
“Maksudnya gimana, Mas? Mas Dul udah enggak sama Annisa lagi? Udah berapa lama? Kenapa enggak cerita?” Dijah menunggu jawaban Dul beberapa saat. Namun, sepertinya percakapan telepon tidak terlalu efektif untuk mengorek keterangan. Ia tak bisa melihat raut wajah putranya di seberang telepon. “Ya, udah. Ibu tutup telepon dulu. Nanti Ibu sampaikan ke Ayah.” Dijah mengerling Bara yang baru masuk ke rumah.
“Itu Dul?”
Dijah menghampiri Bara untuk mengambil bawaan pria itu. “Mas pernah bilang supaya kita nunggu aja untuk urusan Dul, kan? Kayanya Dul enggak sama Nisa lagi Mas. Enggak tau mulai kapan. Dul juga kayanya menghindar. Enggak mau bahas-bahas hal itu. Aku jadi sedih ….” Sambil memegangi ransel Bara, Dijah mengusap air matanya dengan kerah daster.
“Kenapa jadi nangis? Memangnya Dul ngomong apa?” Bara memegangi bahu Dijah dan membawanya ke kamar. “Jangan nangis di sini. Nanti dikira anak-anak, ayahnya bikin ibunya nangis. Mima udah pulang? Tadi mau dijemput enggak mau.”
Dijah masih terisak-isak mengikuti langkah Bara. “Ibra belum bangun. Pulang acara di sekolah tadi kayanya kecapekan banget. Abis makan langsung masuk kamar. Mima memang katanya mau pergi nonton bareng temennya. Pulangnya enggak bakalan lama. Tolong bilang ke Ayah jangan khawatir. Gitu pesan Mima.”
Bara meraih ransel dari dekapan Dijah dan meletakkannya ke meja. “Mima nonton di mana? Memangnya siapa yang bakal antar Mima pulang? Biasanya selalu minta jemput.”
Dijah menggeleng dengan raut muram. “Enggak tau. Apa mungkin Mas Heru yang jemput Mima?” Ia balik bertanya.
“Biasanya kalau Mima minta kita untuk tenang, artinya kita memang harus tenang.” Bara menyerah menebak soal teman Mima. “Jadi kamu nangis karena Dul enggak sama Nisa lagi?”
“Aku sedih karena aku tahu Dul itu anaknya enggak macem-macem, Mas. Dul itu setia. Kalau udah sayang sama satu orang, dia bakal mengusahakan sesuatu itu semampunya dia.”
Bara tertawa kecil ingin meluruhkan ketegangan. “Mas juga setia, lho. Kalau udah sayang sama satu orang, Mas juga bakal mengusahakan itu semampu Mas.” Bara mencubit pelan pipi Dijah.
“Aku serius, Mas. Kasian Dul. Minggu depan acara penyematan wing penerbang. Pangkat Dul bakal nambah. Letda. Pnb. Abdullah Putra Satyadarma. Dul pasti mau Annisa bisa datang ke acara itu.”
“Tapi kita enggak tahu apa yang terjadi dengan Dul dan Annisa, Jah. Kita enggak boleh maksa kalau memang mereka yang udah enggak nyaman satu sama lain. Kaya dulu Ibu yang maksa-maksa Mas sama Joana. Masih ingat, enggak? Laki-laki itu enggak bisa dipaksa.”
“Tapi aku mau tau penyebabnya, Mas. Udah hampir dua tahun Dul bungkam. Kalau Annisa udah punya pacar atau semisal udah menikah, aku enggak apa-apa. Atau misalnya Dul yang punya pacar, aku juga enggak akan maksa. Hampir dua tahun ini Dul mau mengejar Annisa juga enggak bisa karena sekolah di asrama. Aku cuma mau tau kabar anak perempuan yang sering aku kasih lauk-pauk. Aku udah jatuh sayang, Mas. Kasian Nisa, ibunya, kan, udah enggak ada. Nisa udah kuanggap anak perempuanku sendiri.” Lagi-lagi Dijah tak mampu menahan laju air matanya. Ia duduk di tepi ranjang dan kembali tersedu-sedu.
Bara baru pulang kerja dan bahkan belum sempat berganti pakaian. Ia sudah berdiri di dekat ranjang memeluk istrinya yang sedang bersedih memikirkan putra sulung mereka. Manusia memang sulit menghindari kerapuhan hati karena pertambahan usia.
“Kamu mau tau Annisa di mana? Yakin kalau udah tau kabar Annisa kamunya enggak makin sedih? Siapa tau Annisa udah punya pacar? Atau memang Dul yang memberi jarak?”
Dijah melepas pelukan Bara dan bicara dengan dengan sesegukan. “Abdullah itu anakku, Mas. Sama kaya Mima dan Ibra. Aku selalu mengenal anak-anakku dengan baik. Nada bicara Dul enggak bisa menyembunyikan kalau dia juga sedih. Walau ngomongnya disemangat-semangatin gitu? Aku tetap tau kalau dia lagi sedih.”
Bara akhirnya ikut duduk di sebelah Dijah. “Penyematan wing penerbang Dul masih minggu depan, kan? Kita masih punya beberapa hari buat nyari kabar Annisa. Mas masih mikir-mikir bakal minta temani siapa. Mas enggak bisa sendirian. Harus ada anak muda yang bantu Mas buat tanya-tanya Annisa. Enggak lucu kalau Annisa dikira macam-macam karena yang nyariin bapak-bapak beruban.”
“Beruban? Memangnya kenapa? Mas beruban tapi masih ganteng, kok. Enggak ada yang berkurang.” Dijah langsung berdiri meluruskan kemeja Bara dan berjinjit merapikan rambut pria itu. “Setiap saat, setiap waktu dirawat dengan baik. Disayang-sayang, diurusi, bagian mana yang gantengnya berkurang?” Seakan benar-benar tersinggung ketika diingatkan soal uban suaminya.
“Kamu bukan enggak ngerti maksud omongan Mas tadi, kan?” Bara memegang bahu Dijah agar wanita itu berhenti berpura-pura sibuk.
Dijah mengusap bagian depan kemeja Bara dengan sangat perlahan. “Cari tau kabar Annisa, Mas. Setidaknya buat aku.”
Bara menarik Dijah dalam dekapan. “Kalau udah begini Mas Bara paling enggak bisa menolak. Mulai besok Mas cari tau kabar Annisa.”
“Itu mobil ayahnya Dul, kan? Ngapain sampai jemput kau ke sini? Udah kayak Pangeran William pula kau. Harus kali dijemput ke rumah.” Mak Robin menyibak kain jendela untuk melihat mobil Bara.
“Kami ada misi. Karena statusku enggak ada cewek yang harus kuurus, mending aku ikut muter-muter sama Ayah Bara.” Robin duduk di kursi teras memakai sepatunya.
Pak Robin ikut menyusul ke teras. “Jadi, udah gak ada cewekmu? Jomlo kau sekarang? Kau turunkanlah standar kau,” kata Pak Robin sambil berkacak pinggang.
Robin berdiri menggeleng-geleng. “Ckckck. Masih pagi dah cakap standar. Aku enggak punya standar kayak Mamak. Ya, kan, Mak?” Robin mengedipkan sebelah matanya pada Mak Robin yang mengintip dari jendela.
“Mamak kau gak punya standar? Kok, tersinggung kali aku dengarnya.” Pak Robin mendengkus sedikit kesal.
Mak Robin terkekeh-kekeh. “Kau tengok pintarnya anakku, Pak? Itulah genetik IQ unggulan dari Samosir.”
“Ke mana cewek kau? Bisa pula udah lama pacaran malah putus. Biasanya lama pacaran bisa melenggang ke pelaminan.” Pak Robin masih merasa kesal dengan anaknya.
“Iya…iya. Geram kali aku sama si Duma. Sikit-sikit bilang kalo aku gak ada kaki. Belilah kaki, katanya. Kepingin dia boncengan naik kereta (motor). Gak dianggapnya mobil pickup aku itu sebagai kaki. Selalu minta kaki roda dua. Udah palak kali aku sama dia, kusuruh dia pacaran sama kaki seribu. Biar pande dia bersyukur. Kaki seribu kan, banyak kakinya.”
(kaki \= kendaraan)
“Bah!”
“Udahlah, Pak. Aku pigi dulu. Itu Ayah Bara udah lama nungguin.” Robin melambai-lambai ke mobil Bara yang sejak tadi parkir dengan sabar di luar pagar. Robin berlari kecil menghampiri mobil Bara. “Halo, Ayah Bara …. Apa cerita? Kenapa sampe jemput aku Kebetulan kali aku lagi gak ada kerjaan hari ini.” Robin bicara sebelum naik ke mobil.
“Udah, naik sekarang. Basa-basinya dilanjut di dalem aja.” Mima bicara dari sebelah Bara.
“Ya, udah. Naiklah aku. Kalo udah Mima cantik yang cakap, langsung meresap sampe ke sum-sum tulang. Tak sanggup berkata tidak. Itung-itung bisa sekalian mendekatkan diri sama Mima dan Ayah Bara.” Robin membuka pintu penumpang dan pandangannya langsung beradu dengan Putra dan Yoseph.
“Mendekatkan diri bersama kami juga, Bin. Ada aku dan Yoseph.” Putra mengulas senyum lebar yang mengesalkan Robin.
“Bah! Apa cerita? Kenapa kita dikumpulkan semua?” Robin menepuk paha Putra.
“Kita mau nyari Annisa. Kayanya udah lama enggak kontak dengan Dul.” Putra memandang Bara melalui kaca spion menunggu pria itu melanjutkan penjelasan.
“Iya, Bin. Hari ini kita jalan-jalan buat cari Annisa, ya. Katanya dia masih di kota ini, kok. Masih di universitas lama ngambil spesialis. Kita jalan sekarang, ya.” Bara mulai melajukan mobil.
“Ah, seriuslah sikit, Ayah Bara. Dul gak pernah cerita-cerita soal Annisa sama kami. Kukira dia baik-baik aja sama ceweknya. Rupanya sebelas dua belas juga nasibnya samaku. Amangoy ….” Robin menggeleng-geleng tak percaya dengan hal yang baru didengarnya.
To be continued