
Di pesawat, Annisa duduk di dekat jendela. Dalam satu deret kursi itu ia dan Mima berdua saja. Kursi yang di sebelah lorong kosong tak ada orang. Sedangkan Bara, Dijah dan Ibra duduk di deretan seberang mereka. Pagi itu ia dan Mima tak banyak bicara. Mima yang biasanya ceriwis lebih banyak diam. Sebenarnya sangat cocok sekali. Ia sendiri pun sedang tak ingin banyak bercerita. Pergi ke Jogja menjadi sebuah kewajiban yang canggung.
Statusnya sekarang bukan kekasih Dul. Ia dan sosok pria berpangkat Letnan Dua Penerbang itu sedang dalam status menggantung. Ia masih marah dan kesal dengan Dul. Tapi ia juga tak ingin melewatkan satu momen penting lainnya dalam hidup pria itu. Jika sebelumnya ia hadir dalam upacara kelulusan di AAU, kali ini pun ia tak mau melewatkannya. Bukan hanya karena ingin berbicara empat mata dengan Dul, ia juga penasaran soal prestasi apa yang ditorehkan pria itu saat ini.
Di Jogja, Annisa mendapat kamar yang sama dengan Mima. Sehari sebelum acara kelulusan Dul di Sekolah Penerbang digunakan mereka untuk berisitirahat.
“Mbak, Ayah ngajak makan ke restoran. Satu jam lagi kita diminta turun,” pesan Mima sambil mengetuk pintu kamar mandi. Annisa berteriak mengiyakan dari dalam.
Annisa awalnya mengira Dul akan hadir saat makan malam sebagai kejutan buatnya, nyatanya ia harus kecewa karena ekspektasinya sendiri. Jelas sekali semuanya berusaha santai. Bara bercanda bersama Ibra dan selalu melibatkan Annisa dan Mima. Sedangkan Dijah yang keibuan sibuk memesan menu untuk semua anggota keluarganya. Termasuk Annisa. Bedanya, Dijah masih bertanya selera Annisa yang mungkin berubah dalam tempo waktu mereka tidak bertemu.
“Besok yang masangin wing-nya Dul, aku aja ya, Mas.” Dijah tiba-tiba membuka obrolan soal Dul. Annisa langsung menoleh.
“Iya. Cukup itu aja? Pokoknya semua untuk Ibu. Benar begitu, kan, Nisa?” Bara tertawa renyah memandang Annisa.
Annisa ikut tertawa. Melemparkan pandangan sendu dan haru pada sepasang orang tua yang kompak memberikan kasih sayang paling lengkap dan terbaik buat anak-anaknya.
“Aku cuma minta masangin wing aja, Mas. Bukan semuanya. Dul udah dewasa. Bikin malu aja,” kata Dijah, menepuk lengan Bara disertai lirikan pada Annisa.
Dengan suasana sehangat dan seceria itu harusnya keesokan hari upacara penyematan wing itu menjadi hari yang membahagiakan. Apalagi ditambah dengan kehadiran Annisa yang sejatinya merupakan hadiah Bara dan Dijah untuk Dul.
Kenyataannya, Dul memang terkejut. Tapi keterkejutan itu diikuti dengan suasana tak enak yang merambat dengan cepat. Tatapan mata Perwira Pertama itu seakan tidak mampu berdiam terlalu lama pada Annisa.
“The Best Fixed Wing?” Bara membelalak dan memeluk Dijah yang belum terlalu mengerti situasi yang terjadi. “Dul jadi penerbang Fixed Wing terbaik di angkatannya, Jah. Fixed Wing itu jurusan tempur. Dul luar biasa!” Pekikan Bara terdengar ke telinga semua anggota keluarga. Termasuk Annisa yang sejak tadi memandang Dul dengan segurat senyum tipis yang canggung.
“Selamat ya, Mas. Mas memang selalu keren!” Mima menggandeng Ibra dan membawa adik laki-lakinya itu untuk bebarengan memeluk Dul.
Dijah hanya mampu mengusap air mata yang sulit dihalau meski sebenarnya ia khawatir tampilan cantik yang didapatnya dari salon di dekat hotel bisa luruh bahkan sebelum Dul sempat memujinya. Dalam keharuan itu, Annisa berjalan santai menggandeng Dijah mendatangi anak sulungnya.
“Selamat, Mas Abdullah,” ucap Annisa dengan suara tercekat. Suaranya hanya sampai tenggorokan saja. Ia menunduk dengan satu tangannya masih melingkar di lengan Dijah.
Setelah memastikan bahwa air matanya tidak akan keluar, Annisa mendongak dan mengulurkan tangan pada Dul. “Selamat, Abdullah,” ulang Annisa sekali lagi.
“Benar-benar kejutan,” sahut Dul, langsung membalas jabat tangan Annisa dan menggenggamnya cukup lama.
“Ibu mau pasang wing. Ibu yang masang,” terang Annisa. Berusaha mengalihkan tatapan Dul ke hal yang lebih penting lagi saat itu. Ibu yang sedang menotol-notol wajahnya dengan tisu dan sedang bersiap-siap hendak menyematkan wing di pakaian biru muda anaknya.
“Mas Dul,” ucap Dijah, tercekat.
“Iya, Bu,” sahut Dul.
“Mas Dul makin gagah ya, Nisa.” Dijah mengusap air matanya. Mengerling Annisa sekejab untuk memastikan reaksi gadis itu masih seperti yang ia harapkan. Nyatanya, Annisa malah menunduk. Seakan menghindar untuk bertatapan langsung dengan Dul.
Dalam gegap gempita kebahagiaan itu, kemurungan menghampiri Dijah. Hubungan anaknya memang sedang tidak baik-baik saja. Kesediaan Annisa ikut ke Jogja mungkin hanyalah wujud sopan santun gadis itu pada mereka.
Dijah meraup tubuh Dul dalam pelukan. Air mata kebanggaan, hari dan ikut bersedih atas apa yang terjadi dalam hubungan anaknya luruh menjadi satu. “Ibu senang, Mas. Ibu bangga. Maaf, Ibu baru tau sekarang kalau Mas dan Nisa enggak sama-sama lagi. Maafin kalau Ibu lancang bawa Annisa ke sini. Ibu enggak tau entah Mas Dul atau Nisa yang enggak berkenan atas pertemuan ini.” Dijah berbisik sambil terisak.
“Aku dan Nisa baik-baik aja, Bu,” sahut Dul, mengeratkan pelukannya di tubuh Dijah.
“Jangan bohong,” ucap Dijah, masih sesegukan. Ia lalu melepaskan pelukan. Dengan titik air mata yang tersisa, Dijah menyematkan wing penerbang di dada kiri putranya.
“Selamat Mas Dul,” kata Bara, menyentuh wing penerbang Dul. “Pangkat Perwira sudah di pundak, brevet Penerbang TNI Angkatan Udara tersemat di dada Letda Penerbang Abdullah Putra Satyadarma. Sesudah itu pasti ada harapan lain yang mau diraih.” Bara mengucapkannya dengan sangat lantang. Tangannya sambil merapikan bagian depan seragam biru yang dikenakan Dul.
“Makasih, Ayah,” sambut Dul.
“Siswa terbaik. Selalu …,” ucap Annisa dengan sorot mata tulus.
“Makasih. Makasih udah ikut ke sini,” sahut Dul sebelum Mima menarik seorang fotografer ke dekat mereka.
“Kita foto sekarang…kita foto sekarang. Boleh, ya? Ini udah panas.” Mima menyipitkan mata.
“Mas Dul semakin hari semakin ganteng. Aku semakin hari semakin enggak tau cita-citaku apa.” Ibra memeluk Dul dan menenggelamkan wajah di dada kakak laki-lakinya.
“Nanti kalau udah besar pasti tau mau jadi apa,” jawab Dul, mengusap-usap punggung adiknya.
“Mas kapan punya cita-cita jadi tentara?” Ibra masih mendongak memandang Dul.
“Waktu Mas masih SD.” Dul mengangkat Ibra ke dalam gendongannya.
“Aku baru tamat SD. Cita-citaku belum ketemu juga.” Ibra menggeleng sedih seraya melingkarkan tangannya di leher Dul.
“Ayo, foto! Selesai foto kita makan!” teriak Mima.
Semua yang mendengar serentak melihat fotografer yang sudah mulai memberi arahan. Awalnya foto itu hanya foto Dul sendiri diapit kedua orang tua. Lalu menyusul foto sekeluarga yang ditambah Annisa. Kemudian, di petikan terakhir Mima memaksa Dul dan Annisa untuk foto berdua. Meski kaku dan bermimik wajah seperti pasfoto, sepasang mantan kekasih itu akhirnya memiliki foto berdua juga.
“Jangan cemberut aja. Kalau jadi sampai ke pelaminan, apa enggak nyesal kalau foto hari ini jelek?” Mima berbisik di tengah-tengah Dul dan Annisa yang masih berdiri kaku.
Selesai berfoto, di kala Mima sibuk memperlihatkan hasil jepretannya pada Bara dan Dijah, Dul sedikit bergeser ke dekat Annisa.
“Makasih udah dateng,” bisik Dul.
“Iya. Enggak masalah. Aku juga senang,” jawab Annisa dalam bisikan.
“Gimana? Mmmm … harusnya setahun lagi, kan?” Dul sangat percaya diri kalau Annisa mengerti apa yang ia maksud.
Annisa menggeleng. “Maaf. Enggak bisa. Enggak semua hal bisa berjalan seperti rencana kita.” Annisa tersenyum kecut.
Susah payah Dul menelan ludah. Kenyataan siang itu sangat menampar. Harusnya, setahun lagi ia sudah bisa mewujudkan janji melamar Annisa sebagai istri. Tapi senyuman kecut wanita itu menegaskan kalau permintaan maafnya dua tahun yang lalu tidak pernah diterima.
To be continued