
"Siapa nama adik Dul dan Mima nantinya?" tanya Pak Wirya.
"Ibrahim Putra Satyadarma," jawab Bara.
"Nama yang sangat bagus, Ra." Pak Wirya menuangkan air mineral ke dalam gelas, lalu meneguknya. "Ngomong-ngomong ... sop buntut ini lebih lezat rasanya dibanding dulu."
"Perasaan sama aja," kata Bara, melirik mangkuk sop yang kuahnya sudah menyusut.
"Lebih lezat karena Ayah sudah jarang banget makan ini. Frekuensi makan sop buntut yang jauh berkurang, menjadikan rasa sop ini lebih lezat. Kenikmatan yang sedikit itu kadang-kadang lebih mudah diresapi." Pak Wirya terkekeh-kekeh.
"Semoga yang sedikit ini enggak bakal bikin penyakit. Kasian Ibu kalau Ayah sakit," ucap Bara.
"Semoga," sahut Pak Wirya. "Kalau gitu Ayah boleh pesan dessert yang sedikit beda hari ini? Doa kamu sudah pasti diterima karena kamu anak baik. Double cheese cake yang Ayah lihat di menu tadi keliatannya enak, Ra."
Sorot mata Pak Wirya mengingatkan Bara pada Mima yang sedang merayunya untuk dibelikan mainan baru dari channel Yutub. Bara menarik napas berat. "Hari ini aja ya, Yah. Dua minggu ke depan Ayah harus puasa makanan kolesterol tinggi begini."
Pak Wirya langsung melambai pada pelayan di dekat mereka. Seorang pelayan laki-laki mendekat dan mengeluarkan catatan. "Pesan double cheese cake dua slice di dua piring berbeda. Buat kita berdua. Ayah enggak mau makan sendiri," tambah Pak Wirya cepat-cepat saat melihat Bara menaikkan alisnya.
Pelayan pergi setelah mencatat tambahan pesanan dan mengangkat piring bekas sup dari atas meja.
"Terima kasih, Bara. Usia Ayah sepertinya sudah mulai masuk ke usia yang tingkahnya mirip anak kecil. Kamu juga harus nambah sabarnya kalau gitu. Sebenarnya generasi orang tua anak itu hanya berupa siklus yang mengulang." Pak Wirya tertawa kecil.
"Nyari pembenaran enak banget kayanya." Bara menghela napas. "Aku mau minta sesuatu tapi sungkan mau nanya Ayah. Apa boleh...apa aku enggak terlalu gimana."
"Kalau kamu enggak bertanya, kamu enggak akan pernah tau jawabannya. Kalau kamu enggak maju duluan, kamu enggak akan berpindah tempat, Ra."
"Apa boleh kalau aku menyisipkan nama Dul dengan belakang yang sama dengan nama Ibrahim nanti, Yah? "
Pak Wirya terhenyak. Menarik napas perlahan seraya memandang Bara. Perhatian mereka lalu berpindah pada pelayan yang datang mengantarkan dua double cheese cake dan dua gelas air putih.
"Kenapa harus tanya Ayah? Itu hak kamu, Ra. Kalau Dijah setuju dan Dul mau, kamu juga memang menginginkannya, berarti tidak ada masalah. Sedekat apa pun Ayah ke Dul, atau sedekat apa pun kita sebagai orang tua dan anak, Kamu tetap punya tanggung jawab sendiri terhadap keluarga kamu."
"Berarti Ayah enggak masalah, kan?"
Pak Wirya memandang cake yang baru diletakkan di hadapannya. Memutar piring cake sampai letak cake itu sejajar, lalu mengangkat pandangan pada Bara yang terus mengawasinya. "Kenapa Ayah harus menjadikannya masalah? Nama Satyadarma itu Ayah juga dapatnya gratis dari Eyang. Lalu Ayah bubuhkan ke nama kamu seperti Heru. Enggak ada masalah. Berikan hal terbaik yang bisa kamu lakukan buat Dul. Sekarang, kamu orang tuanya."
"Kalau gitu, nanti Ayah bantu ngomong ke Dijah, ya. Biar Dijah ngerasa bahwa usul aku sudah mendapat dukungan dari keluarga," ujar Bara.
"Kamu akan selalu mendapat dukungan dari keluarga selama itu baik, Ra. Untuk sekarang, Ayah dan Ibu dukungannya ke anak-anak hanya sebatas ini. Nasehat, saran, juga doa. Atau bisa juga dukungan-dukungan buat nemenin makan enak seperti ini."
Bara mencibir. "Bisa aja."
Bara dan Pak Wirya bertukar pandang dan tertawa. Tawa mereka terhenti saat ponsel Bara berdering dan nama Heru terlihat di layar.
"Lagi di mana? Aku nyampe di kantor kamu enggak ada," kata Heru di seberang telepon.
*"Iya, kerjaan itu penting. Tapi lebih penting lagi nyusulin kamu dan Paklik ke sana. Aku juga mau makan. Tunggu, ya. Aku ke sana sekarang." *
Heru langsung mengakhiri pembicaraan dan Bara mendengkus memandang ponselnya.
"Heru mau ke sini, ya? Kita tunggu aja. Hari ini Ayah free pokoknya," cetus Pak Wirya.
"Nambah sejam lagi di sini, Ayah bisa nambah cemilan berkolesterol lagi. Aku cemas," kata Bara.
"Ngemil buah aja yang sehat. Biar kamu seneng. Yang penting kita tunggu Heru sama-sama. Heru yang selalu ramai karena dulu kesepian. Hebatnya dia bisa bertahan dan tumbuh jadi anak baik di bawah didikan Eyang."
"Iya. Mas Heru hebat. Dewasa. Tapi saking enggak suka kesepiannya, pacar juga enggak cukup satu. Biar rame katanya. Yah, doanya terkabul. Beneran rame pas ketauan. Ribut." Bara tertawa.
"Untungnya sekarang penyakit suka ramenya enggak kebawa sampai berumah tangga."
Ayah dan anak itu kembali terkekeh-kekeh berdua karena menceritakan Heru yang sedang menuju ke sana.
Heru tiba di sana tak sampai setengah jam kemudian. Dengan kemeja berwarna biru gelap dan celana jeans, Heru melangkah masuk restoran seraya melipat kacamata hitamnya.
"Udah pada kenyang pasti," kata Heru saat menarik satu kursi untuknya.
Pak Wirya menyodorkan menu pada Heru. "Ayo, pesen dulu. Sup buntut dan double cheese cake-nya enak," Pak Wirya mengetuk menu dengan telunjuknya.
"Paklik makan itu? Berapa menit menghabiskan waktu buat ngebujuk Bara?" Heru mengatupkan mulut menahan senyum.
"Enggak lama. Konsentrasi Bara sedang terpecah karena ceritanya. Nama Dul mau ditambah, Her," lapor Pak Wirya pada keponakannya.
"Oh, ditambah ... bagus itu. Dul itu bakal jadi pria ganteng yang memesona. Aku enggak keberatan punya nama belakang yang sama dengan Dul. Senyum Dul itu misterius. Cewe-cewe pasti banyak yang penasaran dengan dia. Liat aja nanti kalau enggak percaya," jelas Heru sambil melambai pada pelayan.
"Harus ke cewe-cewe hubungannya," gerutu Bara.
"Kamu udah bahas dari sudut lain, aku bahas dari sudut lain. Dul pasti senang karena memiliki keluarga yang memikirkan kehidupannya dari berbagai sudut. Coba kamu pandang Dul dari sudut seorang remaja laki-laki yang sedang tumbuh menjadi seorang pria. Ayo, Lik ... ceritain dikit gimana Ayah Bara waktu SMP," kata Heru.
"Setiap pagi Paklik diminta jemput anak perempuan yang disukainya untuk berangkat sekolah sama-sama. Paklik jadi supir selama dua minggu." Pak Wirya mengatakan hal itu dengan raut serius.
"Nah, itu masih SMP. Zaman SMP aku malah enggak tau soal cewe," kata Heru, berdecak dan menggeleng-geleng.
"Gimana mau tau soal cewe kalau kerjanya bolos terus. Demo menggulingkan Ketua Osis-lah. Kurang kerjaan. Mending pacaran," kata Bara.
"Zaman sekolah aku sibuk menegakkan keadilan. Itu alasan kenapa zaman kuliah aku sibuk mengenal cinta. Zaman kuliah kamu cuek ke cewe-cewe karena udah ngerasain pacaran zaman SMA. Zaman kuliah aku baru mengenal cinta, Ra," debat Heru.
"Mengenal cinta," gumam Pak Wirya, melambai pada pelayan dan kembali menyebutkan pesanannya. "Salad buah pakai keju, ya. Sedikit aja kejunya. Nanti anak saya ngomel-ngomel," ucap Pak Wirya.
To Be Continued