hidup itu enggak harus selalu berjalan mulus bagi setiap orang, kan?” Annisa tertawa sumbang. “Sejak tadi … pasti semua penjelasan itu yang mau Abdullah dengar. Bener? Makanya dari tadi ngeliatin aku terus.”


Dul menggeleng diiringi senyum tipisnya. “Aku ngeliatin Annisa karena memang kangen,” jawab Dul. Ia memang sangat merindukan gadis itu. Mau seperti apa pun keadaannya, ia memang merindukan Annisa.


To Be Continued