
“Kapan balik ke Jogja?”
“Libur semester genap biasanya lebih lama. Kemarin Ayah ngajak aku ke Kalimantan buat ikut nganter ke rumah anaknya Mbok Jum. Kamu lagi liburan juga, kan? Enggak pulang ke Kalimantan?”
“Memangnya rumah anaknya Mbok Jum di mana? Kalimantan itu luas banget. Kakak sulungku di Balikpapan. Papa di Banjarmasin. Beda kota.” Annisa meringis.
“Iya juga, ya. Aku juga belum tanya di mana rumah anaknya Mbok Jum. Jangan-jangan di Pontianak.” Dul dan Annisa bertukar pandang lalu tertawa kecil.
“Abdullah keren, ya. Tes AAU pasti sulit,” kata Annisa.
“Annisa juga keren, kok. Masuk Kedokteran UI juga enggak mudah. Aku jadi makin ....”
“Apa?”
“Kagum.”
“Oh.”
“Annisa mau nunggu aku?”
“Maksudnya?”
“Aku lagi berusaha keras buat membidik Korps Tempur di AU. Selesai dua tahun lagi, aku bakal lanjut ke Sekolah Penerbang hampir dua tahun. Ditambah satu tahun lagi, jadi totalnya ... lima tahun. Kelamaan, ya. Tapi....”
“Abdullah mau ngomong apa? Biasanya aku ngerti. Kali ini aku enggak berani mengartikannya sendirian.” Annisa cemberut seraya menepuk lutut Dul.
“Oke.” Dul menegakkan duduknya dan meraih tangan Annisa. “Ehem. Berhubung aku lupa soal kata pembuka yang sudah aku hafal seja kemarin, jadi aku akan langsung ke intinya.”
“Ya?” Wajah Annisa berubah lebih serius dan ia menggeser duduknya menghadap Dul.
“Apa Annisa mau menunggu aku paling sedikit lima tahun? Kalau mau ... aku akan melamar Annisa untuk jadi PIA Ardhya Garini. Aku butuh jawabannya sekarang biar bisa tidur nyenyak.”
“Ha? Apa tadi? Dilamar jadi apa?”
“PIA Ardhya Garini,” ulang Dul.
Annisa melepaskan tangan Dul dan cepat-cepat merogoh ponsel dalam saku jeans-nya. Ia mengetikkan sederet kata di kolom pencarian internet sementara Dul mengulum senyum.“PIA...Ardh.... Nah, udah langsung keluar. Ardhya Gari...ni?” Annisa mengangkat kepalanya memandang Dul. Ia baru saja membaca tulisan,
PIA Ardhya Garini
Sesuai namanya, Persatuan Istri AURI Ardhya Garini ini merupakan organisasi para istri tentara yang bertugas di Angkatan Udara (AU).
“Gimana?” Dul kemudian mengatupkan mulut menahan senyum. Wajah Annisa yang syok sedikit menggelikan.
“Aku kira Abdullah mau jadiin aku pacar,” kata Annisa dengan polosnya.
“Terlalu bertele-tele kalau tanya itu. Gimana?”
“Mudah-mudahan mau,” jawab Annisa, tertawa kecil. “Setidaknya ada yang ditunggu selain sekolah spesialis.”
“Mudah-mudahan mau?” ulang Dul tak percaya.
“Intinya mau. Mau, mau, mau. Aku tunggu Abdullah. Abdullah juga harus mau tunggu aku lima tahun untuk spesialis penyakit dalam. Ditambah dua tahun, tujuh tahun. Berarti lebih lama waktu Abdullah nungguin aku.” Annisa terkekeh-kekeh.
“Abdullah ngelamar aku?” tanya Annisa dengan suara rendah.
Dul mengangguk. “Dilamar dan diamankan untuk lima tahun ke depan,” tegas Dul.
Annisa menelan ludah. “Enggak nyangka. Abdullah benar-benar berubah. Selain makin ganteng … Abdullah juga makin gagah, tegas.”
“Apa lagi?”
“Maunya apa lagi?”
Dalam remang cahaya lampu teras yang terhalang rimbun pohon mangga, Dul menyadari kalau jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Rambut hitam pekat Annisa membingkai wajah pucatnya.
Seperti suatu hal yang memang biasa ia lakukan, Dul meraih segumpal rambut Annisa dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kali itu, kedua tangannya terbebas. Ia bisa melingkarkan tangan kanannya ke bahu Annisa dan tangan kirinya meraih dagu Annisa untuk sedikit menengadah. Ia ingin mencium gadis itu tanpa tergesa-gesa. Jadi, saat Annisa ikut mengusap pipinya, Dul mengecup bibir mungil itu lagi. Sedetik lalu, ia sempat melihat kelopak mata Annisa menutup. Memperlihatkan barisan bulu mata tebal dan lurus. Detik berikutnya, ia ikut memejamkan mata. Semakin lama, ciuman itu semakin melenakan dirinya. Pelukannya di bahu Annisa pun semakin erat dan membawa gadis itu rapat ke pelukannya.
Sampai ketika Dul merasakan tangan Annisa mencengkeram erat bagian depan seragamnya, ia berhenti menggerakkan bibirnya. Lalu, Annisa ikut membuka mata. Serentak mereka menjauhkan kepala. Dul merasa wajahnya memanas. Ciuman barusan terlalu lama. Mereka duduk diam bersisian mengatur napas masing-masing. Juga merapikan pakaian, rambut dan kembali membasahi bibir mereka.
“Udah malem,” ucap Dul, memecah kebisuan.
“Iya. Dari tadi juga udah malem,” sahut Annisa.
Keduanya bertukar pandang dan tertawa kecil. “Kalau gitu aku permisi pulang sekarang. Besok kami sekeluarga ke rumah Akung. Jadi …?”
“Jadi?” ulang Annisa.
“Ardhya Garini?” Dul memastikan kembali.
“Lima tahun lagi,” tegas Annisa kemudian memeluk Dul.
“Lima tahun lagi,” ulang Dul.
Lalu Annisa melingkar tangan di leher Dul. Memeluk erat Dul dan menepuk-nepuk pelan punggung pria muda yang ia tidak bisa mengatakan dengan jelas apa statusnya. Bukan pacar. Bukan tunangan. Pria muda itu adalah pria yang melamarnya untuk lima tahun lagi. “Makasih karena udah datang. Abdullah selalu ada buatku di masa-masa sulit,” kata Annisa.
“Makasih juga karena belum punya pacar.”
Annisa mengusap air matanya di balik punggung Dul seraya tertawa kecil. Ia tahu lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Tapi kini hari-harinya akan diisi dengan belajar keras, bekerja giat, dan menanti seorang pemuda gagah menepati janjinya. Malam itu, dalam sekejab saja, seorang Sersan Mayor Dua Taruna Abdullah Putra Satyadarma telah membuatnya merasa menjadi gadis paling bahagia.
To Be Continued
PS.
Rasanya mau cepat-cepat menyelesaikan Dul dengan tidak bertele-tele. Tapi apalah daya kesehatan sedang tidak mendukung.
Maaf, kalau updatenya menjadi kacau. Mau nangis banget karena masalah punggung yang sakit luar biasa.
Terima kasih buat pendukung setia juskelapa, terlebih pembaca semua novel dari awal sampai akhir dan masih menjadi follower juskelapa hingga detik ini. Terima kasih atas dukungan Boeboo dengan atau tanpa acara giveaway di novel ini.
Semoga cerita novel DUL (dan novel-novel juskelapa lainnya) mampu meninggalkan suatu kesan di hati Boeboo.
Salam peci-peci,
juskelapa