
Semua murid yang ikut melayat ke rumah Annisa berpisah di depan gerobak bakso dengan wajah sumringah. Kecuali Dul, mereka semua kembali dengan menumpangi angkutan kota ke tujuan mereka masing-masing. Bara masih terus menyunggingkan senyum sepanjang perjalanan pulang dengan Dul di sebelahnya.
"Dari ceritanya seru juga, ya, main air di anak sungai." Bara melirik Dul yang sejak naik ke mobil masih diam seribu bahasa.
"Seru. Airnya enggak dalem. Cuma semata kaki gitu. Jernih banget. Enggak jauh dari halaman belakang rumah Paklik Rayon," jawab Dul dengan nada biasa saja. Seakan ia sedang bercerita acara piknik sekolah. Bukan bolos di jam pelajaran.
"Bener-bener dekat? Kalau musim hujan airnya enggak naik? Rumahnya enggak kebanjiran?" Bara bertanya memang karena penasaran.
"Kayanya enggak nyampe ke depan pintu. Karena tanah di belakang rumah enggak berlumut." Dul menoleh Bara dan tersenyum.
"Memang pinter," sahut Bara.
"Berarti bolosnya dimaafin?" Dul masih memandang Bara yang mengerucutkan mulutnya.
"Ummm ... dimaafin, dong. Enggak apa-apa sekali-kali buat pengalaman. Jadi ... ngomongin apa aja sama Nisa? Ayah denger dari Yani, mamanya sakit kanker."
"Iya. Kasian mamanya. Tadi aku dengar Nisa ngomong sambil nangis kalau mamanya nanyain semua anaknya. Papanya juga lagi enggak ada. Namanya meninggal sewaktu cuma berdua sama Nisa aja. Kayanya ... Nisa dan tiga saudara laki-lakinya enggak terlalu dekat. Apa mungkin persaudaraan laki-laki ke adiknya yang perempuan begitu, ya?" Dul memandang Bara meminta pendapat.
"Kamu sayang Mima enggak?" Bara balik bertanya.
"Ya, sayang."
"Walau Mima ceriwis? Sering moody, kadang jutek?" Bara sedikit merasa geli karena sore itu ia menyadari sudah merangkum kekurangan Mima dengan sangat lengkap.
"Ya, sayang. Dia moody atau enggak, aku tetap sayang. Apalagi adik perempuan," jawab Dul.
"Nah, itu bukan masalah pribadinya. Tapi ... mungkin karena didikan keluarga juga, Dul. Mungkin papanya Nisa sibuk dari dulu. Kurang banyak waktu untuk keluarga. Ibunya repot merawat empat anak. Dan anak terlalu lama dibiarkan asyik dengan dunianya sendiri. Itu bisa jadi," jelas Bara.
"Annisa dikelilingi keluarganya, tapi terlihat kesepian, Yah." Dul menarik kesimpulan sederhana dari yang dilihatnya.
"Mirip Ibu dulu," ucap Bara pelan. "Ibu kamu adalah wanita manis yang kuat dan kesepian. Enggak egois menuruti semua kemauannya padahal dianya juga masih muda. Pikirannya lebih dewasa karena hal yang harus ditanggungnya. Di saat orang lain bersenang-senang, dia harus fokus dengan tujuannya. Mirip, kan?" Bara melihat Dul setengah melamun menatap jalanan.
Dul mengangguk pelan. Di benaknya kembali terbayang Annisa yang terlihat lebih sibuk dibanding semuanya.
Percakapan Dul bersama Annisa dan Bara hari itu membawanya ke sebuah pemikiran baru. Ia mulai mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Adegan Annisa menangisi ibunya dan berucap soal cita-cita yang belum dicapainya saat ditinggalkan sang ibu, membuat Dul gelisah.
Apa ia sudah terlalu terlena selama ini? Apa ia sudah fokus dengan cita-citanya. Bagaimana kalau ia mengalami hal seperti Annisa? Ditinggal ibu atau ayahnya di saat ia belum menjadi apa-apa?
Hal itu membuat sikap Dul menjadi lebih serius beberapa hari ke depan. Ia sedikit uring-uringan dan merasa tak nyaman jika Lova menyambanginya ke kelas.
"Kamu kenapa, sih? Belakangan diajak ngomong juga sulit banget. Jawabnya pendek-pendek gitu," kata Lova di suatu siang usai jam pelajaran. "Suka sama anak baru di kelas kamu itu, ya? Yang duduk di belakang," todong Lova langsung.
"Dia itu temanku dari SMP. Suka ya sebagai teman. Memangnya kenapa? Aku rasa biasa aja," jawab Dul.
"Kalau biasa aja kenapa tiap diajak pergi di luar jam belajar kamu selalu enggak mau. Kemarin ada film baru di bioskop. Aku dan teman-temanku pergi bareng, kamu diajak enggak mau. Ada masalah apa, sih? Memangnya enggak bisa sekali-kali pergi keluar dari lingkungan sekolah?" Lova berdiri menyilangkan tangan di dadanya.
"Kamu mau pergi bareng teman kamu, ya enggak masalah. Pergi aja. Aku udah bilang enggak bisa. Minggu lalu keluargaku nginap di rumah Akung. Uti-ku ulang tahun."
"Cuma sekali-kali, tapi kamu banyak alasan," kata Lova.
"Uti-ku juga ulang tahun sekali-sekali. Enggak tiap hari. Ngapain pakai alasan itu kalau enggak mau ikut? Tinggal bilang enggak mau." Dul menyandarkan punggungnya di dinding untuk menatap Lova yang terlihat semakin kesal.
"Enggak. Dia dijemput supirnya. Sama kaya kamu," jawab Dul.
"Kenapa enggak deketin dia aja kalau suka?" Lova semakin jengkel dengan jawaban-jawaban Dul.
"Mau deketin gimana, sih? Lama-lama makin aneh ngomongnya," balas Dul yang mulai terganggu dengan perkataan Lova.
"Ya dideketin, dijadikan pacar. Pasti dia mau jadi pacar kamu. Anak baru pasti langsung populer kalau pacaran sama ketua OSIS," cetus Lova lagi.
Dul menegakkan tubuh. "Jangan bawa orang lain yang enggak tau apa-apa. Karena enggak semua orang yang datang ke sekolah ini harus punya pacar dan punya niat pacaran. Jangan ngomong gitu lagi," kata Dul dengan raut serius.
"Ya udah, aku mau pulang duluan," kata Lova, belum beranjak dari sisi meja Dul.
Dul mengangguk, "Hati-hati," jawabnya.
Lova mengentakkan kakinya ke lantai dan berbalik meninggalkan Dul di kelas.
Dul menghela napas, lalu ia mengedikkan bahu. Ia tidak sempat membujuk-bujuk Lova. Tak ada hal yang patut dijadikan bahan pertengkaran saat itu. Minggu lalu ia memang memilih menghabiskan waktu di rumah Pak Wirya untuk makan siang bersama keluarga besar dibanding pergi bersama kakak-kakak kelas yang sebagian besarnya tidak terlalu ia kenal.
Sembari membereskan buku di mejanya, Dul teringat lagi perkataan Lova soal Annisa. "Dideketin? Dijadikan pacar? Andai semudah itu. Enggak semua cewe pikirannya cuma mau pacaran aja," gumam Dul.
Sepeninggal kehilangan mamanya, Annisa tidak banyak berubah. Gadis itu memang tidak buru-buru lagi. Tapi sebagai gantinya, Annisa lebih banyak melamun dan lebih serius dari sebelumnya. Ia jarang keluar kelas selama jam istiraha dan hanya berdiam di mejanya menghabiskan bekal sambil terus menulis atau membaca bukunya. Annisa terlihat lebih sibuk dari sebelumnya.
Sudah terlalu siang dan perutnya mencicit sejak tadi. Robin dan Putra sudah lebih dulu ke warung ketoprak dan ia tadi tinggal di kelas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak mau ia bawa ke rumah. Alasannya, sudah nanggung. Karena itu akhir Minggu, ia ingin selonjoran saja di kamar membaca komik kungfu yang baru dibelikan Bara kemarin.
Saat menyusuri jalan menuju warung ketoprak, Dul merasa semakin malu dengan dirinya. Bagaimana seorang Annisa yang merupakan anak orang mampu bisa terlihat begitu gigih di usianya. Jika dibandingkan dengan dirinya yang berasal dari .... Dul menggeleng. Tak baik menbandingkan hidup dengan orang lain.
Tapi ... sikap Annisa ada benarnya. Memang sudah seharusnya masa SMA itu dia habiskan untuk fokus pada tujuannya. Tidak harus punya pacar, ke sana kemari dengan murid perempuan. Dul cemberut. Malu pada dirinya sendiri.
Kenapa kemarin aku ngerasa harus punya pacar?
Tiba di warung ketoprak, Dul melihat Robin dan Putra sama-sama bersandar ke dinding dengan wajah lesu.
"Jadi, cemana, Put? Apa yang kita ceritakan sama anak cucu kalo gak ada kisah gita cinta masa remaja? Gak mungkin kita kasi cerita bongak," keluh Robin.
(Bongak : bohong)
"Ini Dul dateng ... kita bisa tanya sama dia sekarang." Putra menggeser duduknya dan menepuk bangku kosong untuk Dul.
Dul datang dan duduk di sebelah Putra,. Sedangkan Robin sudah memajukan tubuh memandang Dul.
"Mau tanya apa?" tanya Dul.
"Mau tanya ... cemana rasanya punya cewek. Cemana rasanya punya kisah cinta masa SMA? Pasti enak. Dah ngapain aja kau sama si Lova? Ceritalah ... ceritalah," pinta Robin, menaikkan alisnya dengan genit.
"Adu mulut," jawab Dul, menghela napasnya.
"Makjang ...." Robin seketika mengusap bibirnya.
To Be Continued