
“Kenapa, Mas—kenapa? Ibu kenapa?”
Pekikan ibunya malam itu membuat Dul menegakkan tubuh. Tangannya terhenti menggurat huruf K yang sudah ditulisnya berulang-ulang.
Mbah Wedok kenapa?
“Ibu dibawa ke rumah sakit lagi, Jah. Kita ke rumah sakit, yuk ... Mima bawa aja. Ayo, ganti baju.”
“Ibu kenapa?”
Dul menengadah memandang kedua orang tuanya. Dijah baru saja melontarkan hal yang juga Dul pertanyakan. Tapi sepertinya Bara belum mau menjawab mereka. Pria itu bergerak dengan tenang. Mengambil Mima dari tangan Dijah dan berdiri memegangi bahu istrinya.
Malam itu Dul juga bagai disihir. Suara ibunya yang penuh rasa kekalutan membuatnya tak sadar ketik dipandu Mbok Jum ke kamar untuk berganti pakaian.
Dul masih bisa mendengar suara ibunya yang terus bertanya. “Ibu gimana, Mas?”
Jawaban Bara terdengar sayup-sayup, tapi masih jelas untuk didengar. “Ibu nggak sadar, Jah ... Tiba-tiba dipanggil enggak ada respon. Tapi ibu masih ada.”
Lalu telinga Dul menangkap ratapan ibunya. Mbok Jum sepertinya ikut mendengar apa yang diucapkan ibunya, karena wanita tua itu membantunya berpakaian dengan raut wajah sedih. Ibunya menangis, dan Mbok Jum diam-diam ikut menangis.
“Dari kemarin-kemarin aku mau ketemu katanya nanti-nanti terus. Ibu enggak boleh pergi sekarang. Ibu belum liat anak perempuanku. Ibu janji mau nginep di rumah. Ibu nggak pernah mau ke sini. Katanya sakit, tapi aku nggak dikasi kesempatan ngurus.”
Rentetan kalimat yang diucapkan ibunya, ternyata dicerna Dul dengan cukup baik. Terbukti, ada bagian dirinya yang ikut merasakan sakit saat mendengar semuanya.
Kenapa Mbah Wedok enggak mau nginep di sini? Salah Ibu apa?
Satu hal yang belum ia bisa mengerti saat itu. Kenapa Mbah Wedok tidak mau melihat keadaan ia dan ibunya yang sudah jauh lebih baik?
Dul duduk diam tepat di belakang Bara yang sedang mengemudi. Suasana di mobil sangat mencekam. Tak ada yang berbicara. Dul melirik ibunya yang melemparkan pandangan ke sisi kaca mobil. Entah apa yang dipikirkan ibunya, ia tak tahu. Dul hanya melihat ibunya mengeratkan pelukannya di tubuh Mima. Bayi perempuan itu sepertinya tertidur lelap karena digendong jarik batik.
Untung Mima tidur nyenyak ….
Keheningan itu terus berlangsung hingga mereka tiba di rumah sakit. Bara menggiring ia dan ibunya dalam diam langsung berjalan menuju ruang gawat darurat. Dari kejauhan terlihat satu tirai tertutup yang dari dalamnya terdengar suara yang ia kenali sedang menyebut namanya.
“Ibu … Ibu … ini Dul baru nyampe!”
Mbah Wedok nyari aku?
“Bu—Bu! Ini aku, Dijah!”
Ibunya merangsek mendekat ke ranjang di mana Mbah Wedok berbaring. Bara mengangkat tubuhnya dan mendudukkan di tepi ranjang. Dari posisinya, barulah tampak dengan sangat jelas. Mbah Wedok benar-benar terlihat berbeda. Sangat kepayahan. Napasnya pendek-pendek dalam tiap tarikan. Bara cepat-cepat menjawab pertanyaan mbahnya soal sekolah. Seakan pria itu tahu kalau Mbah Wedok tak punya tenaga untuk bertahan lebih lama.
Dan hal yang paling menyedihkan buatnya saat itu bukan soal Mbah Wedok yang terbaring tak berdaya. Tapi soal ibunya yang menangis karena kesal, marah, putus asa. Tangisan serupa yang pernah ia lihat saat Mbah Lanang kesiangan buat mengantarnya ke pentas seni.
Dul duduk diam, memandang lekat wajah ibunya yang sedang mengiba pada Mbah Wedok untuk menunggu sebentar lagi.
“Mima …,” panggil Mbah Wedok.
Semua orang yang berada di sana ikut mengamati bagaimana Mima menggeliat. Namun, bayi itu belum membuka matanya.
“Cantik …,” gumam Mbah Wedok dengan mata tertutup. Bara kemudian meraih tangannya buat diletakkan di belakang kepala Mima.
Mbah Wedok terlihat berusaha keras membuka mata, napasnya semakin pendek-pendek. Kemudian … Mbah Wedok diam sejenak, seakan sedang mengumpulkan tenaganya untuk mulai berbicara. Dari tempatnya, Dul mendengarkan percakapan antara ibunya dan Mbah Wedok dengan bahasa yang tidak ia mengerti.
“Saikine awakmu wis nduwe keluwargo sek bahagia, Dul wis nduwe pak sing apik lan iso dadi panutan. Awakmu yo wis nduwe anak wedhok sing ayu, ibu yo wis weruh. Bojomu yo ganteng lan iso ngayomi keluwargo. Ibu saiki wis ayem, sakprene urip sek tak enten-enteni. Ibu ora iso menehi awakmu kesenengan,mergo awakmu dewe sek nemoni kesenengan kuwi. Ngapurone nek ibu urung iso menehi janji. (Sekarang kamu sudah punya keluarga bahagia. Dul sudah punya ayah yang baik dan bisa jadi panutan. Kamu punya anak perempuan yang cantik, yang sudah ibu lihat. Suami kamu juga gagah dan mengayomi keluarga. Ibu sekarang sudah lega dan tenang. Sepanjang hidup, ini yang ibu tunggu-tunggu. Ibu nggak bisa kasi kebahagiaan ke kamu, tapi kamu sendiri yang menemukan kebahagiaan itu. Maafkan kalau ibu belum bisa memenuhi janji.)”
”Tapi ibu gelem to nginep nang umahku. Anakku yo urung iso ruh wong, koq ibu wis ngene iki. Enteni sedeluk ngkas bu ... ben weruh anakku sek ayu iki rodho gedhe sediluk ngkas. Nggendong anakku sediluk ah bu,ojo lungo sek .... (Tapi ibu janji mau nginep di rumahku. Anakku juga belum bisa ngenali orang, tapi ibu udah kayak gini. Tunggu sebentar lagi Bu... Liat anakku yang cantik ini besar sedikit lagi. Timang-timang anakku sebentar. Jangan pergi dulu ....)"
Entah apa yang dibicarakan, tapi tangisan ibunya semakin keras. Menit berikutnya, Pakdhe Supri berteriak memanggil dokter.
Dokter datang tergesa dengan stetoskop untuk mengecek detak jantung Mbah Wedok. Bara lalu menurunkannya dari tepi ranjang untuk memudahkan pergerakan dokter. Beberapa panik, beberapa orang yang berdiri di sana hanya diam.
“Ayo, dipanggil neneknya,” pinta Dokter seraya menatapnya sekilas. Perkataan itu mirip perintah tanpa semangat.
Setidaknya ia harus mencoba. “Mbah! Mbah! Ini Dul! Bangun! Ke rumahku, tidur denganku, Mbah!”
“Sebentar lagi Bu—sebentar lagi …. Aku belum mau jadi yatim piatu sekarang, Bu .... Ibu baru liat aku seneng sebentar. Jangan sekarang ....”
Dijah histeris. Bara mendekat untuk mengambil alih Mima dari gendongan istrinya. Lalu semua orang mulai menangis.
“Ayah …,” panggil Dul, menarik ujung kemeja Bara yang berdiri di belakang ibunya. Ia butuh penjelasan. Apa yang terjadi pada Mbah Wedok. “Mbah Wedok?”
“Mbah Wedok pergi nyusulin Mbah Lanang. Sekarang udah ketemu. Mbah Wedok enggak sakit lagi, udah seneng.”
Seperti biasa, penjelasan paling sederhana dari Bara, tapi begitu meresap untuk dapat dimengerti oleh pemahaman anak-anaknya. Mbah Wedok pergi menyusul Mbah Lanang.
Usianya yang baru menginjak kelas satu SD, Dul sudah merasakan begitu banyak emosi. Jika anak biasa menangis karena tidak dibelikan mainan, ia menangis karena melihat ibunya terluka saat dipukuli bapaknya. Jika anak lain menangis karena dicubit ibunya karena terlampau nakal, Dul menangis karena ditampar seorang bapak yang menuduhnya mengemis.
Masa kecilnya penuh hiruk pikuk yang membuatnya tak menyukai keramaian. Setiap keramaian, pada akhirnya akan membuat ia bersedih dan kesepian. Malam itu … ia menangis karena Mbah Wedok meninggal dunia.
Sosok wanita yang merawatnya dalam diam. Yang tak pernah dimengerti apa isi hatinya. Yang tak pernah bisa menghibur tiap ibunya mengadu dan bersedih. Mbah Wedok terlalu banyak diam hingga tak dimengerti. Duduk di dingklik mengaduk sayuran, membuatkan kepalan nasi hangat yang diberi garam, memandikannya, mencuci bajunya, menyeterika, membuatkan kopi Mbah Lanang, duduk melamun di ambang pintu dapur, atau juga sesekali berbincang dengan tetangga belakang. Kilasan sepotong-sepotong soal Mbah Wedok berseliweran di kepalanya.
Dua kali ia menyaksikan seseorang pergi meninggalkan dunia ini. Mbah Lanang dan Mbah Wedok. Kehilangan orang yang berbeda meninggalkan rasa sakit yang berbeda pula. Dul kehilangan seseorang yang membantunya melewati saat-saat bergantung di masa kecil. Ibunya kehilangan orang yang kepadanya ingin ia buktikan sesuatu.
Sampai dewasa, Dul mengingat bahwa ketika seseorang meninggal, maka terputuslah rencana apa pun yang ingin dilakukan bersama orang tersebut. Ia mencatat hal itu sebagai suatu yang penting. Sebelum ia kehilangan seseorang, ia akan melakukan semua hal yang ingin dilakukannya. Selagi ada waktu, pikirnya.
Mima datang ke dunia, Mbah Wedok meninggalkan dunia. Hidup selalu tentang datang dan pergi apa pun itu.
Dan Dul memulai kesadaran barunya sebagai anak sambung dari seorang Bara Wirya Satyadarma dan Khadijah. Ia adalah kakak laki-laki dari bayi perempuan bernama Fatimah. Mereka adalah keluarga kecil yang berbahagia. Bagaimana pun, hidup tetap harus berjalan.
To Be Continued