
“Bu, sepatu yang pink mana?” Mima berdiri di sebelah Dijah yang sedang mematut diri di cermin. Di tangan kanan gadis itu tergenggam sepasang kaus kaki.
“Yang dipakai kemarin? Ada di rak belakang,” jawab Dijah tanpa menoleh.
Mima berdiri melihat pantulan ibunya dari kaca. “Bukan yang itu, Bu. Yang pink dibeliin Uti. Yang itu jarang dipakai. Masa Ibu enggak inget,” kata Mima.
“Gimana mau inget, semuanya warna pink. Sama semua keliatannya,” kata Dijah, berputar menghadapi Mima. “Cari di gudang. Sebelah kanan ada tumpukan kotak sepatu.”
“Aku belum selesai dandan. Jangan ditinggal,” seru Mima saat keluar kamar.
Tak berapa lama, Bara masuk ke kamar. “Mas sama Dul udah selesai. Kamu udah? Mima?” tanya Bara.
“Belum, Mas. Sedikit lagi. Aku tinggal pakai lipstik,” jawab Dijah.
“Ini yang mau ketemu Annisa cuma Dul. Kenapa yang dandan habis-habisan kamu dan Mima?” Bara berdiri di ambang pintu. Masih memperhatikan Dijah yang membuka lipstiknya satu persatu.
“Kan, kalau ketemu dengan Annisa, biar Annisa tau kalau ibunya Dul cantik. Biar tau juga kalau adik perempuannya cantik dan ceriwis,” jelas Dijah.
Langkah tergesa-gesa terdengar mendekati pintu kamar. Bara memutar tubuhnya.
“Ayo, aku udah siap,” kata Mima.
“Ini cuma Mas Dul yang turun dari mobil. Kita enggak.” Bara mengulang informasinya pada Mima.
“Yah, siapa tau abis nganterin Mas ketemu pacarnya kita langsung jalan-jalan ke mall. Aku udah cantik,” kata Mima.
“Bukan pacar Mas Dul. Temannya,” koreksi Bara.
“Tapi enggak semua teman Mas Dul yang pindah sekolah harus dianter kaya gini. Iya, kan?” Mima berlalu dengan raut kemenangan. Meninggalkan Bara yang menggeleng-gelengkan kepala.
“Astaga …,” ucapnya.
Sekeluarga sudah lengkap berada di mobil dan Bara langsung melaju ke rumah Annisa. Ia melirik jam dengan raut khawatir saat mereka terlalu lama terjebak di simpang lampu merah.
“Sepertinya enggak akan sempat kalau kamu turun dan nemuin Annisa di rumahnya. Kita kembali ke rencana semula, ya. Kalau ngeliat mobil Annisa keluar, langsung diikuti aja.”
Dul yang wajahnya sudah tegang sejak tadi hanya mampu mengangguk mengikuti saran Bara yang jelas lebih tahu dan profesional. Ayahnya adalah wartawan senior yang sejak dulu kerjanya mengejar berita ke mana-mana. Juga berpengalaman dengan sabarnya menunggui narasumber dan menghadapi dua orang wanita di rumah mereka.
Bara mengemudi cukup cepat dengan wajah tenang. Menembus lalu lintas akhir minggu yang selalu dimaklumi kepadatannya. Mobil yang mereka tumpangi baru saja menepi. Dul menerima pesan dari Annisa kalau mereka akan bertemu di bandara saja. Bara segera melaju mengiringi mobil Annisa yang baru berangkat. Dalam perjalanan itu, ia berusaha mengambil posisi di sebelah mobil Annisa agar Dul bisa berkomunikasi dengan gadis itu meski hanya dengan tatapan atau lambaian tangan.
Nyatanya, di dalam mobil Dijah dan Mima lebih heboh dari Dul yang lebih banyak mengatupkan mulut dan menoleh Annisa malu-malu.
“Mima kepalanya geser, dong. Ibu enggak keliatan. Mima, kan, udah ngeliat.” Dijah menepuk bahu Mima agar mundur dan tak terlalu dekat ke jendela. Gadis kecil itu mencondongkan tubuhnya sampai di depan wajah Dul.
“Belum jelas, Bu. Aku baru liat rambutnya. Ternyata lebih panjang dari aku. Cantik ya, kalau punya rambut sepanjang itu. Aku mau panjangin rambutku juga,” cerocos Mima dari dekat Dul. Ia lalu kembali bersandar. “Nah, sekarang giliran Ibu,” sambungnya tertawa.
“Wah, memang manis. Lebih manis dari Ibu,” kata Dijah. “Nisa lagi lihat ke sini, Dul. Ayo cepat. Kamu juga lihat, Dul. Dia senyum sama Ibu. Astaga, Ya ampun … Nisa juga ngelambai sama Ibu. Ibra, ayo balas lambaiannya. Mbak Nisa senyum nunjuk Ibra.” Dijah mengangkat tangan Ibra yang sejak pergi tadi memang duduk bergelayut di pangkuannya.
Dul menoleh ke mobil di sebelah mereka. Saat itu sedang lampu merah. Dan ia memang melihat Annisa sedang melambai pada ibunya. Lebih tepatnya pada Ibrahim yang tangannya sedang diangkat Dijah untuk melambai pada Annisa. Dul dan Nisa bertukar pandang dan saling melempar senyum tertahan.
Padahal cuma begitu saja, pikir Dul. Tapi ia merasa hatinya mengembang karena kebahagiaan.
Saat mobil memasuki Terminal 3 keberangkatan dan mulai merapat untuk berhenti menurunkan penumpang. Bara menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Annisa.
“Ayo, Dul. Turun sekarang,” kata Bara, memutar tubuhnya ke belakang.
“Nisa berangkat sama ayahnya,” kata Dul, memandang seorang pria berumur yang ikut turun bersama Annisa. Seorang pria lainnya yang terlihat berseragam safari supir kantor membantu menurunkan barang dari bagasi belakang.
“Oh, oke. Ayah ikut turun juga. Nanti malah dikira kamu sendirian ke sini,” kata Bara, melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Sesaat sebelum turun ia menoleh pada Dijah dan Mima. “Kali ini cuma Ayah dan Mas Dul yang boleh turun. Yang lain cuma boleh memperhatikan dari dalam mobil.”
Dijah dan Mima mengangguk bersamaan.
“Oke, Ayah turun sekarang.” Bara mengikuti Dul yang sudah berjalan lebih dulu mendekat pada Nisa.
“Saya orang tua Abdullah, Pak,” ujar Bara pada ayah Annisa.
Ayah Annisa melihat Dul sedikit mengernyit lalu wajahnya sumringah karena teringat sesuatu. “Saya ingat Abdullah. Ketua OSIS yang ikut datang ke rumah dan pulang paling lama menemani Nisa. Terima kasih sudah jauh-jauh ke sini ikut nganter Nisa.” Pria itu mendekati Bara dan mengulurkan jabat tangan.
“Iya, benar. Abdullah sekarang Ketua OSIS. Katanya tidak sempat mengucapkan salam sama Nisa. Makanya saya tawarkan untuk ketemu di sini.”
“Saya sangat menghargai. Terima kasih sekali lagi, Pak. Nisa tidak pernah memiliki teman dekat. Makanya saya senang sekali Abdullah bisa dekat dengan anak saya.” Ayah Annisa mengangguk-angguk senang seraya melemparkan tatapan pada Annisa dan Dul yang sedang berbicara.
Tak jauh dari tempat itu, sesaat sebelumnya Dul mendatangi Annisa yang berpenampilan santai, namun cantik dengan jeans, kaus dan sweater yang tersampir di bahunya.
Dul dan Annisa berdiri di balik tiang besar yang menghalangi penampakan langsung ke mobil yang terparkir tak jauh dari mereka.
“Mobil berhenti enggak bisa lama. Aku juga bingung mau ngomong apa. Padahal kemarin udah ketemu,” ucap Dul sedikit tergesa. Ia memang khawatir kalau mobil Bara diklakson atau didatangi keamanan kalau berhenti terlalu lama.
“Ini hasil berantem kemarin?” tanya Annisa, menyentuh dagu Dul dengan telunjuknya.
“Kok, tau?” Dul melebarkan matanya.
“Teman sekelas kita, dong. Siapa lagi? Gini-gini aku masih punya dua teman perempuan yang mau berbagi kabar denganku. Nanti aku tanya-tanya soal kamu dengan mereka.” Annisa menahan senyum melihat Dul langsung salah tingkah.
“Sering-sering kirim kabar. Kirim pesan ke aku kapan pun kamu mau,” pesan Dul.
Annisa mengangguk. “Belajar yang rajin. Aku penasaran beberapa tahun lagi ketemu Abdullah di mana.”
“Pasti bisa ketemu lagi,” gumam Dul.
“Semoga,” sahut Annisa.
Setelah diam beberapa saat, saling bertukar pandang, senyuman, juga sorot muram kecewa dengan keadaan, Annisa kembali menyodorkan tangannya pada Dul.
“Papaku udah selesai ngobrol dengan ayah kamu. Kayanya aku harus pamit sekarang,” ucap Annisa.
Dul menyambut tangan Annisa. “Bisa geser ke sini sedikit?” Dul mengajak Annisa keluar dari balik tiang.
Setidaknya di saat-saat terakhir melepas kepergian Annisa itu, Dul bisa memuaskan Dijah dan Mima yang pasti mengawasi.
Setelah melepaskan jabatan tangannya dengan Dul. Annisa kembali melambai ke mobil Bara. “Ternyata Abdullah mirip Ibu. Ibunya cantik,” kata Annisa.
“Itu adik perempuanku. Namanya Mima dan yang melambai dari mobil tadi namanya Ibra,” jelas Dul.
“Pasti di rumah ramai. Abdullah benar-benar beruntung karena enggak kesepian.” Annisa tersenyum ke arah Ibra yang kembali melambai.
Annisa benar. Ia memang beruntung, pikir Dul.
Siang itu, Dul dan Bara berdiri bersisian memandang Annisa yang berjalan mendekati gerbang keberangkatan Terminal 3 Cengkareng.
To Be Continued
Note :
Terima kasih untuk tidak menagih update novel juskelapa yang mana pun di aplikasi yang bukan tempatnya. Semua novel akan di-update berdasar prioritas, perjanjian dan pertimbangan disesuaikan masing-masing platform.
Terima kasih atas dukungan Boeboo buat Abdullah Putra Satyadarma. Semoga kita semua sekeluarga selalu dilimpahkan kesehatan dan kecukupan juga diberi kelancaran menjalani aktifitas sehari-hari.
Juga semangat mendampingi putra-putrinya memasuki tahun ajaran baru, dan mungkin lingkungan sekolah yang baru juga.
Di akhir masa tayang novel DUL nanti, saya akan membagi 15 merchandise sederhana dengan cara diundi untuk peringkat 11-100. Untuk peringkat 1-10 akan langsung saya PC.
Salam sayang,
juskelapa