
Sepanjang makan siang itu, Dul tak henti mengawasi Annisa. Posisi duduk mereka yang berseberangan membuat ia lebih leluasa dan bisa berpuas-puas memandangi gadis itu. Annisa ikut tertawa melihat tingkah Ibrahim yang sedang sedang disuapi makan siang oleh Mbok Jum. Annisa juga ikut menimpali obrolan Mima dan Dijah. Namun, dari semua keakraban itu, ia melihat Annisa terlalu sering memandang Dijah. Tiap Dijah bicara, Annisa seakan tak ingin melewatkan apa pun. Gadis itu ikut tersenyum saat Dijah mengungkapkan kecerewetannya dengan bahasa yang kadang polos, tajam sekaligus lucu.
“Setting ringtone handphonenya gini, lho, Bu. Masa gitu aja enggak ngerti,” kata Mima, mengembalikan ponsel Dijah.
“Namanya juga Ibu baru tau sekarang hape-hape canggih begini. Kalau dari dulu udah paham, mungkin Ibu enggak akan bisa dikibuli wartawan,” sahut Dijah dengan wajah kalem. Ia membuka fitur ringtone dan coba mendengarkannya.
Bara mendengar hal yang dikatakan Dijah dan menanggapi celotehan itu dengan cubitan pelan di pipi istrinya. Annisa tertawa melihat hal itu. Dan Dul … tersenyum hangat memandang Annisa.
Menjelang sore, Annisa menghampiri Dijah dan Bara di ruang keluarga. Di sebelah Annisa, Mima masih menggandeng tangan gadis itu dan belum melepaskannya. Dul berdiri tak jauh dari sofa. Lima menit yang lalu Annisa keluar dari kamar Mima dan berbisik di telinganya. “Udah sore, aku pulang, ya. Abdullah, kan, baru sampai kemarin. Belum banyak ngobrol dengan ayah-ibu.”
Dul mengiyakan meski sedikit berat. Pasalnya, sejak selesai makan siang Mima membajak Annisa ke kamarnya. Hanya sedikit sekali ia dan Annisa bisa bercakap-cakap. Saat ikut masuk ke kamar Mima pun, adiknya itu tak membiarkannya berlama-lama. Alasannya, “Ini urusan perempuan. Mas enggak boleh tau.”
“Om, Tante …. Nisa permisi pulang sekarang, ya. Ada tugas kampus untuk hari Senin. Makasih buat makan siang dan obrolannya. Nisa seneng banget Abdullah ngajak ke sini.”
Dijah menegakkan tubuhnya seketika. “Tadi udah Ibu, kenapa sekarang Ibu jadi tante-tante? Enggak enak didengar, ya, Mas?” Dijah mencubit pelan paha Bara.
Sontak Bara ikut menegakkan duduknya. “Iya. Lebih enak didengar manggil Ibu aja.”
“Om, Ibu ….”
“Masih kurang enak juga,” kata Dijah memotong ucapan Annisa.
“Ayah Ibu?” tanya Annisa. “Kalau gitu, Ayah, Ibu, Nisa pamit sekarang. Maaf kalau hari ini waktu Abdullah sama keluarga jadi berkurang karena kedatangan Nisa—”
“Itu juga belum enak kayanya, Mas. Apa aku yang belakangan ini jadi terlalu banyak menuntut, ya?” Dijah cemberut memandang Bara.
Dul mengatupkan mulut agar tak tersenyum lebar. Mima sudah terkikik-kikik senang karena menikmati Annisa yang salah tingkah karena ulah ibunya.
“Ayo, sedikit lagi, Mbak. Jawab yang benar bonusnya diantar pulang sama Taruna.” Mima lalu membekap mulutnya.
“Keseringan main ke rumah Budhe Tini jadinya begini. Setiap pulang pasti bawa bahasa baru.” Bara menarik lengan Mima untuk memangku gadis kecil itu dan mengunci tubuhnya dengan pelukan yang kuat. Mima memberontak dengan menepuk-nepuk lengan Bara.
Annisa melirik Dul sedetik. Anggukan pelan dari Dul membuat ia menarik napas. “Yah, Bu, Nisa permisi pulang sekarang, ya. Minta izin sekalian buat Mas Dul anterin Nisa. Besok-besok … kalau Ayah Ibu ngundang Nisa ke sini lagi, Nisa enggak akan nolak. Masakan Ibu enak banget. Nisa udah lama enggak makan masakan rumah. Dan itu … tadi Mbok Jum ada bungkusin lauk-pauk buat Nisa. Makasih banyak.” Nisa mengalihkan pandangannya sedetik ke tempat lain. “Nisa permisi sekarang.”
“Cieee … ciee …Mas Dul, Mas Dul.” Mima menusuk perut Dul dengan telunjuknya. Bara kembali meraup tangan Mima dan menyatukannya dalam dekapan.
“Bu, aku nganter Annisa, ya. Enggak lama-lama,” bisik Dul di telinga Dijah.
Ketika Dul dan Annisa di dekat pagar menyongsong sebuah taksi, Bara akhirnya melepaskan Mima. Gadis kecil itu berlari ke pagar dan berteriak. “Mbak Nisa! Sering-sering ke sini, ya. Aku diajak jalan juga mau, lho. Nongkrong-nongkrong gitu….” Ucapan Mima belum selesai saat Ibrahim datang untuk kembali menarik tangannya sambil tertawa.
Annisa melambaikan tangan dari taksi disertai anggukan pada Mima.
“Biar aku aja enggak apa-apa. Inget apa kata Ibu tadi, kan? Wadahnya jangan sampai hilang dan kamu harus kembalikan sendiri.”
Annisa tertawa. “Ibu kamu lucu, ya.”
“Sekarang lebih lucu. Receh, ya?” Dul tergelak mengingat hal-hal receh yang sering dikatakan ibunya. “Kayanya … kemarin malam Ayah dan Ibu jemput aku, deh. Soalnya Ibu keceplosan dua kali soal kamu.”
Annisa membelalak. “Hah? Serius?” Tangannya mencengkeram lengan Dul. “Jemput sampai ke mana? Atau jangan-jangan sampai ke kost-an aku? Ayah kamu khawatir jadi jemput kamu. Bisa jadi gitu, kan?”
Dul menggeleng. “Enggak tau. Aku enggak mau nanya-nanya. Nanti kalau tau semua malah makin malu.” Dul menunduk menahan tawanya.
“Kamu serius, dong. Malu banget soalnya kalau sampai…ketawa terus, ih.” Annisa menepuk lengan Dul, dan lengannya itu dengan cepat kembali ditangkap oleh Dul.
“Udah, enggak apa-apa. Ayah Ibu enggak ada ngomong macem-macem. Harusnya aku enggak perlu tau, tapi Ibu memang sekarang gitu. Dulu paling sulit buat cerita. Sekarang meski enggak ditanya, ya, mau cerita.”
“Tiap liat ibunya Abdullah, aku jadi kangen Mama. Itu juga alasan aku harus kuliah di kota ini. Biar bisa sering-sering kunjungi makam Mama. Abdullah benar-benar beruntung punya keluarga yang hangat.”
“Annisa bisa jadi bagian dari keluargaku,” sahut Dul.
“Maksudnya? Oh, iya.” Annisa mengangguk cepat. Berharap Dul tidak menjawab pertanyaannya barusan.
Dul sedikit tersentak karena ucapannya tadi. Tanpa ia sadari, makna ucapannya sangat banyak. “Sebelum pulang, mau makan es krim dulu? Kemarin ada resto gelato di dekat sana. Tau, kan?” Dul mengalihkan pembicaraan.
“Tau, dong. Aku sering jajan di sana.”
Pembicaraan mereka berlangsung larut dan semakin akrab. Di sudut kiri café gelato, Abdullah dan Annisa duduk berhadapan dan bertukar pengalaman selama tahun-tahun mereka tidak bertemu.
“Maaf kalau aku sampai cerita soal Papa. Di satu sisi aku merasa jahat karena menceritakan soal Papa, tapi di sini lain, aku mau Abdullah ngerti apa yang aku rasain. Aku ngerti kalau Papa menginginkan seseorang yang bisa dijadikannya teman hidup sampai beliau meninggalkan dunia. Tapi aku rasa itu terlalu cepat. Di detik Papa ngomong mau nikah lagi, aku punya pikiran kalau Papa bisa aja udah kenal calon istrinya dari sejak Mama sakit. Karena harusnya buat Papa yang penuh pertimbangan, memutuskan menikah itu harusnya enggak mudah.” Annisa menarik napas panjang.
“Aku ngerti,” sahut Dul. “Yang penting … jangan sampai Annisa jadi membenci.” Dul menunduk memandang mangkuk gelato yang menyisakan sedikit genangan di dasarnya. Berani-beraninya ia menasehati Annisa. Apa kabar dengan dirinya?
“Harusnya aku malu cerita ini ke Abdullah.”
Dul diam. Kalau Annisa merasa malu soal papanya yang menikah lagi, lantas apa yang harus ia rasakan kalau menceritakan pada Annisa soal bapak kandungnya?
“Enggak perlu malu. Mungkin ada orang lain yang punya cerita masa lalu lebih buruk dan memalukan.” Dul memandang lurus mata Annisa yang menatapnya penuh tanya.
To Be Continued