
"Enggak kecewa, Kung," jawab Dul. Ia tidak berbohong. Saat itu ia sudah tidak merasakan soal kekecewaan atau sesuatu yang membuatnya marah. Pagi itu ia sudah merasa baik-baik saja.
"Anak seusia kamu ini harusnya malah belum mengerti apa arti kecewa. Taunya kesel, marah, tapi kamu jawab pertanyaan Akung dengan sangat cepat. Artinya kamu memang sudah paham." Wajah Pak Wirya santai memindah-mindahkan channel televisi. Belum menatap Dul dengan serius. "Kamu sayang Ayah, kan?" tanya Pak Wirya.
"Sayang," jawab Dul.
"Percaya kalau Ayah selalu berusaha memberi yang terbaik buat kamu?" Pak Wirya melakukan kontak mata untuk menguatkan keyakinan Dul.
"Percaya," jawab Dul cepat. Sebenarnya memang tak ada keraguan sedikit pun dalam hal itu. Tanpa berbelit-belit, ia bisa menjawab kalau Bara selalu memberikan yang terbaik untuknya. Bimbingan Belajar, memilihkan SMP terbaik untuknya, dan mengurus segala keperluan yang tidak bisa dikerjakan ibunya.
"Jawabannya cepat. Berarti memang Ayah kamu sudah memberikan yang terbaik. Akung juga ikut senang dengernya." Pak Wirya menggaruk-garuk dagu. "Mmmm...Dul," panggil Pak Wirya.
"Ya, Kung?"
Pasti ini hal yang paling penting.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Pak Wirya.
Malu?
"Enggak ada, Kung. Enggak ngerasa apa-apa," sahut Dul.
"Apa ada perasaan takut kehilangan Ayah?" Kali ini Pak Wirya menurunkan remote televisi dan menggeser tubuhnya untuk menatap Dul lekat-lekat.
"Ada," jawab Dul.
"Satu hal yang bisa Akung pastikan siang ini ke kamu adalah, bahwa Ayah enggak akan meninggalkan kamu. Kamu akan tetap memiliki Bara, anak sulung Akung sebagai ayah kamu. Itu sudah tidak bisa diganggu gugat. Ibu kamu dan anak Akung saling mencintai. Mereka menikah karena hal itu. Laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dan saling menerima pasti tidak akan meninggalkan salah satunya. Mereka akan terus bersama sampai tugasnya di dunia ini sudah selesai. Kamu paham maksud Akung?"
Dul masih termangu mencerna perkataan Pak Wirya. Pria tua itu kemudian menggeser tubuhnya agar benar-benar lurus menghadap ke arah Dul.
"Seperti Akung yang mencintai Uti dan Uti yang mencintai Akung. Kami bersama-sama dari cantik dan ganteng, sampai kami berdua setua ini. Rambut Akung sudah putih semua. Uti juga sudah mirip boneka Barbie karena rambut putihnya yang panjang. Tapi bagi Akung, kecantikan Uti enggak akan luntur sampai kapan pun. Seperti kemarin malam saat Akung ngomong mau ke sini. Uti bersikeras ikut Akung meski dilarang. Jadi, Uti ke sini bukan karena kamu atau Mima. Tapi karena mau deket-deket Akung terus. Katanya kangen kalau jauh-jauhan sebentar aja." Pak Wirya terkekeh-kekeh.
Di ambang pintu pemisah ruang keluarga dan ruang makan, Bu Yanti mendengar ucapan Pak Wirya dengan sangat jelas. Wanita itu mencibir kemudian berlalu ke belakang dengan segurat senyuman.
"Jadi?" tanya Pak Wirya pada Dul.
"Jadi?" Dul balik bertanya, menirukan pertanyaan Pak Wirya karena ingin pria itu saja yang mengambil kesimpulan isi perkataannya sendiri.
"Jadi ... ya itu. Akung yakin Ibu dan Ayah kamu enggak akan saling meninggalkan karena saling mencintai. Mereka akan terus bersama sepanjang usia mereka di dunia ini. Percaya sama Akung," kata Pak Wirya.
Dul menunduk tanpa menyahuti perkataan Pak Wirya. Sebenarnya itu pertanda ia mengerti.
"Kamu jangan terlalu khawatir. Akung lebih suka kalau kamu banyak main dan bersenang-senang aja."
"Katanya ada yang mau ketemu aku," ucap Dul pelan.
Pak Wirya menghela napas perlahan. Inilah kekhawatiran Dul sebenarnya, pikir pria itu.
"Yang mau ketemu aku orangnya udah dipenjara. Tapi masih mau ketemu aku." Dul menegakkan kepalanya memandang Pak Wirya.
Saat mereka bertatapan, Dul memahami kalau mereka sudah saling mengerti saat itu. Lebih dari mengerti. Pak Wirya memahami kalau ia sendiri sudah tahu siapa sosok yang ingin mengajaknya bertemu.
"Aku takut," jawab Dul. "Mau apa ketemu aku? Aku pernah dipukul," jawab Dul.
"Ayah kamu enggak akan membiarkan kamu disakiti siapa pun. Kalau kamu menolak bertemu, enggak akan ada yang maksa. Itu hak kamu. Kamu boleh menolak kalau tidak mau," ujar Pak Wirya.
"Bagaimana kalau nanti ada orang yang tau...aku...laki-laki itu...." Dul menunduk lagi, menggaruk-garuk tepian kaos yang dikenakannya. "Padahal aku udah ngomong ke orang-orang kalau Ayah itu ayahku." Dul menegakkan kepalanya tiba-tiba. Keberanian itu muncul begitu saja. Saat itu dia harus menyampaikan hal itu pada seseorang yang dipercayainya. Ia mempercayai Pak Wirya.
Pak Wirya ternyata tidak menunjukkan keterkejutan saat ia mengatakan hal itu. Laki-laki itu santai saja. Dan Dul menyenang-nyenangkan hatinya sendiri kalau pak Wirya pasti paham apa maksudnya.
"Kamu ini ternyata visioner, ya. Penuh pertimbangan dan Akung yakin kamu nanti akan tumbuh jadi laki-laki dewasa yang tidak gegabah. Tapi ... laki-laki yang banyak pertimbangan sedikit kesulitan untuk mendekati wanita cantik. Beberapa wanita mengatakan mereka dengan sebutan plin-plan. Ayo, gimana itu?" Pak Wirya mengerucutkan bibirnya. Cemberut.
"Plin-plan?" ulang Dul.
"Plin-plan itu begini ... misalnya Uti nanya, kamu mau makan apa malam nanti. Kamu kepenginnya makan soto Betawi, tapi juga terbayang dengan ayam goreng. Tapi Uti enggak bisa masuk keduanya sekaligus. Nah, sampai malam kamu belum bisa juga memutuskan mau dimasakin apa. Atau juga...kamu udah ngomong mau soto, tapi pas udah selesai dimasak, kamu tiba-tiba kepengin ayam goreng. Wanita itu suka marah kalau laki-laki plin-plan," tutur Pak Wirya.
"Berarti Pakdhe pernah plin-plan. Itu kenapa wanita di cafe keliatannya marah," jawab Dul.
Pak Wirya terbengong sedetik. "Ada wanita di cafe marah ke Heru?"
Dul mengangguk. "Katanya mantan pacar Pakdhe. Eh, tapi...katanya aku enggak boleh ngomong." Dul menggeser duduknya karena salah tingkah baru keceplosan.
"Aman ...." Pak Wirya mengangguk mantap. "Soal Pakdhe, Akung sudah hafal luar kepala. Karena Akung dulu juga gitu. Kita semua laki-laki punya sisi plin-plan. Plin-plan itu bukan penyakit berbahaya. Jangan khawatir." Pak Wirya mengedipkan sebelah matanya.
"Akung juga sama?" Dul senang mendapat pembelaan barusan.
"Iya. Sama." Pak Wirya memijat-mijat bahu Dul. "Nah, Dul ... sekarang denger Akung baik-baik. Bayangkan kita sama sedang berada di kegelapan malam. Kita mau cepat tiba di rumah. Tapi jalanan terlalu gelap sampai kita enggak bisa lihat bentuk rumah kita di kejauhan. Apa yang akan kita lakukan? Terus jalan atau berhenti menunggu hari terang?"
Dul benar-benar mencerna dan membayangkan hal yang dikatakan Pak Wirya. Tengah malam dan gelap. Mungkin ia akan berhenti dan menunggu hari terang.
"Nunggu pagi?" tanya Dul.
Pak Wirya tersenyum dan menggeleng. "Lihat ke kaki kita. Dalam kegelapan, setidaknya kita masih bisa melihat kaki kita. Jangan khawatirkan tujuan kita yang belum terlihat di kejauhan. Asal kita tetap melangkah, selangkah demi selangkah, saat hari terang tujuan kita ternyata sudah semakin dekat. Jadi ... jangan terlalu khawatir dengan hal yang belum terjadi. Untuk saat ini peluk dan nikmati apa yang kamu punya. Ayah, Ibu, Mima, calon adik bayi, Akung, Uti, bahkan Pakdhe Heru dan Budhe Fifi. Kamu memiliki itu semua. Kami ini juga milik Dul. Dan kami semua memiliki Dul. Kita keluarga yang saling memiliki."
Saling memiliki ....
"Jadi...jangan pikirin apa kata kawan-kawan?"
"Enggak perlu," jawab Pak Wirya.
"Cuma ketemu bapak yang dipenjara?"
"Semua sesuai kemauan kamu. Bebas. Kalau mau ketemu, cukup ketemu. Selanjutnya kamu enggak perlu mikirin apa-apa. Cukup ikut tes SMP dengan usaha maksimal. Hasilnya bagaimana itu juga persoalan belakangan. Yang penting, kamu tetap melangkah."
Dul menegakkan kepalanya. "Aku mau ketemu kalau ditemenin Ayah dan Akung. Kalau aku enggak ngerepotin," tukas Dul. "Eh, iya. Pakdhe juga." Dul kali ini benar-benar mantap. Dengan ditemani tiga pria paling diidolakannya sepanjang hidup, siapa yang akan berani menyakitinya.
"Boleh. Tidak merepotkan sama sekali. Nanti Akung ngomong ke Ayah dan Pakdhe." Pak Wirya menarik napas lega yang sangat jelas. Tangannya kembali memegang bahu Dul. "Dul ... senang bisa bertemu dan memiliki kamu sebagai keluarga. Bagi Akung, Dul adalah cucu tertua yang paling bijaksana." Mata pria tua itu berkaca-kaca. Tutur katanya tulus seperti bagaimana maksudnya.
"Aku juga seneng punya Akung kayak Akung. Punya Uti kayak Uti." Itulah kata-kata yang mampu keluar dari bibir kanak-kanaknya.
To Be Continued