Dul

Dul
164. Waktu Tiga Minggu



Annisa seketika memandang Dul dengan satu tangan menutup mulutnya. Gadis itu menepuk pelan dada Dul. “Jangan bercanda,” kata Annisa.


Dul kembali menyodorkan kalung berinisial AA itu pada Annisa. “Gimana? Kamu mau jadi istriku hari ini? Enggak ada kata nunggu-nunggu lagi. Udah kelamaan, kan?”


“Aku mau. Aku pasti mau. Aku enggak akan nerima laki-laki lain selain Abdullah. Papa udah tau itu. Sekarang kita tinggal tanya Papa,” sahut Annisa.


“Nama kamu siapa?” Papa Annisa memandang Dul dengan wajah datar.


Dul membuka topinya dan mengulurkan tangan pada Papa Annisa. “Maaf baru bisa memperkenalkan diri sekarang. Saya Lettu Penerbang Abdullah Putra Satyadarma dari korps tempur skuadron udara 14 Lanud Iswahjudi. Di belakang sana ada orang tua saya, Akung dan Uti, Pakdhe dan Budhe, Bulik, adik-adik saya, juga sahabat-sahabat saya yang juga sahabat Annisa. Dengan segala kerendahan hati saya memohon pada Om untuk menerima saya sebagai menantu sekaligus suami dari putri Om, Dokter Annisa yang sudah saya kenal lebih dari sepuluh tahun.”


“Pa …,” panggil Annisa. Ia menggoyang lengan papanya seperti seorang anak kecil meminta sesuatu. “Abdullah udah bawa semua keluarganya. Icha enggak akan menikah dengan orang selain Abdullah kalau Papa butuh penegasan lagi.”


“Ariz juga suka dengan Mas Pilot ini. Seragamnya bagus. Ariz juga mau jadi pilot pesawat tempur, Pa.” Ariz mengambil topi Dul dan mengenakannya.


“Benar mau menikah hari ini? Yakin?” Papa Annisa gantian bertanya dengan raut tak yakin.


Dul terkesiap karena pertanyaan itu mengingatkannya akan rencana awal. “Iya. Hari ini kalau Om memberikan restu.”


“Oke. Hari ini. Di mana?” Papa Annisa senang melihat raut Dul yang sepertinya tidak mengantisipasi izin tiba-tiba itu.


“Mas Dul … itu Papa tanya. Di mana?” Annisa gantian mengguncang lengan Dul. Ia lalu menggamit lengan Dul dan membawanya sedikit menjauh dari kedua orang tuanya. “Jangan-jangan yang tadi cuma bohongan aja,” sungut Annisa.


“Enggak, kok. Enggak. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana,” pesan Dul, membawa Annisa kembali ke orang tuanya dan menepuk-nepuk bahu gadis itu. “Jangan ke mana-mana. Enggak akan lama. Oke?” Kali ini Dul memang panik. Ia mendatangi rombongan orang tua dengan wajah kalut.


“Kenapa? Gimana…gimana? Annisa enggak menerima lamaran kamu? Papanya ngomong apa? Anak Ibu ditolak? Biar Ibu yang nanya sebenarnya mau cari menantu yang gimana.” Dijah sudah bersiap-siap maju ketika Dul menahan lengannya.


“Bukan. Bukan enggak diterima. Tapi kayanya aku salah ngomong. Ibu ke sini dulu. Jangan marah-marah.” Dul merangkul Dijah karena khawatir ibunya tersulut emosi. Sudah lama ibunya itu tak suka dengan sikap Papa Annisa yang dinilainya terlalu egois. “Begini … Akung bilang kalau aku harus ngelamar untuk pernikahan yang paling cepat karena perempuan enggak suka menunggu. Dan dalam kasusku memang Annisa udah lama banget nunggu. Jadi …. Lalu ….”


“Lalu?” Semua orang tua nyaris serentak mengatakan itu.


Dul memandang wajah-wajah penasaran di dekatnya. Robin dan Putra yang hampir setengah menganga, Yoseph yang dengan sabar memegangi buket bunga besar. Lalu Mima yang berdecak tak sabar. “Ayo, Mas. Kita semua nunggu,” kesal Mima.


“Lalu aku ngomong ke Annisa bukan hanya melamar, tapi juga langsung menikah hari ini. Papanya nanya di mana.” Dul meringis memandang semua orang tua satu persatu.


“Nah, kan. Bagaimana itu, Yah? Ibu sudah bilang jangan macam-macam soal menikah. Enggak bisa buru-buru begitu. Dul harus minta izin ke atasannya. Bikin ide ada-ada aja. Enggak baik menuai harapan dari anak gadis orang.” Bu Yanti terus mengomel sambil sesekali memandang Annisa yang menatap mereka dengan wajah gelisah.


“Siapa yang menuai harapan? Ayah serius waktu menyarankan ke Dul begitu. Meski yang Ayah sarankan sedikit berbeda, tapi kenapa enggak bisa sekarang? Annisa itu sudah terlalu lama menunggu kepastian. Kalau cuma dilamar aja enggak akan mau. Dia juga harus menunjukkan ke orang tuanya bahwa laki-laki yang selama ini dia perjuangkan, juga berjuang sama kerasnya. Siapa bilang enggak bisa menikah sekarang? Menikah dulu, lalu lapor atasan dan menikah secara resmi. Yang penting diiyakan ke papanya Annisa. Ayo, Bara, Heru, kita ajak ngobrol papanya Annisa. Yang perempuan ngobrol dengan ibunya. Kita harus capai kesepakatan hari ini.”


“Baru kali ini dengar Ayah ngomel sebegitu panjang. Bener, kan, Mbak?” Sukma menyikut Dijah dan Fifi di kanan kirinya. Fifi mengiyakan sedangkan Dijah sepertinya masih syok karena mulutnya terbuka dan raut wajahnya bingung. Dengan tertatih-tatih, Pak Wirya menggandeng Dul dan kembali berjalan mendatangi Papa Annisa.


Sebuah restoran akhirnya dipilih kedua keluarga itu bicara serius. Pak Wirya, Bara, Heru, Papa Annisa dan sudah pastinya Dul, memilih sebuah meja di pojok untuk bicara serius.


Robin memutuskan melayani para wanita yang kesemuanya menunggu dengan wajah resah. Ia membantu pelayan menurunkan makanan dari nampan dan menyajikannya ke hadapan semua orang di sana. Satu persatu.


“Ini untuk Ibu Dijah. Secangkir teh hangat yang akan menghangatkan suasana. Buat Uti, Bulik Sukma, Budhe Fifi juga.” Robin meletakkan cangkir-cangkir teh ke depan para wanita yang kesemuanya diam melemparkan pandangan ke tempat para pria berbincang. “Kalau es teh yang dingin dan manis ini spesial untuk Mima Cantik dan Dokter Annisa. Buat adik-adik kecil yang dua ini juga. Kalo buat kelen berdua silakan ambil sendiri.” Robin sengaja bicara santai untuk mengendurkan suasana. Putra dan Yoseph hanya mendengkus karena tak kebagian layanan spesial dari Robin.


Dari meja para pria sesekali terdengar beberapa kalimat yang bisa ditangkap meja wanita dan anak-anak.


“Sepertinya enggak bisa. Saya pribadi keberatan.” Suara Papa Annisa spontan membuat para wanita menoleh ke meja pria.


“Saya juga keberatan,” sahut Pak Wirya. “Tapi yang harus kita pahami di sini sebagai orang tua adalah … bukan kita yang menjalani rumah tangga itu nantinya. Tapi mereka. Kita yang sudah tua ini, terutama saya yang sudah sepuh ini menginginkan kebahagiaan untuk seluruh anak-cucu saya. Dan Annisa … sudah lama sekali saya anggap sebagai cucu saya. Jadi, konsen saya juga di kebahagiaan dia.”


Bara mengangguk. “Minggu depan semua surat-surat akan selesai diurus. Sebagai jaminannya buat Annisa ….” Bara melihat meja para wanita. “Jah … bisa ke sini sebentar?” Bara memanggil Dijah datang ke meja para pria.


“Ya, Mas?” Dijah berdiri persis di sebelah Bara, di depan Papa Annisa yang tak lepas memandang mereka berdua.


“Tunggu sebentar. Mas mau panggil Annisa juga. Nisa … bisa ke sini sebentar?” Lagi-lagi Bara melambai untuk memanggil Annisa.


Annisa mendekat dan berdiri di sebelah Dijah. “Ya, Yah?”


“Pernikahannya memang bukan hari ini. Kami semua memutuskan akan dilaksanakan minggu depan. Maafkan Dul kalau udah ngomong begitu. Minggu depan semua surat-surat akan diurus dan Annisa perlu ikut datang ke kantor Dul. Resepsi dan akad akan dilakukan tepat dua minggu setelah itu. Kita semua perlu melakukan persiapan. Sebagai jaminannya, Ayah minta Ibu meminjamkan cincin maskawinnya. Boleh, Jah?” Bara mengusap lengan Dijah sambil mengulas senyum.


Dijah mengangkat tangan kirinya dan memandang cincin yang penuh sejarah itu. Sebentuk cincin yang diberikan Bara ketika mereka pergi piknik pertama kali, lalu cincin itu dikembalikan saat ia menolak Bara di Rumah Aman. Sampai akhirnya cincin itu kembali ke jarinya sebagai maskawin di hari pernikahan mereka. Dijah melepaskan cincinnya dan meraih tangan kanan Annisa.


“Dulu cincin ini kebesaran dan Ibu pakai di jari tengah tangan kanan. Sekarang letaknya udah pindah ke jari manis tangan kiri. Hari ini Ibu pinjamkan ke Annisa sebagai jaminan sampai dengan minggu depan. Maaf … kalau sekarang Ibu cuma kasih sebagai jaminan karena cincin ini banyak sekali menyimpan cerita. Tiga minggu lagi Mas Dul pasti kasih gantinya yang lebih bagus. Ayah tau, kalau Mas Dul tau bahwa cincin ini sangat berharga buat Ibu. Jadi … sebentar lagi kita pasti bertemu dalam suasana yang berbeda. Ibu sayang Annisa,” ucap Dijah ketika menyematkan cincinnya ke jari Annisa.


“Tiga minggu lagi?” bisik Annisa ketika Dijah menyematkan cincin di jarinya.


“Tiga minggu lagi,” sahut Dul, ikut berdiri ke sebelah Dijah. Memandang dengan tatapan sendu ketika cincin kesayangan ibunya melingkari jari sang kekasih.


Di lain tempat, Robin berbisik di telinga Putra. “Tiga minggu lagi si Dul kawin. Kau tetap kena tikung. Akhirnya aku ada kawan.”


******


Satu minggu yang dibicarakan itu ternyata tidak lama. Bara dan Dijah berangkat ke Magetan mendampingi Annisa yang akan melakukan wawancara sebelum melakukan pernikahan. Ternyata hanya orang tua saja yang deg-degan. Sepasang muda-mudi itu keluar dari ruang atasan dengan senyum simpul.


“Udah selesai, Bu. Sisa dua minggu lagi, kan?” Dul melingkarkan tangan di bahu Dijah. “Harusnya Ayah dan Ibu enggak perlu capek-capek ke sini. Wawancaranya sebentar aja. Annisa bisa berangkat sendiri,” kata Dul.


“Berangkat sendiri? Ya enggak boleh. Belum nikah. Nanti malah macam-macam.” Dijah menepuk lengan Dul yang melingkari bahunya.


“Cincin Ibu ….” Annisa menunjukkan cincin Dijah di jemarinya.


“Dua minggu lagi cincin itu kembali ke tangan Ibu. Mas Dul udah beli gantinya.” Dijah mengusap cincinnya yang berada di tangan Annisa.


Setelah mengedarkan pandangannya ke tiap sudut bangunan kantor tempat Dul dan Annisa baru keluar, Bara mendekati anak istrinya.


“Pestanya dua minggu lagi. Kalian berdua akur-akur, ya. Kalau ada masalah langsung diomongin ke Ayah Ibu. Jangan ada insiden macam-macam karena kartu undangan udah disebar. Seminggu sebelum resepsi Dul dan Nisa enggak boleh bepergian ke tempat jauh. Semua setuju dengan yang Ayah bilang, kan?” Bara memandang Dul dan Annisa bergantian hingga sepasang muda-mudi itu mengangguk setuju.


Di lain tempat, Mima mendatangi rumah Tini dengan segepok kartu undangan di tangannya. Dari jauh ia sudah melihat sedan hitam terparkir di depan pagar.


“Budhe Tini …! Budhe Tini …! Budhe Tin….”


“I’m coming … I’m coming!” sahut Tini dari dalam. “Kenapa enggak langsung masuk aja? Malah teriak-teriak dari luar. Biasa langsung terobos aja,” kata Tini sambil mendorong pintu pagar.


“Itu mobil Paklik Dayat, kan? Nanti aku diceramahin. Males. Aku mau ngasih ini aja. Kartu undangan resepsinya Mas Dul buat keluarga Budhe Tini dan Pakdhe Wibi. Nanti Budhe yang bagi-bagi dan tulis namanya.” Mima menyodorkan segepok undangan yang ia bawa.


Tini mengambil undangan dari Mima dan membacanya sejenak. Ia lalu tertawa terbahak-bahak. “Oalah … Dijah sebentar lagi mau punya cucu. Bakal dipanggil Mbah Dijah.” Tini kemudian melanjutkan tawanya.


To be continued