Dul

Dul
040. Terhenyak



Perubahan di wajah Bara sangat jelas. Suatu hal yang sulit disembunyikan jika pria itu memiliki suatu hal yang mengganjal hatinya. Hidup serumah dengan Bara dan menjadi anaknya, membuat Dul semakin mengerti dengan suasana hati pria itu.


Di depan teras café tadi, Heru memegang ponselnya dan meminta Bara kembali ke mobil lebih dulu. Tiba di mobil, Bara hanya menyalakan mesin dan AC, lalu memintanya masuk. Ia duduk diam menghadap bagian depan mobil yang merupakan beberapa pepohonan rendah. Penasaran dengan apa yang terjadi di belakang, Dul menoleh. Melihat Bara membicarakan entah apa dengan raut wajah penuh kekesalan.


Kemudian Bara yang terlihat sudah selesai bicara dengan Heru, melambai dan berbalik menuju mobil. Dul memutar tubuhnya kembali menghadap depan. Hatinya sedikit bergemuruh. Tiap ada masalah, Bara memang tidak membawa-bawa pada anggota keluarga di rumah. Tapi melihat pria itu menekuk wajahnya, hal itu tidak membawa kenyamanan buat Dul. Ia ingin mereka semua selalu tenteram di rumah.


“Ada apa, Yah?” tanya Dul, memandang Bara yang sudah duduk di belakang kemudi dan memasukkan persneling.


“Ada urusan kantor sedikit. Biasalah … namanya juga kerjaan. Enggak semuanya yang kita udah kerjain itu dapet hasil yang maksimal.” Bara menoleh Dul sekilas dan mengulas senyum getir.


“Oh, kerjaan kantor,” gumam Dul.


“Eh, makanan yang dibawa pulang tadi mana?” Bara mengerling.


“Udah aku taruh di belakang,” jawab Dul.


“Nanti jangan lupa langsung dikasih ke Ibu. Itu pas tiga menu untuk Ibu, Mima dan Mbok Jum. Yang punya Ibu, udah Ayah lebihin macem-macem. Belakangan Ibu makannya makin banyak,” tukas Bara.


Mereka tiba di rumah pukul sepuluh malam. Dijah langsung membuka pintu sebegitu mendengar suara pintu pagar dibuka lebar. Mima yang sedang berada di depan televisi, langsung berlari ke depan.


“Ayah pulang! Bawa jajan enggak?” teriak Mima melompat-lompat tak sabar.


Dul menghampiri Dijah dan menyerahkan makanan dari café tadi. “Buat Ibu yang porsinya paling gede,” ucap Dul.


Bara mendorong pagar dan menguncinya. “Punya Mima yang enggak pedes. Tadi Ayah minta ditulis di kemasan luarnya. Sebelum makan dilihat dulu,” pesan Bara, mendekati ambang pintu di mana Dijah masih menunggunya. Mima dan Dul sudah masuk lebih dulu ke dalam.


Dari arah ruang makan terdengar suara Mima menyerahkan bungkusan Mbok Jum dan meminta piring. Ternyata gadis kecil itu memang menunggu apa yang sudah dijanjikan ayahnya sore tadi.


“Kok, lama?” Dijah memeluk pinggang Bara dan mencghirup bagian depan kemeja pria itu.


“Mmm … udah kangen Mas? Baru keramas, ya? Rambutnya wangi banget,” ucap Bara, membalas pelukan Dijah dan beberapa saat lamanya berdiri di pintu mengusap-usap perut Dijah yang sudah membesar.


“Mau mandi langsung? Aku mau makan yang dibawain tadi,” ujar Dijah.


“Makannya enggak Mas temenin enggak apa-apa, kan? Mas mau langsung mandi. Nanti abis makan langsung ke kamar, ya …. Ada yang mau Mas omongin.” Bara mencium puncak kepala Dijah sekali lagi.


Dijah melepaskan pelukannya dan memandang heran. Wajahnya tidak antusias, tapi cenderung khawatir. “Ada apa? Soal apa? Enggak sekarang aja?”


Bara kembali memeluk bahu Dijah seraya menuju pintu kamar mereka. “Kamu makan, Mas mandi. Dul juga jangan lupa disuruh mandi. Dia udah seharian di luar. Nanti ngomongnya di tempat tidur lebih enak,” tukas Bara, mencubit pelan pipi istrinya.


Dijah mengangguk kecil, kemudian pergi menuju ruang makan. Mima sedang menghadapi sepiring aglio e olia dan menyantapnya dengan lahap tanpa menoleh. “Enak? Diem-diem aja. Ibu enggak ditawarin,” goda Dijah, menarik kursi di sebelah Mima.


“Enak, Bu. Punya Ibu itu,” cetus Mima, menunjuk satu bungkusan tersisa di atas meja.


Dul keluar kamarnya dengan handuk di bahu. “Iya, memang bareng Pakdhe. Kata Pakdhe enggak apa-apa ke sana sekali-kali. Aku udah gede,” ucap Dul.


“Paling bisa kalau Pakdhe ngomong.” Dijah membuka bungkusan pastanya dan meraih sendok dari tengah meja. “Oh, ya, Dul … hapenya kalau sampai di rumah jangan di-silent terus. Nanti kalau ada informasi dari sekolah baru atau dari tempat bimbingan malah enggak tahu. Kalau di luar, hapenya harus sering-sering dilihat, ya …,” pesan Dijah.


“Iya, Bu …,” sahut Dul dari dalam kamar mandi.


“Ayo, cepat makannya. Udah malem. Anak kecil enggak boleh tidur larut malam. Inget enggak apa yang Uti bilang?” Dijah mengusap pipi Mima.


“Aku udah pakai piyama. Memang tinggal nunggu Ayah pulang. Ini yang janjiin Ayah tadi sore. Makanya aku tunggu. Abis ini langsung tidur.”


Biasanya tugas mematikan lampu dan mengecek semua pintu adalah tugas Bara. Malam itu Dijah melihat suaminya lebih letih dan ia ingin segera mengetahui hal apa yang akan disampaikan oleh pria itu. Dijah masuk ke kamar setelah mematikan lampu teras dan ruang tamu yang panelnya dekat pintu kamar tidur utama.


Masuk ke kamar, Dijah langsung melirik dispenser di dekat pintu masuk. Gelas air putih Bara sudah terisi dan suara kran kamar mandi baru saja dimatikan. Tak lama bara keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Ngomong ke aku jangan keramas malam-malam. Nanti masuk angin …. Mas sendiri yang paling sering masuk angin malah keramas. Udah mau jam sebelas malem,” sungut Dijah dari tepi ranjang.


“Gerah banget, Jah. Panas … semua-semua panas.” Bara membelakangi Dijah untuk membuka lemari.


“Memangnya mau ngomongin apa?” tanya Dijah.


“Kalau ngikutin saran Mas Heru. Katanya kita harus nanya dulu ke Ayah. Jadi … malam ini aku ngomong ke kamu dulu. Semoga kamu bisa dengernya pelan-pelan. Aku enggak mau keluarga kita jadi ribut karena ini. Termasuk kamu. Perutnya udah makin besar, aku takut ada apa-apa.” Bara melepaskan handuknya dan memakai boxer longgar yang sering dijadikannya seragam tidur dipadukan dengan selembar kaus oblong.


Bara berbalik memandang Dijah masih dengan selembar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut. Ia lalu duduk di tepi ranjang, bersisian dengan Dijah yang tak mengalihkan pandangan sedikit pun.


“Apa, sih, Mas—”


“Fredy mau dieksekusi dan permintaan terakhirnya ketemu dengan Dul,” cetus Bara.


“Mau ngapain, sih?” Dijah tersentak dan beringsut menjauh dari Bara.


“Kamu denger dulu … aku juga enggak mau dia ketemu Dul, apalagi kamu. Aku enggak mau, Jah. Tadi Mas Heryadi nelfon Mas Heru katanya kakak laki-laki Fredy yang pengacara mau dateng ke sini—”


“Aku enggak mau, Mas! Jangan sampe dia dateng ke sini. Gimana ngasi tau Dul kalau bapak kandungnya itu terpidana hukuman mati kasus narkoba? Dul mungkin udah lupa soal bapaknya. Aku enggak tau—entah dia memang enggak mau inget. Gimana ngajak Dul ke penjara?” Suara Dijah meninggi dan bulir air mata sudah jatuh ke pipinya.


“Denger dulu … jangan nangis. Jangan ngomong keras-keras. Nanti Dul denger. Ini udah malem …. Kita harus berkepala dingin. Kita orang tuanya,” ucap Bara, merendahkan suaranya.


Di luar pintu, Dul terdiam mematung. Di tangannya tergenggam ponsel yang dibelikan Bara sebagai hadiah ulang tahunnya yang lalu. Dia baru saja mau memberitahukan Bara kalau link pendaftaran ke SMP favoritnya sudah mulai bisa diakses. Kenyataan yang baru saja didengarnya, seketika membuat lututnya lemas.


Bapak kandungku bakal dihukum mati?


To Be Continued