Dul

Dul
083. Langkah Berikutnya



Siang itu menjadi hari pertama bagi Dul untuk melihat dari jarak dekat bagaimana acara kumpul-kumpul rutin sebuah organisasi ekstrakurikuler. Selama ini ia tak begitu mempedulikan siapa pun yang keluar masuk di kelas untuk menghadiri acara apa pun di aula, atau di lapangan. Ia tak pernah memikirkan apa saja yang dipelajari selama seorang murid menjalani kegiatan tersebut. Juga, Dul tak pernah memikirkan soal apa manfaat yang didapat jika mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler itu.


Dul duduk tak jauh dari sekumpulan murid yang berlatih baris-berbaris. Hal pertama yang terlintas di pikiran Dul saat itu adalah sangat rapi. Semuanya berdiri tegak lurus dengan wajah serius. Bahkan, Lova yang tadi duduk di sebelahnya dengan wajah yang tak lekang dari senyum, kini juga tampak serius. Setelah lima belas menit tadi mereka duduk bersebelahan, Lova meninggalkan tasnya di sebelah Dul untuk pergi bergabung bersama teman-temannya.


Dul menyukai Lova yang tahu kapan harus santai dan kapan harus serius. Lova juga tidak banyak basa-basi. Gadis itu tahu apa yang diinginkannya. Dalam hal itu Dul merasa cukup dimudahkan karena tak perlu bertanya ini-itu. Ia hanya perlu mengiyakan atau memberi pendapat terhadap hal yang dikemukakan Lova.


Seperti halnya peningkatan pergaulan yang berpengaruh besar dalam cara pandang dan pola pikir seseorang, keputusan Dul hari itu mengamati dari dekat bagaimana kegiatan organisasi ekstrakurikuler, membawa Dul ke posisi baru.


Pada penghujung tahun pelajaran, nama Dul sudah terdaftar sebagai anggota paskibraka yang akan bertugas tahun berikutnya. Namanya juga sudah masuk dalam jajaran calon Ketua Osis untuk tahun ajaran baru nanti. Sebuah pencapaian yang membuat Putra dan Robin tak henti-hentinya berdecak kagum pada sahabat mereka.


"Kalo kau latihan siang nanti, kau ajak-ajaklah kami. Siapa tau bisa pansos. Percuma punya kawan ngetop kalo gak bisa dimanfaatkan," kata Robin suatu pagi di simpang jalan sekolah mereka.


"Gampang. Siang nanti ikut aku," sahut Dul, mengetikkan pesan balasan untuk ibunya.


Pagi itu satu buku paketnya tertinggal di meja makan. Meski nanti bisa berbagi bersama Nina, tetap saja tidak mengenakkan kalau harus menoleh ke buku orang lain. Ibunya menawarkan untuk mengirim buku itu kalau memang teramat penting. Tapi ia tak mau merepotkan ibunya yang cukup sibuk dengan seorang balita tiga tahun lebih yang mengikuti ke mana-mana.


"Kau gak ikut, Put? Siang masih banyak jajanan di kantin. Kalo kantin mau tutup biasanya kue-kue udah diskon setengah harga," kata Robin.


"Aku ikut ke mana aja asal jangan ke rawa-rawa," jawab Putra. "Hari ini mau nunggu Lova lagi?" tanya Putra, menyenggol lutut Dul di sebelahnya.


"Enggak juga, sih. Kalau ketemu, ya bisa bareng. Enggak ketemu, ya nanti juga bisa ketemu."


Bel masuk masih dua puluh menit lagi. Ketiga orang remaja laki-laki itu masih asyik terlibat percakapan yang kebanyakan isinya candaan.


"Gimana rasanya pacaran sama kakak kelas Dul? Kamu udah pegang tangannya?" Putra kembali menyenggol lutut Dul.


"Entah hapa-hapa pertanyaan kau, Put." Gantian Robin menyenggol lutut Putra. "Tapi kalo kau bersedia menjawab, aku pun mau dengar." Robin mencondongkan tubuhnya ke kanan untuk membuat senyum penuh arti pada Dul.


"Memangnya mau ngapain pegangan tangan? Bisa jalan masing-masing," sahut Dul, memandang ke jalan menuju sekolah mereka. Matanya membulat saat melihat sekumpulan siswa yang dikenalinya. "Eh, itu temen-temen kita sekelas pada mau ke mana? Tawuran?" Dul berdiri dari bangkunya.


Murid yang kira-kira berjumlah lima belas orang terdiri dari laki-laki dan perempuan semakin mendekati mereka. Termasuk Nina.


"Mana mungkin tawuran. Itu si Rayon ketua kelas kita anak rajin dan taat jalan paling depan. Si Yani sekretaris kelas yang paling disiplin dan cerewet di sebelahnya. Mau ke mana orang ini," ucap Robin.


"Mau ke mana?" Putra lebih dulu menghampiri ketua kelas mereka.


"Apa mau jengukin guru sakit?" tanya Dul. Sebuah alasan yang baru diingatnya tadi. Apalagi hal yang bisa menggerakkan makhluk-makhluk paling rajin di kelas keluar serentak.


"Mau bolos. Dua orang guru ada pelatihan. Sampai jam 12 siang nanti kita bakal kosong enggak ada guru pengganti. Diminta ngerjain tugas. Aku masih bosen," tukas Yani sang sekretaris.


Dul terkesima, "Jadi, pada mau ke mana?"


"Yon, mana? Udah sampai belum?" tanya Yani.


Rayon merogoh ponselnya dan mengeceknya sebentar. "Mungkin sebentar lagi. Pasti udah deket," jawab Rayon.


"Itu dia! Ayo! Mau ikut enggak?" Rayon bertanya pada Dul seraya melambaikan tangannya pada sebuah angkot yang mendekat. "Ini Paklikku. Ayo, ikut ke rumahnya. Ada kolam pancing dan anak sungai buat cuci-cuci kaki. Absen hari ini ditanggungjawabi sama Yani. Nanti sebelum jam 12 siang kita balik ke sekolah lagi."


Dul, Robin dan Putra saling berpandangan. Tak pernah ada yang menawarkan hal seperti itu pada mereka. Bayangan beramai-ramai dengan hampir seisi kelas langsung mengisi benak mereka. Pikiran soal bertemu dengan Lova pun hilang sejenak dari kepala Dul.


"Yuk," ajak Dul. Robin dan Putra saling pandang kemudian mengangguk. Sebagian besar teman-teman mereka sudah masuk ke angkutan. Putra masuk sedikit kesulitan karena bagian dalam angkutan sudah nyaris penuh. Robin harus menjejalkannya sedikit tergesa-gesa karena khawatir ada guru yang melintas.


"Ayo, cepat, Bin!" seru Rayon dari kursi depan.


"Sebentar!" jawab Dul dan Robin nyaris serentak. Keduanya mendorong Putra masuk ke dalam dengan sekuat tenaga.


Putra duduk di bangku kecil yang letaknya di tengah dengan napas tersengal-sengal. "Katanya sahabat, tapi menaikkan aku ke angkot kaya nyeret hewan kurban," ucap Putra.


"Nunggu kau naik sendiri bisa sampe maghrib kita di sini!" seru Robin di luar angkot.


"Ayo, Bin. Naik!" ajak Dul, melompat naik dan duduk di bangku dekat pintu.


Tiba-tiba ....


"Ya Tuhan ... kalian mau ke mana? Ada apa ini?" Yoseph berdiri dengan dua bungkusan di tangan.


"Eh, ada Yoseph. Berarti bel masuk udah bunyi," kata seorang murid perempuan dari dalam angkot.


"Yon! Amankan saksi mata, Yon!" Suara Yani kemudian ikut berseru dari dalam.


Karena sudah duduk nyaman di depan, Rayon berteriak pada Robin yang masih di luar. "Bin! Yoseph, Bin!"


"Ayo, bawa Yoseph," Dul turun dari angkot dan berjalan ke arah Yoseph.


"Maaf, Yoseph, ya .... Kami harus membawa semua yang dicurigai bisa menjadi mata-mata." Robin mengambil dua bungkusan Yoseph yang berisi keripik dagangannya. Sedangkan Dul memegang lengan Yoseph dan menyeretnya masuk ke angkot.


"Ya Tuhan ... Yoseph tidak pernah bolos. Kalian semua pasti mau bolos." Yoseph tidak meronta. Tubuhnya mengikut dengan pasrah meski mulutnya terus mengomel.


"Udahlah. Doakan aja kita pulang dan pergi dengan selamat," kata Robin naik ke angkot setelah Dul.


Angkot langsung melaju dengan setengah isi kelas yang bersorak-sorai. Putra duduk santai di bangku tengah. Robin duduk di belakang supir sambil memangku bungkusan Yoseph tanpa sadar. Di sebelahnya Nina yang ikut duduk memangku bungkusan Yoseph satunya.


Dul tersenyum. Ia yakin sekali Robin akan lupa mengomeli Yoseph karena sedang duduk di sebelah Nina. Yoseph duduk di sebelah Dul persis di dekat pintu dengan bangku tambahan. Wajahnya berseri-seri.


"Ya Tuhan ... ampuni dosa kami semua. Yoseph tidak berniat menjadi anak nakal. Tapi bolos ini ternyata asyik juga, ya Tuhan ...."


To Be Continued