
Dul menggaruk dagunya. “Aku bukan bangga yang terlalu bangga karena bisa begini karena usaha sendiri. Kadang-kadang aku pikir … aku cuma bangga karena enggak pernah ngomong jadi seorang penerbang tempur adalah bentuk berbaktiku buat orang tua. Ayah enggak pernah bercita-cita jadi penerbang tempur. Ayah enggak pernah ngomong ke kami anak-anaknya bahwa Ayah menginginkan profesi tertentu untuk kami kejar. Ayah cuma bilang—”
“Menjadi kuat aja enggak cukup. Kamu juga harus bahagia.”
Sebaris kalimat barusan diucapkan Dul dan Pak Wirya bersama-sama. Keduanya lalu tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalimat itu sumbernya dari orang yang sama.” Pak Wirya bicara di penghujung tawanya.
“Kalimat hebat yang bakal aku ucapkan ke anak-anakku.” Dul tersenyum dengan menarik satu sudut bibirnya. Senyum mahal yang kata ayahnya mirip sang ibu.
“Akung hanya menginginkan anak-anak Akung enggak melupakan soal dirinya sendiri. Karena Akung pasti bahagia karena anak-anak Akung bahagia. Akung bisa tenang meninggalkan dunia ini.”
“Andai semua orang tua punya pikiran yang sama,” ucap Dul dengan sangat pelan.
“Rupanya ada yang belum dipercayai oleh orang tua lain. Apa orang tua Annisa enggak kenal Akung atau ayahmu? Akung jadi kecewa kalau begini caranya.”
Dul menghela napas berat. “Ck. Badai dalam hubungan udah biasa, kan?” Bahkan nada pertanyaannya pun terdengar tidak meyakinkan.
“Tidak semua badai yang datang itu mengganggu hidup kita. Beberapa badai yang datang malah membersihkan jalan kita, Dul. Dengan kata lain … pohon yang tersisa sesudah badai hebat bisa dipastikan pohon yang paling kuat. Gimana?” Pak Wirya menyentuh bahu Dul, tapi kemudian melepaskan sentuhan itu karena pelayan datang dengan nampan besar.
Dul dan Pak Wirya menghentikan pembicaraan mereka dan mengamati piring-piring disusun di hadapan mereka. Mata Pak Wirya membulat ketika gelas berisi tiramisu diletakkan persis di depannya. “Pasti enak,” lirih Pak Wirya.
“Akung makan yang ini dulu.” Dul menukar gelas berisi tiramisu dengan piring berisi aglio olio. Dul juga membuka botol air mineral dan mengisinya ke gelas kosong. “Selamat makan, Akung.”
“Makasih, Lettu Penerbang Abdullah. Akung sambil makan ya.” Pak Wirya mengambil garpu dan mulai memutar aglio olionya di piring.
“Silakan,” sahut Dul.
“Pertama-tama … Akung mau mengucapkan selamat karena sudah masuk tahap dewasa yang enggak minta uang orang tua lagi. Selamat menikmati hidup dari aroma keringat sendiri.” Pak Wirya kembali menyentuh bahu Dul. “Jadi … kenapa dengan orang tua Annisa? Masih belum memberi restu?”
Dul menggeleng lemah. “Apa aku memang terlihat enggak ada usaha? Annisa bilang aku terlalu lembek. Padahal aku cuma enggak mau kalau awal hubungan kami diawali dengan suatu paksaan. Aku enggak mau maksa papanya buat menerima aku, Kung. Apalagi Annisa enggak begitu akur dengan ibu sambungnya. Sepertinya … Papa Annisa berpikiran kalau aku membawa pengaruh buruk terhadap penerimaan Annisa ke ibunya itu. Sedangkan aku … setiap berusaha meyakinkan Annisa untuk menerima ibu sambungnya, aku dibilang enggak peka. Apa memahami wanita memang sesulit ini sejak dulu?” Dul tertawa sumbang.
“Cucu Akung ternyata sedang segalau ini.”
“Apa mungkin meski sudah bertahun-tahun Annisa tetap belum bisa menerima kehilangan ibunya? Nisa enggak bisa menerima tempat ibunya tergantikan ….”
“Anak mana pun enggak akan bisa menggantikan sosok ibunya yang baik. Dan enggak ada manusia yang siap dengan kehilangan. Kalau bisa … kita pasti maunya diberi aba-aba oleh orang yang bakal meninggalkan kita. Annisa sudah menerima kehilangan itu. Dan benar … harusnya ibu sambungnya itu berperan sebagai penyambung. Bukan pengganti. Sedikit kesalahan dari papanya yang enggak menjelaskan dengan gamblang sejak Annisa di usia belasan.”
“Annisa minta aku datang ke wisuda S2-nya. Wisuda pertama aku enggak datang karena menghargai papanya yang enggak mau aku ada. Yang kedua ini … Annisa bilang enggak akan mau ketemu aku lagi kalau aku enggak datang.” Sembari tertawa sumbang, Dul mengangkat gelas kopi dan menyesapnya sedikit. “Ini masalah sepele, Kung. Tapi aku membayangkan kalau hadir di wisuda itu, aku juga enggak akan bisa masuk ke ruangan. Kalau papanya tau aku datang, papanya bisa mempermalukan kami. Aku … udah sering diperlakukan begitu sama papanya.”
Dul menggeleng. “Ayah dan Ibu enggak tau. Aku enggak kasih tau bukan karena malu, tapi aku enggak mau bikin Ibu sedih. Soalnya … Ibu sayang banget sama Nisa. Tapi Papa Nisa … benci ke aku.”
“Kamu yakin Papa Annisa benar-benar benci kamu? Menurut Akung, beliau enggak suka kamu karena enggak bisa mengendalikan anaknya. Dia perlu sesuatu buat disalahkan. Dan Annisa ….” Pak Wirya tertawa. “Annisa benar-benar mirip ibumu. Keras dan teguh dengan pendiriannya. Kamu sadar enggak kalau sifat dan pendirian Annisa ini sedikit banyak mirip dengan ibumu?”
Dul menggeleng. “Sejak dulu aku memang suka dengan Annisa yang enggak bergantung dengan orang lain. Annisa beda dengan gadis zaman sekarang yang selalu bergerombol. Annisa selalu percaya diri meski dia melangkah sendiri ke mana-mana. Selalu tau apa yang dia mau. Penyayang tapi jarang bisa mengungkapkannya.”
“Mirip ibumu, kan?” Pak Wirya kembali memutar garpunya pada setumpuk sisa pasta. “Dul …,” panggil Pak Wirya dengan lembut.
“Ya, Kung?”
“Mmmm … soal membenci tadi. Orang lain boleh enggak suka ke kamu. Kamu enggak mungkin mengendalikan perasaan mereka. Namun kamu juga boleh tidak memberi ruang dalam dirimu untuk mereka membenci. Abaikan dan tinggalkan. Jaga dirimu dari hal-hal yang bisa merusak kamu. Akung kurang setuju kalau kamu memaklumi kebencian orang terhadap kamu. Apalagi sesuatu yang tidak beralasan seperti itu. Untuk urusan Annisa sudah jelas? Apa perlu Akung paparkan dengan lebih jelas lagi?”
“Papa Annisa sebenarnya enggak benci aku. Beliau cuma mau kalau Annisa menjadi anak penurut dan menerima ibu sambungnya. Dengan begitu, papanya pasti menerima aku. Tapi, Annisa beberapa diperkenalkan dengan laki-laki muda lain. Profesinya dokter. Sama seperti Annisa.”
“Tapi sampai sekarang Annisa masih tetap pacar kamu, kan? Papanya tetap enggak bisa maksa dia menikah dengan siapa. Karena Papa Annisa sebenarnya tau bahwa dia sendiri enggak bisa dan enggak tega memaksa anaknya. Dia hanya mau bernegosiasi dengan Annisa. Selama beberapa tahun ini keduanya sudah telanjur masuk dalam pusaran ego masing-masing. Enggak ada yang mau mengalah karena gengsi.”
“Selain berdamai dengan ibu sambungnya, Annisa sebenarnya juga udah banyak usaha agar aku diterima keluarga mereka. Khususnya papanya. Dan jawaban papanya ...." Dul terkekeh-kekeh.
“Apa?” Pak Wirya sudah menghabiskan pastanya dan mengambil gelas berisi air mineral. Ia menunda minum karena penasaran dengan jawaban Papa Annisa.
“Papa enggak memandang harta dan materi. Kalau papanya enggak memandang itu harusnya aku udah mencukupi syarat, kan?” Dul berpura-pura merapikan bagian depan kemejanya.
“Walaupun Papa Annisa bilang ‘Papa enggak memandang harta dan materi, kok.’ Tapi, perlu dipertimbangkan bahwa sepadan itu penting. Kecuali dia yakin calon menantunya kuat bertarung di tengah badai rumah tangga. Ini emang bukan cuma soal jumlah uang. Ini kadang soal kebiasaan menjalani hidup. Pasangan yang terlalu berbeda butuh modal tekad yang lebih kuat. Kamu paham maksud Akung, kan?”
“Paham, Kung.”
“Sekarang kamu tau harus berbuat apa?”
“Tetap datang ke wisuda Annisa dan menunjukkan bahwa aku sama keras kepalanya dengan dia.”
“Selain itu kamu juga perlu membuktikan sesuatu ke Annisa agar ayahnya takluk dengan kemauan putri tercintanya.”
“Apa itu, Kung?” Dul mencondongkan tubuhnya dengan dua siku berada di meja.
“Untuk ini kamu perlu bantuan Ayah. Mungkin juga ibu dan dua adik-adik kamu.”
**To be continued **