
Tugas pertama Dul sebagai Ketua Osis sangat mudah. Menghimpun anggotanya dan berbagi ke tiap kelas untuk memungut dana dukacita seikhlasnya. Yang tidak mudah bagi Dul adalah harus mendatangi rumah Annisa dan melihat gadis itu sedang berduka untuk ibunya. Ada rasa sakit yang juga ia rasakan.
Annisa kehilangan ibunya. Dul seketika membayangkan bagaimana kalau ia yang kehilangan ibunya. Belum lekang dari ingatannya bagaimana ia pernah berhari-hari duduk di outlet ayam goreng demi menunggu kedatangan ibunya. Walau Bara saat itu mengatakan kalau ibunya baik-baik saja dan sedang pergi ke luar kota, tapi tetap saja hatinya sulit dihibur. Dul merasa hampa, kosong dan merasa bagian dirinya ikut hilang. Lalu bagaimana dengan perasaan Annisa?
"Abdullah, berapa jumlah yang ikut ke rumah Annisa? Teman sekelas kalian ada yang ikut?" tanya Yani, yang sekarang sudah menjabat sebagai sekretaris OSIS.
"Ketua kelas, bendahara dan sekretaris pasti ikut. Kalau ditambah dengan dua orang murid perempuan yang duduk di depan Annisa, dari kelas kami ada lima orang. Perwakilan dari OSIS ada berapa selain kamu dan aku?" tanya Dul.
"Senior enggak ada yang ikut karena mereka semua ikut kelas tambahan. Biasa kalau udah kelas tiga pasti gitu. Kegiatan ekskul dikurangi dan mereka fokus buat ujian akhir. Kita juga nanti gitu," jelas Yani.
"Jadi, dari OSIS cuma bertiga aja?"
Yani mengangguk.
"Ditambah Robin dan Putra, berarti kita semua sepuluh orang."
"Kita naik apa, Dul? Angkot?" tanya Yani. "Kalau wali kelas kalian, pasti bawa kendaraan masing-masing. Biasa guru BK juga pasti ikut," tambahnya lagi.
Dul diam sejenak. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Pagi tadi saat mengantarnya ke sekolah, ayahnya mengatakan bisa menjemputnya hari itu. Kalau ayahnya berkenan, ia ingin mengajak semua temannya menumpang.
Tak sampai tiga menit, pesan Dul berbalas.
'Berarti selama ini ibunya Nisa sakit. Kemarin dia beli obat rutin buat ibunya. Nanti ayah jemput dan antar ke sana.'
Dul tersenyum memandang Yani. "Nanti kita ke rumah Nisa sama ayahku aja. Beliau mau ikut nganter," ujar Dul. "Eh, tapi kita sepuluh orang, ya." Dul meringis.
"Kalau soal itu gampang. Yang penting mobilnya jalan," sahut Yani, tertawa kecil.
Kegugupan Dul hari itu campur aduk antara menjalankan tugas pertamanya sebagai Ketua Osis, juga akan menemui Annisa di luar lingkungan sekolah dengan suasana yang sama sekali tidak diharapkannya.
Seperti yang diperhatikan Dul selama ini, setiap kunjungan OSIS ke rumah salah seorang teman yang sedang berduka cita, Ketua Osis akan menyampaikan dana dukacita disertai sepatah dua patah kata yang mewakili keseluruhan murid.
Bel berakhirnya jam pelajaran sudah berbunyi dan beberapa siswa yang ikut serta hari itu berjalan bergerombol menuju pagar. Tak terkecuali dengan Robin dan Putra yang terus berdebat soal jumlah mereka yang terlalu banyak untuk menumpangi mobil Bara.
"Apa bisa sepuluh orang di dalam mobil?" Putra menggaruk dagunya.
"Kayaknya, sih, cukup. Tapi kalo mau lebih pasti lagi, kaulah yang harus ditinggal. Kalo itu udah pasti cukup. Masih bisa kami golek-golek di mobil kalo gak ada kau," kata Robin.
(golek-golek : tiduran)
"Sayangnya, aku adalah bagian penting dari persahabatan Dul dan Nisa. Dul pasti akan lebih rela meninggalkan kamu ketimbang aku, Bin. Aku adalah kunci dari percakapan-percakapan Annisa dan Dul di masa lalu. Aku ini kaya perantara. Kamu ini bagian dari kisah Dul dan Lova," terang Putra.
"Kisah...kisah.... Sayangnya, kisah orang aja yang kau tau. Entah kapan pula kau punya kisah." Robin terkekeh.
"Kamu juga belum punya kisah, lho, Bin. Kalau cuma sekedar naksir itu bukan kisah," Putra merangkul Robin dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, "tapi itu namanya angan," sambung Putra.
"Udah maju kali kau sekarang, ya." Robin mengangkat tangan Putra dari bahunya, lalu mendekap tangan sahabatnya itu untuk mengguncang-guncang tubuhnya.
"Ini semua, Yah," jawab Dul.
"Semua? Astaga ... kok, nggak ngomong? Ayah bisa minta tolong sama orang kantor buat bawa mobil satu lagi," kata Bara.
"Gak apa-apa, Ayah Bara. Sebenarnya kami masih imut-imut semua. Cukuplah kami semua kalo disumpal-sumpalkan," kata Robin.
(sumpal : tambal, sumbat)
"Ya udah, kalau memang bisa bertahan di dalam," jawab Bara.
Dul naik ke kursi penumpang depan, Robin membuka kursi tengah dan meminta Putra masuk lebih dulu untuk duduk di sudut. Lalu masuk Ketua Kelas Dul dan disusul oleh sekretaris dan bendaharanya. Bendahara kelas yang bertubuh lebih kecil, duduk dipangkan sekretaris yang lebih bongsor. Mereka tidak mengeluh, malah terkikik-kikik.
Di tengah, Robin mempersilakan dua murid perempuan yang paling sering bicara dengan Annisa. Lalu, naik bendahara OSIS, kemudian Yani melompat naik dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan murid-murid perempuan. Mereka semua tertawa-tawa. Tapi, saat itu Bara hanya ber-astaga tiga kali. Selebihnya pria itu hanya meringis.
Robin naik paling akhir dan menutup pintu setelah mengangkat sedikit tubuhnya. Napasnya terengah, "Udaaah ... ayooh, Ayah Bara, kita bisa pigi sekarang," kata Robin.
"Oke, kita berangkat, ya." Bara melihat spion tengah untuk memastikan semua anak-anak yang dibawanya berada dalam posisi duduk normal.
Suasana di dalam mobil riuh rendah. Kecuali Dul, semua anak saling melontarkan candaan dalam lima belas menit pertama mobil berjalan. Dul duduk diam memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi saat bertemu Annisa nanti. Bara yang mengerti bahwa Dul sibuk dengan pikirannya, juga ya mencoba mengajak putranya itu berbicara. Ia memberikan Dul waktu untuk dirinya sendiri. Menurut Bara, sosok Annisa cukup penting bagi Dul.
Sedangkan di kursi belakang ....
"Kelen gak capek mangku si Yani? Kalo capek, Bang Robin pun bisa ini," kata Robin menepuk pahanya.
"Kalau udah ada penyisipan kata Abang di depan namanya, bisa dipastikan itu kalimat untuk siapa," Putra menyahuti dari jok paling belakang.
"Putra ... kawan awak ... masih bisa bunyi dia di belakang. Berarti masih aman," kata Robin.
(awak : aku)
"Ayo, siap-siap. Rumahnya udah dekat." Bara melirik Dul yang tersadar dari lamunannya dan meraih tali ransel untuk langsung disampirkannya ke bahu.
"Ayah ikut turun?" tanya Dul. Rautnya sangat serius.
"Ayah mau nelfon ke kantor. Ada sedikit pekerjaan yang lupa ayah kerjakan. Jadi ... kamu sama teman-teman aja, ya? Enggak apa-apa, kan?" Sekali lagi, Bara ingin memberi ruang pada Dul. Ia khawatir kalau ikut duduk di sana, Dul akan terbatas mengekspresikan dirinya.
"Ya udah. Aku turun, ya. Dari sini semua teman-teman bakal pulang masing-masing. Aku enggak akan lama," kata Dul saat turun.
"Kamu manfaatkan waktu enggak usah buru-buru. Ayah enggak apa-apa," jawab Bara, mengulas senyum untuk menenangkan hati Dul.
"Makasih, Ayah." Dul mengangguk dari balik kaca mobil.
"Sama-sama," sahut Bara.
To Be Continued