Dul

Dul
053. Mulai Melangkah



Sungguh, jika ditanya kabar oleh siapa pun, jawaban Dul tetap sama. Ia baik-baik saja. Malah, sangat baik. Sama seperti saat pertanyaan itu dilontarkan oleh seseorang yang bergelar bapak kandungnya.


Dul duduk menghadapi meja panjang. Di sebelahnya ada Pak Wirya yang duduk santai dan sering mengamati wajahnya. Di seberang Pak Wirya, duduk seorang pria yang menyambut mereka di depan tadi. Pakdhe-nya dari pihak bapak.


Sedangkan Bara dan Heru belum duduk. Keduanya masih berdiri di dekat pintu. Ruangan itu juga dilengkapi oleh dua orang petugas yang salah seorangnya duduk menghadapi meja kecil di sudut kiri ruangan. Begitu banyak pria dewasa hari itu.


Fredy masuk dengan raut wajah yang tak bisa dimengerti Dul. Lama tak melihat pria itu sedikit mengurangi gambaran ingatannya akan sosok Fredy. Terakhir kali bertemu, Fredy menempeleng kepala Dul dan menampar mulutnya sampai berdarah. Saat itu, Fredy bertubuh kurus. Dan kini, tubuh pria itu terlihat lebih berisi.


"Mana? Dia enggak ikut?" Pertanyaan berikutnya yang meluncur keluar dari mulut Fredy.


Pertanyaan yang pada detik pertama tak dimengerti Dul soal maksud kata 'Dia'.


Dia? Siapa dia? Apa yang dimaksud itu Ibu?


Dul menunduk buat menghindari tatapan Fredy.


Jangan tanya soal Ibu. Jangan tanya ... jangan tanya.


Dul menoleh gelisah pada Pak Wirya di sebelahnya. Pria tua itu tersenyum dan menggeleng sangat samar. Seakan sorot mata tua itu mengatakan, Lalu Dul mengalihkan tatapannya ke depan. Melihat Bara dan Heru yang berdiri di dekat pintu. Dua pria yang dilewati Fredy dengan wajah biasa saja. Seakan keduanya adalah sosok transparan.


"Nanyain istri orang. Enggak malu," gumam Bara.


"Karena Dijah memang manis. Apalagi sejak jadi istri kamu. Auranya makin cemerlang."


"Sengaja pura-pura enggak lihat. Bikin emosi," bisik Bara lagi.


"Jangan emosi. Paklik udah tua. Kalau kita langsung masuk sel abis gebukin dia, Paklik bakal pulang sendiri. Bawa mobilku susah." Heru melipat tangan di depan dada dan bersandar ke dinding.


Bara menendang ujung sepatu Heru. Pria yang ditendang kakinya hanya meringis.


Dul tak mau menjawab pertanyaan Fredy. Kekhawatirannya bertumpu pada reaksi Bara. Bahkan sebelum masuk ke sana, Bara sudah meminta izin kalau-kalau ia keluar dari ruangan. Dan sekarang Fredy seakan memprovokasi Bara dengan pertanyaannya. Dul tak akan membiarkan pria di depannya memperoleh kesenangan itu. Untuk siapakah sebenarnya keinginan bertemu itu? Untuk dia atau ibunya?


"Ternyata kamu ke sini sendirian, ya ...," lirih Fredy, menautkan pandangan ke wajah Dul.


"Aku sama Ayah, sama Akung, ada Pakdhe juga," sahut Dul, menatap Bara yang sedang memandang punggung Fredy dengan sorot muak.


Fredy mengerling Pak Wirya sekilas. Pandangan keduanya sempat bertumbuk, lalu Fredy kembali memandang Dul.


"Ayah, Akung dan Pakdhe itu keluarga." Dul menunduk.


"Kamu enggak kenal Pakdhe yang ini? Jangan-jangan kamu enggak kenal Bapak?" tanya Fredy.


"Aku enggak kenal Pakdhe yang itu. Baru ketemu hari ini. Sama Bapak aku kenal," jawab Dul.


Aku kenal Bapak, meski sebenarnya aku enggak mau kenal. Aku ingat Bapak, meski aku udah coba ngelupain.


Fredy diam sesaat menelengkan kepalanya. Bola matanya bergerak ingin melirik seseorang di belakang. Lalu, seperti tersadar akan keberadaan Pak Wirya yang terus mengawasinya Fredy kembali mengalihkan perhatian pada Dul.


"Jadi ... kelas berapa kamu sekarang?" tanya Fredy, meletakkan dua tangannya di meja dan mencondongkan tubuh.


“Baru selesai SD, tahun ini masuk SMP." Dul memandang Fredy sekilas, lalu kembali menunduk.


"Kamu tau enggak kalau hari ini kemungkinan besar adalah hari terakhir kita bisa ketemu?" Fredy merendahkan suara dan menunduk memandang Dul yang menghindari tatapannya.


Dul diam saja. Tak tahu harus mengatakan apa. Toh selama hidup, bisa dihitung pakai jari ia bertemu bapaknya.


"Kamu denger nggak? Keliatannya kamu ini mau enggak mau ketemu sama Bapak," kata Fredy. Rautnya berubah sedikit kesal.


"Dul dengar...Dul pasti dengar. Dia perlu waktu mencerna pertanyaan untuk menjawab dengan tepat. Dul adalah anak yang peka. Mengerti dengan sangat baik dengan apa yang Bapak sampaikan. Namun, ada kalanya Dul cukup menyimpan responnya untuk diri sendiri. Begitu kan, Dul?" Pak Wirya memotong ucapan Fredy untuk menjelaskan situasi saat itu.


Di dekat pintu, wajah Bara sudah semakin kesal. Ia mengubah posisi berdirinya beberapa kali.


"Ni orang mau ngomong apa, sih? Enggak jelas. Curiga kalau sebenarnya dia bukan mau ketemu Dul. Pengennya ketemu Dijah. Jangan ngarep," kesal Bara dalam bisikan.


"Jelas laki-laki itu nggak bisa mengharapkan apa-apa dari Dijah. Mereka enggak ada ikatan apa-apa. Cuma pengen nyari bahan aja kayanya. Dia sengaja menghindari tatapan dengan kita karena enggak pede, Ra. Liat dong gimana necisnya kita hari ini. Perlente dan wajah-wajah kita ini adalah wajah pria yang cukup cinta. Kalau kita tetap berdiri di sini sampai selesai, mau enggak mau dia bakal ngelewatin dan ngeliat kita. Kamu sabar aja dulu," jelas Heru, berharap kalau perkataannya mampu meredam kekesalan Bara.


Fredy yang mengatakan Dul mau tak mau bertemu dengannya, kali itu juga harus mau tak mau mendengarkan perkataan Pak Wirya.


"Dul," panggil Fredy. Suaranya yang lebih rendah dari semula, membuat Dul mendongak untuk menatap. "Mungkin ... ini terakhir kali kita bertemu. Untuk yang sudah terjadi, Bapak minta maaf. Entah kamu inget atau enggak," ucap Fredy, tertawa sumbang.


To Be Continued