
“Seneng, Kung …. Selama di Solo aku punya beberapa kenalan. Tapi yang paling akrab ya … Leonardo Yepa itu. Bapaknya udah meninggal. Hampir setiap malam nelfon ibunya,” jelas Dul pada Pak Wirya. Tangannya memegangi lengan Pak Wirya sambil sesekali memijat pelan.
“Makanannya bagaimana? Enak?” Pak Wirya bertanya soal menu masakan selama di mengikuti seleksi.
“Enak. Buatku, sih, semuanya enak.” Dul nyengir seraya mengerling Bu Yanti yang mencibir ke arah suaminya.
“Yang duluan ditanya masakannya. Akung sejak menu makanan dan garamnya dikurangi, jadi doyan nanya-nanya makanan kita. Kita harus bilang enggak enak, Dul. Biar Akung enggak kepengin,” kata Bu Yanti.
Dul tertawa kecil. “Pokoknya Akung enggak boleh kaya gini lagi. Aku mau … Akung lihat aku waktu dilantik nanti. Aku janji belajar yang rajin kalau Akung juga jaga kesehatan. Biar aku makin semangat kalau ada yang nungguin.”
Pak Wirya menjawab ucapannya dengan balas menepuk-nepuk tangan Dul. Pria tua itu mengangguk setuju.
Sebuah rantai hubungan yang sangat sederhana. Kalau Pak Wirya sehat, Bara akan mudah berkonsentrasi dengan hal yang dilakukannya. Kalau Bara berkonsentrasi, pria itu akan baik-baik saja dan Dijah akan merasa tenang. Maka seluruhnya akan baik-baik saja. Dul
Dua hari kemudian Pak Wirya diperbolehkan pulang dan selebihnya diwajibkan kontrol rutin. Sedangkan seminggu ke depan, Dul menghabiskan waktu bersama Bara di rumah sakit. Sampai di suatu minggu, Dul bersiap-siap dengan pakaian bagus.
“Ibu bilang hari ini mau keluar?” tanya Bara saat melihat Dul menyisir rambutnya tanpa melihat kaca.
“Iya, Yah. Nanti kalau Ibu sampai di sini, aku pamit mau ketemu sama Robin dan Putra, ya. Sebelum berangkat ke Magelang, aku mau traktir mereka dulu.”
“Dul, sini,” panggil Bara, duduk menegakkan sandarannya. Dul langsung mendekat.
“Sini sisirnya,” kata Bara meminta sisir. Dul menyerahkan sisir dengan wajah bingung.
“Kamu duduk di sini,” Bara menepuk tepi ranjangnya. “Biar Ayah yang sisirin. Mungkin … besok-besok kamu udah terlalu tinggi. Atau juga … besok-besok udah ada yang gantiin Ayah atau Ibu buat ngurusin kamu.” Tangan Bara perlahan menyisir rambut Dul.
Dul diam dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia teringat semasa ia kecil dan Mima masih masih bayi dalam gendongan. Tiap berenang, Bara-lah yang mengurus semua kebutuhannya. Memakaikan baju renang, mengajaknya mandi, membantunya berpakaian, sampai menyisir dan memberi bedak ke wajahnya seperti yang dilakukan Dijah. Sedangkan Dijah duduk santai mengamati itu sambil menyusui Mima. Rasanya memang sudah lama sekali.
“Udah ganteng dan gagah,” ucap Bara, kembali menyerahkan sisir kecil pada Dul.
“Makasih, Yah.” Dul duduk sejenak dit epi ranjang sampai pintu ruang rawat terbuka dan Ibrahim menyeruak ke dalam.
“Mas, mau duduk di situ juga,” kata Ibrahim, mengulurkan tangannya pada Dul.
Dul bangkit dan gantian menaikkan adiknya ke tepi ranjang. Ibrahim langsung merebahkan diri memeluk Bara.
“Tumben peluk Ayah. Mbok Jum mana?” tanya Bara pada Ibrahim.
“Di rumah. Tadi diajak katanya capek. Mau tidur siang,” sahut Ibrahim masih memeluk Bara.
Dijah meletakkan rantang berisi masakan ke meja. “Mas Dul mau berangkat sekarang atau makan siang di sini?” tanya Dijah sambil membuka rantang satu-persatu dan menyusunnya di meja.
“Kalau aku langsung berangkat gimana? Boleh? Karena kita rencananya mau makan siang sama-sama.” Dul mendekat ke sofa untuk melongok masakan ibunya.
“Boleh. Enggak apa-apa. Nanti makan malamnya di sini,” seru Bara dari ranjang.
“Kalau gitu aku berangkat sekarang, ya. Jangan lupa sisain ikannya buat Mas. Jangan diabisin,” kata Dul, mencubit pipi Mima.
“Enggak usah, Yah. Uangku masih cukup…cukup banyak. Sewaktu pulang kemarin, aku dikasih jajan sama Pakdhe.” Dul tertawa kecil sambil menenteng sepatunya ke ambang pintu.
******
Café yang terletak di selatan kota menjadi pilihan Robin untuk bertemu dengan teman-temannya. Ia sudah melihat-lihat café itu melalui internet sejak minggu lalu. Café yang tiap akhir minggu dipenuhi anak-anak muda, membuat Robin ingin menjadi bagian dari hal itu sesekali.
“Wuih, Robin banyak duit sampai ngajak nongkrongnya di sini.” Putra mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua meja nyaris penuh oleh remaja usia belasan dan awal dua puluhan.
“Banyak uang dari mana pula? Kau tebaklah apa yang aku kerjakan supaya bisa duduk ganteng di café ini?” Robin menyimpangkan kakinya dan mengangkat alis memandang Putra.
“Ngapain? Ya, pasti kerja sama ibumu. Pasti cari uban. Atau nyuci pakaian?” tebak Putra.
Robin meraih menu dan menyodorkannya pada Putra. “Gak ada tebakan kau yang lebih keren sikit? Kalo dengar cewek cemana?” Robin berucap dengan suara rendah.
Mereka berdua duduk di bagian luar café yang atasnya terlindung dengan jalinan tumbuhan merambat. Bagian lantai café itu terbuat dari kayu. Sedangkan kursi yang mereka tempati terbuat dari besi-besi padu yang cukup berat jika digeser. Bisa dipastikan cukup kuat untuk dibebani tubuh Putra yang semakin subur.
Dul baru tiba dan bisa dengan mudah menemukan kedua sahabatnya yang duduk di kursi paling sudut. Sudah kebiasaan Robin sejak dulu selalu memilih kursi paling strategis untuk mengamati orang-orang.
“Nah, ini dia calon perwira kita. Makin ganteng aja,” ujar Robin, menggeser kursi untuk Dul.
“Udah pesan makan? Aku sengaja enggak makan di rumah sakit karena mau makan bareng sama kalian.” Dul tersenyum puas memandangi dua sahabatnya. Ia lalu memijat-mijat pundak Putra. “Put … gimana kabarnya? Rencana kamu gimana?”
Putra membalas pandangan Dul dengan wajah serius. “Sepertinya aku bakal kerja sama dengan Yoseph, Dul. Kemarin Yoseph datang ke sekolah buat ngambil berkasnya yang ketinggalan. Yoseph mampir di warung ketoprak dan kita berdua ngobrol serius. Kita sepakat mau buat usaha baru. Aku tangani produksi dan resep, Yoseph mau menangani manajemen pemasarannya. Gimana menurut kamu?”
Robin ikut serius mendengar ungkapan Putra yang memang baru kali itu didengarnya. Sepertinya Putra memang sengaja menyimpan cerita untuk dituturkan saat mereka bertiga sudah lengkap.
“Eh, Put! Di-pause dulu cerita kau. Kita pesan makan dulu. Biar agak bertenaga kita cakap.” Robin mengetuk-ngetuk menu di tangannya.
Tiga set makan siang tersaji di depan mereka sesaat kemudian. Selama menunggu kedatangan menu, mereka bertiga kembali terlibat pembicaraan soal kenangan-kenangan lucu yang telah lampau.
“Sekarang aja udah jarang digesper sama bapakku. Dulu kalau pulang malam bawa motor, kami bisa langsung kena gesper. Untung sekarang watermark-nya ilang.” Putra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalo mamakku lain lagi. Tiap gak bisa ngerjain PR langsung dibilangnya itu karena aku kebanyakan tidur di lantai. Otakku mengkerut.” Robin ikut menggeleng-geleng.
“Kalau ibuku … selalu ngomong dengan penambahan kata ‘cepat’. Semuanya harus cepat. Sering ngomel kalau anaknya lambat dan malas-malasan. Tapi semuanya udah biasa. Termasuk Ayah kami.” Dul menahan senyum memandang kedua sahabatnya.
"Aku juga sering dengar itu dari ibumu. Sejak kami masih tetangga," sahut Robin.
“Jadi, Bin … apa usahamu yang mau kamu ceritakan itu?” tanya Putra dengan pandangan tertuju pada hidangan mereka.
“Karena mata kita udah nengok ke arah yang sama, ada baiknya kalo kita cakap sambil makan.” Robin mendekatkan piringnya.
“Ayo…ayo, makan dulu.” Dul meraih sendoknya.
To Be Continued