
“Mau duduk di sini? Atau kita ngobrol sambil makan?” Bara sekalian mengedarkan pandangan ke taman kecil di sekitar mereka. Taman itu cukup bagus untuk dijadikan tempat melepas penat.
“Aku baru dari kantin, Om. Ayah, maksudnya,” ralat Annisa cepat. “Masih kenyang. Atau Ayah yang mau makan atau minum di kantin? Aku bisa temani.”
Bara tersenyum seraya menggeleng dan melangkah mendekati Annisa. “Ayah juga masih kenyang …. Lagian kalau kita ke kantin semuanya pasti mau ikut.” Bara mengangkat bahu untuk mengingatkan Annisa bahwa masih ada empat orang lagi selain mereka.
Annisa tertawa kecil. “Bukannya malah seru kalau mereka ikut? Pasti seru.” Dua kata terakhir diucapkan Annisa dengan berbisik. Seakan kata-kata itu berisi penghiburan buat dirinya sendiri.
“Ayah mau nanya, tapi Ayah khawatir dianggap lancang. Jadi … Ayah enggak mau nanya, tapi Ayah mau meminta tolong ke kamu.” Bara menempati bangku taman yang terbuat dari besi.
“Minta tolong apa? Aku khawatir enggak bisa bantu banyak.” Wajah Annisa ragu-ragu memandang tempat kosong di sebelah Bara. Haruskah ia ikut duduk di situ?”
“Tunggu…tunggu. Ayah sepertinya déjà vu,” kata Bara tiba-tiba.
“Déjà vu gimana? Maksudnya?” Kali ini Annisa tak perlu berpikir dua kali untuk duduk di sebelah Bara. “Ayah déjà vu….”
Lalu Bara tertawa kecil. Menggeleng samar disertai segurat senyum. “Dulu … sebelum Ayah dan Ibu menikah, Ayah juga pernah minta tolong ke Akung. Minta tolong buat bujukin Ibu yang enggak mau ketemu sama Ayah.”
“Kenapa? Kenapa Ibu enggak mau ketemu Ayah? Berantem? Karena apa?” Annisa ingin menemukan persamaan antara dirinya dan sosok Dijah.
“Ceritanya panjang dan rumit. Ayah cuma bisa mengatakan pokok permasalahannya. Ibu enggak yakin kalau Ayah benar-benar serius.” Bara kembali tertawa kecil. “Persis begini. Akung dan Ibu duduk di taman. Ayah cuma bisa lihat dari jauh. Ibu enggak mau ketemu Ayah. Waktu itu … Ayah sampai nangis minta tolong ke Akung.”
Annisa membulatkan mata. Bara seketika berhenti bicara dan kembali tergelak. “Bukan…bukan. Bukan begitu. Dul enggak nangis. Bahkan Dul enggak tau kalau Ayah dan Mima, juga teman-temannya datang ke sini. Kita udah lama enggak makan sama-sama di satu meja.”
“Dul udah cerita masalah kami? Atau … Ayah ke sini mau cross check?”
“Dul enggak ada cerita apa pun. Sama sekali. Ayah ke sini bukan untuk mengecek apa pun.”
Annisa menggeleng. “Kalau gitu aku juga enggak akan ngomong apa pun. Aku enggak mau karena rasanya seperti … mengkhianati Dul.”
“Papa kamu enggak suka sama Dul, ya?” Bara tak sabar memastikan kekhawatirannya. “Bukannya Ayah mau lancang, tapi Ayah pernah di posisi itu. Uti enggak mau kalau Ayah menikah sama Ibu.”
“Kenapa?”
“Ayah enggak tahu. Apa mungkin karena Ayah terlalu ganteng, ya?” Bara menangkup wajahnya sendiri sambil tertawa. “Suatu hari nanti kamu pasti mengerti apa yang Ayah maksud. Ayah ke sini bukan untuk mengadili kamu. Ayah cuma mau memastikan.”
Annisa menunduk. “Memastikan apa aku dan Abdullah masih bisa sama-sama atau enggak?” Ia memandang sepasang sepatunya. “Aku enggak punya pacar atau teman dekat laki-laki. Kalau Ayah bermaksud mau tau itu.” Annisa memandang Bara dengan wajah serius.
Wajah Bara ikut berubah. Senyum di wajahnya sirna karena menangkap maksud ucapan Annisa. “Dul enggak pernah menghubungiku kamu? Tunggu…tunggu. Ayah harus pelan-pelan mengurutkannya. Atau … harusnya Ayah yang tanya Dul apa dia udah punya pacar atau belum?”
“Aku enggak tahu soal itu. Maksudku … aku enggak mau menuduh Abdullah yang udah punya pacar.” Annisa berdiri cepat-cepat. “Mima bilang, Ayah mau ngajak aku ke acara penyematan wing penerbang Abdullah. Benar begitu? Kalau benar, jawabanku mau. Aku bisa. Rasanya memang udah terlalu lama enggak ketemu Abdullah.”
“Ayah senang kamu mau ikut ke Jogja. Tapi entah kenapa perasaan Ayah juga enggak enak. Ayah khawatir pertemuan di Jogja malah semakin memperjelas situasi hubungan kalian.” Bara menghela napas berat. “Sekarang Ibu kangen kamu, tapi sebenarnya dia lebih kangen lihat kalian sama-sama. Dan di saat bersamaan Ibu merasa bersalah karena kangen kamu karena hubungan kalian. Mengerti maksud Ayah? Ck ….” Gantian Bara yang menunduk memandang sepatu.
“Apa pun itu … aku pasti datang. Kapan, Yah?”
“Kamu masih nanya kapan acara penyematan wing penerbang itu artinya Dul enggak menghubungi kamu?”
“Abdullah tetap menghubungi aku. Aku yang enggak pernah menjawab telepon atau baca pesannya,” jawab Annisa.
“Kamu mau menghindari Dul? Lantas kenapa mau ikut ke Jogja?”
“Karena Ayah udah datang ke sini. Aku akan lebih menghargai siapa pun yang menghargai aku. Lebih menyayangi siapa pun yang sayang aku.”
“Dul?”
“Belum seperti yang aku mau,” tegas Annisa. “Nomor handphone-ku masih sama. Ayah atau Ibu, atau juga Mima bisa mengabari aku soal keberangkatan minggu depan. Teleponnya pasti aku jawab.” Annisa tersenyum kikuk.
Annisa mengangguk. “Aku permisi sekarang, Yah. Bukannya enggak mau ngobrol lama, tapi dua puluh menit lagi aku ada mata kuliah.”
“Silakan. Ayah ngerti,” sahut Bara. Itu bukan basa-basi. Ia memang mengerti bahwa Annisa memang sudah mengusahakan pertemuan mendadak hari itu dengan melewatkan jam istirahatnya.
Setelah mengucapkan maaf berkali-kali akhirnya Annisa pergi meninggalkan Bara. “Kayanya komunikasi anak sekarang jauh lebih sulit, ya,” gumam Bara. Teringat akan empat orang yang sudah menunggunya sejak beberapa waktu yang lalu, Bara mengeluarkan ponsel dan menghubungi salah satu dari mereka.
Sementara itu di bagian lain kampus itu, tiga orang pria muda dan seorang gadis yang baru lulus SMA duduk di pojok kantin. Masing-masing sedang melakukan analisa terhadap setiap mahasiswa atau mahasiswi yang baru datang ke tempat itu.
“Aku lewatkan saja semuanya. Nathalia selalu di hati. Akhir minggu nanti kami bakal ibadah sama-sama seperti biasa.” Yoseph menggeleng ketika Robin akan memulai penilaiannya terhadap gadis-gadis yang masuk ke kantin.
Robin mengernyitkan hidungnya. “Cuma nengok-nengok aja, Seph. Bukan langsung disuruh melamar. Kayak cewe yang baru masuk itu. Cantik, kan? Tapi sayangnya dia bukan tipe aku. Tapi kalau dia masuk sama aku, aku gak nolak. Ya mau juga,” jelas Robin.
“Memang cantik, sih. Tapi masa kamu semuanya mau. Harusnya bisa membuat pilihan,” timpal Putra.
“Kalau memang bisa semuanya, kenapa harus memilih? Hayo, kenapa coba? Kenapa, Mima?” Robin menyenggol bahu Mima dengan bahunya.
“Iya juga, sih. Kalau bisa banyak kenapa harus sedikit? Gitu, kan?” Mima menumpu dagunya dengan tangan. Wajahnya terlihat sangat sendu.
“Jangan ikuti apa kata Robin. Semenjak putus dari Duma, Robin jadi lebih sinis,” timpal Putra.
“Orang yang berjuang akan tetap kalah sama yang beruang. Tapi kalo dipikir-pikir … sebenarnya aku belum putus sama Duma. Dia itu cuma kepingin dibujuk. Tapi sayangnya aku malas bujuk-bujuk. Itu aja masalahnya.”
“Itu saja masalahnya. Tapi itu pun sudah termasuk masalah besar buatku. Mima…Mima cantik, itu handphone-nya menyala.” Yoseph menunjuk ponsel Mima di meja.
“Setia sama Nathalia kau bilang. Tapi ikut-ikutan kau manggil dengan sebutan Mima Cantik.” Robin mendengkus ke arah Yoseph.
“Aku hanya menyebutkan kenyataan. Nathalia memang cantik, tapi tidak secantik Mima. Cinta boleh, logika juga tetap harus jalan.” Yoseph membela diri.
“Ayah nelfon. Bisa tenang sebentar? Kayanya Ayah dan Mbak Nisa udah selesai ngobrol.” Setelah mendengarkan perkataan Bara di telepon, Mima segera bangkit dari kursi. “Kita ke parkiran sekarang. Pulang. Minggu depan Mbak Nisa ikut ke Jogja.”
Semua orang berdiri serentak. Mereka semua berjalan dalam diam menuju parkiran mobil. Sibuk tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“Enggak menyangka Dul ternyata benar-benar menjadi pilot pesawat tempur.” Putra menyuarakan isi hatinya.
“Kerennya lagi, Dul masuk di seleksi penerbang Fixed Wing, penerbang fighter. Bertempur kerjanya. Bukan penerbang routery, penerbang angkut itu.” Robin ikut-ikutan menyuarakan pikiran.
“Mau penerbang apa pun, saya rasa tetap keren. Dibanding kita yang hanya bisa menerbangkan angan dan mimpi-mimpi.” Yoseph setengah menerawang mengucapkannya.
“Minggu depan ke Jogja,” lirih Mima tanpa semangat.
“Harusnya senang, kan?” tanya Putra, memandang ke arah parkiran mobil di mana Bara melambai ke arah mereka.
“Senang. Pasti senang Mas Dul lulus. Tapi kalau kelamaan di Jogja aku enggak bisa ketemu seseorang,” sahut Mima.
“Udah main cewek aja si Mima. Jangan sampai si Mima yang masih kecil ini duluan naik pelaminan dari kita. Malulah kita.” Robin terkekeh-kekeh merangkul Putra.
Dan janji Annisa pun ternyata benar-benar ia penuhi. Tepat dua hari sebelum acara penyematan wing penerbang, Annisa tiba di bandara sesuai janjinya.
“Itu Mbak Nisa,” kata Mima, berlari kecil menghampiri Annisa yang baru tiba dengan sebuah taksi biru.
“Maaf kalau Nisa buat Ayah Ibu menunggu lama. Kita belum terlambat, kan?” Napas Annisa sedikit terengah.
“Belum terlambat. Masih dua jam lagi,” sahut Bara, tangannya terentang memberi isyarat pada seorang istri dan tiga orang anak-anak yang mengikutinya.
To be continued