
“Mau coret-coret apa?” tanya kakak laki-laki Fredy lagi. Mereka sedang duduk berhadapan di meja kecil. “Kertas HVS-nya lima,” sambungnya menyentuh kertas di bawah tangan Fredy yang menangkup.
“Udah lama enggak megang pulpen. Pasti tulisanku kacau,” kata Fredy. “Ya udah, Mas pulang aja enggak apa-apa. Masih beberapa hari lagi,” ucap Fredy pelan.
“Aku ajukan banding lagi gimana, Dy? Kamu jangan pasrah gitu. Namanya juga usaha.”
“Aku capek,” lirih Fredy. “Rasanya memang kepengin rebahan, Mas.” Kepalanya menunduk memandang kertas dan satu tangannya memutar-mutar pulpen.
“Jangan ngomong kayak gitu. Kalau capek ya rebahan di dalem. Aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi.” Kakak laki-laki Fredy bangkit dari kursi. Lalu ia berhenti membuka resleting tasnya. “Oh, ya…aku dikasi foto ini sama Kakang Dijah. Katanya dapet di lemari Dul yang lama. Bulan depan rumah orang tua Dijah bakal dikosongkan. Sudah laku terjual,” tambahnya lagi.
Fredy mengambil benda yang disodorkan oleh kakaknya dan membuka plastiknya perlahan. Sorot Fredy berubah muram, namun bibirnya melengkungkan senyum. “Dul TK main drum band,” ucapnya. “Fotonya bagus.”
Foto itu memperlihatkan wajah bangga Dul dan senyum lebarnya. “Dul bisa senyum semanis ini padahal dulu hidupnya sulit,” gumam Fredy.
“Simpen, Dy. Kakang pulang sekarang.” Kakak laki-laki Fredy menepuk pundak adiknya dan berlalu dari tempat itu. Tinggal Fredy sendiri dan dua orang petugas. Sejurus kemudian Fredy sudah berada di lorong. Berjalan menunduk dan memandangi foto Dul. Ada dua anak lain yang merupakan darah dagingnya. Dua anak laki-laki lain yang terlahir dari dua wanita berbeda.
Di antara tiga wanita itu, hanya Dijahlah yang tidak menginginkan anaknya, tapi Dijah berakhir dengan mempertaruhkan hidupnya demi Dul. Berbeda dengan dua lainnya. Keduanya sangat menginginkan anak dari Fredy atas nama cinta. Namun, berakhir dengan menelantarkan anaknya.
“Dul … anak Bapak paling ganteng.” Fredy mengusap wajah Dul di permukaan foto, lalu tangannya membalik lembaran foto. Fredy tertegun. Tulisan tangan versi Dul TK mengguratkan, ‘Di poto ayah bara’. Fredy tersenyum kecut dan mempercepat langkah kakinya.
Di dalam ruangannya, Fredy menyandarkan selembar foto Dul ke dinding dan kepalanya sendiri menunduk berkutat di kertas. Beberapa kali ia mendongak untuk berpikir, lalu kembali menunduk. Kemudian seakan lupa apa yang hendak dilakukannya, Fredy kembali mendongak.
Fredy memerlukan waktu hampir setengah jam untuk mengguratkan penanya. Satu kalimat pertama yang ia tulis adalah ….
Buat Khadijah.
Aku tidak ada maksud apa-apa. Surat ini pun entah bakal sampai, entah tidak. Aku cuma lagi kepengin nulis. Rasanya sudah bertahun-tahun tidak pegang pena. Aku bukan orang kantoran seperti suamimu.
Sekarang aku baru inget kalau kita sama sekali tidak pernah ngobrol sepatah kata pun dengan benar. Aku memang tidak pernah bisa. Yang aku bisa melakukan semua kemauanku dengan buru-buru. Rasanya kalau sesuatu terjadi di luar kehendakku, emosiku naik. Pokoknya semua harus seperti kemauanku. Dari dulu, orang tuaku tidak pernah memberiku pengertian bahwa tidak semua hal di dunia bisa memenuhi anganku, mimpiku. Termasuk sewaktu melihat kamu pertama kali.
Manis, sederhana, dan doyanmu itu cemberut. Semakin kulihat, aku semakin kepengin punya istri seperti kamu. Walau bapakmu bilang kalau kamu masih sekolah, aku lagi-lagi berhasil memojokkan orang untuk menurutiku.
Aku terancam pidana karena menikahi anak di bawah umur. Bapakmu nurut lagi karena takut dengan aku dan keluargaku. Aku memang jahat. Aku licik. Aku kuatir kamu bakal sama orang lain. Apa pun ceritanya, kamu harus jadi milikku.
Tapi kusangka kamu bakal nerima aku. Kuanggap aku tidak terlalu jelek. Kukira bisa hidup seperti orang lain, punya keluarga, kumpul dalam satu rumah. Nyatanya aku cuma mengingat soal diriku sendiri saja.
Penolakanmu bikin aku sakit hati, Jah. Sebegitu jijiknya kamu memandang aku. Usia dua puluh delapan itu temanku sudah bahagia dengan wanita yang dicintainya. Tapi kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku ditolak? Semua orang di keluargaku saat itu meyakinkanku kalau aku bisa memiliki kamu. Sampai di sana, aku marah. Aku marah ke kamu Jah. Apa yang salah denganku?
Itu segelintir perasaanku saja. Kenyataannya aku memang selalu memikirkan soal aku saja. Kesenanganku, kemarahanku. Kusadari, aku memang tidak pernah memikirkan soal orang lain sejak dulu. Kurasa aku luput belajar soal itu. Tapi...sejak dibentengi dinding-dinding ini, aku jadi banyak berpikir. Baru kusadari saat itu aku pun sebenarnya tidak punya apa-apa untuk dijanjikan. Pekerjaanku tidak ada. Semua orang sekitar rumahku kenalnya dengan Fredy si pengangguran. Fredy pemakai narkoba dan sudah pernah dipenjara di usia muda. Harta satu-satunya saat itu cuma tersisa sepetak rumah dari orang tuaku yang rencananya bakal kujadikan tempat tinggal kamu.
Aku ingetnya itu saja.
Aku tidak ingat sudah merenggut masa depan seorang gadis 17 tahun tanpa bertanya kesediaannya menikah denganku atau tidak. Aku lupa kalau menikah itu prinsipnya harus sama-sama mau. Harus sama-sama cinta. Aku juga tidak ingat kamu masih pelajar yang mungkin belum memikirkan soal menikah. Usiaku yang sudah 28 tahun saat itu taunya cuma menikah. Aku kepengin punya anak.
Nyatanya, aku semakin menghancurkanmu dengan keinginanku. Aku membencimu karena tidak menerimaku, Jah. Aku membencimu karena jijik denganku. Aku semakin membencimu saat kamu gila hanya karena mengandung anakku. Aku membencimu, Jah. Sebegitu jijiknya kamu dengan seorang aku.
Bertahun-tahun aku meyakini kalau kamu bakal menyia-nyiakan anakku. Nyatanya, kamu menerima dan merawatnya. Aku semakin membencimu. Aku membencimu karena kamu merawat Dul dengan sangat baik. Mungkin, lebih baik dari seumpamanya aku atau keluargaku yang merawat Dul.
Aku membencimu karena kamu dan Dul bisa bertahan hidup tanpa aku. Aku tidak mau kalian melupakanku begitu saja, Jah. Aku cemburu. Aku semakin menambah kesalahan dan dosa-dosaku dengan mengganggu kalian. Menyiksa kamu, menyiksa Dul. Aku tidak mau dilupakan. Aku mau kalian terus ada di sekitarku. Aku mau orang-orang tetap menyampaikan kabar soal anak dan mantan istriku yang berjalan ke sana kemari berdua.
To Be Continued