
Dul menghabiskan satu jam untuk memperhatikan dan mengikuti semua prosesi menjelang jenazah almarhumah ibu Annisa dikebumikan.
Annisa terlihat terus ke sana kemari. Saat itu ia adalah orang yang terlihat paling sibuk, paling gesit dan paling sedih di antara semuanya. Semua rasa penasaran yang disimpan Dul selama beberapa tahun ini akhirnya terjawab sudah. Ia semakin mengagumi Annisa. Gadis itu terlihat begitu kuat dan rapuh di waktu bersamaan.
Namun, dari semua hal yang diperhatikan Dul saat itu. Ada satu hal yang membuat Dul sangat iba pada Annisa. Gadis itu memiliki tiga orang saudara kandung yang tidak terlihat terlalu dekat dengannya. Sangat berbeda sekali dengannya. Walau ia hanya saudara seibu dengan Mima dan Ibra, mereka bertiga sangat dekat. Sepanjang Bara memasuki hidupnya dengan status seorang Ayah, ia tak pernah merasa kesepian. Apalagi setelah kehadiran si ceriwis Mima dan si ceria Ibra.
Sangat berbeda dengan Annisa yang memeluk keranda jenazah ibunya untuk terakhir kali sambil terus berkata, "Mama ... Icha enggak ada teman lagi. Ini terlalu cepat, Ma .... Terlalu cepat. Icha belum jadi apa-apa. Harusnya Mama liat Icha dulu. Icha mau jadi dokter biar bisa rawat Mama."
Dul akhirnya menangis juga. Berdiri menunduk di antara kerumunan orang yang akan segera berangkat. Rasanya susah sekali menahan air mata saat mendengar ratapan Annisa yang semakin lama semakin samar.
"Icha enggak usah ikut ke makam. Sudah sore, sebentar lagi gelap. Icha pasti capek. Dari pagi Icha ke sana kemari." Seorang wanita yang dipanggil Annisa dengan sebutan Tante, mengangkat tubuh Annisa dan memeluknya.
Jenazah ibunda Annisa diberangkatkan. Annisa berdiri dengan wajah hampa seraya melambaikan tangan. "Mama ... Icha udah rindu. Icha udah rindu Mama ...."
Semua itu tak luput dari pengamatan Dul. Sesaat yang cukup lama, Annisa berdiri di dekat pagar sendirian. Semua orang sibuk melepas keberangkatan jenazah. Tiga orang kakak laki-laki dan Papa Annisa ikut berangkat ke pemakaman. Dul merasa itu adalah saat yang tepat untuk mendekati Annisa mengucapkan sesuatu dan berpamitan. Sudah lewat pukul empat sore. Dul berdoa semoga ayahnya tidak mengomel atau malah tertidur karena menungguinya.
"Nisa ...," panggil Dul.
"Kamu belum pulang? Udah sore. Nanti dicari Mama kamu, Dul." Padahal hanya mengucapkan itu saja. Mata Annisa kembali berkaca-kaca.
"Aku memang sekalian mau pamit," ucap Dul. "Aku harap kamu bisa kembali sekolah seperti biasa secepatnya," sambungnya.
Annisa mengangguk. "Aku pasti langsung masuk sekolah. Aku mau rajin belajar. Udah janji sama Mama," Annisa berucap pelan.
"Aku seneng dengernya," jawab Dul. "Aku kepengin liat cewe yang jalan dengan kibasan rambut lurusnya yang enggak pernah dikuncir." Dul tersenyum.
Annisa tertawa kecil. "Abdullah, makasih," Annisa berkata pelan. "Makasih banyak," sambungnya.
"Ini memang udah seharusnya," sahut Dul, menganggap kalau Annisa sebenarnya tak perlu mengucapkan terima kasih atas kedatangannya. Ia merasa itu memang sudah seharusnya.
"Bukan cuma makasih karena udah datang. Tapi ... karena ini juga." Annisa mengusap sudut mata Dul yang masih menyisakan air mata. "Makasih karena udah ikut nangis sama-sama aku hari ini. Mamaku pernah bilang, kalau teman menangis itu lebih sulit dicari. Mama bilang ... aku harus jaga orang-orang yang ikut sedih kalau aku sedih." Annisa menunduk. Ia kembali menangis dan menyeka air matanya.
"Aku enggak doain kamu selalu sedih. Tapi kalau kamu perlu orang untuk nangis bareng-bareng, cari aku. Aku bakal ngeladeni kamu," Dul menjawab diiringi dengan seulas senyuman.
"Aku bakal ingat apa yang kamu bilang hari ini. Jangan kaget kalau suatu hari nanti aku tagih." Annisa ikut tersenyum.
Dul menyerahkan dana dukacita dari sekolah ke tangan Annisa dengan iringan kata-kata, "Ini titipan dari teman-teman di sekolah untuk keluarga yang berduka. Tidak banyak. Mungkin bisa buat beli es krim yang banyak kalau kamu kangen ibu."
Annisa menjawab dengan senyum lebar. "Aku bakal beli es krim yang banyak," katanya.
Saat bersama Annisa, Dul tidak merasa lapar sama sekali. Padahal ia sudah jauh melewatkan jam makan siang. Anehnya, sepuluh langkah dari pagar rumah Annisa, perut Dul mencicit.
"Laper," ucapnya. Terbayang sembilan temannya pasti sudah makan, mungkin tidur siang di rumah. Ia lalu terbayang ayahnya yang kelamaan menunggu dalam keadaan lapar atau mungkin ayahnya sedang tertidur di mobil.
Sementara itu di sebuah gerobak bakso kaki lima di tepi jalan, sembilan orang murid dan seorang pria dewasa sedang bertukar cerita selama dua jam belakangan.
"Ayo...ayo, cerita lagi. Jadi, setelah bolos seharian, besoknya enggak ada yang dipanggil? Enggak ketauan?" tanya Bara.
Yani tertawa terbahak-bahak. "Bolosnya enggak ketauan, Om. Yang ketauan itu buku absen dan catatan kelas yang aku bawa hilang. Ketinggalan di anak sungai."
"Astaga ... kamu dihukum?" Bara bertanya seraya menggeleng.
"Syukurnya enggak, Om." Yani terkikik.
"Nanti kalau Dul kena marah di rumah, ini semua karena Robin. Ditraktir bakso dua mangkok, semua rahasia negara lancar keluar," ujar Putra.
"Aku membongkar rahasia negara supaya kau lancar nambah bakso kuah empat butir sebanyak dua kali. Ditambah tahu baso dan pangsit goreng. Itu semua karena rahasia negara," sahut Robin. Putra hanya mendengkus, lalu menyeruput sisa es teh manisnya.
"Yang namanya Yoseph, kok, enggak ikut? Jadi penasaran." Bara memandang Robin yang berdiri di tepi jalan dan sejak tadi menjadi juru bicara teman-temannya.
"Oh, iya pula. Sebenarnya Yoseph itu lebih berguna dibawa ke rumah orang berduka ketimbang...." Robin melirik Putra, "Yoseph itu pande kali berdoa. Semua orang didoakannya. Setiap saat setiap waktu dia berdoa terus, Ayah Bara. Sampe kadang-kadang merinding kita dibuatnya."
"Aku tau kamu pasti ngomongin aku," kata Putra. "Tapi harusnya kamu pertimbangkan gimana kalau Yoseph membawa sebungkus besar keripiknya dan memanfaatkan peluang di antara para pelayat."
"Ah, gak mungkin. Yoseph jago jualan. Kalo sore keripiknya dah abis. Mana pernah keripik dia bersisa di atas jam satu siang. Kalo jam 12 keripiknya masih ada, langsung diluncurkannya program buy one get one. Maen kalilah dia pokoknya."
Lalu, "Ayah!" panggil Dul. Terheran-heran melihat semua temannya masih mengerubungi gerobak bakso bersama ayahnya.
"Udah selesai? Kita pulang sekarang?" tanya Bara.
"Aku juga mau bakso," jawab Dul, mendekati bangku panjang dan langsung memesan semangkok. Bara tertawa melihat Dul langsung membuka sebotol air mineral dan meneguknya hingga setengah.
"Sekarang kelaparan kau, kan? Kalo kata orang cinta itu buta. Kalo kubilang, cinta itu maag. Cemana menurut Ayah Bara?" Robin memandang Bara yang terkekeh-kekeh.
"Ngarang. Cinta...cinta.... Pelajar apa yang ngomongin cinta. Berasa udah pernah aja. Ckckck." Dul menggeleng berdecak-decak memandang Robin.
To Be Continued