
Hati Dul terasa sangat lapang. Seakan beban yang mengimpitnya terangkat karena percakapan mendalam bersama Pak Wirya menjelang siang tadi. Mereka duduk mengitari meja makan dan bercakap-cakap ringan seolah tak terjadi sesuatu apa pun. Kecanggungan Dul mulai terurai. Dan sisa siang itu ia melupakan soal pelariannya kemarin malam.
Menjelang sore, suara pintu pagar terdengar diseret. Mengikuti kebiasaannya selama ini, Dul berlari kecil menghampiri pagar. Ayahnya muncul dengan senyum lebar.
"Ayah laper. Uti masak enggak?" tanya Bara. Sebelum pulang ke rumah, Pak Wirya sudah menghubunginya perihal Dul. Hatinya lega luar biasa. Ditambah kontraksi Dijah yang lenyap dan bisa dinyatakan pulang dengan dibekali dua macam obat, Bara juga merasa tubuhnya lebih ringan.
"Uti masak soto Betawi," jawab Dul. Di meja makan tadi ia menyadari kalau ternyata soto Betawi bukan hanya sekedar contoh bahan cerita Pak Wirya. Tapi memang masakan yang sudah siap disantap.
Bara memasukkan mobil ditunggui oleh Dul yang berdiri di ujung pagar. Setelah mobil parkir sempurna, Dul mendorong pagar dan kembali meletakkan pengaitnya. Dijah keluar setelah pintu bagian penumpang dibukakan Bara. Tertatih memegangi perutnya dengan senyuman berarti segala macam isi hati yang ditahankannya sejak tadi.
"Udah makan?" tanya Dijah, menyisir rambut Dul dengan jemarinya. Kini ia harus mendongak untuk menatap wajah Dul lebih jelas. Anak laki-laki itu benar-benar sudah tumbuh tinggi.
"Udah makan. Mima juga udah makan. Uti masak soto enak. Ayo, Ibu juga harus makan. Biar adiknya sehat," ajak Dul, menggandeng tangan ibunya menuju ke dalam. Langsung ke ruang makan.
Dijah belum mengetahui cerita panjang soal perubahan suasana yang kembali normal itu. Ia duduk di ruang makan dengan Dul yang mengambilkan piring dan mengisi nasinya. Hanya ada ia dan Bara di ruangan itu. Pak Wirya dan Bu Yanti terdengar sedang meladeni ocehan Mima di ruang keluarga.
Menjelang sore itu, Dul meladeni Dijah dan Bara di ruang makan. Dengan cekatan menyendokkan soto ke dua mangkuk yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Menyodorkan tempat sendok dan meminta kedua orang tuanya untuk segera makan.
"Makasih, ya. Capek Ayah jadi berkurang karena diladeni gini," ucap Bara.
Dul mengangguk seraya menarik satu kursi di sebelah kiri Bara. "Maafin aku, Yah, Bu. Lain kali aku enggak akan kayak gitu lagi."
"Maafin Ibu juga," ucap Dijah pelan. Tiba-tiba ia merasa tercekat dan sulit menelan kuah soto yang baru disendokkannya. Jangan sampai ia kembali menangis, pikir Dijah. Semua sudah baik-baik saja dan akan baik-baik saja.
Bara sudah mengatakan hal itu sepanjang perjalanan mereka. "Ayah bilang, orang tua juga bisa salah. Kalau kita salah, ya kita harus minta maaf. Jadi, anak-anak lebih merasa dihargai. Anak-anak juga bakal sadar kalau kita juga memikirkan soal mereka."
Dijah hanya melamun mendengarkan perkataan Bara. Sudah banyak sekali yang didengarnya sejak kemarin. Memaafkan Fredy. Meminta maaf pada anak jika berbuat kesalahan atau menyakiti hati rapuh mereka. Hidup memang tak luput dari salah, batinnya.
Merasa kalau keluarga Bara membutuhkan waktu berkualitasnya sendiri, Pak Wirya dan Bu Yanti berpamitan sore harinya.
"Kenapa enggak nginep lagi, Kung?" tanya Dul di ambang pintu.
"Akung lupa bawa buku. Biasanya sebelum tidur Akung selalu baca buku biar cepat ngantuk. Kemarin malam jadi kelamaan tidurnya," kata Pak Wirya.
"Kenapa enggak baca buku Ayah? Ayah juga banyak buku," tukas Dul.
"Banyak, sih. Tapi beda genre, beda seleranya. Lain kali kalau mau nginep di sini, Akung bakal bawa buku. Lagipula...kamu harus siap-siap buat ikut tes masuk SMP. Inget pesan Akung, apa pun hasilnya kamu tetap harus berusaha semaksimal mungkin." Pak Wirya memijat-mijat pundak Dul dengan lembut.
"Malam nanti kita buka website-nya dan kita daftarkan sama-sama. Ingetin Ayah, ya." Bara merangkul Dul sampai di pagar. Berdiri menunggu taksi berhenti sempurna di depan rumah.
Dul melangkah membukakan pintu taksi buat Bu Yanti. Pak Wirya terkekeh-kekeh senang dengan perubahan Dul. Sore itu mereka berpisah dengan selesainya satu masalah yang paling utama. Yaitu, membuat Dul menerima siapa dirinya.
"Benar ternyata. Kenapa selama ini aku enggak merhatiin. Dul memang anak ibu. Nama bapaknya enggak tercantum," gumam Bara, menatap selembar akte kelahiran bertuliskan nama 'ABDULLAH'.
Pikirannya sedang mengingat-ingat saat pertama kali mendaftarkan Dul masuk SD. Ia mengisi formulir tanpa melihat dengan teliti fotokopi berkas yang dibawanya. Ia dengan cepat menuliskan namanya sebagai ayah Dul dan menandatangani semua formulir saat itu.
Setelah men-scan semua dokumen untuk keperluan pendaftaran SMP, Bara memasukkan semua berkas dan ia bawa ke kamarnya. Untuk saat itu ia tak mau Dul melihat berkas itu. Belum waktunya. Nanti saja, pikir Bara.
Di meja belajar Dul belum terdapat komputer. Untuk keperluan belajarnya selama ini, Bara memberikan Dul sebuah laptop lamanya yang masih bisa beroperasi dengan baik. Laptop itu menemani Dul selama tiga tahun terakhir untuk menyelesaikan mata pelajaran komputer dari sekolahnya.
"Aku cariin di luar. Ternyata Ayah di sini." Kepala Dul menyembul dari luar kamarnya. "Kita daftar sekarang?" tanya Dul berdiri di belakang Bara. Ikut menatap layar laptop yang menyala.
"Mmmm...jangan marah, ya. Ayah udah daftarin kamu barusan. Lihat ini," kata Bara, meng-klik tombol 'download' dan sejurus kemudian sebuah halaman baru terbuka.
"Enggak...enggak marah. Asyik! Aku malah senang kalau udah didaftarin. Kalau gitu aku tinggal dateng dan ikut tes aja, kan?" tanya Dul, memijat-mijat Bahu Bara yang duduk menghadap laptop.
"Iya. Tinggal dateng aja ikut tes. Kok bisa sesenang itu, sih? Kirain tadi kepengin daftar sendiri. Ketik-ketik nama sendiri." Bara mendongak ke belakang untuk menatap Dul.
Dul tergelak. "Soalnya mau ngelanjutin main monopoli sama Mima. Aku lagi kalah sama Mima. Dia sombong. Aku jadi penasaran mau kalahin dia lagi," terang Dul. "Aku lanjut main lagi, ya." Dul berjalan keluar kamar.
"Siapa yang jadi bank-nya?" teriak Bara.
"Ibu ...," sahut Dul dari luar kamar.
Senyum Bara merekah. Sudah cukup, pikirnya. Keadaan yang sedang berlangsung saat itu sudah cukup membuatnya bahagia. Anak dan istrinya bermain bersama tertawa-tawa tanpa memiliki kekhawatiran. Ia hanya ingin keadaan itu berlangsung seterusnya.
Getaran di meja belajar Dul membuat Bara terhenyak. Panggilan masuk ke ponselnya dan nama Heru tertera di layar. Sepertinya ia tahu apa yang akan disampaikan kakak sepupunya itu.
"Ya, Mas?"
"Kamu yang minta kalau ketemunya dalam jangka waktu dekat ini, kan? Aku udah ngomong ke Mas Heryadi. Katanya lusa kita bisa ke rutan bawa Dul. Kamu yang sampaikan ke Paklik. Karena kita memang perlu pendampingan tenaga profesional. Aku juga sedikit khawatir dengan apa yang akan dibicarakan Fredy ke Dul."
"Aku memang udah meyakinkan diri kalau ketemuan-ketemuan ini sebaiknya enggak usah ditunda lagi. Mumpung pembicaraan sama Ayah masih segar dan membekas di ingatan Dul. Lagian Dul mau tes masuk SMP. Itu bapaknya yang di sana apa enggak inget kalau sekarang lagi masuk tahun ajaran baru? Banyak mintanya itu orang," omel Bara setengah berbisik.
"Orang di penjara itu enggak inget tahun ajaran baru, Ra. Ingetnya makan pagi, makan siang dan makan malam. Gimana, sih, kamu ini .... Kalau gitu lusa, ya. Aku kabari soal waktunya. Pokoknya kamu harus dandan lebih ganteng."
Heru menutup telepon sebelum sempat mendengar omelan Bara berikutnya.
To Be Continued