
“Ada apa? Penting? Nanti aja bisa?” Dayat tidak benar-benar mengeluarkan suaranya ketika bicara dengan Tini. Hanya mulutnya saja yang bergerak dengan jelas. Tangan kirinya masih memegang piring yang berisi entah apa.
Karena tak sabar, Tini akhirnya berdiri untuk menjemput Dayat dan membawanya duduk. “Makin tua makin sulit diajak ngobrol. Apa salahnya kamu langsung datang kalau dipanggil?” Tini berbisik seraya membawa Dayat ke kursi kosong di sebelahnya.
Di sekitar kursi Tini sudah duduk Mak Robin, Asti dan Boy yang sedang sibuk berkasak-kusuk. Tini sudah mengabarkan ke teman-temannya kalau Dayat yang sekarang sangat sulit dijumpai akhirnya bisa ditemui di pesta pernikahan Dul. Sejak kembali memangku jabatan sebagai orang nomor satu di kantor cabang firma hukum yang membesarkan namanya, Dayat memang kerap sulit ditemui.
“Memangnya mau ngomong apa? Bisa langsung ngomong,” pinta Dayat, menatap isi piringnya dengan sorot khawatir.
Tini ikut melihat apa yang sedang dibawa adiknya dengan sangat berhati-hati. “Serabi? Ini makanan manis. Sejak kapan kamu suka makanan manis? Sini buat aku aja.” Tini memegang tepi piring yang dibawa Dayat. Tapi ternyata cengkeraman Dayat lebih kuat dari dugaannya.
“Kamu bisa langsung ke pokok persoalan. Enggak ada hubungannya dengan piring yang sedang aku bawa ini.” Dayat melepaskan tangan Tini dari tepi piring dan menuruti kemauan kakaknya itu untuk duduk. “Kalau kamu mau serabi, silakan ambil di gubug jajanan nomor dua dari depan di sayap kanan gedung ini. Jangan ganggu yang ini.” Tangan Dayat membuat gesture mengusir. Ia lalu menyilangkan kaki elegan dengan satu tangan tetap memegang piring berisi serabi.
“Temanku dari tadi nanyain kamu. Memangnya kamu duduk di mana? Aku baru mangap mau manggil kamu udah ilang.”
“Aku makan di sebelah sana. Memang sengaja ngasih kamu dan teman-teman kamu waktu. Tapi mereka sekarang lagi asyik ngobrol.” Dayat ikut melongok Mak Robin yang memang sedang asyik berkhotbah.
“Sejak kamu jadi pengacara dan gabung dengan firma si cerewet itu, aku rasa kamu memang enggak ada waktu untuk aku. Terutama untuk Bapak. Setiap diajakin ketemu selalu pakai alasan sibuk. Ke pesta Dul aja ditanyain jawabannya lama … banget. Kayak mau enggak mau.”
“Jangan sebut si cerewet itu begitu, Mbak. Itu atasanku. Tanpa dia aku enggak mungkin seperti sekarang. Dia atasan yang sangat cerdas. Aku udah diberi kepercayaan yang luar biasa; yang bahkan dia enggak beri ke karyawannya yang lain. Kamu enggak boleh gitu. Sekarang angkat dan pandangi jari-jari tangan kananmu.” Dayat melirik tajam pada Tini. Membuat Tini spontan mengangkat tangan kanan dan memandangi jari-jarinya.
“Terus?” tanya Tini setengah bingung.
“Lihat satu cincin yang paling berkilau di sana dan ingat dari mana asalnya,” kata Dayat.
Tini tersadar dengan apa maksud Dayat dan langsung menepuk kaki adiknya. “Barang yang udah dikasih enggak boleh diminta lagi. Nanti gondongan,” sergah Tini.
“Aku enggak bermaksud minta lagi. Tapi kamu harus tahu kalau semua yang aku miliki sekarang itu karena waktu yang sudah aku korbankan di perusahaan. Kita enggak bisa memiliki semuanya sekaligus, Mbak. Uang dan waktu luang. Harus ada yang kita pilih. Kamu bakal punya cukup uang tapi sedikit waktu luang. Begitu pula sebaliknya. Banyak waktu luang dengan sedikit uang.”
“Kok, kepalaku jadi pusing tiap ngomong sama kamu. Aku cuma bilang kamu terlalu sibuk. Tapi anehnya setiap aku ngomong ke Bapak kalau kamu terlalu sibuk, Bapak selalu belain kamu. Katanya udah wajarlah, apalah. Kayaknya anak bungsu memang selalu dibela.”
Dayat menyipitkan mata memandang Tini. Ia lalu menjentikkan telunjuk agar Tini mendekat. “Kamu pernah berpikir kalau anak sulung sudah memiliki segala prestise sejak lahir ke dunia?”
Dayat mengubah letak duduknya menjadi sedikit lebih condong ke Tini. Meski begitu satu tangannya masih tegak memegangi piring berisi serabi. “Kurang mengalah apa, sih, aku? Perabot Ibu semua dinamai dengan nama kamu, Mbak. Pantaat piring ada nama Tini, gelas Tini, sendok Tini. Di tutup dandang ada huruf T besar. Bahkan seisi kampung menyebut nama ibu kita dengan 'ibunya Tini.' Bukan ibunya Dayat atau ibunya Evi. Bukannya itu yang dinamakan prestise anak sulung sejak lahir?”
Tini mundur kembali ke kursinya. Setelah mencerna perkataan Dayat, Tini kembali menegakkan tubuh. Ia lalu melanjutkan, “Dan nama semua hutang piutang juga atas namaku. Bukan nama kamu dan Evi. Mau apa kamu sekarang?” Tini berkacak pinggang.
Dayat cepat-cepat membetulkan letak tangan Tini menjadi tersilang di atas pangkuannya. “Jangan berisik. Ini resepsi pernikahan Dul. Jangan sampai kita merusak harinya.” Dayat mencoba mencubit dagu Tini, tapi kakaknya itu dengan cepat menepis.
“Kamu kira bisa menang dari kakakmu yang wanita ini? Kamu percaya kalau wanita itu kuat, kan? Nyatanya obat kuat memang cuma dijual untuk pria. Nggak ada tuh obat kuat wanita.” Tini lalu tertawa terbahak-bahak. Kali ini Dayat berhasil menutup mulut kakaknya. “Lepasin. Makeup-ku ini mahal. Aku bangun dini hari demi konde ini.” Tini menyingkirkan tangan Dayat dari mulutnya.
“Aku udah bilang jangan berisik. Nanti teman-teman kamu merhatiin kita. Aku bukan anak kecil lagi, Mbak. Aku tiga puluh tujuh tahun. Udah saatnya kamu sadar kalau adikmu ini udah jadi pria dewasa. Bukan anak laki-laki yang setiap sore ngajak semua mendiang Puput jalan-jalan.”
“Kalau gitu wajar, kan, aku nanya kapan kamu nikah? Aku iri liat Dijah duduk di pelaminan. Mumpung aku bisa dandan secantik ini. Mumpung aku masih kuat jabatin tangan tamu seharian. Mumpung aku kuat begadang ngitung amplop, mumpung Bapak masih ada. Kapan nikah, Yat?”
“Kamu resepsi lagi dengan Mas Wibi. Atau Banyu Bumi kamu suruh cepat-cepat nikah. Jangan minta orang lain mewujudkan impian yang tidak bisa kita wujudkan.” Dayat menjawab acuh tak acuh.
“Ya ampun … astaga. Sombongnya …. Sebenarnya kamu ada apa dengan Mima? Aku udah lama curiga. Tapi aku males nanya-nanya itu di depan Mas Wibi. Aku enggak mau kamu bikin kekacauan dalam persahabatanku dengan Dijah, Yat. Kamu jangan kayak predator anak. Mima itu udah kamu gendong-gendong dari balita.”
Dayat kembali menegakkan tubuh dan menyilangkan kakinya dengan elegan. Mendengar peringatan dari kakaknya, Dayat merasa ikatan dasinya terlampau ketat. Ia mengendurkannya sedikit. “Mima sekarang dua puluh satu tahun. Udah dewasa. Lagian aku enggak ada apa-apa sama Mima. Dia mahasiswi yang minta bantuan bikinin tugas. Kami cuma berhubungan sebentar dan sekarang udah enggak ada lagi. Lagian aku punya seorang dua orang wanita yang sedang dekat. Enggak cuma Asih yang sering kamu sebut-sebut.”
“Bener ya, Yat. Kamu harus janji jangan sampai ada apa-apa dengan Mima. Kamu harus ingat kalau Mas-nya itu Angkatan Udara. Tentara, Yat,” kata Tini.
“Kamu juga jangan lupa kalau aku adalah seorang praktisi hukum. Aku dan Dul sama-sama penegak hukum sebenarnya.” Dayat menelengkan kepala ke arah Tini dan menaikkan alisnya.
“Kamu ingat pertama kali kenal Dul?” Tini memandang ke arah pelaminan.
“Ingat …. Waktu itu aku dan Mbak Evi pertama kali ke Jakarta. Aku ketemu Mbak Dijah yang bawa Dul. Tapi di antara begitu banyaknya momen ketemu Dul, ada satu momen yang paling aku ingat.”
“Yang mana?” Tini kembali menggeser duduknya mendekati Dayat.
To be continued