Dul

Dul
039. Kenyataan yang Mendekat



“Enggak, dong ….Enggak mungkin aku pura-pura enggak lihat. Memangnya tadi apa yang jatuh, Dul?” Heru kini memandang Dul.


“Cincin, Pakdhe …,” jawab Dul.


Bara mengatupkan mulut dan mengangguk pada Dul seraya mengetuk menu. Meminta Dul untuk memusatkan perhatian pada jajaran menu yang ditunjukkannya.


“Oh, cincin … cincin pern—”


“Kado untuk suamiku. Sebentar lagi ulang tahun. Anakku usianya hampir tiga tahun sekarang. Anak kamu sama Fifi?” tanya Rini.


“Kelas 2 SD,” jawab Heru.


“Well, titip salam buat keluarga kamu.” Rini mengulas senyum, lalu mengalihkan tatapan pada temannya. “Mana? Udah selesai di-take away?” tanya Rini, melemparkan pandangan ke kasir.


“Udah, nih. Tapi bill-nya belum dateng. Apa langsung ke kasir aja? Kita udah pergi terlalu lama. Nanti anak Mbak Rini—”


“Ya, udah. Ke kasir aja langsung.” Rini bangkit dari kursinya dan menyampirkan tas ke bahu. “Ru, aku duluan, ya …. Kamu … sehat-sehat,” ucap Rini, memandang Bara dan Dul lalu mengangguk seraya tersenyum.


Bara membalas senyuman Rini sama ramahnya. Sedangkan Heru jelas sekali mengembuskan napas lega. Ia merebahkan dirinya ke samping untuk memeluk tubuh Dul. “Untuk hal ini … jangan tiru Pakdhe, Dul. Menyakiti wanita itu enggak akan membawa ketenangan,” tukas Heru.


“Memangnya itu siapa?” tanya Dul.


“Nih, ya … kamu denger Ayah.” Bara menutup buku menu sejenak dan memandang Dul di depannya. “Yang tadi itu … wanita yang pakai kemeja putih itu mantan pacarnya Pakdhe zaman kuliah dulu. Tapi enggak satu kampus. Pakdhe ini menebar ranjaunya ke mana-mana. Pacarannya sama siapa, nikahnya sama siapa. Banyak bikin kesel cewe-cewe. Tiba-tiba jatuh cinta sama Budhe Fifi dan ninggalin dua pacarnya tanpa kabar. Budhe Fifi enggak tahu soal ini. Jadi ….”


“Semuanya jadi rahasia kita bertiga?” tanya Dul.


Heru mengangguk mantap. “Bener. Selama kita di luar tidak menyalahi norma-norma, ada baiknya yang sudah menjadi rahasia, tetap jadi rahasia. Janji?” Heru menyodorkan kelingkingnya pada Dul.


Dul tertawa dan pandangannya berpindah-pindah pada pria baru yang dikaguminya. Kelingkingnya menyambut kelingking Heru.


“Kalau gitu, Dul udah masuk persekutuan kita, Ra. Harus lebih sering kamu ajak.” Heru tertawa-tawa mengusap-usap punggung Dul.


“Sering-sering apa? Dul masih harus banyak belajar. Tes masuk SMP-nya sebentar lagi. Nanti Uti-nya ngomel kalau enggak bisa masuk SMP yang itu. Pasti yang diomelin aku karena enggak becus,” jelas Bara. “Belajar yang rajin, ya ….” Bara memandang Dul dengan sorot penuh harap.


Dul mengangguk-angguk yakin. "Iya, Yah," sahut Dul.


“Eh, Heryadi nelfon,” ucap Heru, menunjukkan ponselnya pada Bara. Mereka sudah berada di luar cafe.


“AKBP Heryadi?” Bara kembali memastikan. Pikirannya sudah terganggu hanya dengan telepon masuk dari AKBP Heryadi ke ponsel Heru. Bagaimana tidak, Perwira Polisi itulah yang menangani kasus Fredy, mantan suami Dijah, dan bapak kandung Dul. Rasanya kasus sudah selesai dan Fredy tinggal menunggu eksekusi hukumannya.


“Aku jawab teleponnya dulu. Kamu bawa Dul ke mobilmu duluan. Nanti aku susul,” pinta Heru, menepuk pelan bahu Bara. Ia sudah memahami apa yang ada dalam pikiran Bara. Adik sepupunya itu terkenal sebagai sosok yang sentimentil dan pemikir sejak dulu. Sedikit saja ada hal yang mengganjal pikirannya, Bara bisa uring-uringan berhari-hari.


Heru mengusap layar ponsel seraya menuju mobilnya. “Ya, Mas? Apa kabar?” sapa Heru. “Oh, akhir bulan? Jadi … maksudnya gimana? Pakdhenya yang pengacara? Jangan—jangan, kayaknya aku aja yang ngomong ke Bara dulu. Aku minta waktu sampai akhir bulan bisa, kan, Mas? Aku pastikan langsung datang ke kantor buat ngasi kabar. Terima kasih udah repot-repot infoin langsung ke aku, ya, Mas.”


Heru menggenggam ponselnya dan memandang mobil Bara. Dul sudah masuk ke mobil dan Bara berdiri di luar dengan kedua tangannya berada di saku. Sedang melemparkan tatapan tajam padanya. Belum apa-apa, wajah Bara sudah memerah. Heru melambai meminta adik sepupunya mendekat.


“Ada apa? Pasti ada sesuatu, kan?” tanya Bara.


“Hukuman Fredy … eksekusinya bulan depan. Permintaan terakhirnya mau ketemu dan ngobrol dengan Dul,” ucap Heru.


Bara menarik napas panjang. Wajahnya semakin memerah sekarang. “Mau apa lagi pakai acara minta ketemu? Apa dia mau anaknya tahu kalau bapak kandungnya dihukum mati? Gimana perasaan Dul? Gimana perasaan Dijah? Selama ini kami semua enggak pernah ngomong apa-apa. Aku bahkan enggak pernah nanya ke Dul apa dia inget bapaknya atau enggak. Minggu depan Dul tes masuk SMP. Gimana aku ngomongnya ….” Bara menunduk menyugar rambut. Wajahnya kalut. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bertiga tertawa-tawa.


“Mas Heryadi menyanggupi nunggu sampai akhir bulan. Kakak laki-lakinya Fredy yang pengacara itu malah mau dateng ke rumah kamu—”


“Ngapain?”


“Denger dulu … aku enggak bolehin. Aku tahu bakal makin kacau. Dijah pasti enggak mau ketemu. Makanya aku sampaikan ke Mas Heryadi kalau kita yang bakal ngomong langsung. Fredy memohon ketemu anak kandungnya dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum, Ra ….”


“Dijah juga sedang hamil, Mas …. Aduh … pusing aku. Ngapain, sih, pakai acara minta ketemu lagi. Ayah bilang ke aku kalau Dul itu masih trauma, Mas. Makanya Dul enggak pernah ngomong apa pun soal yang udah lewat. Bahkan ngomongin Mbah-nya yang udah meninggal aja enggak pernah. Kata Ayah belum boleh ditanya-tanya. Dia masih membentengi dirinya sendiri. Dia bakal dewasa dan mulai menerima dengan perlahan. Harusnya bukan sekarang. Bisa kacau isi rumahku kalau sekarang diomongi.” Bara menunduk, menendang-nendang kerikil kecil dengan ujung sepatunya.


“Kita tanya Paklik Wirya dulu baiknya gimana. Kalau bisa jangan Dijah yang ngomong. Nanti histeris. Ibu-anak bisa ribut. Kita enggak tahu yang mana yang terima atau bisa jadi dua-duanya menolak,” ucap Heru.


“Harusnya bisa menolak, kan?” Bara bersikukuh.


“Hak azasi manusia, Ra …. Nanti itu dalihnya. Kamu pers, harusnya lebih paham.”


To Be Continued