
Seharusnya waktu setahun itu bisa berjalan sangat lama. Terlebih kalau ditunggu atau dinanti-nantikan. Kenyataannya, Maospati Magetan mengambil sebagian besar perhatian dan waktu seorang Abdullah. Menjadi penerbang tempur di Skuadron Udara 14 adalah hal impian sebagian besar lulusan Akademi Angkatan Udara. Jelas saja hal itu menjadi impian dan kebanggaan karena memang bukan hal yang mudah.
Tak hanya butuh kemampuan yang tinggi, para calon penerbang pun membutuhkan keberuntungan yang tinggi pula untuk bisa melewati tiap prosesnya. Syukurnya, Dul berhasil melewati masa-masa cinta pertamanya bersama pesawat F-5 Tiger II dengan sangat manis. Ia dipertemukan dengan senior dan mentor yang bisa disebutnya kawan. Bahkan seorang atasan sudah menjanjikan padanya untuk mencoba pesawat tempur F-16 C/D yang merupakan pengganti Sukhoi Su-27/30.
Skuadron Udara Lanud Iswahjudi, Magetan akan selalu Dul ingat menjadi awal yang manis dalam karier penerbangannya. Hal yang sangat berbeda dengan yang ia alami dalam segi percintaan.
Kisahnya bersama Annisa tidak begitu manis. Dalam hitungan sekian-sekian tahun yang mereka jalani kebanyakan diisi dengan menunggu atau lebih tepatnya saling menunggu.
Ciuman tempo hari yang ia lakukan untuk melepaskan rindu sekaligus meyakinkan perasaan Annisa, nyatanya tidak membawa perubahan besar. Bahkan kenaikan pangkatnya menjadi Letnan Satu-pun tidak menggugah wanita itu untuk memenuhi undangan datang ke Magetan. Annisa tenggelam dalam obsesi memuaskan permintaan papanya.
Dalam pesan terakhir yang disematkan Annisa ketika undangan upacara kenaikan pangkat, wanita itu kerap mengatakan, “Bukannya kamu yang minta aku jadi anak yang patuh dengan orang tua? Papaku mau aku jadi dokter spesialis sebelum menikah. Papaku enggak begitu suka dengan pria dari angkatan bersenjata. Apa mungkin Papa berharap kalau aku menikah dengan pria berprofesi sama. Karena kenyataannya enggak semua orang melihat pria berseragam itu keren.”
Kalimat itu terdengar semacam pengusiran buat Dul. Tapi ia juga tahu kalau perkataan Annisa juga tersirat kepedihan hati gadis itu. Terlihat sedang tidak berusaha, nyatanya Annisa belajar keras agar bisa menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang memuaskan. Terdengar sinis tiap berucap, tapi nyatanya Annisa sedang berusaha meyakinkan papanya bahwa kehadiran seorang tentara sudah membawa pengaruh positif buat anaknya. Dul tertegun ketika Annisa mengatakan itu. Apa sikapnya yang tidak menyukai konflik malah membuatnya terlihat seperti pengecut?
Dul memang tak pernah suka keributan. Ia lelah ribut. Tapi yang diinginkan Annisa hanya usaha nyata darinya. Apakah ia bisa berusaha tanpa membuat sebuah keluarga ribut?
Perjalanan kisah cinta Dul itu bergulir sampai mereka kembali melewati waktu dengan status tidak jelas. Pernah ketika Dul mendatangi kos-kosan Annisa dan ada seorang pria yang kebetulan mendatangi gadis itu di waktu bersamaan. Annisa yang ia kira bakal terkejut nyatanya santai saja. Gadis itu dengan lugas mengatakan, “Aku enggak pernah meminta siapa pun datang ke sini. Aku enggak punya hubungan dengan cowo yang datang tadi dan aku enggak merasa harus menjelaskan apa pun ke kamu. Terserah kamu percaya atau enggak. Enggak perlu validasi.”
Pernah juga Dul dan Annisa sedang punya waktu untuk bertemu dan menghabiskan malam minggu dengan duduk di sebuah café malah berakhir dengan pertengkaran. Sebuah pesan dari seorang gadis masuk ketika ponsel Dul sedang berada di tangan Annisa.
“Letnan Abdullah apa kabar? Gimana rawon kemarin? Enak enggak? Kalau suka aku bisa buatin lagi.”
Pesan pendek itu membuat Annisa murka dan malam minggu yang direncanakan dengan susah payah itu menjadi anyep.
“Aku tau kamu banyak penggemar. Banyak yang suka dan banyak cewe yang rela masak atau ngasih kamu ini-itu di sana. Walau belum jelas apa status hubungan kita, tapi kita sama-sama tau soal tujuan hubungan ini. Atau jangan-jangan kamu lupa yang sering kita bicarakan?”
Dul membutuhkan waktu hampir tiga jam untuk menjelaskan pada Annisa bahwa ia tidak memakan rawon yang dimaksud. Ia juga tidak tahu kenapa seorang gadis mengirimi pesan terkait pemberian makanan padanya. Dul berkali-kali mengatakan kalau kos-kosan pria yang ia tempati memang selalu ramai orang keluar masuk mengantarkan makanan. Dul hanya bisa menjawab, “Aku enggak tahu siapa yang iseng ngasih nomor ponselku ke gadis itu. Aku enggak pernah makan rawon pemberian siapa pun. Aku selalu beli.”
Walau akhirnya keributan itu bisa diredakan, namun hubungan jarak jauh tak dipungkiri memang selalu melelahkan. Semuanya harus teruji. Kepercayaan, ketersediaan waktu, kejujuran, konsistensi, kesehatan, juga hati yang tahan banting untuk mempercayai.
Kadang-kadang mereka berdua seperti sama lelahnya. Sama-sama diam tak saling berkabar. Sampai salah satunya rindu lalu datang dan mencari. Begitu saja. Berbaikan, bertengkar, bertegur sapa, lalu diam. Dul banyak membohongi keluarganya untuk itu. Ia selalu mengatakan bahwa hubungannya dengan Annisa baik-baik saja.
Pernah suatu kali teman-temannya bertanya soal kelanjutan hubungan mereka. Topik pembicaraan itu muncul karena selembar surat undangan pernikahan dari Joseph. Entah kenapa semua mata langsung tertuju pada Dul untuk bertanya kapan menyusul.
“Mau dibawa ke mana hubunganmu dengan Annisa? Apa yang bikin kamu yakin sama dia? Apa karena gelar dokternya?”
Kenyataannya, pertanyaan Putra terus terngiang-ngiang di kepalanya. “Apa yang buat aku yakin sama Annisa? Apa yang buat aku yakin bahwa Annisa bisa menjadi pendamping hidupku? Menjadi PIA Ardhya Garini …?”
Bahkan saat mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri, Dul juga masih ragu dengan jawabannya.
Sampai suatu ketika ia bisa meyakinkan dirinya bahwa Annisa adalah gadis yang sudah menjelma menjadi wanita dewasa dan ia butuhkan sebagai pendamping. Annisa selalu kuat dan tegas. Tidak cengeng meski sebenarnya andai Annisa cengeng pun, ia akan memakluminya. Annisa terlahir sebagai bungsu dari keluarga berkecukupan.
Dul masih ingat malam itu. Pada ulang tahunnya yang kedua puluh enam, kala ia dan Annisa sudah menjelma menjadi pria dan wanita dewasa yang mereka rasa berhak menentukan pilihan hidup dan mengambil keputusan. Ia menunda acara makan malam keluarga demi bisa mendatangi Annisa lebih dulu. Ia tidak berbohong pada keluarganya.
Dengan jelas mengatakan pada ayah dan ibunya bahwa ia akan memberi kejutan pada Annisa dengan datang tiba-tiba ke kos-kosan gadis itu. Reaksinya ibunya sudah tentu senang. Hubungannya bersama Annisa turut menjadi penyemangat buat ibunya.
Walau ia yang sedang berulang tahun, tapi kunjungan tiba-tiba itu membuatnya harus membawa sesuatu agar tangannya tak kosong. Ia membeli sebuket bunga dan sekotak cokelat. Malam itu ia ingin mengajak Annisa makan malam di sebuah restoran mewah di dekat sana. Karena belum sempat mampir ke rumah, ia datang dengan sebuah taksi.
Buket untuk Annisa sedang dalam dekapannya sementara ia mengeluarkan ponsel menghubungi gadis itu. Nada tunggu di seberang telepon membuat Dul sendiri merasa tidak enak.
“Enggak mungkin pergi karena barusan dia mengabari udah sampai di kos-kosan. Apa lagi tidur?” Dul bergumam sendirian sampai sebuah mobil datang dan pintu pagar kos-kosan itu terbuka bersamaan.
Dul berdiri mematung karena merasakan adegan di depannya seperti deja vu. Adegan yang sudah pernah ia rasakan. Papa Annisa datang tapi kali ini tidak sendirian. Seorang pria muda ikut bersamanya. Di waktu bersamaan, alam sepertinya sedang ingin menguji kondisi fisik dan psikisnya. Guntur disertai kilat di langit memberinya isyarat bahwa hujan bisa dijadikannya alasan untuk pergi dari tempat itu.
“Aku udah bilang mau belajar, Pa. Enggak lama lagi bakal ada tes. Aku enggak bisa pergi.” Walau menolak, Annisa sudah berpakaian rapi.
“Kamu enggak mau pergi karena mau pergi sama dia, kan? Kamu enggak menghargai orang tua kamu sendiri. Papa sedang bawa tamu, Cha!”
Annisa pun menyadari kehadiran Dul di sudut pagar. “Kapan nyampe?” Suara dan sorot matanya melembut pada Dul. Hal yang membuat papanya semakin berang.
“Sudah hampir hujan, Annisa. Kamu memang enggak mau menemani Papa makan malam?”
Dul melirik kelopak mawarnya yang mulai ditetesi hujan. Di depannya, Annisa sedang dipaksa pergi makan malam dengan pria muda lain yang diperkenalkan papanya. Sedikit sakit, tapi tidak apa-apa. Yang penting ia sudah tahu ke mana hati Annisa pergi.
“Pergi aja. Aku tunggu sampai kamu pulang makan malam sama Papa.” Dul menarik gurat senyum yang menenangkan hati seorang Annisa.
To be continued