
Entah berapa lama Dul mendekap guling dan menekan wajahnya meredam suara. Tangisannya lebih lama dari yang ia duga. Sedikit demi sedikit simpulan di hatinya terasa terurai. Suara sekitarnya perlahan senyap dan lama-kelamaan ia tak lagi merasakan tepukan pelan di bahunya. Mungkin karena hari yang membuat penat pikiran dan tubuhnya, Dul tidur tanpa mimpi malam itu.
Dul berbalik melongok pintu. Menyadari kalau ibunya sudah tak berada di sebelahnya. Pasti Bara yang meminta ibunya berpindah kamar saat mereka sudah terlelap. Dul menyungging senyum. Teringat cerita Bara soal ibunya yang selalu gelisah ketika usia kandungan semakin besar. Berkali-kali berbalik untuk berpindah posisi. Sampai-sampai Bara sering dibangunkan hanya untuk berpindah ke sisi yang lain. Jadi, Bara pasti khawatir ibunya lupa sedang berbaring di kamar mana.
Suara-suara khas dapur di pagi hari terdengar sampai ke kamarnya. Suara sutil beradu dengan penggorengan, suara kran bak pencuci piring, juga suara piring yang disusun di meja makan. Dul meregangkan tubuhnya. Hari yang baru sudah tiba, pikirnya. Ia tak akan bertanya apa-apa lagi. Kemarin malam, ia dan ibunya sudah sepakat melupakan semuanya.
“Bisa samaan bangunnya,” ujar Bara saat melihat Dul dan Mima bersamaan keluar kamar.
“Siapa yang duluan mandi?” tanya Dul pada Mima.
“Mas aja,” jawab Mima dengan suara parau. Gadis kecil itu langsung menuju Bara dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan. “Mau nasi goreng enggak pedes,” ucap Mima.
Bara mengangkat Mima untuk duduk di pangkuannya. “Itu nasi goreng enggak pedesnya udah selesai. Mau mandi dulu atau makan?” tanya Bara.
“Makan aja,” jawab Mima.
Dijah muncul dari depan dan langsung berbelok ke kamar Dul. Beberapa saat di dalam kamar Dul, lalu keluar lagi dan masuk ke kamar Mima.
“Mandi, ya. Ayo, mandi di kamar Ibu. Biar makannya lebih enak.” Dijah mendatangi Mima dan mencubit pelan pipi gadis kecil yang kembali memejamkan matanya di pelukan Bara.
“Mmmm….” Mima bergeming, seolah melanjutkan tidur.
“Masih mau tidur, ya?” tanya Bara, mengecup kepala Mima.
“Ayo, mandi. Biar cantik,” kata Dijah, menggamit lengan Mima agar turun dari pangkuan Bara.
Mima turun dan menyeret langkahnya mengikuti Dijah. Bara tertawa kecil karena tangan Mima melepaskan ujung kemejanya cukup lama.
Masa tahun pembelajaran sudah selesai. Semua anak sekolah sedang bersantai. Sebagian besar sudah menerima rapor dan bersantai menikmati libur di rumah. Ujian masuk penerimaan SMP akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Dan bukannya bisa bersantai, Dul malah semakin disibukkan dengan model soal baru yang dibawa Bara dari kantor.
Mima berlari dari kamar dengan rambut basah dan wajah dipenuhi bedak. Biasanya gadis kecil itu memang sulit diminta mandi pagi, tapi akan selalu keasyikan tiap sudah bermain air hangat.
“Udah seger, makan nasinya,” kata Bara, menyodorkan piring Mima yang sudah diisi nasi goreng tidak pedas oleh Mbok Jum.
“Ayo, maem yang banyak. Biar cepat besar. Kan mau SD,” kata Mbok Jum pada Mima.
“Jah, nanti aku pulang kerja mampir ke kantor Mbak Fifi, ya. Nemenin Mas Heru. Entah acara apa aku juga enggak tau. Tapi enggak bakal lama, Dul juga harus latihan soal-soal,” jelas Bara, mengusap lengan Dijah yang duduk di sebelahnya mengisi piring dengan secentong nasi.
“Di kantor Mbak Fifi pasti banyak cewek-cewek cantik,” kata Dijah.
“Tenang aja. Enggak bakal ada yang ngeliatin Mas kalau jalan sama Mas Heru,” seloroh Bara.
Dul yang baru tiba di meja makan ikut tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Ada benarnya, pikir Dul. Ayahnya yang kalem memang sedikit kurang terlihat jika berdampingan dengan Heru yang ramai. Tapi, bagi Dul di sanalah letak pesona ayahnya. Tenang dan terlihat tidak terlalu peduli dengan sekitar. Meski aslinya ayahnya hangat dan peka.
“Ya enggak apa-apa. Cemburu itu berarti cinta,” jawab Dijah.
“Berarti Ibu cinta Ayah,” cetus Mima.
Bara tergelak. “Iya…iya. Udah dua orang wanita yang ngomong, saatnya Ayah mengalah dan pergi kerja. Ya kan, Dul?”
Dul hanya tersenyum-senyum seraya mengunyah nasi. Benar-benar hari baru, pikirnya. Tak ada lagi yang membicarakan perihal kemarin dan kemarinnya lagi. Semua sudah selesai dan seperti kata ibunya. Mereka bisa melupakan.
“Ibu nganter Ayah ke depan. Mima abisin nasinya. Enggak boleh makan es krim kalau belum makan nasi,” kata Dijah, bangkit dari kursi sambil berpegangan lengan Bara.
Dul mengamati ayah-ibunya yang berjalan ke depan sambil berangkulan satu sama lain. Biasanya Bara akan menyalakan mobil lebih dulu dan menunggu beberapa saat sambil memeluk Dijah di ambang pintu. Mendengar keluhan-keluhan kecil serta himbauan untuk tidak pulang terlalu lama.
“Pinggangku jam segini enggak sakit, tapi kalau mau tidur malam, sakitnya luar biasa. Bikin enggak enak tidur,” keluh Dijah dengan dua tangannya melingkar di pinggang Bara.
“Iya, Mas tau … yang sabar. Sebentar lagi lahiran. Tasnya buat ke rumah sakit udah Mas taruh di bagian belakang mobil. Kamu tinggal duduk santai aja. Lahiran dengan selamat, sehat dan bisa menyusui bayi laki-laki ini.” Bara mengusap-usap perut Dijah yang memejamkan mata menghirup aroma parfum di kemejanya.
Begitulah pemandangan yang diinginkan Dul. Wajar, tidak macam-macam dan seperti pada umumnya. Ia memang tidak suka sesuatu yang berlebihan. Semua hal memang sudah sepatutnya dalam porsi masing-masing. Ia dan ibunya bisa hidup tenang meski harus sedikit jauh memutari jalan.
Dan tes penerimaan SMP itu pun akhirnya tiba. Dijah sudah merengek dari sehari sebelumnya untuk ikut menunggui Dul. Kali itu, Bara menolak permintaannya.
Seperti layaknya Mima, Dijah terus menggerutu sambil menyiapkan bekal. Bara terlihat cuek saja. Dan Dul mengerti betul kalau sekali ayahnya sudah mengatakan tidak, jawabannya akan tetap tidak. Walau penolakan itu akan sangat halus dalam penyampaiannya. Dalam hal itu, Dul menyadari kalau Bara sangat meniru sikap Pak Wirya yang tidak pernah kentara menyampaikan ketidaksetujuannya.
Dul dan Bara sudah berada di teras. Bara menyalakan mobil dan meletakkan ranselnya. Setelah kembali mengingatkan semua kebutuhan untuk menjalankan tes, Bara meminta Dul masuk ke mobil lebih dulu.
Sebenarnya tanpa diminta pun, Dul sudah pasti meninggalkan Bara di teras untuk menunggu Dijah keluar rumah dengan macam-macam keluhan dan pesan.
Pagi itu Dijah keluar dengan sekotak bekal berisi sarapan yang tidak dihabiskan. Mima mengekori dengan mainan di tangannya. Setelah mendapat ciuman lebih dulu, Mima langsung melesat kembali ke dalam rumah. Giliran Bara memeluk Dijah dan menunggu wanita itu berjinjit mencium dagunya.
Di dalam mobil, Dul tertawa kecil. Ia tidak tahu bagaimana ibunya bisa berubah banyak sejak menikah dengan ayah sambungnya. Ternyata, ibunya juga bisa manja seperti Mima.
Dengan kaca mobil yang setengah terbuka, Dul bisa mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Masih membahas topik kemarin ternyata. Soal ibunya yang ingin ikut, tapi tetap tak diperbolehkan. Lalu, entah apa kelanjutan pembicaraan itu. Ibunya mendekati mobil dan mengetuk kaca.
“Jangan kasi Ayah turun dan duduk di warung, ya Dul ….”
Dul mengangguk dan melontarkan senyum pada Bara yang berada di belakang Dijah.
Bara menyusul masuk ke mobil dengan wajah meringis. “Iya…iya, makin cerewet aja,” sahut Bara, membuka kaca dan mencubit pipi Dijah.
To Be Continued