Dul

Dul
069. Hal-Hal Sederhana



Perjalanan keseharian tiap orang itu sebenarnya sama saja di mana-mana. Mulai hal terkecil, sampai hal terbesar. Bedanya tak semua orang cukup jeli memperhatikan, tak semua orang punya cukup waktu untuk merasa-rasakan, atau tak cukup peka untuk memperhatikan.


Bara berhasil membuat kejutan yang benar-benar mengejutkan Dijah. Kejutan pertama sejak hampir tujuh tahun usia pernikahan mereka.


Dul duduk di kursi yang ditunjukkan Bara sebelumnya. Menyimak dengan tenang apa yang akan terjadi setelah Dijah melihat kue ulang tahun pertamanya yang dibubuhi lilin. Dan di sanalah ibunya. Berdiri canggung beberapa detik seraya mengedarkan pandangan ke semua orang. Rautnya sore itu benar-benar terkejut. Lalu detik berikutnya dengan cepat berubah menjadi raut haru. Dul melihat mata ibunya memerah dan Bara menyeka sudut-sudut mata itu dengan telaten.


Dul tersenyum. Turut senang ibunya sekarang bisa menangis haru. Sosok Bara memang telah mengembalikan keharusan sikap yang dimiliki oleh seorang perempuan yang memang harusnya dicintai dan disayang-sayang.


Dulu ibunya hampir tak pernah mengeluh, apalagi mengaduh. Teriris pisau di jari saja, ibunya tak bersuara. Hanya diam menyiram lukanya dengan air dan melanjutkan pekerjaan seperti biasa.


Dulu ibunya tak pernah meminta pertolongan pada siapa pun. Meski harus memanjat plafon rumah mbahnya untuk melihat penyebab bohlam padam.


Dulu ibunya tak pernah mengatakan sakit. Terlebih kepadanya. Ia hanya melihat kesakitan ibunya dalam bentuk darah atau keringat dingin di dahi wanita yang melahirkannya itu. Namun, tak pernah keluhan itu keluar dari bibir ibunya. Rautnya datar biasa saja.


Kini, ibunya sudah ada tempat bergantung, tempat bermanja dan tempat mengeluh. Bara yang peka dan bukan tipe pria yang hanya baik jika ada maunya. Bara selalu hangat pada ibunya. Sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang pengetahuannya. Dul, mencintai Bara sebesar cintanya pada sang ibu.


Dari Bara, Dul belajar bagaimana menjadi sabar dan gigih untuk mencapai tujuan. Dari Dijah, Dul belajar bagaimana menahan perasaan agar tidak terlalu kecewa.


Ketika melihat ibunya memeluk Bara dan menciumi Ibrahim yang berada dalam gendongan pria itu, Dul mengingat beberapa hal yang pernah dikatakan ibunya.


"Bukan tidak boleh untuk punya keinginan, tapi keinginan yang terlalu banyak biasanya akan membuat kita tamak. Kita terus resah karena melihat apa yang didapat orang. Kita terus khawatir dengan apa yang enggak kita punya. Sampai-sampai kita enggak percaya kalau Tuhan pasti sudah menyiapkan jatah buat kita masing-masing."


"Ingat, Dul. Yang diam belum tentu enggak pandai bicara. Yang santai belum tentu enggak bekerja. Terlalu banyak omong cuma bikin orang tau kalau kamu enggak banyak tau. Mau enggak mau, kita harus terima kalau penilaian orang-orang terletak dari apa yang kita bicarakan."


Dul berdiri menyambut ibunya yang datang mendekati meja. Mima ikut melompat dan memeluk ibunya lebih dulu.


"Selamat ulang tahun, Ibu." Mima melingkarkan tangan di pinggang Dijah dan mendongak menunggu ibunya menunduk.


Dijah menangkup wajah Mima dan menunduk buat menerima ciuman dari bibir mungil yang ceriwis. Dijah tersenyum. Mengingat bahwa kehadiran Mima di dunia membuat Dijah merasa istimewa karena melahirkan penerus perempuan yang langka dalam keluarga Satyadarma.


Pelukan Dijah dan Mima terlepas. Lalu, Dijah memutar tubuh dan berhadapan dengan putra pertamanya. Abdullah Putra Satyadarma. Tak sempat mengucapkan hal-hal lain, keduanya saling menubrukkan diri. Berpelukan dengan gemuruh di hati masing-masing.


Kali itu, kebahagiaan tampaknya lebih banyak mengeluarkan air mata dibanding kesakitan yang pernah dirasakan Dijah. Sore penuh kejutan itu membuatnya terisak-isak saat memeluk Dul.


Bagi Dijah, Dul adalah sosok pertama yang menjadi alasan baginya untuk hidup, untuk kuat, untuk giat, dan untuk bahagia.


Sosok anak laki-laki baik hati yang tak pernah merepotkannya sedikit pun. Dul yang jarang merengek, jarang meminta, mengerti keadaan dan keterbatasan yang dimilikinya saat mereka hanya memiliki satu sama lain.


"Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu selalu ada buat Ayah, buat aku, Mima dan buat Ibra. Aku sayang Ibu," ucap Dul.


Tangis Dijah semakin keras. Dulu, sebelum-sebelumnya bagi mereka berdua, ia dan Dul, mengungkapkan perasaan terasa sangat janggal. Seringnya Dijah mengatakan, "Kamu anak Ibu" daripada "Ibu sayang kamu."


Begitu pula dengan Dul. Ia lebih sering mengatakan, "Aku mau Ibu di sini" daripada "Aku sayang Ibu".


Bara selalu mengajari dengan melakukannya lebih dulu. Pria itu mengajarinya mencintai, dengan mencintainya lebih dulu. Bara juga mengajarkannya rasa peduli pada orang lain, dengan mempedulikannya lebih dulu.


Usai memeluk Dijah, Dul melepaskan pelukan dan mengusap pipi tembam ibunya. Lalu, ia melangkah untuk setengah merangkul Bara. "Makasih, Ayah," ucap Dul.


"Sama-sama," jawab Bara, mengacak rambut Dul, lalu menepuk-nepuk pundaknya. Mereka sama-sama tahu kalau ucapan terima kasih barusan ditujukan Dul pada Bara, karena telah membahagiakan ibunya.


Mata Bara pun sudah sedikit memerah. Jiwa sentimentilnya semakin bertumbuh seiring dengan pertambahan usianya. Untuk itu Dul harus mengakui kalau Bara lebih sentimentil dari Dijah.


"Lilinnya nyalain sekarang, Yah. Biar kita semua bisa tiup," seru Mima.


Mendengar celetukan Mima yang nyaring, lagi-lagi semuanya terhenyak. Tersadar bahwa masih ada cake ulang tahun yang sejak tadi ditunggu-tunggu peniupan lilinnya oleh seorang gadis kecil. Boy mengambil pemantik dari saku celananya dan menghampiri cake di depan Mima.


"Wuih, Pakdhe Boy udah bawa-bawa pemantik di saku celana. Makin keliatan laki," bisik Tini pada Boy.


"Bukan makin keliatan laki. Tapi makin keliatan tukang roti bakarnya. Itu buat nyalain kompor kalau perlu tiba-tiba," sahut Boy juga dalam bisikan.


"Kalau mau makin keliatan tukang roti bakarnya, bawa panggangan aja ke mana-mana," ucap Tini lagi. Pandangannya tertuju pada Dijah sekeluarga yang sudah mengelilingi cake ulang tahun. Boy membalas ucapan Tini dengan sebuah cubitan di lengan kawannya.


"Ayo, Ayah udah atur timer kameranya, dalam hitungan ketiga tiup lilinnya, ya! Satu...dua...tiga," seru Bara.


Semuanya meniup lilin, termasuk Dijah. Setelah tiupan itu, semuanya tertawa karena melihat ekspresi kaget Ibrahim. Semua momen itu berhasil ditangkap kamera Bara yang masih menjepret tiap beberapa detik.


"Oke...oke, udah selesai. Ibra gendong sama Ayah aja, ya. Biar Ibu ladeni temen-temennya dulu."


"Udah boleh makan, Jah?" tanya Tini.


"Mas-mu kalau mau makan minta dateng ke sini ya, Tin. Enggak berlaku sistem take away," kata Dijah dengan raut serius.


"Mas-ku baru dateng malem, Jah. Jam segini masih cari nafkah. Aku sisain di sini aja kalau gitu," kata Tini dengan raut tak kalah serius. Dijah terkekeh-kekeh melihat Tini yang langsung mengambil piring dan menyisihkan lauk semur daging buat suaminya.


"Spadaaa ... permisi ...."


Terdengar suara sapaan seorang laki-laki di pagar depan diiringi dengan suara pintu pagar yang terbuka.


"Eh, ada tamu lagi?" tanya Dijah menoleh lewat jendela yang menghubungkan ruang makan dengan carport.


"Itu Mamang di rumahku pasti kelaparan dan mau ikut makan," jawab Tini kalem. "Ayo, sini masuk."


"Maafkan kehadiranku yang menyela keriuhan acara ini. Meski enggak diundang, aku enggak keberatan untuk tetap datang." Dayat muncul dengan sebuah wadah plastikware berada di tangannya.


To Be Continued