
"Kira-kira ngomongin apa, ya?" Dul berbisik seraya bangkit dari duduknya.
"Mana kutau, aku juga penasaran makanya kusuruh cepat kau jumpain kakak-kakak itu." Robin ikut berbisik dengan aksen menaruh tangannya ke mulut untuk menyamarkan ucapannya.
Dul mendekati salah satu kakak kelas berambut pendek yang tadi mengatakan ingin mengobrol dengannya. Tadinya Dul mengira kalau pembicaraan itu akan berlangsung di dekat steling. Ternyata kakak kelas itu menarik ujung lengan kemejanya menjauh beberapa meter. Dul menoleh salah tingkah mengecek reaksi teman-temannya. Ternyata semua sedang menatapnya.
"Hei, panggilan kamu siapa?" tanya kakak kelas itu.
"Dul."
"Dul?" Gadis itu melebarkan matanya.
Dul mengangguk.
"Oke, mmm ... Dul, namaku Lova. Aku pengurus ekstrakurikuler Paskibraka. Besok kita ada latihan lagi, apa kamu mau ikut kita gabung?" Lova mengatupkan mulut menantikan jawaban Dul.
"Aku enggak ada daftar ekstrakurikuler apa pun. Kenapa ... tiba-tiba ngajak aku masuk ekskul Paskibra? Bukannya masuk Paskibra pakai tes yang lumayan sulit?" Dul mengerling tiga temannya, "Setauku ekskul itu banyak peminatnya dan terbatas," tambah Dul.
"Bener, kamu bener. Kalau kamu belum minat gabung secara resmi, bisa ikut kita nongkrong selesai jam pelajaran. Kita bisa banyak ngobrol." Lova menyelipkan segumpal rambutnya ke belakang telinga dengan canggung. Gadis itu lalu mengatupkan mulutnya.
Dul mengangguk pelan dan refleks ikut mengatupkan mulutnya. "Mmm ... Kak Lova kelas berapa?" Pertanyaan pertama yang dikeluarkan Dul setelah melalui pertimbangan cukup lama di kepalanya.
"Jangan panggil kakak, panggil Lova aja," ujar Lova. Kali ini ikut mengangguk pelan. Dua tangannya sekarang menaut di belakang tubuh dan ia menunduk menendang batu kecil di dekat sepatunya.
"Kalau gitu aku panggil Lova," jawab Dul.
"Aku kelas 2-4," jawab Lova.
"Oh, yang di ujung lorong kelasku," sahut Dul lagi. Ingat akan kelas 2-4 yang letaknya di pojok sebelum belokan menuju kantin.
"Iya, yang di pojok itu. Kelas kami jarang bisa sepi karena letaknya dekat kantin. Murid yang enggak ada guru pasti nongkrong ke kantin. Aku beberapa kali liat kamu di kan...." Lova terdiam. Kembali canggung karena merasa sedikit rahasianya terbongkar.
"Iya, aku juga sering ke kantin kalau lagi enggak ada guru," jawab Dul cepat. Ia tak mau ada jeda di antara percakapan mereka. Dipandangi tiga pasang mata temannya ditambah sepasang mata lainnya membuat Dul sedikit risi.
"Jam segini udah sepi, ya," Lova mengibaskan tangan ke jalan di belakangnya. Arah itu menuju sekolah mereka.
"Iya, besok pagi pasti rame lagi. Soalnya sekarang semua murid memang waktunya pulang," tambah Dul.
Hanya perlu waktu sedetik bagi Dul untuk menyadari jawabannya yang salah barusan. Ia merutuk di dalam hati. Mereka berdua kini sama-sama menoleh ke arah sekolah. Lalu Dul lebih dulu mengembalikan pandangan pada lawan bicaranya. Lova masih memandang ke arah lain. Dul tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memandang wajah Lova sedikit lebih cermat.
Rambutnya digunting beberapa senti di bawa telinga. Persis seperti petugas pengibar bendera yang sering dilihatnya di televisi. Kulit Lova kuning langsat. Alis dan bulu matanya tebal. Hidungnya kecil dan bibirnya tipis. Di bagian dagu gadis itu ada tahi lalat yang sangat kecil. Hanya menyerupai titik. Dul mengalihkan pandangannya ke tempat lain seraya pikirannya mengambil kesimpulan.
Manis ....
"Kan, enggak terus-terusan. Kita kadang cuma ngobrol di bawah pohon. Makanya kamu besok ikutan gabung kalau mau tau apa aja yang diobrolin," ujar Lova dibarengi tawa kecil.
"Aku sebenarnya enggak terlalu suka berorganisasi. Enggak pinter buat ngomong di depan orang banyak. Kayanya lebih nyaman bareng teman-teman aku," ucap Dul, memandang Robin dan Putra yang sepertinya tak sabar menunggunya kembali duduk bergabung.
"Kalau kamu enggak minat gabung, sih, enggak apa-apa. Tapi kalau aku ajak ke kantin bareng-bareng mau, kan? Sekali-kali aja. Enggak tiap hari," ralat Lova lagi.
Dul kembali mengatupkan mulutnya. Jujur saja, Lova gadis yang manis. Lebih manis dari Nina. Didatangi oleh seorang gadis dan terlebih merupakan kakak kelasnya saat itu membuat Dul spesial. Muncul keinginan untuk melakukan hal yang sering dilakukan teman-temannya.
"Boleh, kok," sahut Dul. Kali ini jawabannya terdengar lebih mantap dan yakin.
"Ya udah. Sampai ketemu besok aja kalau gitu," ucap Lova, menoleh pada temannya dan mengangguk.
Dul lagi-lagi hanya mengangguk.
"Aku duluan, ya. Kamu jangan kelamaan di sini," ucap Lova seraya terkekeh.
"Enggak lama, kok. Sebentar lagi aku pulang," jawab Dul. Entah kenapa, usai mengatakan itu ia sedikit bergidik. Bahkan nada suaranya pun terdengar berbeda di telinganya sendiri. Itu seperti bukan dirinya.
Dul kembali menuju meja panjang. Ekor matanya masih mengiringi kepergian Lova dari tempat itu. Sepertinya Lova begitu riang karena dari kejauhan Dul bisa melihat gadis itu bicara dan tertawa-tawa.
"Dul," panggil Putra.
Dul belum menyahut. Kepalanya masih menoleh ke tempat dua gadis yang semakin mengecil dari pandangan.
"Dul," panggil Putra lagi. "Dul!"
"Ya?!" Dul tersentak.
"Siapa nama cewe tadi? Manis," kata Putra.
"Lova," jawab Dul, menarik tasnya dari bangku di seberang meja dan mulai memasukkan kamus IPA-nya.
"Oh, yowes kalo lupa," sahut Putra.
"Lova, Put," jawab Dul, membuka tasnya dan mengecek ke bawah meja apakah ada bendanya yang tertinggal.
"Yowes aku bilang ... kalau lupa enggak apa-apa." Putra menepuk punggung Dul.
"Lova katanya! Lova! Pekak kali pun. Padahal dah makan kenyang-kenyang." Robin meremat tisu dan mencampakkannya pada Putra.
To Be Continued