
Tamu perlahan mulai menyusut seiring dengan melorotnya matahari ke arah barat. Jajaran kursi satu persatu ditinggalkan orang yang berduyun-duyun menuju pelaminan buat menjabat tangan pengantin untuk lalu meninggalkan tempat pesta. Tersisa orang bergerombol-gerombol masih bertukar cerita yang belum usai.
Sejak tadi Dul memang sudah menunggu-nunggu kedatangan tamu istimewa yang disampaikan Bara sebelumnya. Jantungnya sedikit berdebar bukan karena tidak menyukai tamu itu, namun lebih kepada kekhawatiran akan penolakan sang ibu. Syukurnya kemarin Bara sudah menenangkan perasaannya dengan mengatakan, “Semua pasti baik-baik aja."
Dan sekarang di situlah mereka semua. Nyaris serentak mereka menatap nanar pada sosok ringkih yang terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Ialah Fredy; sang bapak kandung yang terbebas dari jeratan hukuman mati pemerintah karena sebuah pengampunan yang diusahakan di akhir-akhir masa peradilan. Tekanan fisik maupun mental yang diterimanya semasa dalam penjara menjadikannya sosok tua lemah yang berkubang dengan kenangan masa lalu paling menyakitkan. Yaitu; menyakiti dua orang terkasih dalam hidupnya. Mencintai sosok Khadijah dengan cara yang salah. Juga menelantarkan sosok Abdullah yang tak punya salah.
Dul mengamati ibunya dengan teliti. Menyimak perubahan raut wajah itu dengan sebenar-benarnya. Apakah amarah, kekecewaan, kesedihan, atau mungkin tak ada tanda-tanda itu sama sekali? Ia sedikit cemas. Kemudian Dul menggenggam Annisa erat-erat. Wanita itu pasti paham apa yang ia rasakan. Karena telapak tangannya tak pernah berkeringat meski ia harus memandu pesawat tempur berlaga di udara.
“Enggak apa-apa …. Ibu pasti ngerti. Mas Dul enggak perlu sampai setakut ini.” Annisa mengangkat tautan tangannya dan Dul. Serta merta menepuk punggung tangan suaminya itu dengan sangat lembut.
“Papa kamu enggak apa-apa, kan? Jangan sampai orang tua kamu nantinya….”
“Baru aja kemarin Akung ngasih wejangan ke kita. Ingat, kan? Kata Akung, jangan mikirin hal yang belum waktunya kita pikirkan. Yang belum terjadi itu harusnya dijalani dulu.” Annisa kembali mengeratkan genggaman tangannya.
Dul kembali menguasai situasi saat itu. Gedung tempat berlangsungnya resepsi perlahan sepi dari tamu. Pihak wedding organizer sedang berkumpul di pojok belakang semacam sedang melakukan briefing penutupan. Fotografer sedang membereskan peralatan dan pihak catering hilir-mudik membereskan hidangan di dua meja besar. Orang tua Annisa pun terlihat sudah turun dari pelaminan dan menyongsong keluarga lainnya di barisan kursi VIP.
“Kita ngomong ke Ibu sekarang,” ajak Dul, berjalan mendekati Dijah yang kembali duduk ke sofa kecil pelaminan. “Bu … aku minta maaf. Ada yang mau ketemu aku dari kemarin-kemarin. Aku enggak enak ngomong ke Ibu, tapi … aku udah ngomong ke Ayah.”
“Enggak apa-apa. Sudah … sana. Nanti tamunya kelamaan nunggu,” sahut Dijah dengan wajah kaku. Ia mengangguk mantap pada Dul meski sebenarnya ia sendiri tidak terlalu bisa menguasai dirinya. Dalam pikirannya, pria bernama Fredy itu sudah lama tiada. Sampai detik itu ia juga bahkan tak ingin bertanya di mana makam pria yang menjadi ayah biologis putra sulungnya. Tidak. Dijah memang tidak ada keinginan untuk itu. Lukanya memang sudah pulih, tapi bekasnya masih menghitam.
“Ibu enggak apa-apa kalau aku dan Annisa ketemu sama … Bapak?” Sambil memandang Dijah, Dul ikut memandang Bara, juga teman-teman ibunya yang masih berdiri tak jauh dari tempat mereka.
Sebenarnya penjelasan itu sudah tidak diperlukan lagi. Bara pasti sudah memberitahu Dijah sebelumnya. Tapi Dul tetap merasa harus menyampaikan permohonan izin itu dengan mulutnya sendiri.
Dijah menggeleng. “Enggak apa-apa,” sahutnya.
“Aku temani Dul ya, Jah,” kata Bara, mengusap pundak Dijah, kemudian memijatnya pelan. “Kamu jangan cemberut. Ini hari bahagianya Dul. Mereka sudah dewasa dan berhak tau yang sebenarnya.” Bara mencubit pelan pipi istrinya.
Dijah mengangguk enggan. Bagaimana bisa enggan? Semua keluarga suami dan besannya ada di sana. Perhatian semua orang tertuju pada ia dan Dul di waktu bersamaan. Dijah kembali duduk dengan tangan yang menaut di pangkuan. Berharap kalau reuni bapak-anak di depannya tidak berlangsung lama.
“Aku baru tau …,” bisik Tini dari sebelah Dijah. Mak Robin, Boy dan Asti sepertinya sepakat untuk tidak berkomentar apa pun. Semuanya mengamati hati-hati seolah takut ada adegan yang luput dari pengamatan mereka.
“Aku juga baru tau, Tin.” Dijah kini melemparkan sorot kecemasan pada sepasang pengantin yang turun.
“Kamu enggak ikut ke sana?” Tini memberanikan diri untuk bertanya hal yang mungkin tidak disukai Dijah.
“Aku udah maafin, Tin. Tapi untuk ikut melangkah ke sana kakiku masih berat. Aku di sini aja. Dul sudah dewasa. Dul lebih tau apa yang harus dilakukannya.” Dijah terus mengawasi ke mana kaki Dul melangkah.
Sore itu Dul kembali memakai seragam dinas upacara Angkatan Udara berwarna biru gelap lengkap beserta dengan semua atributnya. Ia menggandeng Annisa turun dari pelaminan didampingi oleh Bara. Bersama-sama mendekati Fredy dan dua orang pria yang harusnya dikenal Dul sebagai Pakdhe dan Paklik-nya dari pihak Bapak.
Tak sama seperti dugaannya, Dul terhenyak ketika tangan Fredy langsung menggapai-gapainya dari kursi roda. Dul maju dengan cepat menangkap tangan Fredy.
Fredy mendongak untuk berpuas-puas memandang Dul. Sampai ketika Dul menyadari hal itu dan setengah berjongkok di depan kursi roda. “Lapor, saya Letnan satu penerbang Abdullah Putra Satyadarma siap menerima perintah.” Dul berkata lembut seraya meletakkan genggaman tangan Fredy di pangkuan pria itu.
Mata Fredy sontak berlinang air mata. “Abdullah Putra Satyadarma?” ulangnya.
Tenggorokan Dul tercekat dan ia menelan ludah pelan. “Iya, Pak. Letnan Satu Penerbang Abdullah Putra Satyadarma. Ini istriku, namanya Annisa. Profesinya dokter.” Dul tak ingin Fredy memanjang-manjangkan perihal nama panjangnya.
Masih sambil menangis, Fredy menepuk-nepuk bahu Dul. “Abdullah … terima kasih, ya. Benar-benar terima kasih. Terima kasih sudah tumbuh jadi anak hebat begini.” Tangan Fredy yang gemetar dan keriput mengusap lambang keemasan di bahu Dul. Lalu turun pelan-pelan menyentuh wing dan nama lengkap bertuliskan ABDULLAH PS. di dada kanan putra kandungnya. Fredy kemudian mendongak memandang Pak Wirya, lalu Bara kemudian Heru. “Terima kasih,” lirihnya diiringi dengan anggukan.
Dul mengangguk kemudian setengah bangkit memeluk bapak kandungnya. Bisa saja itu pelukan terakhir kali yang bisa ia lakukan untuk bapak kandungnya. Ia memeluk tubuh kurus Fredy yang bergetar karena tangis. “Terima kasih juga Bapak udah dateng buat merestui pernikahanku. Kebahagiaanku hari ini sempurna.” Setelah menepuk-nepuk pelan punggung Fredy, Dul kembali berdiri.
“Anak ganteng … benar-benar ganteng dan gagah.” Fredy mengabaikan orang-orang di sekeliling mereka untuk berpuas-puas memandang Dul. “Ibumu pasti bangga, Dul. Terima kasih sudah menjadi anak laki-laki hebat buat ibumu.”
“Anak hebatnya Ibu ada tiga orang, Pak.” Dul celingukan sebentar kemudian melambai ke suatu tempat. Sejurus kemudian Mima dan Ibra sudah berjalan mendekatinya. “Ini Fatimah, putri Ibu semata wayang. Satu-satunya cucu perempuan yang paling disayang di rumah. Yang ganteng ini adik laki-lakiku. Namanya Ibrahim.” Meski harus membuat Annisa mundur selangkah, tapi Dul tetap merangkul Mima dan Ibra di kanan kirinya. Ia ingin bapak kandungnya tahu kalau ibu mereka memang sudah bahagia.
“Semuanya memang ganteng dan cantik,” sahut seorang pria yang ternyata adalah adik Fredy.
“Uniknya kami semua punya selisih usia enam tahun,” tambah Dul. Ia sempat menangkap sorot mata Fredy yang pergi ke arah pelaminan. Pria itu pasti mengharapkan ibunya ikut turun dan membaur dalam perbincangan canggung sore itu. Dul sama sekali tidak mengharapkan hal itu. Ia mengembuskan napas lega ketika melihat Fredy kembali berfokus pada obrolan mereka.
“Bapak enggak bisa lama-lama, Dul. Kamu bisa antar Bapak keluar?” Sudah cukup, pikir Fredy. Apa lagi yang diharapkannya? Putranya bersama Dijah sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa dengan kehidupan berkualitas yang dulu tidak pernah ia bayangkan. Dijah sudah bahagia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
“Mari aku antar keluar,” sahut Dul, mengambil alih kursi roda dari tangan Pakdhe-nya. Dari belakang sana ia tahu kalau tatapan ibunya tak lepas dari mereka.
Dengan seragam lengkap upacaranya, Dul mendorong kursi roda Fredy keluar gedung. Menyusuri sepanjang lorong yang berlapis karpet merah dan taburan kelopak mawar yang pagi tadi diserakkan untuk menyambut pengantin.
“Kamu enggak kaget Bapak datang, kan? Ayah sambungmu ternyata memang baik. Dia yang menghubungi Bapak untuk hadir di sini.” Fredy bicara ketika kursi rodanya hampir mencapai pintu.
Dul tiba di teras gedung dan ia segera memutar kursi roda itu menghadapnya. “Aku enggak kaget. Mmmm ... Ayah udah bilang beberapa hari yang lalu. Tapi ... Ayah pernah bilang kalau Bapak bisa banding. Pakdhe Heru juga ikut menjelaskan ke aku waktu itu. Soal itu sebenarnya Ayah udah enggak mau tahu lagi. Enggak mau ikut-ikutan lagi waktu itu,” ucap Dul dengan suara pelan. “Dan ayahku memang baik, Pak. Sangat baik. Itu kenapa Ibu sangat mencintai Ayah. Sekali lagi … makasih karena udah hadir hari ini. Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan.” Dul tersenyum, memastikan kalau bapak kandungnya cukup mengerti dengan situasi mereka saat itu.
"Ibumu enggak mau ketemu Bapak lagi," kata Fredy.
Dul tersenyum dengan lembut. Senyuman yang hampir sama dengan yang dimiliki Dijah. Senyum manis, namun jarang terlihat. "Gimana kalau kita sepakat bahwa Ibu sekarang udah bahagia dengan kehidupannya?"
Fredy seperti berpikir-pikir, lalu kemudian mengangguk. "Ibumu memang terlihat sangat bahagia," tegas Fredy.
Dul kemudian menegakkan tubuh dan memberi salam hormat kepada bapak kandungnya. Dan dengan tangannya yang gemetar, Fredy ikut menirukan salam hormat yang ditujukan Dul padanya.
******