Dul

Dul
137. Kenalin



Kalau semua adegan saat itu bisa direkam dalam gerakan lambat, ekspresi Dul pasti amat menggelikan. Ia ternganga dan mengerjap beberapa kali saking terkejutnya. Benar-benar terkejut. Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan Lova lagi. Terutama hari itu. Hari di mana Annisa baru saja mengatakan akan menyusulnya seusai dari kampus. Gadis itu sedang mengurus tahapan ko-asistennya di rumah sakit yang akan dimulai sebentar lagi.


“Eh, Lova …. Apa kabar? Dari mana? Kebetulan kali kita jumpa di sini. Ayo, duduk…duduk.” Robin berdiri dan menarik sebuah kursi di sebelahnya dengan ekspresi canggung.


“Kebetulan?” Lova tersentak ketika mendengar kata sambutan Robin.


“Eh, iyalah. Kebetulan kuajak jumpa, kebetulan kau bisa. Itu, kan, namanya kebetulan juga. Ayo, duduk dulu. Nanti naik betismu lama-lama berdiri.” Robin menepuk-nepuk sandaran kursi besi.


Lova mengambil tempat duduk di antara Robin dan Putra. Wajahnya masih menyiratkan kebingungan. Bingung karena dipaksa duduk, juga bingung karena melihat wajah Dul yang sama bingungnya.


“Apa kabar, Kak Lova?” Yoseph mengulurkan tangannya lebih dulu.


“Kabar baik. Ini dengan siapa, ya? Dulu seangkatan bareng Dul juga?” tanya Lova saat menyambut uluran tangan Yoseph.


“Benar. Saya teman sekelas Dul, Robin dan Putra. Dibanding mereka, saya memang kurang tenar.” Yoseph bicara dengan nada ceria.


“Kalo sama aku ingat, kan? Aku si anak rinso,” kata Robin gantian menyalami Lova.


“Udah beda banget, ya, sejak jadi pengusaha.” Lova bicara pada Robin tanpa menoleh pada Dul.


“Ya … kayak ginilah. Hasil gak akan mengkhianati usaha.” Robin melirik Dul yang melemparkan tatapan tajam padanya.


“Enggak akan mengkhianati usaha, tapi mengkhianati teman.” Dul menggerutu pada Robin.


“Gak ada kukhianati temanku. Aku cuma lagi mempraktekkan tutorial mempersulit hidup. Yang sabarlah kau. Salami dulu si Lova ini. Biar gak sok kali kau diliatnya.” Robin menyamarkan ucapannya sambil menunduk dan membuat posisi tangannya seperti menahan batuk. Kakinya sibuk menyenggol ujung sepatu Dul.


“Hai, apa kabar?” Dul mengulurkan tangannya pada Lova.


Lova segera menyambut uluran tangan Dul. “Kabar baik. Kamu apa kabar?”


“Baik juga. Sekarang udah kerja?” Dul menunjuk clear holder yang diletakkan Lova di meja saat gadis itu datang.


Lova menoleh clear holdernya. “Oh, iya. Aku kerja di kantor sepupuku. Lumayan buat fresh graduated kaya aku. Kalau kamu gimana? Udah Letda, kan?”


Dul tersenyum. “Udah Letda, tapi aku harus menjalani tes Sekolah Penerbang. Kalau lulus … sekolah lagi delapan belas bulan,” jelas Dul.


“Oh, sekolah lagi …,” gumam Lova.


Dul mengangguk-angguk samar. “Iya, sekolah lagi,” ulang Dul dengan suara pelan.


Sedetik, dua detik, tiga detik, kecuali Lova yang sedang menunduk, mata semua pria muda di sana saling lirik. Suasana canggung tak terelakkan. Embusan dan helaan napas masing-masing orang pun terdengar.


"Kelen jangan diam aja ... sebuah studi mengatakan, kalau dalam suatu pertemuan orang yang berkumpul tiba-tiba diam, artinya setan sedang lewat." Robin kembali melirik Dul takut-takut.


"Sebuah studi apa? Studi tour?" Dul membalas dalam bisikan yang kembali ia samarkan saat menunduk.


Robin melotot karena terkejut mendengar balasan Dul. Tidak biasanya Dul menjawab dengan sangat cepat dan begitu tajamnya. Sedetik tadi, ia seperti bersitatap dengan wanita tetangga kamar kos bertahun-tahun yang lalu.


"Kau jangan bikin aku berdebar ...," bisik Robin.


"Aman ... kan, cuma cakap-cakap aja."


"Buat kalian aman. Buatku belum tentu. Liat itu ...." Nada suara Dul sudah terdengar lemah dan pasrah. Annisa mendorong pintu kaca dan tak perlu waktu lama menemukan lokasi meja mereka.


Dul masih bisa bernapas lega karena Lova tidak duduk tepat di sebelahnya. Annisa langsung melambai dan mendekati mereka semua. Dalam waktu sedetik yang hampir tidak disadari Dul, Annisa terlihat mengerling Lova. Tak ada perubahan yang signifikan dengan raut wajah gadis itu. Membuat Dul semakin penasaran apa yang akan terjadi sepeninggal mereka keluar dari sana.


Robin ternganga melihat kedatangan Annisa. Putra dan Yoseph terlihat dalam kebingungan yang sama meski mulut mereka dalam keadaan tertutup. Sedangkan Lova yang tadi asyik mengetikkan sesuatu di ponselnya sambil tersenyum-senyum, kini ikut mengangkat pandangannya mengikuti ke mana mata semua orang yang mengelilingi meja sedang tertuju.


“Hai, semuanya …,” sapa Annisa, menyentuh bahu Dul dan berdiri di belakang kekasihnya itu sejenak.


“Eh, Annisa, kan?” tanya Robin yang masih belum bisa menguasai keterkejutannya.


Dul berdiri dan menyodorkan kursinya untuk Annisa. Ia tertawa kecil karena melihat wajah Robin. “Iya … Annisa. Ini, lho, yang mau aku kenalin ke kalian.”


Saat Dul menyodorkan kursinya, Annisa langsung duduk. Perhatiannya tetap tertuju pada Dul yang menarik kursi lain sebagai tempatnya duduk. Gadis itu tak mengalihkan pandangannya ke mana pun sampai Dul tiba kembali untuk duduk di sebelahnya. “Udah makan?” tanya Annisa pada Dul.


“Belum. Nungguin kamu. Gimana? Jadwalnya udah keluar?” Dul meletakkan tangannya di belakang sandaran kursi Annisa. Sejenak ia lupa kalau di sekeliling mereka banyak pasang mata yang mengawasi. Perhatiannya tercurah pada selembar kertas yang dikeluarkan Annisa dari tasnya dan penjelasan singkat gadis itu soal jadwal dokter ko-as yang baru didapatnya.


“Untungnya hari pertama aku masih bareng temen-temenku,” jelas Annisa, mengguncang lengan Dul dengan raut senang.


“Memangnya kalau enggak bareng mereka kenapa?” Dul menunggu Annisa memandangnya.


“Aku enggak mau garing di hari pertama. Mas Dul gimana, sih.” Annisa menepuk lengan Dul.


Dul terkekeh-kekeh. Ia tahu kalau saat itu percakapannya bersama Annisa menjadi perhatian teman-temannya. Namun, Dul tidak peduli. Kehadiran Lova di sana bukan tanggung jawabnya. Menjaga situasi hubungannya bersama Annisa yang sering dalam situasi hubungan jarak jauh lebih penting baginya. Mereka jarang bersama dan saat-saat liburan semester atau kenaikan tingkat seperti itulah waktu kebersamaan mereka.


“Eh, helo … helo …. Masih ada kami di sini. Apa enggak bisa kelen menjelaskan sesuatu sama kami? Kita ada tamu juga. Eh, udah kenal kelen, kan? Ayo, kenalan lagilah.” Robin menunjuk Lova dan Annisa bergantian. Kedua gadis itu menggeleng. “Bah. Enggak kenal kelen? Ih, mustahil kurasa si Lova enggak kenal. Ah, enggak percaya aku. Masa, sih, kelen enggak saling kenal? Dulu bergumul aku gara-gara si Dul—”


Dul menepuk lengan Robin, “Sekali lagi … kenalin ini Annisa.” Dul menyentuh lengan kiri Annisa yang berada di sebelah kanannya. Gadis itu langsung mengulurkan tangan pada Robin. “Dilanjut yang di sebelah Robin itu namanya Lova, terus Putra … lalu itu Yoseph. Udah inget, kan?” tanya Dul saat Annisa kembali duduk di sebelahnya.


“Sejak kapan?” tanya Robin, memandang Dul kemudian melirik Annisa yang mengatupkan mulut.


“Sejak abis ngulek sambel dua tahun yang lalu,” sahut Dul, tergelak.


To Be Continued


PS :


Boeboo tersayang, masih ingat soal sakit punggung yang pernah saya keluhkan, kan? Nah, sakit punggung itu berakhir dgn kemoterapi. Yang tidak paham kemoterapi, bisa digoogle. Ternyata sakit saya tidak mudah. Mohon bersabar untuk kelanjutan cerita karena saya sedang terseok-seok sekali. Tubuh saya sedang luluh lantak.


Sekarang saya sedang di Penang untuk menjalani pengobatan. Setibanya di Jakarta nanti, saya akan bereskan masalah giveaway.


Terima kasih buat komentar2 dan prasangka baiknya untuk saya di kolom komentar. Semoga Boeboo semua dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan yang melimpah.


Terima kasih karena sudah menunggu Mas Dul.