
Hari ketiga di rumah sakit, Dul baru tiba di ruang rawat Dijah bersama Mima, Pak Wirya dan Bu Yanti. Besok mereka sekeluarga akan kembali pulang ke rumah bersama adik kecil mereka.
Sejak memasuki kamar rawat, Bara sibuk meladeni Mima yang uring-uringan karena kesepian dan merasa dilupakan. Sudah satu jam gadis kecil itu duduk di pangkuan Bara dan mengeluhkan macam-macam. Selimut kesayangannya yang kemarin tak jadi masalah saat ketinggalan di rumah, hari itu menjadi masalah baru bagi Mima.
"Besok Ayah dan Ibu udah pulang. Lusa udah bisa Ayah garuk-garuk lagi punggungnya. Katanya mau jadi Mbak .... Sekarang udah jadi Mbak, lho. Udah ada adiknya."
Mima tak menjawab. Malah semakin membuat tubuhnya seakan tak bertenaga di pelukan Bara. Dul mengerling Mima dan gadis itu mencibir. Dul membalasnya dengan mendengkus.
Beberapa saat perhatian Dul terfokus ke televisi, tanpa ia sadari semua orang beringsut pergi satu persatu. Awalnya Mima yang menghilang ke balik tirai ranjang di mana ibunya berbaring. Adik bayinya pasti sedang menyusu, pikir Dul. Tak lama tirai itu terbuka dan Pak Wirya serta Bu Yanti mendatangi ranjang. Pastilah keduanya ingin kembali melihat cucu laki-laki pertama dan satu-satunya yang akan memakai nama Satyadarma. Dul sama sekali tak mempermasalahkan soal itu. Balapan formula one di televisi mengambil sebagian besar perhatiannya.
Dul hanya ingin fokus menonton televisi, tapi suara-suara di belakangnya sulit untuk diabaikan. Terutama suara Pak Wirya yang tenang, dalam dan berwibawa.
“Nama anak kalian, sudah diberitahu Bara. Ibrahim Putra Satyadarma. Nama dengan banyak makna yang bagus sekali. Ayah akhirnya punya cucu laki-laki yang menyandang nama Satyadarma. Itu memang bukan suatu keharusan. Tapi Ayah juga nggak memungkiri, kalau Ayah bahagia. Mungkin ini perasaan yang dirasakan Kangmas Guntur, ayahnya Heru, seandainya beliau masih hidup. Punya cucu laki-laki yang punya nama belakang sama."
Suara itu sangat tenang dan jelas. Saking jelasnya di telinga Dul, ia sampai menegakkan duduknya. Lalu, sahutan tercekat ibunya terdengar menyahuti singkat. Ia bisa memastikan bahwa ibunya pasti sedang melirik punggungnya yang membelakangi ranjang rumah sakit. Saat itu, hanya ia sendiri yang tak bergabung bersama keluarga besar Satyadarma mengelilingi adik laki-lakinya. Dul menggigit bibirnya. Ia merasa bersalah karena sedikit perasaan cemburu terbersit. Keinginannya sekarang terlampau banyak. Dul menelan ludah saat mendengar suara Pak Wirya kembali melanjutkan ucapannya.
“Ayah punya sebuah ide yang membutuhkan persetujuan kamu. Di masa depan nanti, orang pasti menyadari bahwa nama Dul sedikit berbeda. Bukan hal penting, tapi nama Dul dengan satu suku kata itu, Ayah rasa akan lebih indah kalau juga ditambahkan Putra Satyadarma. Ayah cuma sedang mencoba mempersiapkan masa depan yang utuh untuk Dul. Seperti kamu tau, kalau Dul sangat dekat dengan Ayah. Ayah nggak mau Dul berbeda nantinya … mungkin itu hal terakhir yang bisa Ayah beri. Tapi tentu saja, kalau kamu mengizinkannya. Gimana?”
Dul yang baru saja mengangkat remote televisi terdiam sejenak. Tangannya kembali turun ke pangkuan. Apa ia tak salah dengar? Kemudian suara isak tangis ibunya terdengar. Disusul dengan perkataan, "Tanya Dul, Mas."
Aku enggak salah denger
Dul menelan ludah. Duduknya semakin tegak dan ia bersiap untuk dipanggil setiap saat.
“Dul, sini ...."
Hanya perlu satu panggilan, Dul langsung menoleh.
Semoga aku enggak salah denger.
Dul meletakkan remote televisi di atas meja dan berjalan mendekati Pak Wirya. “Ya, Kung?” sahut Dul.
“Akung cuma mau tanya, nama kamu, kan, terlalu pendek. Gimana kalau ditambahin nama belakang yang sama kayak Ibrahim? Nama kamu jadinya, Abdullah Putra Satyadarma. Gimana? Kalau kamu mau, Ayah kamu bakal ngurus dokumen penambahan nama itu.”
Enggak salah denger rupanya.
Dul sedikit menunduk. Memandang tangan Pak Wirya memegangi lengannya saat bicara tadi. Pria tua itu tak hanya menatap matanya, tapi juga menelusuri wajahnya. “Namanya bakal sama dengan Ayah dan Akung?” Dul merasa perlu kembali memastikannya.
“Pakai Satyadarma?” tanya Dul lagi memastikan.
“Satyadarma." Pak Wirya lagi-lagi mengangguk.
Dul nyaris melompat saat mendengar langsung dari si empunya nama Satyadarma. Kenapa hal seperti itu masih harus ditanya lagi padanya? Tentu saja ia mau. “Aku mau. Kapan ditambahinnya? Langsung bisa ditambah?”
Ruangan itu terasa menjadi lebih luas dalam pandangan Dul. Pemandangan yang sudah begitu akrab baginya. Pak Wirya yang tertawa kecil. Dijah yang belakangan sering menangis haru. Bara yang semakin hari semakin penyabar. Bu Yanti yang sedikit gengsi menunjukkan rasa sentimentilnya dengan memalingkan wajah demi menyembunyikan air mata harunya. Juga Mima yang bersikap hampir sama dengan Bu Yanti. Ikut senang, tapi mencibir ke arah Dul.
“Nanti Ayah urus secepatnya," janji Bara.
Dul mengatupkan bibir. Hatinya mengembang karena rasa bahagia. Siapa yang pertama kali mengusulkan hal itu? Pak Wirya? atau Bara? Detik itu rasanya Dul ingin memeluk keduanya.
Ketukan di pintu beberapa detik kemudian membatalkan rencana pelukan Dul pada penggagas penambahan nama Satyadarma padanya. Perhatian semua orang yang mengitari ranjang berpindah pada pintu yang mengayun terbuka.
"Pakdhe datang ...," sapa Heru yang muncul bersama anak dan istrinya. "Dari wajah Dul sepertinya sekarang udah ada tiga orang pria yang bakal meneruskan nama Satyadarma." Heru tersenyum-senyum memandangi wajah sumringah Dul.
"Generasi yang ini lumayan nambah. Ada tiga orang. Dua generasi sebelumnya cuma dua orang. Kalau ada pemungutan suara sulit karena genap," kata Pak Wirya.
"Lebih sulit kalau yang satu butuh pendapat, yang satunya lagi ngomong, 'kita tanya Ayah aja.'" Heru terkekeh-kekeh.
"Ye ... kalau enggak tanya Ayah bisa kacau ngikutin Mas. Bisa sesat hidupku," cibir Bara pada Heru.
Heru tergelak dan Pak Wirya terkekeh-kekeh. Sementara Fifi mendekati ranjang Dijah dan duduk di kursi sebelahnya. Wanita itu mengusap selimut Ibrahim yang tertidur dalam pelukan Dijah. Sedangkan Dul, menggamit lengan putra Heru dan membawanya ke sofa.
"Mmmm ... mumpung semua lagi sibuk," Heru memandang Pak Wirya dan Bara bergantian. "Aku ada sesuatu yang dititipi pengacara sekaligus kakak laki-lakinya Fredy. Heru lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan amplop yang masih tertutup rapat.
"Apa itu?" tanya Bara dengan nada kecurigaan.
"Surat yang ditulis Fredy untuk Dijah. Gimana? Dikasi ke Dijah?" Heru memandang Pak Wirya lebih lama untuk meminta pendapat.
"Berikan ke Bara. Biar Bara yang menyerahkannya ke Dijah. Mungkin Bara lebih tau kapan waktu yang tepat." Pak Wirya memandang Bara dan mengangguk pelan.
Bara mengambil amplop putih polos dari tangan Heru. "Nanti aku yang kasi ke Dijah."
To Be Continued