Dul

Dul
102. Sepotong Pesan



Dua kata pesan yang dikirimkan Lova pada Dul, membuat remaja itu tertegun. Dari kumpulan beberapa perasaan yang terbersit dihatinya, Dul menarik satu hal yang paling kentara. Yaitu, lega.


Bukan bermaksud jahat pada Lova. Gadis itu sangat baik dengannya. Menjadi salah satu warna pengisi masa remajanya. Mungkin, mungkin saja suatu hari nanti Dul akan mengingat Lova sebagai gadis pertama yang pernah ia pegang tangannya.


Sebagai anak laki-laki pertama dari sosok wanita yang sering mengajarkannya untuk memahami bahwa semua orang memiliki alasan atas sesuatu, Dul tak heran Lova mengatakan putus padanya.


Tak adil kalau sekarang ia membalas pesan gadis itu dengan balik bertanya soal kapan mereka memutuskan berpacaran. Toh, selama ini ia juga menjaga perasaan Lova dengan tidak terlalu meladeni gadis lain yang dirasa mendekatinya.


Tak ada yang memaksanya untuk terus bersama Lova kecuali dirinya sendiri. Sedang untuk Lova yang menangis karena melihatnya mencium Annisa, Dul menyesal untuk itu. Harusnya mereka bisa mengakhiri kedekatan itu dengan alasan yang lebih baik. Bukan hal seperti itu.


Dul mengetikkan balasan untuk Lova.


Aku minta maaf


Seperti tebakannya, Lova tak membalas pesannya lagi.


Kalau ditanya soal sebab perubahan sikapnya pada Lova, dalam dirinya sendiri pun, Dul tak menampik hal itu berhubungan dengan Annisa. Tapi hal itu bukan cenderung bahwa ia memikirkan hubungan percintaan remaja bersama Annisa.


Semua karena rasa malunya pada diri sendiri yang seakan terlena dengan kemudahan yang ia dapat sejak menyandang nama Putra Satyadarma. Annisa yang berasal dari keluarga mampu lebih serius belajar dibanding dirinya. Ditambah lagi keributan yang disebabkan hal memalukan, ikut menyurutkan semangat Dul menyandang gelar murid pria yang memiliki pacar.


Setelah mandi, Dijah datang ke kamar Dul dengan sekotak kecil peralatan P3K. Beberapa saat ia duduk di tepi ranjang menunggui Dul yang sedang membongkar isi tasnya.


“Mau dicuci?” tanya Dijah saat Dul mengosongkan tas.


“Iya, kotor karena ‘tadi’,” jawab Dul, meletakkan tas dan mendatangi ibunya. Lidahnya hanya mampu berucap kata ‘tadi’ menggantikan kata perkelahian atau keributan yang di telinganya sendiri pun tak enak didengar.


“Jangan sampai muka gantengnya luka lagi, ya. Ibu harap ini pertama dan terakhir. Menyelesaikan masalah dengan adu otot itu bisa kebawa jadi kebiasaan. Jangan sampai Dul, amit-amit … ibu enggak mau kamu gitu.” Dijah mengoleskan salep luka ke dagu putranya.


“Aku enggak bisa janji pasti. Tapi aku usaha ini yang pertama dan terakhir,” sahut Dul, memperhatikan bulu mata ibunya yang seketika mengerjap saat mendengar jawabannya.


Dijah menegakkan tubuh. “Kok, jawabannya gitu?”


Dul tertawa menarik tangan ibunya dan kembali menunjuk dagu. “Kalau orang yang ngajak ribut duluan dan mau melukai aku gimana? Atau ada orang yang ngejek Ibu, atau Mima, atau juga Ayah … enggak mungkin diem aja," jawab Dul, menahan senyum.


Dijah melayangkan pukulan kecil ke lengan putranya. “Usahakan jangan sampai ribut. Ibu enggak mau.” Dijah selesai mengoleskan obat luka dan menunduk memutar tutup kemasan tube perlahan. “Ibu trauma, Dul,” ucap Dijah pelan.


“Maaf.” Perkataan Dul menyerupai bisikan. Ia dan ibunya sama-sama tahu soal apa trauma itu.


“Ayo, ditunggu di meja makan sama Ayah. Kamu juga belum makan.” Dijah berdiri sesaat menantikan Dul mengikutinya.


Mereka beriringan keluar kamar ketika terdengar suara tangis Ibra di belakang. Dijah tergopoh-gopoh mendahului Dul. Ibra menangis di sebelah Mima yang tertawa-tawa.


“Diapain adiknya?” tanya Dijah memandang Mima yang masih terkekeh-kekeh. Dijah meraih lengan Ibra dan menuntunnya ke meja makan. Bara duduk santai melihat keributan kecil yang sudah sejak tadi ia amati.


“Dipukul?” tanya Dijah, menarik tisu lalu menyeka wajah Ibra.


“Bukan aku pukul, lho, Bu. Ibra ganggu aku duluan. Ngagetin pakai laba-laba karet itu bolak-balik. Gitu gantian aku kagetin malah nangis. Enggak seru,” kata Mima, menarik kursi di sisi kanan Bara.


“Mas juga diem aja, bukannya dilerai,” kata Dijah, memeluk Ibra yang mengalungkan tangan di pinggangnya.


“Mas mau lihat gimana keributan itu berakhir. Memang Ibra yang ganggu duluan. Jadi, biarkan mereka mengatasinya sendiri. Besok-besok Ibra mungkin kapok godain Mbak-nya,” kata Bara nyengir.


“Bisa banget sama anak sendiri,” kata Dijah cemberut.


“Enggak semuanya harus dilerai. Kata Ayah, selama enggak berbahaya biarkan mereka negosiasi dengan caranya.”


Dul tiba di meja makan setelah merendam tasnya di tempat cuci. Ia menarik kursi yang tepat berseberangan dengan Mima. Tak perlu waktu lama buat gadis kecil ceriwis itu melihat luka di dagu Dul.


“Ganteng—ganteng … jangan ngeledek,” sahut Dul mengambil piringnya.


“Enggak ngeledek. Mas Dul, kan, memang ganteng. Temenku aja ada yang titip salam,” cetus Mima santai.


“Astaga … Mima …. Kelas lima SD udah pakai acara titip-titip salam. Pelajar itu tugasnya, ya belajar.” Bara memandang Mima yang menarik toples kerupuk dan membukanya.


“Ayah santai. Itu temenku. Bukan aku,” kata Mima.


“Kamu jangan gitu,” kata Bara.


“Iya, enggak. Enggak ada yang ganteng juga menurut aku,” sahut Mima tertawa.


“Astaga …. Minta disentil ini.” Bara mencubit pelan pipi Mima. Gadis kecil itu malah terbahak.


“Cuma godain ayah aja,” jawab Mima.


Ibra yang sudah menuntaskan tangisnya, pelan-pelan melepaskan pelukannya dari Dijah dan ikut menarik kursi di sebelah Mima.


“Nah, deket lagi, kan …. Udah kangen, kan …. Ngaku…ngaku,” kata Mima, menjawil pipi Ibrahim berulang kali.


“Mima ….” Dijah menyipitkan mata memandang Mima yang usil.


“Ehem.” Dul berdeham pelan. “Yah … besok—”


“Jadi. Udah tanya sama Nisa jam berapa berangkatnya?” Bara sudah tahu pertanyaan apa yang sedang disiapkan Dul sejak tadi.


“Nanti kalau udah aku tanya dan dijawab, aku kasih tau,” jawab Dul, melirik Mima dengan ekor matanya. Agak cemas dengan reaksi adik perempuannya itu.


“Siapa Nisa? Pacar Mas Dul? Mau ke mana, sih? Aku ikut, ya.”


“Mima di rumah aja. Ayah sama Mas aja yang berangkat besok. Ini urusan pria,” kata Bara.


“Tapi aku juga mau ikut, Mas.” Dijah mengusap-usap lengan Bara dengan sedikit keras.


“Yah, gimana ini, Dul? Kalau Ibu udah ikut, semua pasti ikut,” kata Bara, meringis memandang Dul yang tertawa pasrah.


“Ya udah. Enggak apa-apa. Nanti aku kasih tau kalau Nisa udah balas pesanku.”


Dijah dan Mima bertukar pandang. Setelah sekian lama akhirnya mereka akan melihat sosok gadis yang memenuhi kriteria Dul.


******


Mata Dul melebar saat jam weker di nakasnya menunjukkan pukul empat pagi. Masih terlalu pagi. Dul berguling meraba-raba belakang tubuhnya mencari ponsel yang kemarin ia pegang sampai terlelap. Saat layarnya diusap, layar ponsel itu masih seperti kemarin. Aplikasi pesan di mana ia dan Annisa bertukar kabar.


Pesan yang dipandangi Dul hampir semalam suntuk itu bukan berisi pesan panjang. Hanya sebaris kalimat bertuliskan,


Besok aku berangkat dari rumah jam 10 pagi. Pesawat jam 2. Kenapa? Abdullah mau ketemu aku?


Annisa sosok yang tak pintar berbasa-basi, menanyakan hal itu seakan sedang bertanya hal biasa saja. Padahal jantung Dul berdebar tak nyaman saat membuka obrolan soal keberangkatan gadis itu esok hari.


Dul membaca pesan itu lagi dan lagi. Juga membaca sebaris jawabannya sendiri yang membuat ia bergidik.


Aku mau ketemu Annisa sekali lagi. Besok sebelum jam sepuluh aku ke rumah kamu.


To Be Continued