Dul

Dul
096. Perpisahan Lagi



Dul tak akan melupakan hari itu seumur hidupnya. Masa di mana sebuah kesadaran baru soal perasaan, juga keinginan untuk bisa dekat, bicara, dan mau tahu sebanyak-banyaknya soal seseorang yang ia sukai.


Jumat siang saat bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Semua murid berlomba-lomba keluar kelas lebih cepat karena di lapangan sepak bola akan ada kegiatan tanding persahabatan dengan SMA swasta yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Hari itu juga tepat sehari sebelum janji Dul datang ke rumah Lova.


Dul menyadari saat itu di kelasnya hanya tersisa ia dan Annisa yang sepertinya tidak terburu-buru. Gadis itu sedang melongok isi laci meja dan mengeluarkan sebuah buku sebelum akhirnya meresleting ranselnya. Dul menegakkan tubuh. Berpura-pura meregangkan punggung dengan berputar ke kiri dan kanan untuk melihat Annisa. Ia lalu ikut menyimpan bukunya. Andai gadis itu keluar, Dul ingin menjajari langkahnya untuk mengobrol.


Ternyata, Annisa dengan santainya berpindah ke kursi kosong di sebelahnya. “Hei, enggak nanya aku kenapa tumben belum pulang?” tanya Annisa tersenyum simpul.


“Iya. Kenapa belum pulang?” tanya Dul. “Belum dijemput?” tanya Dul lagi.


“Aku udah dijemput. Sebentar lagi mau pulang,” kata Annisa.


“Ooo … jadi?” tanya Dul. Maksudnya ia ingin bertanya, jadi kenapa mendatanginya? Biasanya gadis itu langsung pulang meninggalkannya. Ada apa dengan Jumat siang itu?


“Abdullah …,” panggil Annisa, pandangannya lurus ke mata Dul. “Aku mau pamit,” sambungnya pelan.


Dul merasa lututnya lemas. “Pamit ke mana?” Sebenarnya ia sudah paham apa maksud Annisa. Tapi siang itu ia sedang tak ingin mengerti.


“Besok aku ikut kakak sulungku ke Balikpapan. Semua dokumen udah beres. Papa terlalu sibuk dengan proyek barunya di luar negeri. Aku sendirian di sini. Jadi, aku diminta tinggal bareng kakak sulungku yang udah berkeluarga,” jelas Annisa.


“Itu jauh,” sahut Dul, tercekat. Selama ini ia tidak keberatan Annisa selalu diam dan sibuk sendiri dengan dunianya. Yang terpenting, gadis itu masuk ke kelas dan ia bisa melihat bahwa Annisa hadir dalam keadaan baik-baik saja. Hanya dua bulan. Kenapa ia hanya bisa bertemu gadis itu dua bulan saja?


“Belajar yang rajin, ya,” ucap Annisa tersenyum. Tangannya memutar-mutar tali ransel dengan sorot muram.


“Cepat banget,” ucap Dul. “Belum sempat ngobrol banyak. Belum sempat main bareng,” sambungnya. Nada bicaranya menyiratkan kekecewaan mendalam.


“Sayang kita cuma sebentar ketemu dalam seragam SMA. Kapan-kapan … aku harap bisa ketemu Abdullah lagi. Siapa tau seragam kita udah beda,” kata Annisa, tertawa sumbang.


“Aku suka kamu,” kata Dul tiba-tiba. Tak ada waktu lagi, pikirnya. Setidaknya, hari terakhir itu Annisa tahu apa yang dirasakannya. “Aku suka Annisa,” ucap Dul lagi, menunduk untuk menarik napasnya dengan perlahan. Rasanya berat sekali.


“Aku juga suka sama Abdullah,” balas Annisa.


“Kenapa….” Dul mau bertanya kenapa baru mengatakan hal itu? Kenapa terlihat tidak peduli? Kenapa selama ini seakan menganggapnya tidak ada? Apa karena Lova? Ucapannya cepat-cepat dipotong Annisa. Gadis itu terlalu cerdas untuk remaja laki-laki bodoh sepertinya.


“Bukan—bukan karena kakak kelas itu,” potong Annisa cepat. “Aku enggak menganggap kalian punya hubungan serius. Kita masih SMA. Aku masih kenal kamu.”


Padahal hanya satu kata ‘kenapa’ tapi Annisa mengerti apa yang ia maksudkan. “Jadi ….”


“Waktu kita enggak akan cukup. Waktuku maksudnya. Kurasa memang kita lebih baik berteman. Aku bisa liat kamu dari jauh. Liat kamu setiap hari datang ke sekolah dalam keadaan sehat. Aku rasa sekarang itu aja udah cukup buat kita. Setidaknya buat aku,” tutur Annisa.


Dul dan Annisa sama-sama menyatukan dua tangan mereka di atas meja. Beberapa saat mereka terdiam.


Dul memang tidak merasa dunianya berakhir. Tapi, ia sangat kecewa. Tak bisakah mereka sedikit lebih lama bersama?


“Abdullah,” panggil Annisa, sedikit memutar duduknya untuk menghadap Dul.


Dul menoleh ke kanan. Ia dan Annisa saling pandang. “Hmmm?” Dul menautkan tatapannya. Baru kali ini ia memandang Annisa sedekat itu. Bulu mata Annisa sangat rapat, lurus dan hitam. Persis seperti rambutnya yang bagus. Hitam, lurus tanpa gelombang.


“Aku pergi sekarang,” kata Annisa, mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi Dul.


Dul membeku di posisinya. Sedetik, dua detik, tiga detik, Annisa lalu menjauhkan wajahnya. Kecupan di pipi itu cukup lama. “Belajar yang rajin. Aku jalan duluan kalau kamu masih mau lama di sini.” Annisa berdiri dari kursi.


Entah apa yang merasuki Dul saat itu. Ia hanya memikirkan bahwa besok-besok mereka tidak akan bertemu lagi. Ia tidak akan melihat Annisa menunduk untuk mencatat. Atau Annisa yang membaca buku sambil memakan cemilan yang bermerek sama seperti kesukaan Mima. Ia ikut berdiri. Meraih lengan Annisa untuk dibawa ke dekatnya. Dengan tubuhnya yang jangkung, Dul menunduk untuk mencium Annisa. Meletakkan bibirnya yang tipis ke bibir Annisa.


Dul tahu Annisa terkesiap sedetik. Tangan gadis itu refleks ikut memegang lengannya dengan kaku. Namun, kekakuan itu sekejab saja sirna saat Dul memberanikan diri menyelipkan gumpalan rambut dari wajah Annisa ke belakang telinganya. Gadis itu memejamkan mata. Dan Dul melakukan ciumaan pertamanya dengan sangat manis dan cukup lama.


Andai saja waktu bisa diulang sedikit saja, ke dua bulan terakhir saat Annisa baru kehilangan orang tuanya. Atau kalau dua bulan terlalu banyak, ia ingin seminggu saja bersama Annisa ke mana-mana. Ingin menonton film, makan di warung ketoprak, mengenalkan Annisa pada Robin dan Putra, atau mengobrol di kelas sesering mungkin. Ia ingin meminta waktu seminggu saja. Bersama gadis itu saat masih berbalut seragam SMA.


Dul menangkup wajah Annisa, menyempatkan diri mengusap pipi gadis itu. Wajahnya bukan lagi merona, tapi memerah. Dengan sudut-sudut mata yang basah. Dul melepas ciumannya. “Maaf,” katanya, dengan satu tangan masih tertinggal merapikan rambut Annisa yang sudah rapi.


“Kita pulang sekarang?” tanya Annisa. "Papaku udah lama nunggu.”


Dul mengangguk. “Iya, ayo sama-sama ke depan. Yakin udah enggak ada lagi yang ketinggalan?” tanya Dul, mencoba mengalihkan tatapannya ke meja yang akan ditinggalkan Annisa selamanya.


“Enggak ada yang ketinggalan selain Abdullah,” kata Annisa, tertawa kecil. Matanya pun sudah ikut memerah.


Dul ikut tertawa. Melihat ternyata Annisa pun sudah hampir menangis. Ternyata, mereka sama cengengnya.


Mereka beriringan ke gerbang sekolah. Dalam diam dan langkah kaki yang sangat lambat. Sebuah sedan hitam parkir tak jauh dari gerbang.


“Aku pergi, ya. Abdullah jaga kesehatan. Semoga suatu hari … kita bisa ketemu lagi,” kata Annisa, tersenyum kecut. Ia melangkah mendekati mobil.


“Jaga diri baik-baik,” seru Dul, mencoba mengangkat tangan untuk melambai pada Annisa yang berjalan menjauhinya.


Annisa … cerita kita dalam seragam SMA ini terlalu sedikit.


To Be Continued